Showing posts with label Resensi Novel. Show all posts

  30 Paspor di Kelas Sang Profesor adalah buku terakhir yang saya baca tahun ini, sekaligus menjadi penutup perjalanan saya menyelesaikan G...

 


30 Paspor di Kelas Sang Profesor adalah buku terakhir yang saya baca tahun ini, sekaligus menjadi penutup perjalanan saya menyelesaikan Goodreads Challenge 2024. Tahun ini, saya hanya menargetkan membaca 20 buku. Target yang sederhana, tapi ternyata tetap terasa berat. Alhamdulillah berhasil kuselesaikan dengan terseok-seok.

Buku ini menjadi penutup yang manis. Ia menceritakan pengalaman 30 mahasiswa Universitas Indonesia (UI) di bawah bimbingan Prof. Rhenald Kasali. Dalam mata kuliah Pemasaran Internasional, Prof. Rhenald memberikan tugas yang tidak biasa: perjalanan ke luar negeri secara mandiri. Tujuan tugas ini bukan sekadar memenuhi nilai, tapi untuk melatih mereka menjadi pribadi yang mandiri, bebas, dan bertanggung jawab—yang beliau sebut sebagai self-driving.  

Buku ini ditulis dengan sangat menarik oleh J.S Khairan. Kisah-kisah yang disajikan meski sederhana tapi sungguh menarik, buku ini type buku yang bisa diselesaikan dalam sekali baca. Saya menyelesaikannya dalam waktu kurang dari empat jam, di sela-sela perjalanan saya pulang ke rumah. Di setiap halamannya, ada cerita petualangan yang seperti menyegarkan pikiran saya, seperti oasis di tengah kesibukan kerjaan yang tiada habisnya. Buku ini sungguh hadir di saat -saat saya begitu merindukan menggendong carrier saya, bertualang ke sembarang tempat dan tersesat.

Saya selalu menyukai kisah perjalanan. Bagi saya, perjalanan—apalagi ke tempat yang benar-benar asing—adalah pengalaman yang mampu mengubah cara kita memandang dunia, belajar menerima hal-hal baru, berdamai dengan pemakluman-pemakluman baru dan menemukan sudut pandang yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Pragmen-pragmen kehidupan seperti itu sungguh sebuah pelajaran yang tak bisa kita temukan jika hanya duduk di bangku kuliah. 4 bintang untuk buku ini. Sungguh sebuah kisah menarik untuk mengakhiri tahun 2024 ini.


  Judul : Twenty-Four Eyes (Nijūshi no Hitomi) Penulis : Sakae Tsuboi Tahun Terbit : 1952 Genre : Fiksi Historis Sinopsis : "Twent...

 



Judul: Twenty-Four Eyes (Nijūshi no Hitomi)
Penulis: Sakae Tsuboi
Tahun Terbit: 1952
Genre: Fiksi Historis

Sinopsis: "Twenty-Four Eyes" adalah sebuah novel yang berlatar di sebuah desa kecil di pulau Shodoshima, Jepang. Cerita ini dimulai pada tahun 1928 dan mengikuti perjalanan seorang guru muda bernama Hisako Ōishi, yang mengajar kelas pertama di sekolah dasar setempat. Sebagai seorang pendatang baru, dia harus menghadapi tantangan dan rintangan yang muncul dari perbedaan antara metode pengajarannya yang modern dan pandangan konservatif masyarakat desa. Novel ini menjelajahi kehidupan 12 muridnya, yang masing-masing menghadapi berbagai kesulitan, harapan, dan impian mereka, seiring dengan perubahan zaman yang penuh gejolak, termasuk periode perang dunia kedua.

Dua Belas Pasang Mata, karya sastrawan Jepang ternama Sakae Tsuboi, mengajak pembacanya menyelami kisah haru seorang guru perempuan bernama Oishi yang ditugaskan di sebuah sekolah pelosok di sebuah pulau kecil. Novel ini bukan hanya tentang lika-liku dunia pendidikan, tetapi juga tentang cinta, kehilangan, dan ketangguhan jiwa manusia dalam menghadapi berbagai rintangan hidup. saya menutup lembar terakhir buku ini dengan perasaan campur aduk. saya menghela nafas panjang. memberikan jeda sejenak pada pikiran dan perasaan saya atas apa yang baru saja saya selesaikan. rasanya hampa sekali.

Tema dan Topik: Novel ini mengeksplorasi tema-tema seperti perubahan sosial, dampak perang, perjuangan pendidikan, dan kekuatan hubungan manusia. Penulis menggunakan karakter-karakter anak-anak dan perkembangan mereka dari masa kecil hingga dewasa untuk menggambarkan bagaimana peristiwa besar dalam sejarah Jepang mempengaruhi kehidupan individu dan komunitas kecil.

Tsuboi menghadirkan cerita dengan narasi yang mengalir puitis dan menyentuh hati. Setiap kata yang dirangkai terasa begitu hidup, membawa pembaca seolah-olah ikut merasakan setiap momen suka dan duka yang dialami oleh Oishi dan murid-muridnya. Penggambaran desa nelayan yang sederhana dan indah, serta interaksi hangat antara Oishi dan anak-anak didiknya, menghadirkan atmosfer pedesaan yang menenangkan dan penuh makna.

Di balik keindahan alam dan kisah inspiratif tentang dunia pendidikan, Dua Belas Pasang Mata juga mengangkat tema yang kelam: perang dan kehilangan. Kekejaman perang Dunia II perlahan-lahan mulai merayap masuk ke pulau kecil yang damai, menelan korban jiwa dan meninggalkan luka mendalam bagi Oishi dan murid-muridnya. Tsuboi tidak menggambarkan kengerian perang secara gamblang, namun efeknya terasa begitu nyata melalui perubahan sikap dan perilaku para tokoh.

Karakter Utama:

  • Hisako Ōishi: Guru muda yang idealis dan penuh dedikasi. Melalui mata dan pengalaman Hisako, pembaca bisa melihat perkembangan murid-muridnya serta perubahan yang terjadi di masyarakat Jepang.
  • Murid-Murid: Dua belas murid yang memiliki beragam latar belakang dan karakteristik, mewakili berbagai aspek kehidupan di desa tersebut. Setiap murid memiliki cerita unik yang memberikan kedalaman dan kekayaan pada plot keseluruhan.

Gaya Penulisan: Sakae Tsuboi menulis dengan gaya yang sederhana namun penuh emosi. Penulis menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan deskriptif, membuat pembaca bisa merasakan atmosfer desa Shodoshima dan perkembangan karakter-karakternya dengan jelas. Narasi yang disajikan dengan sudut pandang pihak ketiga memungkinkan penulis untuk menggambarkan perasaan dan pikiran setiap karakter dengan mendalam.

Analisis: "Twenty-Four Eyes" adalah sebuah karya yang mengharukan dan memberikan wawasan tentang sejarah dan budaya Jepang. Melalui karakter Hisako Ōishi, penulis menggambarkan dedikasi seorang guru yang berusaha membuat perbedaan dalam kehidupan murid-muridnya meskipun menghadapi banyak tantangan. Novel ini juga menggambarkan bagaimana peristiwa besar seperti perang bisa mempengaruhi kehidupan individu secara mendalam, mengubah takdir dan impian mereka.

Salah satu kekuatan utama novel ini adalah kemampuannya untuk menyeimbangkan antara cerita individu dan konteks sejarah yang lebih luas. Pembaca dapat merasakan ikatan emosional dengan karakter-karakter di dalamnya, sambil belajar tentang kondisi sosial dan politik Jepang pada masa itu.

Kesimpulan: "Twenty-Four Eyes" adalah novel yang memikat dan menyentuh, menawarkan perspektif yang unik tentang kehidupan di Jepang pada paruh pertama abad ke-20. Melalui narasi yang kuat dan karakter yang mendalam, Sakae Tsuboi berhasil menyampaikan pesan tentang pentingnya pendidikan, hubungan antar manusia, dan dampak perubahan sosial. Bagi mereka yang tertarik pada fiksi historis dan cerita yang kaya akan emosi, "Twenty-Four Eyes" adalah bacaan yang sangat direkomendasikan.

 

  “ Ini adalah kisah indah dan menyentuh hati sehingga kita pikir butuh Mitch Albom untuk menuliskannya. Tetapi, Albom lebih dari seorang pe...

 



Ini adalah kisah indah dan menyentuh hati sehingga kita pikir butuh Mitch Albom untuk menuliskannya. Tetapi, Albom lebih dari seorang penulis karena kisah ini adalah kisah hatinya sendiri, yang hancur karena kedatangan yang mengejutkan dan kepergian yang menyiksa dari seorang gadis kecil Haiti yang memesona bernama Chika---yang menjadi putri yang berharga bagi ia dan istrinya.
Ini adalah kisah kehidupannya sendiri, yang ia satukan kembali dalam buku ini.”
—Melissa Fay Greene, penulis There Is No Me Without You


Saya menutup lembaran terakhir buku ini dengan dada penuh sesak. Meski saya sudah tau ending buku ini akan seperti apa, namun saya hampir-hampir tak bisa membendung air mataku. Mr. Mitch dalam lembaran prolog buku ini pun bahkan sudah menjelaskan dengan gamblang, Chika gadis kecil itu, hanya bisa bertahan sampai di usianya yang ke 7. Kanker ganas di otaknya tak bisa dikalahkan. Berbagai usaha telah di upayakan, namun takdir tak pernah datang terlambat.


Mitch Albom selalu mampu meramu kematian menjadi sebuah pelajaran yang berharga, seperti halnya buku-buku terdahulunya Thursday With Morrie misalnya, yang juga dalam buku ini beberapa kali disinggung. Buku tentang memoar Prof Morrie di akhir-akhir hidupnya, dibukukan menjadi narasi yang sangat menyentuh sebuah kisah penuh filosofi, bagaimana pertemuan yang dilaksanakan di tiap selasa itu menjadi pelajaran yang berharga dan memberikan inspirasi kepada banyak orang. Pun buku lainnya dengan gendre yang berbeda yang menurutku sama bagusnya “for one more day” kisah tentang Charley Chik Benetto  yang diberi kesempatan untuk kembali bertemu Ibunya setelah bertahun-tahun yang lalu meninggalkannya dalam sebuah kematian yang menyedihkan. Buku yang berkali-kali kubaca dan tak pernah membuatku bosan.


Berbeda dari dua buku sebelumnya yang membahas mengenai kematian dari sudut pandang yang lebih positif, buku ini “Finding Chika” justru merupakan memoar pribadi Mr. Mitch menghadapi hari-hari terakhir dan segala upaya yang dia dan istrinya telah lakukan untuk anak angkatnya “Chika” gadis kecil yang diadopsi nya dari Haiti.

 

Finding Chika: A Little Girl, an Earthquake, and the Making of a Family oleh Mitch Albom bukanlah sekadar memoar biasa. Ia adalah kisah nyata yang menusuk kalbu, merajut benang antara kesedihan dan harapan, tentang seorang gadis kecil bernama Chika, gempa bumi dahsyat di Haiti, dan perjalanan seorang pria untuk menemukannya serta membangun keluarga yang tak terduga


 Chika menderita tumor otak, usianya di vonis hanya bisa bertahan tak lebih dari 4 bulan lagi. Apakah kemudian Mr. Mitch menyerah dan berpasrah pada vonis dokter ? Buku ini, mengisahkan segala upaya yang dilakukan oleh Mich Albom dan istrinya Mrs. Jennie untuk membuka semua kemungkinan yang bisa diberika kepada Chika. Salah satu ungkapan yang begitu menyentuh yang diungkapkan Mr. Mitch “Bagi Dokter, Chika mungkin hanya satu dari sekian pasien yang ditanganinya, sedangkan untuk kami, Chika adalah satu-satunya yang kami miliki. Saya terpekur lama setelah membaca bagian itu. Buku ini berhasil membuatku sebak berkali-kali, saya membayangkan Mr. Mitch, menuliskan semua memoar ini dengan linangan air mata. Buku ini saya rasa menjadi master piece dari semua buku Mitch Albom


 Finding Chika" adalah bacaan yang emosional, inspiratif, dan membuka wawasan. Ia mengingatkan kita tentang kekuatan cinta, pentingnya keluarga (dalam bentuk apapun), dan kemampuan manusia untuk menemukan harapan di tengah kesulitan. Untuk siapa pun yang mencari kisah nyata yang mengharukan dan penuh makna, buku ini tak boleh dilewatkan.


 Buku ini melampaui sekadar pengalaman personal Mr. Mitch. Ia mengangkat isu kemanusiaan pasca bencana, perjuangan meraih akses kesehatan, dan kompleksitas adopsi internasional. Melalui Chika, Albom mengajak pembaca melihat Haiti bukan sebagai statistik tragedi, melainkan sebagai negeri dengan semangat, harapan, dan budaya yang kaya.


"Ada berbagai wujud keegoisan di dunia ini, tetapi yang paling egois adalah menunda, sebab tidak seorang pun di antara kita yang tahu berapa banyak waktu yang masih tersisa, dan berasumsi bahwa kita punya lebih banyak waktu sama saja seperti menentang Tuhan." Mitch Albom

 

 

The Midnight Library: Kekuatan Menerima Takdir"  Judul: The Midnight Library Penulis: Matt Haig Genre: Fiksi, Fantasi Penerbit...



The Midnight Library: Kekuatan Menerima Takdir" 


Judul: The Midnight Library

Penulis: Matt Haig

Genre: Fiksi, Fantasi

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun

Terbit: 2021

Tebal: 368 Halaman

 

Begitu selesai membaca buku ini, hal pertama yang terlintas dari pikiranku adalah kutipan ini "Hadiah terbaik adalah apa yang kau miliki, dan takdir terbaik adalah apa yang kau jalani."

 

The Midnight Library adalah novel fiksi fantasi karya Matt Haig yang diterbitkan pada tahun 2020. Novel ini menceritakan kisah Nora Seed, seorang wanita berusia 35 tahun yang merasa hidupnya hampa dan penuh penyesalan. Ia merasa tidak pernah mencapai apa pun yang ia inginkan, dan ia merasa hidupnya sia-sia. Pada suatu malam, Nora memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atap gedung.

  " TAHUKAH ANDA BAHWA BERBICARA ITU ADA SENINYA? Oh Su Hyan menulis sebuah buku luar biasa tentang bagaimana berbicara yang efektif....

 


"TAHUKAH ANDA BAHWA BERBICARA ITU ADA SENINYA?

Oh Su Hyan menulis sebuah buku luar biasa tentang bagaimana berbicara yang efektif. Buku ini diterbitkan pada tahun 2018. Buku ini membahas. tentang pentingnya komunikasi yang efektif. OH Su Hyang membagi buku ini menjadi lima bab utama yang terdiri dari: Bab 1: Apa itu Seni Berbicara?Bab 2: Kebiasaan Penting untuk Menjadi Pembicara yang Efektif, Bab 3: Teknik Komunikasi yang Efektif, Bab 4: Cara Menjadi Pembicara yang Persuasif dan Bab 5: Cara Menjadi Pembicara yang Negosiator yang Efektif

  Cries in the Drizzle by Yu Hua     Paperback, 312 pages Published November 18th 2020 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1993) Orig...

 

Cries in the Drizzle by Yu Hua

 

 

Paperback, 312 pages

Published November 18th 2020 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1993)

Original Title: 细雨中呼

ISBN13: 9786020648262

Edition Language: Indonesian

Setting China

 

 

 Kemiskinan yang Turun Temurun


 Yu Hua selalu mampu menggambarkan ironi dengan baik. Spesialisasinya mungkin memang seperti itu.  Pada novel-novel sebelumnya juga seperti itu, To live atau Chronicle of a Blood Merchant misalnya. Sungguh menarik bagaimana dia menceritakan penderitaan, kesedihan, kemiskinan, kemalangan, kesialan, kematian bahkan kenangan dengan bahasa yang begitu sederhana namun sangat menyakitkan.


Perhatikan bagaimana dia menggambarkan tentang kenangan dalam bukunya kali ini:

“Gambaran Kabur muncul di hadapanku, dan aku seakan bisa melihat gerakan waktu. Dalam bayanganku waktu menyerupai desiran kelabu transfaran, dan segala kejadian mendapatkan tempat di dalam bentangan gelapnya. Kehidupan kita, bagaimanapun lebih mengakar ke waktu daripada tempat, Ladang, jalan sungai, rumah-semua teman kita, yang memiliki tempatnya masing-masing di ranah waktu. Waktu mendorong kita maju atau mundur, dan mengubah semua aspek kita’’


Saya benar-benar menyukai bagaimana Yu hua menyuguhkan konsep dan gagasan tentang kenangan begitu sederhana namun berkesan. Kenangan seperti memiliki dimensi sendiri dan beberapa potongan kehidupan kita tertinggal disana. Manusia tidak pernah bisa lari dari masa lalunya seberapa kuat pun mereka mencoba. Kenangan ibarat sebuah dunia multiverse dimana kehidupan kita yang lain hidup disana. Begitu kira-kira Yu Hua menggambarkan.


Gambarannya tentang kematian tak kalah menyedihkannya. Yu Hua menuliskan bagaimana Su Gualing memaknai kematian adiknya dengan bahasa sederhana namun menyakitkan’


“ketika aku menelusuri jalan panjang kenangan dan melihat Sun Guangming sekali lagi, yang ditinggalkan ketika itu bukan rumah: dia dengan semberono pergi meninggalkan waktu. Begitu dia kehilangan keterikatan dengan waktu, dia menjadi tetap, abadi, sementara kami terus terbawa maju oleh momentumnya. Yang dilihat Sung Guangming adalah waktu yang merenggut orang-orang dan pemandangan disekelilingnya, dan yang kulihat adalah kebenaran yang lain: setelah dikuburkan, jasad akan terbaring diam selamanya, sementara para penguburnya akan melanjutkan kesibukan mereka. Dalam kesunyian maut, kita yang masih berkeliaran bisa melihat pesan yang dikirimkan oleh waktu”


Saya membaca kalimat ini dengan perasaan hampa. Mungkin seperti Sun Gualing saat berjalan kembali ke gerbang selatan menelusuri jejak-jejak masa lalunya yang menyakitkan. Meski novel ini tidak seperti dua novel Yu Hua lainnya yang begitu booming, namun menurutku Novel ini tidak menghilangkan citra Yu Hua sang peramu ironi dan penderitaan. Novel-novelnya memang terkenal seperti itu. penuh duka lara dan nestapa. Bahkan di Criez in The Drizzle penderitaan digambarkan turun temurun dari generasi kakek buyutnya sampai pada si penutur dalam novel ini - Sun Gualing.


Satu-satunya yang tak kusukai dari novel ini adalah plotnya yang loncat ke mana-mana. Tidak ada urutan yang jelas antar setiap peristiwanya. Tiba-tiba kita di masa Sun Gualing dewasa dan lembar berikutnya kita bisa terlempar jauh kebelakang. Mungkin karena novel ini memang di gambarkan dari sudut pandang Sung Gualing dalam melihat dinamika sosial di masyarakat di masa itu. Dia kemudian menceritakan bagaimana kejadian-kejadian  yang bersinggungan dengan dirinya dan orang-orang disekitarnya. Tidak runut tapi benang merah peristiwa demi peristiwa tetap terhubung.


Selain itu saya kehilangan taste Agustinus Wibowo dalam novel ini, dua novelnya yang lain memang diterjemahkan dengan sangat baik oleh AW namun di novel ini penerjemahnya berbeda. Saya benar-benar kehilangan cara bertutur AW dalam menerjemahkan karya-karya Yu Hua. Mungkin karena AW memiliki kesamaan etnis dengan Yu Hua yang membuatnya begitu nyaman membahasakannya kembali dalam kata demi kata dalam bahasa Indonesia.


 Middle child syndrom; Ironi Tentang Anak Tengah


Hal menarik lain dari buku ini adalah karakter tokoh utamanya “Sun Gualing” sang anak tengah yang tak dianggap. Mitos yang berkembang di masyarakat sejauh ini mungkin memang seperti itu. Anak tengah selalu dianggap tak pernah ada. Diabaikan, tidak mendapatkan cukup porsi perhatian dan prioritas dalam keluarga.


Dalam kaca mata pribadi saya yang terlahir sebagai anak sulung, Sung Gualing ini hanya menderita middle child syndrome. Middle child syndrom atau sindrom anak tengah adalah keyakinan bahwa anak tengah dikucilkan atau bahkan diabaikan karena urutan kelahirannya. Menurut banyak orang, beberapa anak mungkin memiliki kepribadian dan karakteristik hubungan tertentu sebagai akibat menjadi anak tengah.


Middle Child Syndrome biasanya muncul karena anak tengah kerap kali tidak diprioritaskan seperti kakaknya atau dimanja seperti adiknya. Alhasil ini yang membuat mereka merasa dikucilkan atau diabaikan. Anak tengah mungkin merasa bahwa tidak ada yang mengerti atau mendengarkan apa yang mereka katakan. Ia juga kerap iri karena kakaknya bisa melakukan hal menyenangkan lebih dulu, sementara semua perhatian di rumah terfokus pada adiknya yang merupakan anak bungsu.


Middle child syndrom inilah yang kemudian membentuk karakter utama Sun Gualing. Pada dasarnya saya sendiri tidak melihat dari sudut mana Sung Gualing ini begitu merasa di abaikan oleh keluarganya. Satu-satunya alasan kuat yang menjadi awal semua pengabaian itu karena Sun Gualing sendiri pada umur enam tahun dia dititipkan kepada keluarga lain yang lebih mapan, dan baru pulang ke rumah orangtuanya enam tahun kemudian karena orang tua angkatnya meninggal. Saya rasa Sun Kuwangtsai ayah dari tokoh utama kita ini bukan tidak menyayangi putra keduanya, melainkan karena kondisi sosialnya saat itu yang dibekap kemiskinan dengan tiga putra yang lahir dengan jarak waktu yang tidak terlalu berjahuaan. Pilihan terbaik yang memang harus di ambil ayahnya adalah menyerahkan putranya ke keluarga yang dianggap bisa memberi masa depan yang lebih baik.


 Nah, kenapa harus anak kedua ?,secara logika tidak ada orang tua yang ingin dipisahkan dengan anak-anaknya, namun dalam kondisi tertentu beberapa pilihan berat memang harus diambil demi kebaikan bersama. Pilihan untuk menyerahkan putera keduanya mungkin dilatari karena anak pertamanya saat itu sudah sedikit lebih dewasa dan lebih bisa membantu permasalahan ekonomi keluarga sementara anak bungsunya masih menyusu jadi pilihan terbaik memang adalah putera keduanya Sung Gualing.


 Penggambaran karakter tokoh utama dalam novel ini sungguh menarik. Didekap derita kurangnya kasih sayangnya dari keluarga, Sun Guanling kemudian mencari perasaan diterima itu di luar sana.  Jalinan rumit persahabatannya dengan beberapa tokoh yang dibangun dalam karakter ini bukannya berakhir bahagia malah berujung nestapa tiada akhir. Benar-benar sungguh novel yang penuh dengan balutan derita.  


 

Tentang Penulis: Yu Hua


Yu Hua (Cina sederhana: 余华 ; Cina tradisional: 余華 ; pinyin: Yú Huá ) adalah seorang penulis Cina yang lahir 3 April 1960 di Hangzhou, provinsi Zhejian. Dia lulus SMA pada masa revolusi kebudayaan dan kemudian bekerja sebagai dokter gigi. Yu Hua telah menerbitkan empat novel, enam kumpulan cerita, dan tiga kumpulan esai. Meski buku pertamanya sempat dilarang terbit di Tiongkok karena terkesan begitu kritis dan satir pada pemerintahan komunis namun tak menyurutkannya untuk menelurkan karya sastra yangluar biasa lainnya. Karyanya telah diterjemahkan lebih 20 bahasa sepererti Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Spanyol, Jepang, Korea dan tentunya Indonesia. Pada tahun 2002 Yu Hua menjadi penulis Tiongkok pertama yang memenangkan Penghargaan Yayasan James Joyce yang bergengsi. Novelnya To Live dianugerahi oleh Premio Grinzane Cavour Italia pada tahun 1998. Selain itu To Live dan Chronicle of a Blood Merchant dinobatkan sebagai dua dari sepuluh buku paling berpengaruh dalam dekade terakhir di Tiongkok pada 1990-an oleh Wenhui Bao, surat kabar terbesar di Shanghai. Saat ini Yu Hua tinggal di Beijing. 


  Judul: The Song of Achilles Penulis: Madeline Miller Penerbit: Ecco Tahun cetakan: 2012 Jenis: ebook ISBN: 9780062060631  Hector membunuh ...

 


Judul: The Song of Achilles

Penulis: Madeline Miller

Penerbit: Ecco

Tahun cetakan: 2012

Jenis: ebook

ISBN: 9780062060631


 Hector membunuh Patroclus, sahabat Achilles. Orang yang paling dia sayangi. Sahabat terbaiknya. Ramalan itu akhirnya akan mewujud, bahwa Hector akan mati ditangan Achilles. Begitu pun Achiles, manusia setengah dewa itu juga akan berakhir di medan peran Troy, menjadi sebuah legenda yang dikenang manusia beratus-ratus tahun kemudian, Achilles sosok pahlawan besar Yunani, sang penakluk Troy.


Novel ini sangat menarik namun tragis. Endingnya sudah bisa ditebak di separuh halaman awal dari buku ini, meski demikian fragmen-fragmen yang begitu mengejutkan pun masih bisa kita jumpai di setiap lembarnya. Novel ini benar-benar mengingatkanku pada buku bergendre sama namun versi lokal “Raden Mandasia si Pencuri daging sapi” bedanya Sungu lembu pemeran kedua yang menarasikan novel tersebut, sahabat dekat Raden Mandasia tidak meninggal dengan tragis seperti Patroclus. Novel ini pun di narasikan oleh pemeran kedua Petroclus, bukan dari sudut padang Achilles sang legenda dan tokoh utama buku ini.


Ketertarikanku pada buku ini karena mengambil latar belakang kisah perang Troya yang begitu melegenda. Kisah perang Troya ini pernah di filmkan pada tahun 2004 silam  yang dipernakan oleh Brad Pitt dan menjadi salah satu film terlaris di masanya. Film ini pun menjadi salah satu nominasi untuk mendapatkan penghargaan piala Oscar. Bedanya pada film tersebut mengambil sudut pandang para kesatria Troy namun dalam novel ini justru sebaliknya, sudut pandang prajurit Yunani penyerang Troy yang akhirnya memenangkan perang besar tersebut yang diberi porsi lebih dalam.


Buku ini menurutku sangat bagus untuk kelas pengembangan novel klasik. Madeline Miller  novelis wanita asal Boston berhasil melihat cela lain yang unik yang kemudian dia kembangkan menjadi sebuah kisah yang begitu epic. Madeline Miller diketahui menghabiskan sepuluh tahun lamanya untuk menulis The Song of Achilles. Novel The Song of Achilles merupakan karya pertama, yang resmi dirilis pada 2012. Tidak heran jika dalam novel ini konon  bukan hanya membingkai cerita yang menakjubkan, tetapi juga menyelipkan potongan sejarah yang akurat.


“What is admired in one generation is abhorred in another. We cannot say who will survive the holocaust of memory… We are men only, a brief flare of the torch.”

“I could recognize him by touch alone, by smell; I would know him blind, by the way his breaths came and his feet struck the earth. I would know him in death, at the end of the world.” 

“And perhaps it is the greater grief, after all, to be left on earth when another is gone.”

– Madeline Miller, “The Song of Achilles”

  Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi  Penulis: Yusi Avianto Pareanom  Penerbit: Banana Publisher, 2016 ISBN: 9789791079525 “Tak ada senja...

 

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi 
Penulis: Yusi Avianto Pareanom 
Penerbit: Banana Publisher, 2016
ISBN: 9789791079525

“Tak ada senjata yang lebih tajam ketimbang akal, tak ada perisai lebih ampuh ketimbang nyali, dan tak ada siasat yang lebih unggul ketimbang hati.”

Yusi Avianto Pareanom, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi


Seseorang pernah bertanya, menurutmu mana yang kau sukai Novel Kura-kura berjanggut" atau Novel Raden Mandasia. saat itu aku belum bisa menjawabnya, karena Novel ini belum rampung kubaca. Menurut orang-orang, kalau kau menyukai Novel KKB kau juga pasti akan menyukai novel ini.


Bener saja, novel ini membuatku jatuh suka, petualangan Raden Mandasia yang dituturkan secara apik oleh teman seperjalannya Sungu Lembu sungguh memukau. saya terhipnitos kisah-kisah menakjubkan di dalamnya. Adalah Raden Mandasia pangeran kerajaan Gilingwessi yang berusaha menemukan cara agar peperangan antara dua kerajaan besar tidak terjadi. Dalam perjalanannya mencegah perang besar itu, dia bertemu Sungu Lembu yang justru memiliki niat yang berbeda. tapi entah karena garis takdirnya yang unik mereka akhirnya bahu membahu untuk menuntaskan misi pribadi yang masing-masing mereka embang.


Meski diberi judul Raden Mandasia, novel ini justru dituturkan oleh "Sungu Lembu" sebagai sudut pandang orang pertama. Raden Mandasia justru tidak terlalu mengambil banyak porsi, tapi memang semua kisah di sini seakan-akan terpaut oleh kisah kehidupan Raden Mandasia dan keluarga kerajaannya


Meski demikian, menurutku novel ini masih setingkat dibawa KKB, beberapa adegan di novel ini di sadur dari kisah dan dongen-dongen yang sudah cukup mashur di masyarakat kita. juga beberapa adegan yang dibuat terlalu fulgar membuatku melewatkan beberapa halaman yang tidak seharusnya dibaca anak seumuran saya :)


Ending novel ini sungguh tidak bisa ditebak. Siapa sangka, dibalik peristiwa besar yang dikisahkan dalam novel ini ternyata di latar belakangi oleh sesuatu hal yang sama sekali tak terpikirkan sebelumnya. Novel ini sungguh layak menjadi salah satu koleksi bacaan kalian yang menggemari gendre novel klosal. 4 bintang untuk buku ini


“Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekadar makan dan minum sebelum disembelih," kata Loki Tua waktu itu.” Yusi Avianto Pareanom, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi


Perjalanan Mustahil Samiam Dari Lisboa  Penulis: Zaky Yamani Editor: Karina Anjani ISBN: 9786020648613 Halaman:361 Cetakan: Pertama-2021 Pen...



Perjalanan Mustahil Samiam Dari Lisboa 

Penulis: Zaky Yamani
Editor: Karina Anjani
ISBN: 9786020648613
Halaman:361
Cetakan: Pertama-2021
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


Buku ini di buka dengan prolog berjudul menarik “tentang tiga buku antik” sebuah opening speech dari seorang kolektor buku kuno, Prof. Barend Hendrik Van Laar yang ditulisnya pada juni 1905. Dalam kalimat pembukaannya, di mengisahkan secara tak sengaja menemukan tiga buku antik yang saling terkait satu sama lain. Sebuah memoar perjalanan dari seorang yang bernama   Samiam Nogueira (dibaca Sang'iang) yang lahir di Lisboa, Portugal  sekitar tahun 1513


Saya membaca prolog buku ini sambil tercengang, sebuah prolog yang sangat bagus untuk sebuah buku fiksi. Saya sampai menelusuri siapa sebenarnya Prof. Barend yang menuliskan prolog buku ini, apakah juga hanya sebuah tokoh rekaan semata, apakah buku ini benar-benar sebuah memoar dari orang yang bernama Samiam itu.


Januari 1543. Samiam mulai membuat jurnal tentang perjalanan hidupnya. Sebuah kisah panjang yang begitu misterius dan tak tertebak. Sebuah memoar hidup tentang perjalanan panjang yang dia tempuh di paruh awal masa dewasa hidupnya dari Portugal dan mungkin sampai ke sebuah pulau di dekat Malaka yang orang-orang menyebutnya  pulau rempah atau Jawa. 


Kisah ini dituturkan dari sudut pandang orang pertama, Samiam sendiri. Paruh awal buku ini terkesan begitu lambat, dengan narasi yang panjang-panjang dan minim percakapan. Awalnya sedikit membosankan, kita disuguhi latar belakang peristiwa perjalanan dan silsilah keluarga Samiam  terlalu bertele-tele, namun belakangan kuketahui buku ini adalah buku yang dirancang akan diterbitkan dalam bentuk triologi, jadi saya rasa latar belakang ini merupakan pondasi yang cukup penting untuk pengembangan dari buku ke dua dan ke tiganya. Mari kita tunggu. 


Zaki Yamani, penulis buku ini sempat menjalani program resedensi penulis di Portugal atas dukungan Komite Buku Nasional, dari situ mungkin Zaki Yamani mempunyai gambaran yang cukup bagus tentang Portugal dan latar belakang yang terjadi di negara ini di abad ke 16. Kita disuguhkan dengan berbagai macam informasi yang menarik, bukan hanya tentang sejarah, kondisi geografis, kehidupan masyarakat Portugal yang diceritakan dalam buku ini, melainkan juga peristiwa –peristiwa politik yang mengubah tatanan dunia yang terjadi di tahun-tahun perjalanan Samiam itu. Banyak informasi yang cukup menarik yang bisa dipelajari dari informasi-informasi itu.


Zaky berhasil menggali referensi yang cukup memadai untuk bisa melukiskan suasana lima abad silam di sudut-sudut kota Lisboa, Valencia, Genoa, Ottoman dan Konstantinopel. Selain itu Zaky juga dengan apik menggunakan sejarah gerakan bawa tanah para pemberontak kemapanan di Eropa menjadi sebuah pondasi penting yang melatar belakangi seluruh kisah yang terjadi di sepanjang cerita buku ini.  Saya berharap Zaki Yamani tidak terlalu lama menggantung rasa penasaran kita untuk kembali bertualang bersama Samiam di buku ke dua dan ketiganya. 4 bintang untuk buku ini.   



  Merdeka Sejak Hati Penulis: A. Fuadi Editor: Mirna Yulistianti ISBN: 9786020622965 Halaman: 365 Cetakan: Pertama Mei 2019 Pene...

 



Merdeka Sejak Hati


Penulis: A. Fuadi

Editor: Mirna Yulistianti

ISBN: 9786020622965

Halaman: 365

Cetakan: Pertama Mei 2019

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

 

 

Pada sore hari ini, Rabu, 14 Rabiul Awal 1366 bertepatan dengan 5 Februari 1947, di ruang kuliah STI Jalan Senopati No. 30 Yogyakarta, HMI telah mengabarkan kelahirannya. Tanpa pakai spanduk, tanpa undangan, tanpa pengumuman. Hanya pakai Bismillah. (hal. 189)

 

Perkenalanku pertama dengan organisasi ini, di pelataran masjid kampus di masa-masa saya masih mahasiswa baru dulu. Seorang senior datang mengajakku  bercakap-cakap. Awalnya masih terkesan biasa, namun belakangan pertanyaannya semakin aneh. Pertanyaan-pertanyaan diluar nalar anak baru yang masih polos dan imut seperti saya. Bayangkan tiba-tiba seseorang menanyakan kepadamu “apakah kau percaya Tuhan ?. apakah kau bisa membuktikan kalo Tuhan itu benar-benar ada. Atau bisakah tuhan menciptakan sesuatu yang lebih besar dan lebih kuasa dari dia”.


Beruntung adzan duhur menghentikan berondongan pertanyaan yang menurutku omongkosong belaka itu. Selepas sholat, diam-diam saya meninggalkan masjid melalui pintu yang berbeda, bagaimana mungkin saya bisa percaya seseorang bisa menjelasskan tentang ketuhanan saat Tuhannya sendiri memanggilnya  untuk bersujud, dia masih tidak bergeming, masih tetap asik cekakak cekikian dengan teman perempuannya di pelataran masjid.


Pengalaman tidak menyenangkan itu meninggalkan stigma tersendiri bagiku pada organisasi ini. Itulah kenapa saya sama sekali tidak pernah tertarik untuk bergabung atau bersinggungan dengan apapun tentang organisasi ini. Begitu selesai membaca buku ini, rasa-rasanya saya ingin kembali ke masa lalu, membawa buku ini dan menimpukkannya di wajah senior saya dulu itu. Berteriak di wajahnya dan memintanya memahami prinsip dasar yang menjadi landasan kokoh organisasi ini dibentuk.


Menurutku A. Fuadi sukses menceritakan secara menarik kisah hidup Lafra Pane dari masa kecil hingga detik-detik terakhir kehidupannya yang luar biasa. Esensi dari buku ini ada dasarnya bukan tentang lafran, tapi tentang HMI, organisasi yang dilahirkan dari kegelisahannya untuk memberiksan kontribusi  bagi negeri ini.


Novel ini bukan hanya sekedar hikayat seorang tokoh di masa lalu. Buku autobiografi ini adalah sebuah kisah yang layak dijadikan cerminan untuk generasi saat ini. Bagaimana seorang Lafran Pane, pahlawan nasional itu yang mungkin kurang dikenal menunjukkan kematangan hati dalam memegang prinsif kemerdekaan, nasionalisme, dan juga Islam. Baladatun Tayyiban wa Robbun Ghafur. Begitu selalu cita-cita dan bayangannya tentang masa depan Indonesia. Negeri yang baik dan diridhoi Tuhannya


Saya benar-benar jatuh suka dengan prinsip kemerdekaan yang dianut Prof Lafran, merdeka sejak hati sebagaimana judul buku ini. Kemerdekaan berarti ketidakterikatan pada perkara-perkara dunia yang nisbi. Kemerdekaan dari belenggu penjajahan fisik maupun psikis. Kemerdekaan dari utang budi apalagi utang materi.


Ahmad Fuadi selalu sukses menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Dari tangan dinginnya beliau telah melahirkan banyak karya-karya best seller. Buku ini menurutku buku autobiograpi terbaik untuk pahlawan Indonesia yang pernah saya baca selama ini. Gaya bertutur yang runut, pemilihan diksi dan bagaimana beliau mengatur alur kisah hidup seseorang yang membentang panjang dengan segala pergolakannya diberikan porsi yang pas. Tidak lebih dan tidak kurang. Tidak ada bagian dari kisah di buku ini yang terkesan terburu-buru. Semuanya diatur sesuai porsi yang tepat, sehingga kita tak sempat dibuat jenuh membacanya. 4 bintang untuk buku ini.  

  Perkenalan pertamaku dengan buku ini tahun 200x, saat itu saya mahasiswa baru kere yang tak punya cukup uang untuk mengoleksi buku seperti...

 



Perkenalan pertamaku dengan buku ini tahun 200x, saat itu saya mahasiswa baru kere yang tak punya cukup uang untuk mengoleksi buku seperti ini. Buku ini kutemukan di toko buku terkenal itu, dan begitu jatuh cinta setelah membaca beberapa bagiannya. Saya menahan hasratku untuk mengoleksinya sampai kemudian saya sempat terlupa dengan buku ini. Beberapa tahun kemudian, saat perkara uang bukan lagi menjadi masalah utamaku, saya kembali mencari buku ini, sayangnya buku ini sudah tidak tersedia dibuku manapun, tidak ada platform online yang juga menjual buku original dari Imperium III ini. saya bahkan sempat menghubungi penulisnya menanyakan sekiranya apakah buku ini akan kembali dicetak ulang. Hasilnya nihil.


Saya kemudian akhirnya benar-benar bisa memiliki buku ini di tahun 2020, seseorang menjual buku bekasnya diplatform online. Buku ini sungguh membuatku terkagum. Berisi rentetan peristiwa sejarah dari dark era sampai saat ini. sampai saat kita hanya duduk cantik didepan layar laptop kita atau di depan handpone kita dan kita bisa mendapatkan berbagai macam informasi dari seluruh dunia.


Bagiku buku ini seperti layaknya buku bidaya wan nihayah karya besar Ibnu Katsar yang membahas sejarah dunia dari zaman penciptaan adam sampai kiamat, namun buku ini berfokus pada pembahasan sejarah dunia secara umum. Buku ini sungguh menjawab penasaranku, bagaimana akhirnya dunia bisa berkembang sampai seperti sekarang ini. bagaimana manusia bisa menikmati alat komunikasi super canggih, alat transportasi yang super cepat dan berbagai macam kemegahan-kemegahan lainya. Saya melihat banyak optimisme yang dibangun Eko Laksono dalam bukunya ini, tak hanya seputar sejarah buku ini juha banyak mengutip quote motivasi dari pemikir-pemikir hebat di zamannya, juga cerita bangsa-bangsa yang sempat terpuruk kahirnya bisa sukses membangun imperiumnya seperti Jepang. Bagiku, buku ini sungguh luar biasa.

 

  Barangkali pernah, dalam hidupmu, engkau memiliki simpul persahabatan yang engkau percaya tak ada tandingannya. Engkau mengandalkannya kad...


 

Barangkali pernah, dalam hidupmu, engkau memiliki simpul persahabatan yang engkau percaya tak ada tandingannya. Engkau mengandalkannya kadang lebih dibanding engkau memercayai kemampuanmu sendiri. Engkau mengenangnya seperti halnya Padi melagukan Harmoni. Engkau merasa tidak mungkin berdiri hari ini tanpa dirinya di masa lalu, meski di masa nanti, di mana dia, engkau tak tahu lagi.

(Tasaro GK)

 

Buku ini berkisah tentang Maru dan orang-orang yang hadir dalam satu wilayah waktunya. “Persahabatan” begitu mungkin orang-orang menyebutnya. Ikatan yang terjalin kuat karena satu alasan, entah karena kesamaan nasib, hobi, pekerjaan, latar belakang masa lalu atau hanya karena kebetulan bertemu disuatu tempat namun memberi suatu ekses yang mendalam.


Saya membaca buku ini saat hubungan antar orang-orang yang tadinya kuanggap sahabat mulai merenggang. Satu persatu simpul yang pernah kuikat begitu kokoh itu melerai. Kenyataannya waktu, jarak dan interaksi yang tak lagi seintens dulu menjadi tembok tak kasat mata yang sukses merenggankan ikatan itu. Kita akhirnya berjarak. Seperti Maru, satu persatu satu orang-orang yang dianggap sahabat akhirnya tertinggal dibelakang. Maru pergi, hidup berpindah seperti angin.


Nyatanya memang seperti kata Maru “waktu selalu punya superheronya masing-masing”. Kita akan selalu menemukan orang-orang baru dalam kehidupan kita, pun sebaliknya mungkin kita pada akhirnya juga akan saling melupakan dan itu tak perlu terlalu kita sedihkan.


Buku ini bermula dari kisah Maru di masa kecil, persahabatannya yang kental degan Samu menjadi kisah nostalgia yang melatari hampir semua kisah dalam novel ini. Maru yang namanya konon berarti Angin dan Samu yang merupakan singkatan dari Samudera. Dua anak manusia yang harus memilih dan menajalani pilihan hidupnya masing-masing. Samu menjadi tentara seperti impian kecilnya dan Maru ditadirkan untuk hidup berpindah seperti angin dia menjadi jurnalis dan bepergian ke berbagai daerah.


Konflik bersenjata antara TNI dan GAM di Aceh kembali mempertemukan mereka. Persahabatan yang tadinya merenggang oleh waktu kita menemukan titik jalannya kembali. Apakah persahabatan yang dulu dibina di masa kecil bisa kembali menguat seperti sedia kala atau senyatanya waktu dan jarak memang begitu sukses merenggangkan suatu hubungan.


Manusia pasti akan megalami banyak hal dalam hidupnya, memasukkan banyak pemahaman baru yang mewarnai idiologi dan cara pandang mereka. Ketulusan persahabatan di masa lalu harus di uji dengan idealisime dan kepentingan pribadi. Samu yang tentara dan Maru yang jurnalis. Samu harus melihat segala sesuatu dari kacamata militernya, sementara Maru sebaliknya dia melihat segala sesuatu dari perspektif yang berbeda.


Saya selalu menyukai membaca buku Tasaro GK. Tertalogi “Muhammad lelaki penggengam hujan” atau “sewindu” yang sukses membuatku baper berat. Entah kenapa tulisannya selalu bernaas. Selalu terasa hidup. Pun sama halnya dengan buku ini. Diluar ada bebeberapa hal yang terasa begitu mengganggu karena penggunaan sudut pandang yang berubah-ubah, buku ini masih tetap layak diberi bintang 4. Terimakasih Mas Tasaro GK untuk semua karya-karyanya yang selalu menginspirasi.

 

Tahun 2020 kembali saya mengikut goodread challange. Seperti tahun kemarin saya menarget untuk menyelesaikan 30 buku selama setahun ini dan ...



Tahun 2020 kembali saya mengikut goodread challange. Seperti tahun kemarin saya menarget untuk menyelesaikan 30 buku selama setahun ini dan saya berharap 70%nya adalah buku non fikis. Sampai dengan pertengahan tahun ini taget saya berjalan dengan baik. Saya telah menyelesaikan 15 buku atau setengah target yang harus saya selesaikan di tahun 2020.. Beberapa buku yang saya baca begitu berkesan tapi juga beberapa diantaranya sangat tidak dirokemendasikan untuk dibaca. Sebagian besar buku non fiksi yang kubaca adalah buku tentang sejarah dan peradaban sementara buku non fiksi masih lebih suka membaca karya klasik non menye-menye.

Dari 15 buku yang kubaca, saya akan mengurutkan 10 diantaranya yang merupakan buku terbaik yang kunilai  berdasar berbagai pertimbangan subjektif. Jadi penilaian ini sama sekali tidak ilmiah, tidak bisa dijadikan tolak ukur bagus tidaknya buku itu, murni hanya pandangan pribadi saya. Berikut bukunya:

1.       Ring of Fire: An Indonesia Odyssey by Lawrence Blair, Lorne Blair

Buku yang menempati posisi pertama adalah “Ring of Fire”-nya Blair bersaudara. Buku ini sungguh membuatku jatuh cinta. Ditulis dengan narasi yang sangat meneraik dan detail. Buku ini menurutku buku catatan perjalanan terbaik tentang Indonesia sejauh ini yang pernah saya baca, pun  diterjemahkan dengan sama baiknya  oleh Tiyas Palar. Satu-satunya kekurangan buku ini adalah rentang waktu yang terlalu jauh antara zaman saya membacanya dan era yang diceritakan Blair. Banyak hal telah berubah di Indonesia. Saya sangat menyesal kenapa buku sebagus ini baru saya temukan sekarang. Mewakili  penduduk Indonesia saya merasa berkewajiban  mengucapkan banyak terimakasih kepada Lawrance dan Lorn Blair karena telah mendedikasikan hidupnya untuk menghasilkan karya tentang Indonesia yang begitu luar biasa ini. Saya rasa bahkan orang Indonesia sendiri pun tidak banyak yang memiliki minat seperti apa yang telah dilakukan oleh mereka. Sekali lagi, terimakasih Lawrence dan Lorne Blair untuk karya yang luar biasa ini. 4,5 bintang untuk buku ini.

Resensi lengkapnya bisa dibaca di sini https://www.asdarmunandar.com/2020/03/resensi-buku-ring-of-fire-indonesia.html

2.       Saladin: Life, Legend, Legacy by John Man

John Man adalah sejarawan dan travel writer dengan ketertarikan khusu terhadap islam dan timur jauh, termasuk Mongolia. setelah menyelesaikan studi mengenai Jermand an Prancis di oxford, ia mengambil dua program kursus pascasarjana: kajian sejarah sains di oxford dan studi bangsa Mongol pada School of Oriental and African Studies di London.

Latar belakang akademik itu menjadikan karyanya memang luar biasa, salah satu yang sangat memukau menurutku adalah buku Biografi Shalahuddin AL-Ayyubi ini. ditulis dengan sangan detail dan objektif. BUku ini bukan hanya berisi tentang riwayat hidup Shalahuddin, buku ini juga berisi catata sejarah Imperium-imperium besar yang melatar belakangi kisah hidup Shalahuddin. Salahuddin atau dibarat disebuet Saladin adalah tokokh yang paling ikonik pada zamannya.

Kesuksesannya menaklukkan Yerussalam tercatat dalam tinta emas sejarah peradaban Islam, namun dibalik suksesnya itu banyak hal yang selama ini tidak kita ketahui, bagaimana masa kecilnya, peperangan-peperangan mana yang dia menangkan dan dikalahkan. motif apa yang melatar belakangi perang suci yang dikobarkannya bertahun-tahun lamanya. buku ini mampu mengulas semua itu dengan baik dan tentunya sangat objektif. buat kalian yang menyengi sejarah peradaban Islam saya sangat sarangkan membaca buku ini. banyak kejutan yang akan kalian temukan terkait sosok pahlawan Islam Salahuddin itu. 4 bintang untuk buku ini.

3.       Metropolis Universalis: Belajar Membangun Kota yang Maju dari Sejarah Perkembangan Kota di Dunia (Metropolis Universalis) by Eko Laksono

Buku ini Bercerita tentang kota-kota besar masa kini dengan kisah pencetus serta ide-ide bangsa besar ini yang awalnya terkesan utopis. Siapa sangka, adalah sesuatu yang ironis bahwa Eiffel awalnya hanya dibangun sementara sebagai "gerban masuk" (raksasa) Exposition Universelle 1889, dan dibenci oleh semua orang. Media membencinya, warga Paris membencinya. Begitupula Alexander Dumas dan Guy de Maupassant, penulis yang dikagumi Nietzsche. Maupassant bahkan suka makan siang dibawah Eiffel Tower karena di sana adalah satu-satunya tempat dia tidak akan bisa melihat menera metal raksasa itu. tapi seiring berjalannya waktu, orang-orang dari seluruh duni datang ke sini. setiap tahun kota itu dikunjungi 40 juta turis, terutama untuk menikmati keindahan kotanya, aura romantismenya, dan tentu saja Eiffel Tower-nya. Menciptakan sesuatu yang besar di sebuah kota tentunya selalu memerlukan perjuangan. (hal-31). 4 bintang untuk buku ini

Resensi lengkapnya bisa dibaca di sini https://www.asdarmunandar.com/2020/02/metropolis-universalis.html

4.       Sapiens: A Brief History of Humankind by Yuval Noah Harari

Pada dasarnya buku ini terbagi 4 bagian besar: (1) Revolusi Kognitif, (2) Revolusi Agrikultur, (3) Penyatuan Manusia dan (4) Revolusi Saintifik. Seperti kata Bill Gates buku ini secara garis besar berisi tentang “sejarah ummat manusia “. Sejarah leluhur ummat manusia homo sapiens dari masa pra sejarah sampai masa ini di jaman revolusi saintifik.

Pada awalnya saya benar-benar tidak bisa memahami kemana arah tulisan ini akan dibawa. Apakah untuk kembali melegitimasi teori Evolusi yang mulai usang itu. Bahwa manusia senyatanya memang hasil dari evolusi spesies berupa primata yg tadinya hanya merupakan evoulosi dari  makhluk berupa ganggang bersel tunggal di laut. Bahkan konon Sapiens di Indonesia merupakan keturunan dari kera yang hidup di savana Afrika.

Selain teori evolusi buku ini juga banyak mengulas dampak dan kegagalan revolusi industri terhadap “homo sapiens” dan bagaimana era revolusi industri itu justru membawa manusia ke gerbang kepunahan. Buku ini juga menceritakan secara gamblang sejarah kelam kolonialisasi bangsa-bangsa besar di masa lalu. dan bagaimana kolonialisasi itu sukses menghapuskan beberapa ras penduduk asli pribumi di suatu wilayah.Jadi mengapa akhirnya saya membaca buku ini. Prof Harrary juga mengajukan pertanyaan yang sama. Jadi, mengapa belajar sejarah?  Menurutnya “ sejarah tak seperti fisika dan ekonomi, sejarah bukanlah alat untuk membuat prediksi akurat. Kita mempelajari sejarah bukan untuk mengetahui masa depan, tetapi  untuk memperluas cakrawala, untuk memahami bahwa situasi  kita saat ini bukanlah alamiah atau tak terelakkan, dan bahwa kita dengan demikian memiliki lebih banyak kemungkinan di depan untuk kita bayangkan. Misalnya, mempelajari bagaimana bangsa Eropa mendominasi Afrika memungkinkan kita menyadari bahwa tidak ada yang natural atau tak terelakkan tentang hierarki rasial, dan bahwa dunia mungkin diatur secara berbeda. 285. 4 bintang untuk buku ini

Resensi lengkapnya bisa dibaca di sini https://www.asdarmunandar.com/2020/06/resensi-buku-sapiens-brief-history-of.html

5.       Jurus Sehat Rasulullah by Zaidul Akbar

Tubuh kita adalah tubuh terbaik. Maka dari itu, sudah seharusnya kita menjaga tubuh kita agar tetap sehat. Lalu, baqaimana caranya menciptakan tubuh yang sehat? Ikutilah pola hidup Rasulullah saw. Beliau selalu menjaga kesehatannya secara optimal, dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Konsep-konsep pencegahan dan peningkatan kesehatan yang dijalankan beliau selalu berlandaskan pada wahyu Allah Swt. Maka dari itu, kualitas DNA beliau sangatlah baik. Itulah sebabnya, seumur hidup, beliau hanya dua kali mengalami sakit. Ternyata, konsep-konsep itu merupakan konsep terbaik yang masih update hingga saat ini. Jadi, bagi Anda yang ingin hidup sehat, bacalah buku ini dan ikuti jurus Rasulullah saw. Begitu dr, Zaidul Akbar menjelaskan dalam bukunya. Saya rasa buku ini saah satu buku wajib yang harus dimiliki ummat Islam. Buku ini memberikan gambaran kepada kita bagaimana seharusnya kita lebih perhatian terhadap hal-hal yang kita konsumsi

6.       Seni Hidup Minimalis: Petunjuk Minimalis Menuju Hidup Yang Apik, Tertata, Dan Sederhana by Francine Jay

Menurutku, buku ini sangat bagus, sangat cocok dibaca oleh semua golongan, buku ini mengajarkan bagaimana pola hidup minimalis bisa diterapkan. pada dasarnya buku ini membahas sepuluh hal berikut: (1). mulai dari awal (2). Buang, simpan atau berikan (3) Alasan setiap barang (4) Semua barang pada tempatnya (5) Semua permukaan bersih (6) Ruang (7) Batas (8) Satu msauk, satu keluar (9) Kurangi, dan (10) Perawatan setiap hari

Dengan bahasa yang sederhana Francine Jay mampu menyajikan perspektif yang berbeda tentang bagaimana "thing" itu harus dilihat. Dengan menerapkan pola hidup mininalis tidak hanya dampak financial yang akan terasa, pola hidup kita dan keluarga akan semakin berkualitas. seorang ibu akan punya lebih banyak waktu berkualitas dengan keluarganya jika tidak direpotkan dengan mengurus prabotan dapur yang berantakan. atau seorang ayah akan punya banyak waktu bermain dengan putranya jika tidak harus membereskan dokumen-dokumen pekerjaan atau peralatan bengkel yang terbengkalai.

Hidup minimalis ternyata tidak hanya terpaku pada "berapa banyak barang" yang harus dimiliki, lebih jauh dari itu, hidup minimalis juga berbicara mengenai dari mana dan bagaimana barang itu diproduksi, dampak lingkungannya bahkan proses daur ulangnya. semua hal tersebut saling terkait sehingga pola hidup minimalis ini menuntut kita untuk menjalani hidup lebih praktis, sederhana dan bermanfaat buat orang lain dan lingkungan. Terimakasih Francine Jay telah menuliskan buku ini dengan baik. 4 bintang untuk buku ini

7.       Guru Aini by Andrea Hirata

Saya tidak bisa mereview buku ini dengan baik. Mugkin karena ekspektasi saya yang terlalu tinggi, mengingat buku pendahulunya luar biasa bagusnya. Buku ini merupakan prequel dari buku berjudul “orang-orang biasa”. Meski tidak semenarik buku pertamanya namun saya rasa buku ini juga bisa menjadi salah satu koleksi yang sangat layak baca buat kalian pecinta karya Andrea Hirata. Secara garis besar, buku ini berkisah tentang Bu Desi, sosok guru idealis yang rela mengorbankan segala yang dimilikinya untuk menjadi seorang guru matematika di peloksok negeri. Apakah kemudian idealisme yang dia bangun rontok bersama realitas yang menyakitkan ? seperti dikatakan dalam sampul buku ini dikatakan “Konon, berdasarkan penelitian antah berantah, umumnya idealisme anak muda yang baru tamat dari perguruan tinggi bertahan paling lama 4 bulan. Setelah itu mereka akan menjadi pengeluh, penggerutu, dan penyalah seperti banyak orang lainnya, lalu secara menyedihkan terseret arus deras sungai besar rutinitas dan basa-basi birokrasi lalu tunduk patuh pada sistem yang buruk” tapi tunggu sampai kalian berkenalan dengan sosok Bu Desi. Wanita berhati baja dengan kemauan yang sama kuatnya. 4 bintang untuk buku ini.

8.       Jalan Tak Ada Ujung by Mochtar Lubis

Tentang Guru Isa, Hazil dan Fatimah.

Tentang ketakutan, kemerdekaan dan idealisme semu.

Tentang kesetiaan dan integritas ketika harus berbenturan dengan realitas

Secara garis besar tema utama dari buku ini adalah “ketakutan manusia”. Pada awal buku ini, Mochtar Lubis mengutip kata-kata dari Jules Romains: ‘Apakah yang harus kita punyai, agar kita bebas dari ketakutan?. Setiap manusia akan menghadapi ketakutan-ketakutannya sendiri, sebagian bisa dengan tegar berdiri menghadapinya sebagian lagi justru memilih menghindarinya. Novel klasik ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1952 ini, Mochtar Lubis ingin memaparkan kisah perjalanan kemanusiaan seorang guru yang senantiasa hidup dalam tekanan dan ketakutan pada masa revolusi sepanjang tahun 1946-1947.  Menurutku buku ini sangat layak dibaca, dengan alur yang begitu kelam dan mencekam Muktar Lubis sukses membawa saya menjelajah bersama ketakutan Guru Isa.

"Guru Isa ingat jalan tidak ada ujung. Sekali dijalani harus dijalani terus, tiada habis-habisnya. Terutama sekali ketakutannya sendiri. Dia takut ikut dengan mereka yang memperolok-olok maut ini. Dan lebih takut lagi untuk tidak ikut." (halaman 92)

 

9.       Senyum Karyamin by Ahmad Tohari

Kumpulan cerita pendek ini berisi 13 cerpen Ahmad Tohari yang ditulis antara tahun 1976 dan 1986. Seperti dalam karya-karyanya terdahulu, dalam kumpulan ini pun Tohari menyajikan kehidupan pedesaan dan kehidupan orang-orang kecil yang lugu dan sederhana. Dan sebagaimana dikatakan dalam “Prakata”, kekuatan Tohari “terletak pada latar alam pedesaan yang sarat dengan dunia flora dan fauna”. Selain itu, gaya bahasa Tohari “lugas, jernih, tapi juga sederhana, di samping kuatnya gaya bahasa metafora dan ironi. Begitu sampul belakang buku ini mendskripsikan buku tipis ini. Saya beri 4 bintang untuk semua kisah yang disajikan Ahmad Tohari dalam kumpulan ceritanya ini. Buku ini seakan menampar pembaca dari sudut pandang manusia kecil yang jadi pemeran utama di setiap ceritanya.

10.   Lelaki Tua dan Laut by Ernest Hemingway,

Buku ini menjadi salah satu buku sastra terbaik dan berhasil memenangkan banyak penghargaan dalam bidang sastra. Diantaranya Hadiah Publitzer 1953 dan Award of Merit Medal for Novel dari American AcaAdemy of Letters. Ernest juga meraih penghargaan bergengsi Hadiah Nobel SastraA pada tahun 1954 berkat novel ini. Namun kesuksesan buku itu tidak menjamin akan penghadirkan pengalaman membaca yang luar biasa bagi semua orang. Entah otakku yang tidak mampu mencernanya atau memang karena seleraku tidak di gendre ini. Novel ini tidak semenarik yang kubayangkan. sungguh membosankan. Kalau kalian pernah membaca life of pie, kalian akan dibosankan dengan percakapan yang monoton antara Pi Patel dan Harimau yang terjebak bersama di perahunya, dan buku ini menghadirkan kisah yang sama, celakanya percakapan monoton itu justru terjadi antara pria tua itu dan alam bawah sadarnya, jauh lebih membosankan lagi.  Bayangkan kau membaca buku 120an halaman yang isinya orang tua yang memancing sendirian, mengeluh, mengerutu dan bertarung dengan ikan Marlin raksasa selama beberapa hari. Ikan itu mampu memberikan perlawan yang sengit dan bahkan membawa pria tua itu terombang ambing ke tengah samudera. Dalam pertarungannya itu si orang tua tadi banyak bercakap-cakap dengan fikirannya sendiri. Buku ini begitu membosankan, dengan narasinya yang panjang-panjang. dan orang tua itu sebagai tokoh utama selalu menggerutu, merutuki nasibnya. Meski demikian, karya sastara klasik ini masih tetap layak untuk dibaca. Tiga bintang untuk buku ini