Showing posts with label Wawasan. Show all posts

  30 Paspor di Kelas Sang Profesor adalah buku terakhir yang saya baca tahun ini, sekaligus menjadi penutup perjalanan saya menyelesaikan G...

 


30 Paspor di Kelas Sang Profesor adalah buku terakhir yang saya baca tahun ini, sekaligus menjadi penutup perjalanan saya menyelesaikan Goodreads Challenge 2024. Tahun ini, saya hanya menargetkan membaca 20 buku. Target yang sederhana, tapi ternyata tetap terasa berat. Alhamdulillah berhasil kuselesaikan dengan terseok-seok.

Buku ini menjadi penutup yang manis. Ia menceritakan pengalaman 30 mahasiswa Universitas Indonesia (UI) di bawah bimbingan Prof. Rhenald Kasali. Dalam mata kuliah Pemasaran Internasional, Prof. Rhenald memberikan tugas yang tidak biasa: perjalanan ke luar negeri secara mandiri. Tujuan tugas ini bukan sekadar memenuhi nilai, tapi untuk melatih mereka menjadi pribadi yang mandiri, bebas, dan bertanggung jawab—yang beliau sebut sebagai self-driving.  

Buku ini ditulis dengan sangat menarik oleh J.S Khairan. Kisah-kisah yang disajikan meski sederhana tapi sungguh menarik, buku ini type buku yang bisa diselesaikan dalam sekali baca. Saya menyelesaikannya dalam waktu kurang dari empat jam, di sela-sela perjalanan saya pulang ke rumah. Di setiap halamannya, ada cerita petualangan yang seperti menyegarkan pikiran saya, seperti oasis di tengah kesibukan kerjaan yang tiada habisnya. Buku ini sungguh hadir di saat -saat saya begitu merindukan menggendong carrier saya, bertualang ke sembarang tempat dan tersesat.

Saya selalu menyukai kisah perjalanan. Bagi saya, perjalanan—apalagi ke tempat yang benar-benar asing—adalah pengalaman yang mampu mengubah cara kita memandang dunia, belajar menerima hal-hal baru, berdamai dengan pemakluman-pemakluman baru dan menemukan sudut pandang yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Pragmen-pragmen kehidupan seperti itu sungguh sebuah pelajaran yang tak bisa kita temukan jika hanya duduk di bangku kuliah. 4 bintang untuk buku ini. Sungguh sebuah kisah menarik untuk mengakhiri tahun 2024 ini.


  “ Ini adalah kisah indah dan menyentuh hati sehingga kita pikir butuh Mitch Albom untuk menuliskannya. Tetapi, Albom lebih dari seorang pe...

 



Ini adalah kisah indah dan menyentuh hati sehingga kita pikir butuh Mitch Albom untuk menuliskannya. Tetapi, Albom lebih dari seorang penulis karena kisah ini adalah kisah hatinya sendiri, yang hancur karena kedatangan yang mengejutkan dan kepergian yang menyiksa dari seorang gadis kecil Haiti yang memesona bernama Chika---yang menjadi putri yang berharga bagi ia dan istrinya.
Ini adalah kisah kehidupannya sendiri, yang ia satukan kembali dalam buku ini.”
—Melissa Fay Greene, penulis There Is No Me Without You


Saya menutup lembaran terakhir buku ini dengan dada penuh sesak. Meski saya sudah tau ending buku ini akan seperti apa, namun saya hampir-hampir tak bisa membendung air mataku. Mr. Mitch dalam lembaran prolog buku ini pun bahkan sudah menjelaskan dengan gamblang, Chika gadis kecil itu, hanya bisa bertahan sampai di usianya yang ke 7. Kanker ganas di otaknya tak bisa dikalahkan. Berbagai usaha telah di upayakan, namun takdir tak pernah datang terlambat.


Mitch Albom selalu mampu meramu kematian menjadi sebuah pelajaran yang berharga, seperti halnya buku-buku terdahulunya Thursday With Morrie misalnya, yang juga dalam buku ini beberapa kali disinggung. Buku tentang memoar Prof Morrie di akhir-akhir hidupnya, dibukukan menjadi narasi yang sangat menyentuh sebuah kisah penuh filosofi, bagaimana pertemuan yang dilaksanakan di tiap selasa itu menjadi pelajaran yang berharga dan memberikan inspirasi kepada banyak orang. Pun buku lainnya dengan gendre yang berbeda yang menurutku sama bagusnya “for one more day” kisah tentang Charley Chik Benetto  yang diberi kesempatan untuk kembali bertemu Ibunya setelah bertahun-tahun yang lalu meninggalkannya dalam sebuah kematian yang menyedihkan. Buku yang berkali-kali kubaca dan tak pernah membuatku bosan.


