30 Desember 2016 Kami meninggalkan desa Wae Rebo setelah sarapan. Matahari bersinar cerah, Kabut tipis baru saja tersingkap, Say...
Part IX. 9 Day Backpaker ke Flores: Ketika Mimpi Tergerus Realita
Day 9: 1 Januari 2017 Satu hal yang paling tidak kusukai sebelum perjalanan adalah berkemas. Entah mengapa saya sering berm...
Part X Epilog: Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan
Hidup buat saya adalah sebuah kejutan, bahkan dibalik rutinatas kantor yang sangat monoton itu selalu ada kejutan kecil yang terjadi. Kejutan-kejutan kecil yang menyemarakkan hidup kita. Pagi itu minggu-minggu terakhir bulan desember, saya tiba-tiba sudah di Lombok, bersiap memulai petualangan panjang saya ke Flores.
Spontanitas memang selalu melahirkan hal-hal tak terduga. Saya masih merasa semua main-main sampai saya benar-benar berada di Flores beberapa hari sebelum tahun 2016 berganti. Karena spontanitas itu pula saya mengalami banyak hal tak terduga selama perjalanan. Saya terjebak di Bima karena air bah, tertinggal kapal penyeberangan ke Flores di Pelabuhan Sape’ termasuk bertemu dengan tiga orang traveler gokil dari Kalimantan yang kelak selama di Folres kami akhirnya jadi tim yang solid menjelajahi Labuanbajo hingga tersasar di pegunungan Tongkor Kina mencari Waerebo. Sebuah pertemuan yang aneh. Namun kemudian saya menyadari keanehan selalu menjadi awal dari sesuatu yang tidak mudah kita lupakan.
Day 6: 9DSolobackpaker Labuanbajo 29 Desember 2016 Wae Rebo: Desa Dibalik Gunung “kita akan melewati sebuah jembatan bambu” b...
Part VIII: Wae Rebo, Desa Dibalik Gunung
Day 5 28 Desember Labuan Bajo-Wae Rebo Wae Rebo via Rute Selatan “Para pejalan akan menemukan jalannya sendiri” Kalimat itu y...
Part VII: Labuan Bajo ke Waerebo via Jalur Selatan
![]() |
| Wae Rebo via Rute Selatan |
“Para pejalan akan menemukan jalannya sendiri”
Kita bertemu banyak orang yang menyenangkan, menjalani petualangan bersama, tertawa dan bersuka cita. Namun pada akhirnya kita haru...
Part VI: Solo Backpaker ke Pulau Komodo
![]() |
| Pink Beach dari kejahuan |

![]() |
| Foto paling ngenes yang saya ambil |
![]() |
| selamat tinggal kapal nurwati |
Day 4 27 Desember 2016 Pulau Komodo: Negeri Para Naga Orang-Orang Flores: Portugis Hitam dari Timur Awalnya saya sendiri sul...
Part V: Pulau Komodo: Negeri Para Naga
27 Desember 2016. Saya akhirnya tiba di Labuan Bajo. Saya menempuh perjalanan darat melelahkan dari Mataram ke Bima selama 13 jam, ke...
Part IV: Labuan Bajo, Kota Sejuta Perahu
![]() |
| Labuan Bajo dari kejahuan |
More Picture: Cek IG @asdar_munandar “Dunia ini bagaikan buku raksasa. Dan mereka yang tidak pernah melakukan perjalanan hanya...
Part III 9D Solo Backpaker ke Labuan Bajo
![]() |
| More Picture: Cek IG @asdar_munandar |
Pagi yang pengap, saya berdiri kecewa di pinggir dermaga pelabuhan sape, menatap jauh di cakrawala. Kapal penyebrangan ke Labuan Bajo sudah meninggalkan pelabuhan 3 jam yang lalu. Hiruk pikuk pelabuhan melambat. Perjalanan tidak selamanya mulus dan lancar, kadang bahkan lebih seringnya perjalanan yang kita jalani tidak sejalan degan apa yang kita rencanakan. Perjalanan hanyalah ibarat proses membenturkan fantasi dan realita. Dan nyatanya kita justru malah sering kecewa ketika fantasi-fantasi yang kita bangun rontok berguguran, hangus tergerus realita yang menyakitkan
![]() |
| Pelabuhan Sape |
Day2: Mataram 25 Desember 2016 . Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perj...
Part II: Jalan Panjang Menuju Labuan Bajo
Mataram 25 Desember 2016.
"Paul Theroux"
Mataram-Bima-Pelabuhan Sape
Pagi yang sempurna. Suara adzan membangunkanku. Lombok memang terkenal agamais. Jika Bali punya julukan Pulau Seribu Pura maka Lombok dijuluki dengan Pulau Seribu Masjid. Di Mataram, Ibu kota Provinsi NTB ini kita tidak akan kesulitan menemukan masjid. Masjid menjamur dimana-mana dan salah satu yang termegah adalah Masjid Islamiq Center yang baru diresmikan pada tahun 2013 kemarin. Masjid ini berdiri diatas lahan seluas 7,6 hektar di sudut jalan Langko dan Udayana yang merupakan jalur utama, dibangun begitu megah dengan memadukan karakteristik bangunan tradisional Lombok dan Sumbawa. Konon katanya pembangunan masjid ini sendiri menghabiskan dana kurang lebih sebesar Rp. 500M
![]() |
| Islamic Center Lombok Tampak Samping |
More Picture chek IG: @asdar_munandar "Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan. Agar kamu dapat pergi kian k...
Part I: 9D Solo Backpacker Makasar-Mataram-Labuan Bajo
![]() | |
| More Picture chek IG: @asdar_munandar |
Sabtu 24 Desember 2016
Pesawat yang menerbankan ku dari Makasar mendarat mulus di Bandara Internasional Lombok di Mataram. Langit Mataram kelabu pudar, warna biru cerah khas langit sama sekali tak terlihat. Mendung menggantung sempurna. Ini kali kedua saya mendatangi tempat ini setelah sebelumnya pada tahun 2014 kemarin melakukan perjalanan paling seru dan paling gembel bersama dua orang sahabatku. Perjalanan darat dari Malang-Bali-Lombok dan kembali lagi ke Malang dengan budget yang sangat minimal, bayangkan saja kami hanya menghabiskan tidak lebih dari dua juta (bertiga) untuk perjalanan selama seminggu penuh. Sebuah petualangan yang selalu menarik untuk dikenang (tapi tidak untuk diulang, hehehhehe. Bisa dibaca disini dan disini)
![]() |
| Bandara Internasional Lombok |
Saya memilih Damri untuk mengantarkan ku ke Kota. Jarak antara Bandara ke Kota Mataram terasa sedikit jauh, mungkin kurang lebih satu jam perjalanan. Dari bandara, Damri hanya akan berhenti di dua tempat. Pemberhentian pertama di dekat terminal Mandalika Mataram dan pemberhentian berikutnya akan berhenti di daerah pantai Senggigi. Loket Damri terletak persis di depan pintu keluar bandara, tarif dari bandara ke kota hanya Rp 25.000 jauh lebih murah dibanding moda transportasi lain seperti ojek atau taksi misalnya.



































Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances