Rumah adat Mamasa "Banua" Perbedaan mencolok antara rumah adat Toraja dan Mamasa  terletak di Ujung melengkungnya dan uk...

Di Nosu Kematian Harus Dirayakan

Rumah adat Mamasa "Banua"
Perbedaan mencolok antara rumah adat Toraja dan Mamasa
 terletak di Ujung melengkungnya dan ukirannya

Saya takut-takut memanjat dan menengadahkan kepalaku melewati pintu yang hanya seukuran jendela selebar pinggang. Gelap, Aroma sejarah menyeruak di udara. Di dalam ruangan rumah adat ini saya bayangkan menemukan sesosok mayat yang duduk tersenyum dan menatapku di sana. Dadaku sedikit berdegub kencang antara lega dan kecewa, saya tidak menemukan apa-apa di sana. Hanya dua lembar kasur yang dibiarkan tergeletak tak berpenghuni. Ibu yang punya rumah, menawarkan ku untuk terus masuk ke dalam ruangan seukuran kamar itu. Saya menolak dengan malu-malu. Meski tak ada siapapun di sana aroma mistis menyeruak kuat. Bulu kudukku merinding. 

Di Toraja, rumah adatnya disebut Tongkonan, sedang di Mamasa disebut Banua. Rumah Adat yang ada di kabupaten Mamasa memiliki persamaan dengan rumah (Tongkonan) di Kabupaten Tana Toraja dari segi bentuk, syarat dan latar belakang sejarah pendiriannya, hal ini dikarenakan keduanya berasal dari satu rumpun nenek moyang yang sama. Namun seiring perkembangan jaman, ada perbedaan-perbedaan yang spesifik dari corak, ragam dan hias dari masing-masing rumah adatnya

0 komentar:

Kita bertemu banyak orang yang menyenangkan, menjalani petualangan bersama, tertawa dan bersuka cita. Namun pada akhirnya kita haru...

Part VI: Solo Backpaker ke Pulau Komodo



Kita bertemu banyak orang yang menyenangkan, menjalani petualangan bersama, tertawa dan bersuka cita. Namun pada akhirnya kita harus mengucapakan selamat tinggal
 dan itu tidak perlu kita sedihkan.


Day 5
28 Desember 2016: Aku Orang-orang perahu

Sehari sebelumnya, kami berenam memulai LOB kami, setelah perjuangan panjang  untuk sampai ditempat ini saya akhirnya bisa menikmati semua perjuangan itu. silahkan baca postingan-postingan saya sebelumnya. Bagaimana saya harus terlunta-lunta di pelabuhan Sape karena ketinggalan kapal fery. Bagaimana dari terminal Mataram saya harus menempuh perjalanan darat yang melelahkan dan harus menyakiskan betapa mengerikannya sisa-sisa banjir bah di Bima. dan semua itu Tuhan balas dengan pengalaman menyenangkan ini. Menyapa Komodo di Pulau Rinca dan Pulau Komodo, menyaksikan beberapa tempat yang sangat indah di kawasan taman nasional ini dan yang terpenting saya bertemu banyak orang-orang baik, yang bisa jadi kami hanya akan dipertemukan ditempat ini tidak lagi akan ada pertemuan kedua dan ketiga dab hal itu tidak perlu kita sedihkan.


Pantai Pink
Saya terbangun, dengan pemandangan pantai yang begitu menenangkan. Pernahkah kalian terbangun dan hal pertama yang kalian lihat adalah samudera nan luas seperti tak bertepi. Betapa luar biasanya itu. Salah satu bagian terpenting dari traveling saya kali ini adalah menjadi orang-orang perahu, seperti suku Bajo. Dalam artian selama dua hari ini saya akan hidup diatas perahu, mandi, makan, sholat dan tidur di atas perahu. Saya selalu mengagumi kehidupan seorang pelaut, bisa hidup diatas samudera nan luas tak bertepi. Menjelajah ke belahan-belahan bumi yang tidak semua manusia bisa kunjungi.  Kalian tahu hanya di lautan manusia bisa menjadi manusia yang benar-benar bebas. Menjadi merdeka seutuhnya. Hingga hari ini, masih belum banyak yang bisa manusia ketahui tentang samudera nan luas ini. laut masih menyimpan sejuta misteri dan keajaibannya.


Destinasi pertama kami hari ini adalah Pink Beach. Kalau kalian pernah mendengar Pink Beach di Lombok, nah di Pulau Komodo ini juga terdapat salah satu spot yang wajib dikunjungi wisatawan ketika melancong ke Flores. Pink Beach.

Pink Beach dari kejahuan
Lihat perahu dikejahuan itu, kita harus berenang dari sana ke bibir pantai itu. Pink Beach di Pulau Komodo ini merupakan wilayah konservasi kehidupan bawah laut, itulah mengapa perahu-perahu seukuran perahu yang kami gunakan hanya bisa berlabuh agak jauh dari bibir pantai.  Pink beach komodo merupakan salah satu 1 dari hanya 7 pantai di dunia ini yang memiliki pasir berwarna merah muda. Banyak mitos terkait mengapa pasir di pantai ini bisa berwana seperti ini. salah satunya yang paling masuk akal menurutku adalah adanya hewan mikroskopik bernama foraminefera yang memproduksi warna merah atau pink terang pada terumbu karang. Pecahan-pecahan terumbu karang yang sudah mati kemudian berserakan di bibir pantai dan akhirnya warna dasar putih di pasirnya terkontaminasi warna merah muda tadi. itu menurut kesotoyanku.

Pulau Pink memang unik, selain bibir pantainya yang berwarna romantis, kita juga bisa menikmati panorama indah di ketinggian bukit yang berada tak jauh dari bibir pantainya. Dari ketinggian bukit itu, kita bisa menikmati pemandangan lautan lepas sejauh mata memandang juga gugusan pulau kecil yang bertebaran  di beberapa titik. Meski demikian, kita harus tetap waspada di tempat ini, karena tempat ini masih merupakan habitat asli Komodo.


Kami menghabiskan pagi yang menyenangkan di sini. Setelah puas berenang, berjemur, bermain pasir kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya. Pulau Padar, pulau ikonik yang menjadi salah satu latar pemandangan di pecahan mata uang baru kita tepatnya di pecahan uang 50 ribuan.


 Pulau Padar



Pulau Padar memang eksotis. Setiap kali saya membayangkan atau mengingat Pulau ini entah mengapa dadaku terasa lega. Jantungku berdetak sedikit lebih kencang. Pulau ini mungkin tempat paling indah yang kukunjungi di tahun 2016 kemarin. Pulau Padar masih berada di kawasan taman nasional komodo. Pulau Padar adalah pulau ketiga terbesar di kawasan Taman Nasional Komodo, setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Pulau Padar letaknya cukup jauh dari pelabuhan di kota labuan bajo. Sebagai salah satu pulau di gugusan terluar, maka membutuhkan sekitar 3,5 jam waktu tempuh demi mencapai tempat ini. Dari pantai Pink sendiri pulau ini tidaklah terlalu jauh kira-kira satu setengah  atau dua jam dengan kecepatan sedang untuk sampai ditempat ini. Pulau Padar sebenarnya adalah pulau kosong tak berpenghuni, kita tidak akan menemukan satu pun bangunan di sini. Pulau ini memiliki ciri khas savana hijau  berbukit-bukit sejauh mata memandang.  Sungguh saya merasa bangga pernah berkunjung ke tempat ini, maka nikmat liburanmu yang mana yang kau dustakan. hehehhehehe

Pulau ini letaknya tidak jauh dari Pulau Rinca dibandingkan dengan jarak ke Pulau Komodo, meski demikian kita tidak akan menemukan komodo di tempat ini. Di tempat ini kita seperti berada di belahan dunia lain, seperti kembali ke jaman purba, seperti berada di suatu tempat dimana Dinosaurus masih menjadi penguasa dunia. Tempat ini rasanya sangat surreal, seperti tidak nyata tapi nyata dengan bukit-bukit menjulang tinggi dan banyak bagian yang tampaknya belum atau tidak dapat dijamah manusia karena trekking yang terlalu curam. Bagian pulau Padar yang terhalang bukit terlihat menyimpan begitu banyak misteri. Sesuatu seperti berada disana mengintip kita, pengunjung yang pongah.

