Showing posts with label Labuanbajo. Show all posts

30 Desember 2016 Kami meninggalkan desa Wae Rebo setelah sarapan.   Matahari bersinar cerah, Kabut tipis baru saja tersingkap, Say...




30 Desember 2016
Kami meninggalkan desa Wae Rebo setelah sarapan.  Matahari bersinar cerah, Kabut tipis baru saja tersingkap, Saya menengok untuk terakhir kalinya menatap lamat-lamat desa ini. Merekam berbagai detail yang masih bisa direkam oleh mataku. Saya menarik napas dalam-dalam, bergumam dalam hati mungkin ini adalah kesempatan pertama dan terakhir kalinya saya mengunjungi tempat ini.


Kami berjalan terburu-buru, perjalanan turun gunung jauh lebih terasa ringan, beberapa kali kami berpapasan pengunjung yang baru akan menuju ke desa. Kebanyakan dari mereka adalah pengunjung dari manca negara. Mungkin karena tempat ini kurang bersahabat untuk dompet wisatawan lokal. Untuk semalam menginap di Mbaru Niang kita harus merogoh kocek hinggaRp325.000,00 per malam per orang sedangkan jika tidak menginap akan dikenakan biaya Rp200.000,00 belum lagi jasa ojek, guide dan macem-macemnya.  

Day 9:   1 Januari 2017 Satu hal yang paling tidak kusukai sebelum perjalanan adalah berkemas. Entah mengapa saya sering berm...





Day 9:  1 Januari 2017
Satu hal yang paling tidak kusukai sebelum perjalanan adalah berkemas. Entah mengapa saya sering bermasalah dengan berkemas ini. seringkail saya melupakan barang-barang yang benar-benar penting untuk dibawa, atau sebaliknya saya malah membawa serta barang-barang yang sama sekali kurang bermanfaat. Mungkin karena perjalanan saya sering kali semuanya serba dadakan. Tiba-tiba ngajukan cuti, tiba-tiba booking tiket pesawat dan tiba-tiba saya sudah di dunia lain itu. Dunia kebebasan.

Hidup buat saya adalah sebuah kejutan, bahkan dibalik rutinatas kantor yang sangat monoton itu selalu ada kejutan kecil yang terjadi. Kejutan-kejutan kecil yang menyemarakkan hidup kita. Pagi itu minggu-minggu terakhir bulan desember, saya tiba-tiba sudah di Lombok, bersiap memulai petualangan panjang saya ke Flores.

Spontanitas memang selalu melahirkan hal-hal tak terduga. Saya masih merasa semua main-main sampai saya benar-benar berada di Flores beberapa hari sebelum tahun 2016 berganti. Karena spontanitas itu pula saya mengalami banyak hal tak terduga selama perjalanan. Saya terjebak di Bima karena air bah, tertinggal kapal penyeberangan ke Flores di Pelabuhan Sape’ termasuk bertemu dengan tiga orang traveler gokil dari Kalimantan yang kelak selama di Folres kami akhirnya jadi tim yang solid menjelajahi Labuanbajo hingga tersasar di pegunungan Tongkor Kina mencari Waerebo.  Sebuah pertemuan yang aneh. Namun kemudian saya menyadari keanehan selalu menjadi awal dari sesuatu yang tidak mudah kita lupakan.

Day 6: 9DSolobackpaker Labuanbajo 29 Desember 2016 Wae Rebo: Desa Dibalik Gunung “kita akan melewati sebuah jembatan bambu” b...



Day 6: 9DSolobackpaker Labuanbajo
29 Desember 2016
Wae Rebo: Desa Dibalik Gunung

“kita akan melewati sebuah jembatan bambu” begitu kata Timo, pemuda tanggung yang jadi guide kami. Jembatan ini seperti portabel waktu, memisahkan antara dunia kita dan dunia orang-orang Wae Rebo itu. Kami sudah berjalan hampir 3 jam lamanya, tanda-tanda perkampungan Wae Rebo itu belum nampak sama sekali. Kami terus berjalan menyusuri jalan setapak ini. Hutan-hutan tua dengan pohon-pohon yang tak kalah tuanya berdiri kokoh di sepanjang jalan.  Pos satu tempat kami berehat tadi sudah jauh tertinggal di belakang. Sesekali kami berpapasan dengan tamu atau warga Waerebo yang hendak turun ke Denge’. Tidak banyak pengunjung beberapa hari ini begitu kata si Timo.

Saya lelah, setelah berkendara berjam-jam kini saya harus berjalan berjam-jam pula. Gerimis tampa ampun menyirami kami. Jas hujan ala kadarnya rasa-rasanya malah semakin memperberat langkahku. Dan pada titik lelahku dari jauh dibalik kabut sama-samar kulihat pucuk-pucuk rumah kerucut itu.  Kita hampir sampai, begitu kata si Timo.  Lelahku tiba-tiba menguap, hilang bersama kabut.

Day 5 28 Desember Labuan Bajo-Wae Rebo Wae Rebo via Rute Selatan “Para pejalan akan menemukan jalannya sendiri” Kalimat itu y...

Day 5
28 Desember
Labuan Bajo-Wae Rebo

Wae Rebo via Rute Selatan

“Para pejalan akan menemukan jalannya sendiri”
Kalimat itu yang selalu kutanamkan dalam hatiku ketika akan melakukan perjalanan sendirian. Solo backpaker bukan berarti kita akhirnya hanya akan berjalan dan melakukan apa-apa sendirian. Saya menyusun itenariku dengan melewatkan Wae Rebo dari daftar tempat yang akan kukunjungi. Beruntunglah di perjalanan ini saya dipertemukan dengan tiga orang backpacker yang dengan berat hati (hahahhahaha) mengijinkanku bergabung dengan rombongan mereka. Jadilah kami berempat menjelajahi Flores selama beberapa hari. Melewati hari-hari yang luar biasa menyenangkannya mengunjungi banyak tempat yang tidak ada duanya di Indonesia ini.


Kami tidak di dermaga labuan Bajo menjelang ashar, tidak banyak waktu yang kami miliki. Kami harus meninggalkan Labuan Bajo sebelum malam. Untungnya di sini cukup mudah menemukan persewaan kendaraan. Lepas ashar kami meninggalkan Labuan Bajo, berkendara ke arah Timur dengan sejuta rasa penasaran.

Saya berkendara dengan kecepatan sedang, udara di sini dingin dan lembap. Aroma jerami basah menguap di udara. Memenuhi rongga dadaku sepanjang perjalanan. Musim panen sedang berlangsung. Orang-orang menjemur gabah di pinggir-pinggir jalan. Anak-anak kecil berlarian berjumpalitan di tumpukan jerami. Tertawa riang.



Kita bertemu banyak orang yang menyenangkan, menjalani petualangan bersama, tertawa dan bersuka cita. Namun pada akhirnya kita haru...



Kita bertemu banyak orang yang menyenangkan, menjalani petualangan bersama, tertawa dan bersuka cita. Namun pada akhirnya kita harus mengucapakan selamat tinggal
 dan itu tidak perlu kita sedihkan.


Day 5
28 Desember 2016: Aku Orang-orang perahu

Sehari sebelumnya, kami berenam memulai LOB kami, setelah perjuangan panjang  untuk sampai ditempat ini saya akhirnya bisa menikmati semua perjuangan itu. silahkan baca postingan-postingan saya sebelumnya. Bagaimana saya harus terlunta-lunta di pelabuhan Sape karena ketinggalan kapal fery. Bagaimana dari terminal Mataram saya harus menempuh perjalanan darat yang melelahkan dan harus menyakiskan betapa mengerikannya sisa-sisa banjir bah di Bima. dan semua itu Tuhan balas dengan pengalaman menyenangkan ini. Menyapa Komodo di Pulau Rinca dan Pulau Komodo, menyaksikan beberapa tempat yang sangat indah di kawasan taman nasional ini dan yang terpenting saya bertemu banyak orang-orang baik, yang bisa jadi kami hanya akan dipertemukan ditempat ini tidak lagi akan ada pertemuan kedua dan ketiga dab hal itu tidak perlu kita sedihkan.


Pantai Pink
Saya terbangun, dengan pemandangan pantai yang begitu menenangkan. Pernahkah kalian terbangun dan hal pertama yang kalian lihat adalah samudera nan luas seperti tak bertepi. Betapa luar biasanya itu. Salah satu bagian terpenting dari traveling saya kali ini adalah menjadi orang-orang perahu, seperti suku Bajo. Dalam artian selama dua hari ini saya akan hidup diatas perahu, mandi, makan, sholat dan tidur di atas perahu. Saya selalu mengagumi kehidupan seorang pelaut, bisa hidup diatas samudera nan luas tak bertepi. Menjelajah ke belahan-belahan bumi yang tidak semua manusia bisa kunjungi.  Kalian tahu hanya di lautan manusia bisa menjadi manusia yang benar-benar bebas. Menjadi merdeka seutuhnya. Hingga hari ini, masih belum banyak yang bisa manusia ketahui tentang samudera nan luas ini. laut masih menyimpan sejuta misteri dan keajaibannya.


Destinasi pertama kami hari ini adalah Pink Beach. Kalau kalian pernah mendengar Pink Beach di Lombok, nah di Pulau Komodo ini juga terdapat salah satu spot yang wajib dikunjungi wisatawan ketika melancong ke Flores. Pink Beach.

Pink Beach dari kejahuan
Lihat perahu dikejahuan itu, kita harus berenang dari sana ke bibir pantai itu. Pink Beach di Pulau Komodo ini merupakan wilayah konservasi kehidupan bawah laut, itulah mengapa perahu-perahu seukuran perahu yang kami gunakan hanya bisa berlabuh agak jauh dari bibir pantai.  Pink beach komodo merupakan salah satu 1 dari hanya 7 pantai di dunia ini yang memiliki pasir berwarna merah muda. Banyak mitos terkait mengapa pasir di pantai ini bisa berwana seperti ini. salah satunya yang paling masuk akal menurutku adalah adanya hewan mikroskopik bernama foraminefera yang memproduksi warna merah atau pink terang pada terumbu karang. Pecahan-pecahan terumbu karang yang sudah mati kemudian berserakan di bibir pantai dan akhirnya warna dasar putih di pasirnya terkontaminasi warna merah muda tadi. itu menurut kesotoyanku.

Pulau Pink memang unik, selain bibir pantainya yang berwarna romantis, kita juga bisa menikmati panorama indah di ketinggian bukit yang berada tak jauh dari bibir pantainya. Dari ketinggian bukit itu, kita bisa menikmati pemandangan lautan lepas sejauh mata memandang juga gugusan pulau kecil yang bertebaran  di beberapa titik. Meski demikian, kita harus tetap waspada di tempat ini, karena tempat ini masih merupakan habitat asli Komodo.


Kami menghabiskan pagi yang menyenangkan di sini. Setelah puas berenang, berjemur, bermain pasir kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya. Pulau Padar, pulau ikonik yang menjadi salah satu latar pemandangan di pecahan mata uang baru kita tepatnya di pecahan uang 50 ribuan.


 Pulau Padar



Pulau Padar memang eksotis. Setiap kali saya membayangkan atau mengingat Pulau ini entah mengapa dadaku terasa lega. Jantungku berdetak sedikit lebih kencang. Pulau ini mungkin tempat paling indah yang kukunjungi di tahun 2016 kemarin. Pulau Padar masih berada di kawasan taman nasional komodo. Pulau Padar adalah pulau ketiga terbesar di kawasan Taman Nasional Komodo, setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Pulau Padar letaknya cukup jauh dari pelabuhan di kota labuan bajo. Sebagai salah satu pulau di gugusan terluar, maka membutuhkan sekitar 3,5 jam waktu tempuh demi mencapai tempat ini. Dari pantai Pink sendiri pulau ini tidaklah terlalu jauh kira-kira satu setengah  atau dua jam dengan kecepatan sedang untuk sampai ditempat ini. Pulau Padar sebenarnya adalah pulau kosong tak berpenghuni, kita tidak akan menemukan satu pun bangunan di sini. Pulau ini memiliki ciri khas savana hijau  berbukit-bukit sejauh mata memandang.  Sungguh saya merasa bangga pernah berkunjung ke tempat ini, maka nikmat liburanmu yang mana yang kau dustakan. hehehhehehe

Pulau ini letaknya tidak jauh dari Pulau Rinca dibandingkan dengan jarak ke Pulau Komodo, meski demikian kita tidak akan menemukan komodo di tempat ini. Di tempat ini kita seperti berada di belahan dunia lain, seperti kembali ke jaman purba, seperti berada di suatu tempat dimana Dinosaurus masih menjadi penguasa dunia. Tempat ini rasanya sangat surreal, seperti tidak nyata tapi nyata dengan bukit-bukit menjulang tinggi dan banyak bagian yang tampaknya belum atau tidak dapat dijamah manusia karena trekking yang terlalu curam. Bagian pulau Padar yang terhalang bukit terlihat menyimpan begitu banyak misteri. Sesuatu seperti berada disana mengintip kita, pengunjung yang pongah.

 Padar seperti pulau perawan yang belum pernah dikunjungi siapapun. Satu-satunya jejak manusia yang ada disini adalah sampah yang terserak di beberapa titik. Miris memang, di tempat seindah ini masih ada manusia-manusia yang dengan teganya meninggalkan botol bekas minumannya atau plastik pembungkus makanannya berserakan dimana saja. Manusia merusak alam. Manusia membawa kepongahan dari perkotaan sana bahkan hingga ke tempat seperti ini.

Saya bayangkan beberapa tahun lagi, akan berdiri banyak resort-resort di sini. Fasilitas-fasilitas modern juga akan segera didirikan demi kenyamanan dan kepuasan pelancong dan tempat ini akhirnya akan menjadi biasa, kehilangan jati dirinya.  Manusia menuntut alam untuk berubah, bukan justru belajar dari alam.

Foto paling ngenes yang saya ambil

Pulau Kelor
Apa yang ada dibenak kalian jika mendengar nama pulau Kelor ?
Nama pulau ini Pulau Kelor mungkin karena luas tempat ini hanya seluas daun kelor. Pulau ini memiliki bibir pantai yang cukup landai dengan pasir putih dan bukit menjulang tinggi dengan kemiringan lebih dari 45 derajat di tengah pulau yang  menggoda untuk didaki. Dibutuhkan kurang lebih 15 hingga 20 menit  buat sampai di puncak bukti tempat saya berdiri ini, dan dibutuhkan waktu lebih lama untuk menuruninya.

Jika anda punya sedikit keberanian saya sangat sarangkan anda untuk mendaki puncak bukit ini. Tapi ingat tingkat kemiringan 45 derajat bukan perkara mudah untuk di daki kita harus benar-benar ekstra hati-hati jika tidak bisa-bisa kita akan berakhir tragis di sini. Ombak di pantai ini juga cukup tenang sehingga bisa jadi tempat tepat untuk melakukan free dive. Dasar yang cukup dalam dengan terumbu karang yang cantik bisa ditemui di area yang tidak terlalu jauh dari tepi pantai.

Saya sendiri hanya menikmati pemandangan nan indah di tempat ini dari ketinggian bukitnya, tidak berenang maupun snorkeling seperti turis-turis yang lain. Saya sudah cukup trauma dengan air laut di pantai pink tadi pagi. Puas di Pulau Kelor kami memutuskan untuk mengakhiri petualangan seru ini di sini. Cukup sudah. Sesuatu yang terlalu direnggut berlebihan tidak akan menghasilkan manis yang pas. Kami memutuskan mengakhiri petualangan kami di sini,

Dika dan ayahnya akan melanjutkan perjalanan ke Mataram, mereka akan menghabiskan beberapa hari di sana sebelum kembali ke Jakarta. Saya sendiri akan melanjutkan perjalananku ke Wae Rebo, suatu tempat yang masih belum banyak dikunjungi manusia, suatu tempat yang masih asing, jauh tersembunyi dibalik gunung.  Kebersamaan yang singkat ini cukup menyenangkan. Meski pada setiap pertemuan kita akan akhirnya akan berpisah, tapi hal-hal seperti itu tidak perlu kita sedihkan.

selamat tinggal kapal nurwati




Part II: 9D Solo Backpacker : Mataram-Labuan Bajo (Jalur Darat)

Day 4 27 Desember 2016 Pulau Komodo: Negeri Para Naga Orang-Orang Flores: Portugis Hitam dari Timur Awalnya saya sendiri sul...


Day 4
27 Desember 2016
Pulau Komodo: Negeri Para Naga

Orang-Orang Flores: Portugis Hitam dari Timur
Awalnya saya sendiri sulit membedakan antara Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat serta daerah-daerah yang ada diantara ke dua provinsi tersebut. Saya menganggap orang-orang lombok, Bima, Sumbawa sama halnya dengan orang-orang flores itu. Belakangan kuketahui ada banyak perbedaan mendasar diantara mereka.

Secara anatomi fisik, orang-orang Nusa Tenggara Barat lebih mirip percampuran antara ras Bali dan Jawa dengan ditambahi  ciri khas tertentu seperti kulit hitam manis, alis tebal dan rambu sedikit kriting.  Sedangkan orang-orang flores, perpaduan antara ras malanesia, mongoloid, melayu dan bangsa Portugis melebur menjadi satu. Itulah mungkin orang-orang flores terkenal manis-manis. ehmmmm Orang-orang Flores dijuluki Portugis Hitam dari Timur.   

Pada dasarnya orang-orang Flores bukan merupakan satu suku dengan latar belakang yang sama. pulau Flores didiami oleh banyak suku di antaranya Manggarai, Ngadha, Nage Keo, Ende-Lio, Sika, Larantuka dan Lamaholot. Bila ditinjau dari sudut bahasa dan budaya, orang Flores terdiri dari beberapa etnis, yaitu: etnis Manggarai - Riung (yang meliputi kelompok bahasa Manggarai, Pae, Mbai, Rajong, dan Mbaen), etnis Ngadha-Lio (terdiri dari kelompok bahasa-bahasa Rangga, Maung, Ngadha, Nage, Keo, Palue, Ende dan Lio), etnis Mukang (meliputi bahasa Sikka, Krowe, Mukang dan Muhang), etnis Lamaholot (meliputi kelompok bahasa Lamaholot Barat, Lamaholot Timur, dan Lamaholot Tengah) dan etnis Kedang (yang digunakan di wilayah Pulau Lembata bagian selatan).  Suku Manggarai merupakan suku terbesar yang ada di flores selain itu juga kita dengan muda menemukan banyak suku pendatang di Flores ini terutama suku Bugis. Suku Bugis banyak ditemui di Labuan Bajo. Umumnya mereka pendatang  yang tadinya nelayan dan kini telah lama bermukim di Labuan Bajo.    

27 Desember 2016. Saya akhirnya tiba di Labuan Bajo. Saya menempuh perjalanan darat melelahkan dari Mataram ke Bima selama 13 jam, ke...




27 Desember 2016. Saya akhirnya tiba di Labuan Bajo. Saya menempuh perjalanan darat melelahkan dari Mataram ke Bima selama 13 jam, kemudian melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Sape selama 2,5 jam dan terlantar di Pelabuhan Sape selama 21 jam. Dan akhirnya bisa menyeberang ke Labuan Bajo setelah menempuh perjalanan laut kurang lebih 7 jam.  Sampailah saya di sini, di kota Sejuta perahu, gerbang utama menuju negeri para naga. Saya menghabiskan beberapa hari di Flores, mengunjungi banyak  tempat menakjubkan, berinteraksi degan Komodo, hewan purba yang kini menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia. Bahkan saya berkesempatan mengunjungi  Wae Rebo, desa dibalik gunung. Sebuah tempat yang bersejarah, Satu-satunya desa di Indonesia yang menjadi situs warisan budaya dunia yang diberikan oleh UNESCO pada 2012 yang lalu. Semoga kalian menikmati catatan ringkas ini seperti saya menikmati saat menulisnya.

Day 4

27 Desember 2016
Labuan Bajo: Kota Sejuta Perahu
Labuan Bajo dari kejahuan
Badan saya terasa remuk. Saya berdiri memandang lautan lepas seperti tak berujung. Angin laut selalu hangat dan menenangkan. Itulah mungkin mengapa orang-orang suka memandang lama-lama lautan. Lautan selalu mampu menelan semua kepedihan manusia, menenggelamkannya ke dasar samudera. Hanya di lautan manusia mampu menemukan kebebasan sejatinya.

Pagi yang mendung. Setelah semua kepenatan kemarin kami akhirnya bisa menyeberang pukul 03.00 subuh tadi.  Labuan Bajo sisa sejengkal lagi gumamku. Saya tiba-tiba dikagetkan oleh seseoang yang  berseru-seru, menunjuk sesuatu yang belum bisa ku lihat jelas, dan tiba-tiba seekor lumba-lumba melompat ke udara, di susul lumba-lumba yang lain. Melompat dan melompat, mengikuti arah kapal. Saya tertegun, kejadian sekilas itu tiba-tiba melenyapkan semua kepayahanku. Dadaku menghangat. Tidak banyak yang bisa melihat pemandangan seperti ini secara langsung.  Melihat bagaimana mahluk laut secantik itu di habitat aslinya. Perairan flores memang terkenal banyak lumba-lumbanya.

More Picture: Cek IG @asdar_munandar “Dunia ini bagaikan buku raksasa. Dan mereka yang tidak pernah melakukan perjalanan hanya...




More Picture: Cek IG @asdar_munandar

“Dunia ini bagaikan buku raksasa. Dan mereka yang tidak pernah melakukan perjalanan hanya membaca satu halaman saja”
 -St. Agustine-
Day 3: 26 Desember 2016
Mataram-Pelabuhan Sape: Ketika Mimpi Tergerus Realita
  
Seberapa jauh sih “jauh” itu ?, kenapa banyak orang-orang yang terobsesi dengan kata jauh.  Dulu ketika saya kecil, saya selalu betah memandangi cakrawala nan jauh. Berdiri di tanah lapang memandang lurus sejauh mata saya bisa memandang, atau ke pantai dan membayangkan berapa jauh kolong langit di cakrawala sana.

Pagi  yang pengap, saya berdiri kecewa di pinggir dermaga pelabuhan sape, menatap jauh di cakrawala. Kapal penyebrangan ke Labuan Bajo sudah meninggalkan pelabuhan 3 jam yang lalu. Hiruk pikuk pelabuhan melambat. Perjalanan tidak selamanya mulus dan lancar, kadang bahkan lebih seringnya perjalanan yang kita jalani tidak sejalan degan apa yang kita rencanakan.  Perjalanan hanyalah ibarat proses membenturkan fantasi dan realita. Dan nyatanya kita justru malah sering kecewa ketika fantasi-fantasi yang kita bangun rontok berguguran, hangus tergerus realita yang menyakitkan

Pelabuhan Sape

Perjalanan seperti ini sungguh menguji daya tahan dan kesabaran kita sebagai manusia, juga mengajarkan kita bahwa ada hal-hal yang memang manusia tidak bisa kita paksakan.   Semalam saya menempuh  perjalanan panjang dari Mataram ke Bima hingga 13 jam lamanya. Berangkat dari Terminal Mandalika pukul 03.00 sore dan tiba di Bima tepat pukul 4 Subuh dan berharap pagi ini saya bisa menyebrang ke Labuan Bajo sesuai itinerary yang sudah saya susun sebelumnya. Tapi manusia hanya bisa berencana takdir selalu punya ceritanya sendiri.

Day2:  Mataram 25 Desember 2016 .   Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu,  perjalananmu bukanlah perj...

Day2: 
Mataram 25 Desember 2016.


Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, 
perjalananmu bukanlah perjalananku
"Paul Theroux"

Mataram-Bima-Pelabuhan Sape
Pagi yang sempurna. Suara adzan membangunkanku. Lombok memang terkenal agamais. Jika Bali punya julukan Pulau Seribu Pura maka Lombok dijuluki dengan Pulau Seribu Masjid. Di  Mataram, Ibu kota Provinsi  NTB ini kita tidak akan kesulitan menemukan masjid. Masjid menjamur dimana-mana dan salah satu yang termegah adalah Masjid Islamiq Center yang baru diresmikan pada tahun 2013 kemarin. Masjid ini berdiri diatas lahan seluas 7,6 hektar di sudut jalan Langko dan Udayana yang merupakan jalur utama, dibangun begitu megah dengan memadukan karakteristik bangunan tradisional Lombok dan Sumbawa. Konon katanya pembangunan masjid ini sendiri menghabiskan dana kurang lebih sebesar Rp. 500M



Gubernurnya  Dr. K.H. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang Majdi menjadi salah satu gubernur terbaik yang dimiliki negeri ini.  Gubernur termuda di Indonesia ini berhasil meraih banyak penghargaan nasional dan internasional, antara lain dengan meraih The Best Province Tourism Develovment dengan dikukuhnya NTB sebagai Provinsi Pengembang Pariwisata Terbaik versi ITA di Metro TV selain itu Provinsi ini juga meraih penghargaan Top Eksekutif Muslim 2016 dari Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) dan The Best Dedicated Governor in Developing of MICE Industry serta segudang prestasi-prestasi lainnya.  Dan yang tak kalah kerennya Gubernur ini juga merupakan salah satu Gubernur Hafidz Qur’an loh. Jadi iri pengen punya gubernur kayak gitu juga.
Islamic Center Lombok Tampak Samping

More Picture chek IG: @asdar_munandar "Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan. Agar kamu dapat pergi kian k...


More Picture chek IG: @asdar_munandar
"Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan.
Agar kamu dapat pergi kian kemari di jalan-jalan yang luas"
(Q.S Nuh: 19-20)

Saya menutup akhir tahun 2016 dengan sebuah catatan manis, Saya melakukan solo backpacking dari Makasar-Mataram-Labuan Bajo-Bima- dan kembali Kemakasar selama 9 hari lamanya. Sebuah perjalanan yang dipenuhi berbagai kisah. saya mengalami berbagai macam kondisi selama perjalanan itu. Takut, cemas, kecewa, Sedih, bahkan sempat terlunta-lunta di pelabuhan. tapi disatu sisi besama perjalanan itu saya juga menemukan banyak hal yang mengesankan, bertemu keluarga baru, melihat banyak tempat yang indah, budaya yang unik dan melihat berbagai macam realitas yang tidak akan kita temui jika hanya berdiam di rumah. Bagaimanapun juga, perjalanan selalu mampu merubah manusia. Perjalanan adalah satu-satunya hal yang bisa kita beli yang dapat membuat kita menjadi lebih kaya. Berikut catatan perjalanan saya, semoga kalian menikmati membacanya seperti saya menikmati ketika menulisnya. Happy Hippie.
 
Day I: Makasar-Mataram
Sabtu 24 Desember 2016

Pesawat yang menerbankan ku dari Makasar mendarat mulus di Bandara Internasional Lombok di Mataram. Langit Mataram kelabu pudar, warna biru cerah khas langit sama sekali tak terlihat. Mendung menggantung sempurna. Ini kali kedua saya mendatangi tempat ini setelah sebelumnya pada tahun 2014 kemarin melakukan perjalanan paling seru dan paling gembel bersama dua orang sahabatku.  Perjalanan darat dari Malang-Bali-Lombok dan kembali lagi ke Malang dengan budget yang sangat minimal, bayangkan saja kami hanya menghabiskan tidak lebih dari dua juta (bertiga) untuk perjalanan selama seminggu penuh. Sebuah petualangan yang selalu menarik untuk dikenang (tapi tidak untuk diulang, hehehhehe. Bisa dibaca disini dan disini)
Bandara Internasional Lombok

Saya memilih Damri untuk mengantarkan ku ke Kota. Jarak antara Bandara ke Kota Mataram terasa sedikit jauh, mungkin kurang lebih satu jam perjalanan.  Dari bandara, Damri hanya akan berhenti di dua tempat. Pemberhentian pertama di dekat terminal Mandalika Mataram dan pemberhentian berikutnya akan berhenti di daerah pantai Senggigi. Loket Damri terletak persis di depan pintu keluar bandara, tarif dari bandara ke kota hanya Rp 25.000 jauh lebih murah dibanding moda transportasi lain seperti ojek atau taksi misalnya.