Berbeda dari dua buku sebelumnya yang membahas mengenai kematian dari sudut pandang yang lebih positif, buku ini “Finding Chika” justru merupakan memoar pribadi Mr. Mitch menghadapi hari-hari terakhir dan segala upaya yang dia dan istrinya telah lakukan untuk anak angkatnya “Chika” gadis kecil yang diadopsi nya dari Haiti.

 

Finding Chika: A Little Girl, an Earthquake, and the Making of a Family oleh Mitch Albom bukanlah sekadar memoar biasa. Ia adalah kisah nyata yang menusuk kalbu, merajut benang antara kesedihan dan harapan, tentang seorang gadis kecil bernama Chika, gempa bumi dahsyat di Haiti, dan perjalanan seorang pria untuk menemukannya serta membangun keluarga yang tak terduga


 Chika menderita tumor otak, usianya di vonis hanya bisa bertahan tak lebih dari 4 bulan lagi. Apakah kemudian Mr. Mitch menyerah dan berpasrah pada vonis dokter ? Buku ini, mengisahkan segala upaya yang dilakukan oleh Mich Albom dan istrinya Mrs. Jennie untuk membuka semua kemungkinan yang bisa diberika kepada Chika. Salah satu ungkapan yang begitu menyentuh yang diungkapkan Mr. Mitch “Bagi Dokter, Chika mungkin hanya satu dari sekian pasien yang ditanganinya, sedangkan untuk kami, Chika adalah satu-satunya yang kami miliki. Saya terpekur lama setelah membaca bagian itu. Buku ini berhasil membuatku sebak berkali-kali, saya membayangkan Mr. Mitch, menuliskan semua memoar ini dengan linangan air mata. Buku ini saya rasa menjadi master piece dari semua buku Mitch Albom


 Finding Chika" adalah bacaan yang emosional, inspiratif, dan membuka wawasan. Ia mengingatkan kita tentang kekuatan cinta, pentingnya keluarga (dalam bentuk apapun), dan kemampuan manusia untuk menemukan harapan di tengah kesulitan. Untuk siapa pun yang mencari kisah nyata yang mengharukan dan penuh makna, buku ini tak boleh dilewatkan.


 Buku ini melampaui sekadar pengalaman personal Mr. Mitch. Ia mengangkat isu kemanusiaan pasca bencana, perjuangan meraih akses kesehatan, dan kompleksitas adopsi internasional. Melalui Chika, Albom mengajak pembaca melihat Haiti bukan sebagai statistik tragedi, melainkan sebagai negeri dengan semangat, harapan, dan budaya yang kaya.


"Ada berbagai wujud keegoisan di dunia ini, tetapi yang paling egois adalah menunda, sebab tidak seorang pun di antara kita yang tahu berapa banyak waktu yang masih tersisa, dan berasumsi bahwa kita punya lebih banyak waktu sama saja seperti menentang Tuhan." Mitch Albom

 

 

Tahun 2020 kembali saya mengikut goodread challange. Seperti tahun kemarin saya menarget untuk menyelesaikan 30 buku selama setahun ini dan ...



Tahun 2020 kembali saya mengikut goodread challange. Seperti tahun kemarin saya menarget untuk menyelesaikan 30 buku selama setahun ini dan saya berharap 70%nya adalah buku non fikis. Sampai dengan pertengahan tahun ini taget saya berjalan dengan baik. Saya telah menyelesaikan 15 buku atau setengah target yang harus saya selesaikan di tahun 2020.. Beberapa buku yang saya baca begitu berkesan tapi juga beberapa diantaranya sangat tidak dirokemendasikan untuk dibaca. Sebagian besar buku non fiksi yang kubaca adalah buku tentang sejarah dan peradaban sementara buku non fiksi masih lebih suka membaca karya klasik non menye-menye.

Dari 15 buku yang kubaca, saya akan mengurutkan 10 diantaranya yang merupakan buku terbaik yang kunilai  berdasar berbagai pertimbangan subjektif. Jadi penilaian ini sama sekali tidak ilmiah, tidak bisa dijadikan tolak ukur bagus tidaknya buku itu, murni hanya pandangan pribadi saya. Berikut bukunya:

1.       Ring of Fire: An Indonesia Odyssey by Lawrence Blair, Lorne Blair

Buku yang menempati posisi pertama adalah “Ring of Fire”-nya Blair bersaudara. Buku ini sungguh membuatku jatuh cinta. Ditulis dengan narasi yang sangat meneraik dan detail. Buku ini menurutku buku catatan perjalanan terbaik tentang Indonesia sejauh ini yang pernah saya baca, pun  diterjemahkan dengan sama baiknya  oleh Tiyas Palar. Satu-satunya kekurangan buku ini adalah rentang waktu yang terlalu jauh antara zaman saya membacanya dan era yang diceritakan Blair. Banyak hal telah berubah di Indonesia. Saya sangat menyesal kenapa buku sebagus ini baru saya temukan sekarang. Mewakili  penduduk Indonesia saya merasa berkewajiban  mengucapkan banyak terimakasih kepada Lawrance dan Lorn Blair karena telah mendedikasikan hidupnya untuk menghasilkan karya tentang Indonesia yang begitu luar biasa ini. Saya rasa bahkan orang Indonesia sendiri pun tidak banyak yang memiliki minat seperti apa yang telah dilakukan oleh mereka. Sekali lagi, terimakasih Lawrence dan Lorne Blair untuk karya yang luar biasa ini. 4,5 bintang untuk buku ini.

Resensi lengkapnya bisa dibaca di sini https://www.asdarmunandar.com/2020/03/resensi-buku-ring-of-fire-indonesia.html

2.       Saladin: Life, Legend, Legacy by John Man

John Man adalah sejarawan dan travel writer dengan ketertarikan khusu terhadap islam dan timur jauh, termasuk Mongolia. setelah menyelesaikan studi mengenai Jermand an Prancis di oxford, ia mengambil dua program kursus pascasarjana: kajian sejarah sains di oxford dan studi bangsa Mongol pada School of Oriental and African Studies di London.

Latar belakang akademik itu menjadikan karyanya memang luar biasa, salah satu yang sangat memukau menurutku adalah buku Biografi Shalahuddin AL-Ayyubi ini. ditulis dengan sangan detail dan objektif. BUku ini bukan hanya berisi tentang riwayat hidup Shalahuddin, buku ini juga berisi catata sejarah Imperium-imperium besar yang melatar belakangi kisah hidup Shalahuddin. Salahuddin atau dibarat disebuet Saladin adalah tokokh yang paling ikonik pada zamannya.

Kesuksesannya menaklukkan Yerussalam tercatat dalam tinta emas sejarah peradaban Islam, namun dibalik suksesnya itu banyak hal yang selama ini tidak kita ketahui, bagaimana masa kecilnya, peperangan-peperangan mana yang dia menangkan dan dikalahkan. motif apa yang melatar belakangi perang suci yang dikobarkannya bertahun-tahun lamanya. buku ini mampu mengulas semua itu dengan baik dan tentunya sangat objektif. buat kalian yang menyengi sejarah peradaban Islam saya sangat sarangkan membaca buku ini. banyak kejutan yang akan kalian temukan terkait sosok pahlawan Islam Salahuddin itu. 4 bintang untuk buku ini.

3.       Metropolis Universalis: Belajar Membangun Kota yang Maju dari Sejarah Perkembangan Kota di Dunia (Metropolis Universalis) by Eko Laksono

Buku ini Bercerita tentang kota-kota besar masa kini dengan kisah pencetus serta ide-ide bangsa besar ini yang awalnya terkesan utopis. Siapa sangka, adalah sesuatu yang ironis bahwa Eiffel awalnya hanya dibangun sementara sebagai "gerban masuk" (raksasa) Exposition Universelle 1889, dan dibenci oleh semua orang. Media membencinya, warga Paris membencinya. Begitupula Alexander Dumas dan Guy de Maupassant, penulis yang dikagumi Nietzsche. Maupassant bahkan suka makan siang dibawah Eiffel Tower karena di sana adalah satu-satunya tempat dia tidak akan bisa melihat menera metal raksasa itu. tapi seiring berjalannya waktu, orang-orang dari seluruh duni datang ke sini. setiap tahun kota itu dikunjungi 40 juta turis, terutama untuk menikmati keindahan kotanya, aura romantismenya, dan tentu saja Eiffel Tower-nya. Menciptakan sesuatu yang besar di sebuah kota tentunya selalu memerlukan perjuangan. (hal-31). 4 bintang untuk buku ini

Resensi lengkapnya bisa dibaca di sini https://www.asdarmunandar.com/2020/02/metropolis-universalis.html

4.       Sapiens: A Brief History of Humankind by Yuval Noah Harari

Pada dasarnya buku ini terbagi 4 bagian besar: (1) Revolusi Kognitif, (2) Revolusi Agrikultur, (3) Penyatuan Manusia dan (4) Revolusi Saintifik. Seperti kata Bill Gates buku ini secara garis besar berisi tentang “sejarah ummat manusia “. Sejarah leluhur ummat manusia homo sapiens dari masa pra sejarah sampai masa ini di jaman revolusi saintifik.

Pada awalnya saya benar-benar tidak bisa memahami kemana arah tulisan ini akan dibawa. Apakah untuk kembali melegitimasi teori Evolusi yang mulai usang itu. Bahwa manusia senyatanya memang hasil dari evolusi spesies berupa primata yg tadinya hanya merupakan evoulosi dari  makhluk berupa ganggang bersel tunggal di laut. Bahkan konon Sapiens di Indonesia merupakan keturunan dari kera yang hidup di savana Afrika.

Selain teori evolusi buku ini juga banyak mengulas dampak dan kegagalan revolusi industri terhadap “homo sapiens” dan bagaimana era revolusi industri itu justru membawa manusia ke gerbang kepunahan. Buku ini juga menceritakan secara gamblang sejarah kelam kolonialisasi bangsa-bangsa besar di masa lalu. dan bagaimana kolonialisasi itu sukses menghapuskan beberapa ras penduduk asli pribumi di suatu wilayah.Jadi mengapa akhirnya saya membaca buku ini. Prof Harrary juga mengajukan pertanyaan yang sama. Jadi, mengapa belajar sejarah?  Menurutnya “ sejarah tak seperti fisika dan ekonomi, sejarah bukanlah alat untuk membuat prediksi akurat. Kita mempelajari sejarah bukan untuk mengetahui masa depan, tetapi  untuk memperluas cakrawala, untuk memahami bahwa situasi  kita saat ini bukanlah alamiah atau tak terelakkan, dan bahwa kita dengan demikian memiliki lebih banyak kemungkinan di depan untuk kita bayangkan. Misalnya, mempelajari bagaimana bangsa Eropa mendominasi Afrika memungkinkan kita menyadari bahwa tidak ada yang natural atau tak terelakkan tentang hierarki rasial, dan bahwa dunia mungkin diatur secara berbeda. 285. 4 bintang untuk buku ini

Resensi lengkapnya bisa dibaca di sini https://www.asdarmunandar.com/2020/06/resensi-buku-sapiens-brief-history-of.html

5.       Jurus Sehat Rasulullah by Zaidul Akbar

Tubuh kita adalah tubuh terbaik. Maka dari itu, sudah seharusnya kita menjaga tubuh kita agar tetap sehat. Lalu, baqaimana caranya menciptakan tubuh yang sehat? Ikutilah pola hidup Rasulullah saw. Beliau selalu menjaga kesehatannya secara optimal, dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Konsep-konsep pencegahan dan peningkatan kesehatan yang dijalankan beliau selalu berlandaskan pada wahyu Allah Swt. Maka dari itu, kualitas DNA beliau sangatlah baik. Itulah sebabnya, seumur hidup, beliau hanya dua kali mengalami sakit. Ternyata, konsep-konsep itu merupakan konsep terbaik yang masih update hingga saat ini. Jadi, bagi Anda yang ingin hidup sehat, bacalah buku ini dan ikuti jurus Rasulullah saw. Begitu dr, Zaidul Akbar menjelaskan dalam bukunya. Saya rasa buku ini saah satu buku wajib yang harus dimiliki ummat Islam. Buku ini memberikan gambaran kepada kita bagaimana seharusnya kita lebih perhatian terhadap hal-hal yang kita konsumsi

6.       Seni Hidup Minimalis: Petunjuk Minimalis Menuju Hidup Yang Apik, Tertata, Dan Sederhana by Francine Jay

Menurutku, buku ini sangat bagus, sangat cocok dibaca oleh semua golongan, buku ini mengajarkan bagaimana pola hidup minimalis bisa diterapkan. pada dasarnya buku ini membahas sepuluh hal berikut: (1). mulai dari awal (2). Buang, simpan atau berikan (3) Alasan setiap barang (4) Semua barang pada tempatnya (5) Semua permukaan bersih (6) Ruang (7) Batas (8) Satu msauk, satu keluar (9) Kurangi, dan (10) Perawatan setiap hari

Dengan bahasa yang sederhana Francine Jay mampu menyajikan perspektif yang berbeda tentang bagaimana "thing" itu harus dilihat. Dengan menerapkan pola hidup mininalis tidak hanya dampak financial yang akan terasa, pola hidup kita dan keluarga akan semakin berkualitas. seorang ibu akan punya lebih banyak waktu berkualitas dengan keluarganya jika tidak direpotkan dengan mengurus prabotan dapur yang berantakan. atau seorang ayah akan punya banyak waktu bermain dengan putranya jika tidak harus membereskan dokumen-dokumen pekerjaan atau peralatan bengkel yang terbengkalai.

Hidup minimalis ternyata tidak hanya terpaku pada "berapa banyak barang" yang harus dimiliki, lebih jauh dari itu, hidup minimalis juga berbicara mengenai dari mana dan bagaimana barang itu diproduksi, dampak lingkungannya bahkan proses daur ulangnya. semua hal tersebut saling terkait sehingga pola hidup minimalis ini menuntut kita untuk menjalani hidup lebih praktis, sederhana dan bermanfaat buat orang lain dan lingkungan. Terimakasih Francine Jay telah menuliskan buku ini dengan baik. 4 bintang untuk buku ini

7.       Guru Aini by Andrea Hirata

Saya tidak bisa mereview buku ini dengan baik. Mugkin karena ekspektasi saya yang terlalu tinggi, mengingat buku pendahulunya luar biasa bagusnya. Buku ini merupakan prequel dari buku berjudul “orang-orang biasa”. Meski tidak semenarik buku pertamanya namun saya rasa buku ini juga bisa menjadi salah satu koleksi yang sangat layak baca buat kalian pecinta karya Andrea Hirata. Secara garis besar, buku ini berkisah tentang Bu Desi, sosok guru idealis yang rela mengorbankan segala yang dimilikinya untuk menjadi seorang guru matematika di peloksok negeri. Apakah kemudian idealisme yang dia bangun rontok bersama realitas yang menyakitkan ? seperti dikatakan dalam sampul buku ini dikatakan “Konon, berdasarkan penelitian antah berantah, umumnya idealisme anak muda yang baru tamat dari perguruan tinggi bertahan paling lama 4 bulan. Setelah itu mereka akan menjadi pengeluh, penggerutu, dan penyalah seperti banyak orang lainnya, lalu secara menyedihkan terseret arus deras sungai besar rutinitas dan basa-basi birokrasi lalu tunduk patuh pada sistem yang buruk” tapi tunggu sampai kalian berkenalan dengan sosok Bu Desi. Wanita berhati baja dengan kemauan yang sama kuatnya. 4 bintang untuk buku ini.

8.       Jalan Tak Ada Ujung by Mochtar Lubis

Tentang Guru Isa, Hazil dan Fatimah.

Tentang ketakutan, kemerdekaan dan idealisme semu.

Tentang kesetiaan dan integritas ketika harus berbenturan dengan realitas

Secara garis besar tema utama dari buku ini adalah “ketakutan manusia”. Pada awal buku ini, Mochtar Lubis mengutip kata-kata dari Jules Romains: ‘Apakah yang harus kita punyai, agar kita bebas dari ketakutan?. Setiap manusia akan menghadapi ketakutan-ketakutannya sendiri, sebagian bisa dengan tegar berdiri menghadapinya sebagian lagi justru memilih menghindarinya. Novel klasik ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1952 ini, Mochtar Lubis ingin memaparkan kisah perjalanan kemanusiaan seorang guru yang senantiasa hidup dalam tekanan dan ketakutan pada masa revolusi sepanjang tahun 1946-1947.  Menurutku buku ini sangat layak dibaca, dengan alur yang begitu kelam dan mencekam Muktar Lubis sukses membawa saya menjelajah bersama ketakutan Guru Isa.

"Guru Isa ingat jalan tidak ada ujung. Sekali dijalani harus dijalani terus, tiada habis-habisnya. Terutama sekali ketakutannya sendiri. Dia takut ikut dengan mereka yang memperolok-olok maut ini. Dan lebih takut lagi untuk tidak ikut." (halaman 92)

 

9.       Senyum Karyamin by Ahmad Tohari

Kumpulan cerita pendek ini berisi 13 cerpen Ahmad Tohari yang ditulis antara tahun 1976 dan 1986. Seperti dalam karya-karyanya terdahulu, dalam kumpulan ini pun Tohari menyajikan kehidupan pedesaan dan kehidupan orang-orang kecil yang lugu dan sederhana. Dan sebagaimana dikatakan dalam “Prakata”, kekuatan Tohari “terletak pada latar alam pedesaan yang sarat dengan dunia flora dan fauna”. Selain itu, gaya bahasa Tohari “lugas, jernih, tapi juga sederhana, di samping kuatnya gaya bahasa metafora dan ironi. Begitu sampul belakang buku ini mendskripsikan buku tipis ini. Saya beri 4 bintang untuk semua kisah yang disajikan Ahmad Tohari dalam kumpulan ceritanya ini. Buku ini seakan menampar pembaca dari sudut pandang manusia kecil yang jadi pemeran utama di setiap ceritanya.

10.   Lelaki Tua dan Laut by Ernest Hemingway,

Buku ini menjadi salah satu buku sastra terbaik dan berhasil memenangkan banyak penghargaan dalam bidang sastra. Diantaranya Hadiah Publitzer 1953 dan Award of Merit Medal for Novel dari American AcaAdemy of Letters. Ernest juga meraih penghargaan bergengsi Hadiah Nobel SastraA pada tahun 1954 berkat novel ini. Namun kesuksesan buku itu tidak menjamin akan penghadirkan pengalaman membaca yang luar biasa bagi semua orang. Entah otakku yang tidak mampu mencernanya atau memang karena seleraku tidak di gendre ini. Novel ini tidak semenarik yang kubayangkan. sungguh membosankan. Kalau kalian pernah membaca life of pie, kalian akan dibosankan dengan percakapan yang monoton antara Pi Patel dan Harimau yang terjebak bersama di perahunya, dan buku ini menghadirkan kisah yang sama, celakanya percakapan monoton itu justru terjadi antara pria tua itu dan alam bawah sadarnya, jauh lebih membosankan lagi.  Bayangkan kau membaca buku 120an halaman yang isinya orang tua yang memancing sendirian, mengeluh, mengerutu dan bertarung dengan ikan Marlin raksasa selama beberapa hari. Ikan itu mampu memberikan perlawan yang sengit dan bahkan membawa pria tua itu terombang ambing ke tengah samudera. Dalam pertarungannya itu si orang tua tadi banyak bercakap-cakap dengan fikirannya sendiri. Buku ini begitu membosankan, dengan narasinya yang panjang-panjang. dan orang tua itu sebagai tokoh utama selalu menggerutu, merutuki nasibnya. Meski demikian, karya sastara klasik ini masih tetap layak untuk dibaca. Tiga bintang untuk buku ini

 

 


Bagaimana Rasanya hidup di atas perahu? Dulu khayalan-khayalan seperti itu sering muncul di alam bawah sadarku. Hidup di atas perahu, j...




Bagaimana Rasanya hidup di atas perahu?
Dulu khayalan-khayalan seperti itu sering muncul di alam bawah sadarku. Hidup di atas perahu, jauh dari siapa-siapa jauh dari apa-apa. Hanya laut, air, angin dan bintang di malam hari. Betapa menyenangkannya.

Pagi ini saya menyaksikan kehidupan itu secara nyata, orang-orang berdatangan dari samudera nan luas, membawa hasil laut aneka macam. Muka-muka lelah tergambar jelas di garis wajah yang di dominasi pemuda-pemuda tanggung itu. Semalaman menerjang ombak dan angin laut yang kadang tak bersahabat. Kehidupan di laut tak semenyenangkan yang kubayangkan, fikirku.

Semalaman mempertaruhkan nyawa kami hanya mendapatkan segini. Begitu kata seorang abk yang usianya mungkin masih belasan. Sekotak kecil ikan aneka macam dia perlihatkan.

“Tak ada lagi yang lain ?” tanyaku memastikan. Dia hanya menggeleng menatap sayu.

“Malam ini purnama, ikan-ikan tak ada yang mendekat. Kami bisanya segini”.  Saya mengangguk pelan.

Pelan-pelan kutinggalkan dermaga ini. hiruk pikuk penadah ikan memang tak seramai beberapa hari kemarin, hanya satu dua ibu-ibu tua yang tak lelah bergulat dengan kehidupan masih betah disana. Menanti sekantong dua kantong ikan jatah dari ABK yang ingin ditadah dan dijualnya kembali di pasar. Rutinitas seperti ini sudah berjalan lama sekali, sudah puluhan bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu.

Awalnya saya bingung, bagaimana transaksi-transaksi bisu itu terjadi. Orang-orang melakukan transaksi tanpa banyak cakap. Hanya gelengan dan anggunkan uang dan kresek hitam berisi ikan bertukar tangan.

Ibu-ibu tua pengepul ikan mengumpulkan kresek demi kresek yang berhasil di tadahnya dari jatah-jatah ABK. Dikumpulkan kedalam termos berisi es batu lalu kemudian di angkut ke pasar, dijual lagi ke pembeli dalam jumlah yang telah dibagi kecil-kecil.

 Orang-orang Mandar memang terkenal ulung mengarungi samudera. Nenek moyang mereka konon katanya berasal dari lautan. “Kami tak bisa lepas dari laut, Kami terbiasa hidup diatas potongan-potongan kayu itu. Berjalan diatas daratan berlama-lama seperti ini malah membuat kami mabok.  begitu kata mualim kapal sambil tertawa lebar.

“Kenapa dulu tidak mencari pekerjaan yang lain aja, jualan atau jadi pegawai kantoran misalnya”, tanyaku iseng.

Bapak tua itu tertawa, menatapku dengan heran. Kami ini tak bisa hidup didaratan, orang tua kami dahulu dilahirkan di laut, dari sanalah kami berasal. Meski penghasilan menjadi nelayan tak pasti, meski kadang kami harus bertaruh nyawa namun kami justru akan mati jika dipisahkan dari akar kehidupan kami” begitu mualim itu menjawabnya.

Suku Mandar dan Laut memang mungkin dua hal yang tak bisa dipisahkan. Kecintaan mereka terhadap samudera telah mengakar, salah satu contoh nyata dari kecintaan itu adalah “Sandeq” perahu layar bercadik yang sepenuhnya menggunakan tenaga angin ini telah lama digunakan melaut oleh nelayan Mandar. Perahu ini sudah tercipta sejak masa silam, dan telah banyak mengajarkan para pelaut Mandar untuk menjadi pelaut ulung

Dewasa ini meski Sandeq tak lagi digunakan untuk menangkap ikan perahu buatan tangan yang sangat diakui oleh dunia ini masih terus terjaga eksistensinya. Selain untuk transportasi antar pulau perahu-perahu sandeq ini lebih sering digunakan untk pestival lomba balap sandeq, dan anehnya hanya orang-orang mandar yang bisa dan mampu menunggangi kuda laut ini.

Festival Sandek sendiri hanya ada di Mandar, setiap tahun dalam rangka memeriahkan hari ulang tahun Republik Indonesia Pemerintah Daerah Kabupaten Polewali Mandar  mengadakan lomba balap sandeq yang diberi nama “Sandeq Race”. Konon pestifal ini tidak hanya melibatkan ketangkasan mengendarai perahu berlayar, kemampuan menaklukkan ombak, dan ketajaman membaca  arah angin juga sangat dibutuhkan. Tak jarang perlombaan balap sandeq ini melibatkan perkara-perkara mistis, ilmu ghaib bahkan beberapa kali pula lomba balap perahu layar ini menelan korban jiwa. “kalah angin” begitu kata pemerhati budaya Mandar yang sempat kutemui beberapa waktu lalu.
Sandeq adalah Mandar, begitu kata orang-orang. Menurut sejarah Sandeq sendiri sebelumnya bernama Pakur, yakni jenis perahu bercadik yang masih kasar bentuknya dan lebih lebar. Pakur kemudian berevolusi, menjadi sandeq. Pertimbangannya untuk kecepatan. Itulah sebabnya, bentuk ideal Sandeq adalah seperti jantung pisang jika dilihat dari muka. Dan soal kecepatan, konon sandeq adalah perahu tercepat sedunia.


Polewali Mandar, 28 April 2018


Islam dan Diabolisme Intelektual autor; Syamsuddin Arif Hardcover , 253 pages Published August 2017 ...

Islam dan Diabolisme Intelektual
autor; Syamsuddin Arif
Hardcover, 253 pages
Published August 2017 by INSISTS
ISBN139786021998571
Edition Language: Indonesian 
 
Tahun 2018 saya kembali mengikuti reading challengge di goodreads. tahun ini saya menurunkan targetku dari 30 buku ke hanya 20 Buku yang kemungkinan besar bisa ku selesaikan, akibat kegagalanku 2 tahun terakhir ini menyelesaikan challenggeku.
Selain itu saya masih terikat beberapa buku yang belum mampu kuselesaikan di tahun sebelumnya. saya masih terkatung-katung membaca The Fall of The Khilafah dan Api Sejarah 2 yang harus segera kuselesaikan secepatnya. Tahun ini saya menargetkan membaca buku ilmiah 75% lebih banyak dibanding buku non ilmiah. 

Buku pertama yang kubaca tahun ini adalah buku karya Syamsuddin Arief “Islam dan Diabolisme Intelektual”. Buku ini sangat menarik, buku ini kuberi bintang 5 di goodreads dan satu-satunya buku yang pernah kuberi nilai sempurna di goodreads selama ini.

Buku ini merupakan kumpulan artikel penulis yang pernah di terbitkan di berbagai media cetak dan online, dihimpun dan dicetak menjadi buku yang wajib menjadi salah satu referensi bagi kalian yang suka berkutat dengan ranah “worldview”  peran pemikiran, islamisasi sains atau apapun nama kerennya. Meski ditulis dengan bahasa sederhana buku ini dilengkapi dengan referensi-referensi ilmiah yang menjadikannya begitu berbobot.

Pertama kali melihat buku ini saya sangat tertarik dengan judulnya “ Islam dan Diabolisme intelektual” dua hal yang dibenturkan dalam satu kalimat “Islam dan Diabolisme”.  Diabolisme sendiri berarti pemikiran, watak dan perilaku ala Iblis ataupun pengabdian kepadanya.  Iblis kata penulis buku ini adalah prototype intelektual “keblinger’. Kesalahan Iblis bukan karena ia tak tahu atau tak berilmu. Kesalahannya justru karena ia membangkang, menganggap dirinya hebat, dan melawan perintah Tuhan. Dalam hal ini Iblis tidak sendirian, sudah banyak kader-kader yang berhasil direkrut sebagai staf dan kroninya termasuk di Indonesia.   

Buku ini banyak mengupas bagaimana logika-logika yang terkesan intelektual namun menyesatkan dan berbahaya disisipkan sedemikian rupa dalam tubuh umat Islam. Pembangkangan yang dibungkus dengan manis dalam wajah intelektualitas. Penyakit yang beberapa dekade terakhir juga mulai merusak generasi-generasi muda muslim di Indonesia.

Setelah di moratorium sejak 2015 kemarin tahun 2017 ini pemerintah Indonesia kembali membuka lowongan CPNS di beberapa instansi, kement...


Setelah di moratorium sejak 2015 kemarin tahun 2017 ini pemerintah Indonesia kembali membuka lowongan CPNS di beberapa instansi, kementerian dan lembaga, setidaknya ada kurang lebih 60 Kementerian dan lembaga yang membuka lowongan penerimaan CPNS di tahun ini dengan berbagai macam formasinya.

Di oh iya sebelumnya tahun 2014 kemarin saya berhasil diterima sebagai CPNS di salah satu lembaga tinggi negara. Saya melewati serangkaian tes yang bisa dibilang tidak mudah. Tapi Alhamdulillah saya berhasil melewati semua tahapan itu dengan baik.

Dalam sejarah penjajahan Belanda di Eropa yang pernah mengalahkan Inggris, di Afrika, Amerika Latin dan Asia Tenggara; Belanda tida...




Dalam sejarah penjajahan Belanda di Eropa yang pernah mengalahkan Inggris, di Afrika, Amerika Latin dan Asia Tenggara; Belanda tidak pernah mengumumkan perang secara resmi, terkecuali kepada Aceh. Ini berarti perang melawan Aceh merupakan pengecualian dari segala perang yang pernah dilancarkan Belanda di atas belahan dunia.

Perang Aceh termasuk ke dalam sepuluh perang terlama di dunia. Pada tanggal 26 Maret 1873, Kerajaan Belanda mengeluarkan Pernyataan perang dengan resmi atas kerajaan Aceh. Maka pasukan Belanda dibawah pimpinan Jendral J.H.R Kohler pada tanggal 5 April 1873 mulai menyerang Aceh. Pasukan Belanda memusatkan serangannya pada Masjid Raya Baiturrahman. Setelah pertempuran berlangsung beberapa lama, Masjid Raya Baiturrahman terbakar dan dapat dikuasai Belanda. Dalam pertempuran tersebut Jendral Kohler tewas. Meskipun Masjid Raya Baiturrahman dapat dikuasai Belanda, namun hal itu tidak berlangsung lama. Belanda semakin terdesak dan pergi meninggalkan Aceh pada tanggal 29 April 1873.