 Padar seperti pulau perawan yang belum pernah dikunjungi siapapun. Satu-satunya jejak manusia yang ada disini adalah sampah yang terserak di beberapa titik. Miris memang, di tempat seindah ini masih ada manusia-manusia yang dengan teganya meninggalkan botol bekas minumannya atau plastik pembungkus makanannya berserakan dimana saja. Manusia merusak alam. Manusia membawa kepongahan dari perkotaan sana bahkan hingga ke tempat seperti ini.

Saya bayangkan beberapa tahun lagi, akan berdiri banyak resort-resort di sini. Fasilitas-fasilitas modern juga akan segera didirikan demi kenyamanan dan kepuasan pelancong dan tempat ini akhirnya akan menjadi biasa, kehilangan jati dirinya.  Manusia menuntut alam untuk berubah, bukan justru belajar dari alam.

Foto paling ngenes yang saya ambil

Pulau Kelor
Apa yang ada dibenak kalian jika mendengar nama pulau Kelor ?
Nama pulau ini Pulau Kelor mungkin karena luas tempat ini hanya seluas daun kelor. Pulau ini memiliki bibir pantai yang cukup landai dengan pasir putih dan bukit menjulang tinggi dengan kemiringan lebih dari 45 derajat di tengah pulau yang  menggoda untuk didaki. Dibutuhkan kurang lebih 15 hingga 20 menit  buat sampai di puncak bukti tempat saya berdiri ini, dan dibutuhkan waktu lebih lama untuk menuruninya.

Jika anda punya sedikit keberanian saya sangat sarangkan anda untuk mendaki puncak bukit ini. Tapi ingat tingkat kemiringan 45 derajat bukan perkara mudah untuk di daki kita harus benar-benar ekstra hati-hati jika tidak bisa-bisa kita akan berakhir tragis di sini. Ombak di pantai ini juga cukup tenang sehingga bisa jadi tempat tepat untuk melakukan free dive. Dasar yang cukup dalam dengan terumbu karang yang cantik bisa ditemui di area yang tidak terlalu jauh dari tepi pantai.

Saya sendiri hanya menikmati pemandangan nan indah di tempat ini dari ketinggian bukitnya, tidak berenang maupun snorkeling seperti turis-turis yang lain. Saya sudah cukup trauma dengan air laut di pantai pink tadi pagi. Puas di Pulau Kelor kami memutuskan untuk mengakhiri petualangan seru ini di sini. Cukup sudah. Sesuatu yang terlalu direnggut berlebihan tidak akan menghasilkan manis yang pas. Kami memutuskan mengakhiri petualangan kami di sini,

Dika dan ayahnya akan melanjutkan perjalanan ke Mataram, mereka akan menghabiskan beberapa hari di sana sebelum kembali ke Jakarta. Saya sendiri akan melanjutkan perjalananku ke Wae Rebo, suatu tempat yang masih belum banyak dikunjungi manusia, suatu tempat yang masih asing, jauh tersembunyi dibalik gunung.  Kebersamaan yang singkat ini cukup menyenangkan. Meski pada setiap pertemuan kita akan akhirnya akan berpisah, tapi hal-hal seperti itu tidak perlu kita sedihkan.

selamat tinggal kapal nurwati




Part II: 9D Solo Backpacker : Mataram-Labuan Bajo (Jalur Darat)

0 komentar: