Showing posts with label Melintas Batas. Show all posts

China town: Tersesat Meski tidak setertib di Singapura, kereta bawa tanah di Malaysia juga mengagumkan. MRT ini menghubungkan banyak ti...


China town: Tersesat
Meski tidak setertib di Singapura, kereta bawa tanah di Malaysia juga mengagumkan. MRT ini menghubungkan banyak titik-titik sentral di Malaysia. Berbeda dengan negeri tetangganya Singapura yang cenderung lebih simpel dengan menggunakan warna-warna untuk membedakan jalur MRTnya, di Malaysia lebih cenderung menggunakan nama-nama daerah tujuannya, seperti halnya  di Jakarta.

Untuk masalah penginapan, di Malaysia seperti  di Indonesia, bertebaran tempat-tempat penginapan yang ramah di kantong, mulai dari hostel, guest house atau hotel kelas melati.  China Town atau Bukit Bintang adalah tempat-tempat yang  sering jadi tempat menginap para pelancong. Selain karena lokasinya berada di pusat kota, akses yang terbilang mudah, penginapan di sini juga terbilang murah meriah.  

Kami sendiri memutuskan menginap di kawasan China Town, dari KLCC Tower Kami turun di stasiun pasar seni. Persis di samping stasiun MRT terdapat halte bus. Pertimbangan kemudahan akses itu lah kenapa saya akhirnya memilih kawasan ini untuk menginap. Kami menginap di hotel China Town Inn.. Kamarnya lumayan bersih, dengan ranjang tingkat dan bagian bawahnya cukup luas untuk ditempati dua orang, tarif semalam kurang lebih 300 ribu. Terdapat fasilitas kamar mandi dalam yang lumayan bersih, Handuk, sabun mandi, AC  namun sayangnya kita tidak diberi sarapan gratis. 

Tak jauh dari tempat kami menginap juga terdapat pusat perbelanjaan murah yang lumayan terkenal di Malaysia Pasar Petalin, selain itu di malam hari di sepanjang jalan di Petalin ini akan berjejeran street food yang sangat menggoda. Sayangnya saya tidak berani mencicipi aneka penganan itu. Saya hanya menikmati sepiring roti canai ditambah kari ayam dengan segelas teh tariknya,


Bukit Jalil: Nasionalisme yang Tergadai 
Seumur hidupku yang sudah menjalan ilebih dari seperempat abad kehidupan yang menyenangkan ini (hahahhahah)  saya tidak pernah sekalipun tertarik untuk mengikuti acara apapun di ruang terbuka yang penuh sesak dengan manusia.  Seperti menonton pertandingan bola misalnya. Saya sedikit paranoid dengan suara-suara bising dan gemuruh-gemuruh manusia dikeramaian. Sekali dulu pas waktu  SMP, saya  pernah menghadiri perlombaan agustusan di lapangan kecamatan kampungku yang di padati manusia. Sialnya saya harus berakhir di puskesmas, kepala saya tiba-tiba berputar-putar, keringat dingin membasahi punggung saya. Saya pingsan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku saya pingsan. Setelah itu saya tidak lagi-lagi berminat menghadiri perkumpulan-perkumpulan manusia seperti itu. Apapun bentuknya.

Pantangan itu entah kenapa terpatahkan di bukit jalil. Jutaan manusia yang berseliweran ini tidak membuatku panik sedikit pun. Tidak ada kecemasan, tidak ada keringat dingin, atau mata berkunang-kunang. Saya lega saja berjalan-jalan mengelilingi stadion bukit jalil. Saya mengunjungi beberapa stan yang menjual oleh-oleh khas sea game juga beberapa stan jajanan yang tidak pernah saya temukan di Indonesia. Orang-orang berteriak teriak memasarkan jualannya,. Bahasanya terdengar lucu dan cepat. Bahasa Melayu moderen.  

Bukit jalil terlihat megah, di sampingnya Axiata arena tak kalah mempesonanya. Lampu-lampu berwarna warni terpasang dimana-mana. Stadion ini berkapasitas sekian ribu orang. Polisi-polisi Malaysia bertampan Melayu  berseliweran membagi-bagikan bendera Malaysia. Saya menggenggam dua bendera berukuran kecil di tanganku. Kukibar-kibarkan dengan lucu. Sambil tersenyum-senyum.  Bisa-bisa saya dicap tidak nasionalis ini, tidak pancasilais. Istiliah-istilah yang lagi tren di nusantara sekarang ini.

Urusan nasionalisme ini terkadang lucu dan rumit, bagaimana kita bisa mengukur Nasionalisme seseorang ?. bagaimana mengukur kecintaan seseorang terhadap negerinya ?. tidak ada takaran pasti yang bisa digunakan untuk mengukur ini.  Apakah TKI di Malaysia atau di berbagai belahan dunia itu tidak Nasionalis. Apakah orang-orang yang berpindah kewarganegaraan itu tidak nasionalis. Tidak mencintai Indonesia, tidak lagi memiliki kebanggaan berbangsa dan berkewarganegaraan Indonesia ? Apakah pejabat negara yang koruptor itu Nasionalis atau tidak ?
 
"Apa gunanya Nasionalisme jika kita harus mati kelaparan. Mulut butuh disumpal makanan, asap dapur harus mengepul. Anak-anak harus bersekolah dan semua itu butuh duit. Nasionalisme tidak pernah bisa diukur dengan IC atau KTP"  begitu kata paman saya yang pernah tinggal lama di Malaysia berpuluh-puluh tahun lamanya, bahkan anak-anaknya lahir dan secara resmi tercatat sebagai warga negara Malaysia. Dua diantaranya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Indonesia, tanah leluhurnya ini. Apakah mereka tidak nasionalis ?

Saya bertemu seorang kawan baru. Meski dia berkewarganegaraan Malaysia tetapi kecintaannya ke Indonesia juga tak bisa di ragukan. Dia lahir dari rahim seorang Ibu berkewarganeragaan Indonesia. Ayahnya sendiri penduduk asli kuala lumpur. Ketika kutanya kemarin pertandingan sepakbola antara indonesia dan malaysia dukung siapa, dia hanya tersenyum. 

Kecintaan kepada negeri tidak bisa diukur hanya dari kartu identitas kita. Apalagi hanya klaim-klaim “kami Indonesia, Kami Pancasila” Orang luar yang tidak terlahir di Indonesia bisa lebih Indonesia di bandingkan kita sendiri. Seperti teman baruku itu, dia mencintai Indonesia sama seperti dia mencitai negerinya Malaysia dan menurutku tidak ada yang salah dengan itu. Kita tidak bisa memaksa hati untuk lebih condong kepada siapa dan kepada apa. Hati punya kehendaknya sendiri. 

Epilog: Garis Batas
Negara-negara bertikai demi garis batas. Rakyatnya di medsos lebih parah lagi saling berdebat demi hal yang jauh tidak lebih penting, adu argumen hingga berbusa-busa, saling klaim, saling menjatuhkan demi kebanggaan yang mereka imani. Menyusuri pertikaian seperti ini seperti menguraikan benang kusut, yang akhirnya tak akan terurai.

Tapal batas yang kita banggakan itu sejatinya hanyalah warisan penjajahan. Tanah-tanah diirs-iris, dibagi-bagi demi kepentingan kolonialisasi. Garis batas yang dibuat oleh orang asing yang mengkotak-kotakkan kita hingga seperti ini. Indonesia dan Malaysia, Korea Utara dan Korea Selatan Pakistan dan India, Israel dan Palestine dan banyak lagi negara-negara di belahan dunia ini yang terkotak-kotakkan demi kepentingan orang asing itu. Bahkan lucunya Indonesia dan Malaysia yang masih serumpun itu bukan hanya berkonfrontasi soal perbatasan, tetapi juga sejarah, adat, lagu daerah, dan “hak paten” budaya. Bagaimana mungkin kita bisa saling mengklaim siapa yang paling berhak atas makanan“tempe” atau “nasi goreng”. Kadang kita lupa Malaysia adalah Nusantara di masa lalu. Dulu dia adalah “Kita” 

Saya bayangkan, suatu hari nanti manusia tak lagi dibatasi oleh batas-batas teritorial negara yang artifisal itu. Kita tak lagi harus di kotak-kotakkan, tidak dibatasi dengan seabrek peraturan-peraturan menyusahkan yang kita buat sendiri. Tidak lagi ada Indonesia, Malaysia, Singapura, China, Jepang, Amerika, Palestine, Arab Saudi atau negara-negara manapun.  Negara-negara itu melebur menjadi satu. menjadi “warga dunia”.

Welcome  To Johor Baru. Gambaran awal saya mengenai Johor Baru seperti perbatasan Indonesia dan Malaysia dI Kalimantan. Sepi dan pen...


Welcome  To Johor Baru.
Gambaran awal saya mengenai Johor Baru seperti perbatasan Indonesia dan Malaysia dI Kalimantan. Sepi dan penuh dengan perkebunan kelapa sawit. Saya keliru, Johor Baru kota yang besar. Bangunan-bangunan menjulang tinggi. Bahkan terminal Busnya lebih keren dari bandara udara di tempatku.  Saya berdecak. Beberapa saat yang lalu paspor saya baru saja di stempel di pintu imigrasi Malaysia. Di sini Imigrasi terbilang longgar, orang-orang Malaysia cenderung lebih ramah dan sopan dibanding orang Singapura. Saya hanya ditanya beberapa pertanyaan umum seperti berapa lama di Malaysia, akan bermalam di mana, akan ke mana saja dan beberapa pertanyaan kecil lainnya. Saya melenggang mulus melewati imigrasi Malaysia sambil tersenyum puas. Saya resmi telah berada di Negeri Jiran ini.

Berbeda dari Indonesia, Malaysia sendiri merupakan negara federal yang terdiri dari tiga belas negeri (negara bagian) dan tiga wilayah federal. Ke-13 negara bagian Malaysia adalah: (1) Johor, (2) Kedah, (3) Kelantan, (4) Melaka, (5) Negeri Sembilan, (6) Pahang, (7) Perak, (8) Perlis, (9) Pulau Pinang, (10) Sabah, (11) Sarawak, (12) Selangor, dan (13) Terengganu. Selain itu terdapat 1 wilayah yang merupakan teritori federal yaitu (Wilayah Persekutuan) yang terdiri atas 3 wilayah pembentuk yaitu (1) Ibukota Kuala Lumpur, (2) Labuan, dan (3) Putrajaya.

Saya masih terbengong-bengon di Johor Baru Chekpoint (JBC). Terkagum-kagum melihat kemegahan tempat ini. Tempatnya tidak mirip  pintu lintas batas melainkan lebih mirip pusat perbelanjaan mewah. Beberapa gerai makanan cepat saji pun ada di sini.  Hal pertama yang kulakukan adalah mengganti kartu hp. Paket internet seminggu hanya sebesar 20 Ringgit saja.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku sholat lima waktuku ku lakukan di tiga negara berbeda. Tadi pagi saya masih Sholat subuh di Batam Indonesia, siangnya saya sholat duhur dan ashar di masjid Sultan Singapura sementara malam ini saya Sholat maghrib dan isya di Musolah kecil di pojok Johor Baru Checkpoint Malaysia.  Bebeda dengan Singapura, di sini saya tidak kesulitakan menemukan tempat sholat seperti halnya di Indonesia.

Setelah sholat tak sengaja saya kembali dipertemukan dengan malaikat penolong. Kali ini seorang mahasiswa yang masih memiliki berdarah Indonesia, bahkan beberapa kali dia sempat berkunjung ke Indonesia kenangnya.  Dia mengantar kami ke Terminal Larkin, terminal regional di Johor. Dari terminal ini kita bisa menjangkau seluruh penjuru Malaysia.

Kuala Lumpur: Negeri Jiran yang Menggoda 

Saya meringkuk kedinginan di pojok masjid Negara Malaysia di Kuala Lumpur. Menyaksikan dari ketinggian ini Kuala Lumpur di subuh hari. KL Tower terlihat indah di seberang sana. Ujungnya  memancarkan cahaya biru seperti cahaya Bulan. Bendera Malaysia berbagai ukuran terbentang di mana-mana. 31 Agustus besok  Malaysia akan merayakan hari kemerdekaannya.

 Rasa-rasanya baru beberapa jam yang lalu saya berlari-lari kecil di stasiun bawah tanah Harbourfront, mengejar MRT ke Woodlands Checkpoint, bagian terujung Singapura yang membatasi dengan Negeri Tetangganya Malaysia. Paspor saya di stempel dan saya diijinkan meninggalkan Singapura seperti di tendang.

Subuh ini saya tiba-tiba sudah di KL, perjalanan panjang nan melelahkan dari Johor Baru di tempuh hampir 5 jam lamanya. Beberapa menit yang lalu saya masih berada di terminal bersepadu selatan di Selangor.  celingak celinguk kebingungan tanpa tujuan. Satu-satunya tempat yang terpikir olehku adalah masjid.

Berbekal aplikasi pinta uber saya memesan taksi online itu dan memintaku mengantar ke Masjid ini. Subuh di Malaysia satu jam lebih lambat di banding subuh di Indonesia. Sholat subuh baru akan di mulai pada pukul 06.00 pagi, Subuh yang terlalu siang menurutku. Perbedaan sejam itu pada awalnya membuatku bingung, bahkan di masjid Sultan di Singapura saya sempat di tegur oleh jamaah masjid karena saya sholat duhur lebih cepat sejam dari waktu seharusnya.

Satu-satunya tempat di KL yang ingin ku kunjungi hanyalah twins towers. Seperti kata orang-orang tak afdal rasanya jika ke KL tak berkunjung ke menara Petronas ini. Sama halnya di Singapura kalo belum ke Marlion Park dan berfoto dengan latar kepala Singa yang memancarkan air dari mulutnya itu belum di kata pernah ke Singapura.  Seorang teman yang sering berlalu lalang ke luar negeri menertawakanku, percuma keluar negeri kalo hanya ingin mengunjungi tempat-tempat seperti itu. Tempat yang dikunjungi kebanyakan orang.

 “Tak apalah, saya ingin menjadi pelancong kebanyakan itu”. Begitu kilahku. Saya hanya ingin menikmati perjalananku, apapun bentuknya. Menikmati setiap momen yang kulewati di tempat-tempat yang ku kunjungi. Saya sungguh hanya ingin menikmatinya, dulu waktu kecil saya tidak pernah terbayang bisa bertualang sejauh ini, melintasi batas-batas negeri. Bahkan dulu diwaktu kecil saya tidak pernah bermimpi bisa bepergian dengan pesawat terbang.  saya hanya seperti kebanyakan anak kampung lainnya dengan mimpi-mimpi yang sangat terbatas, berlari-lari kecil mengejar pesawat yang kebetulan melintas di atas langit kampungku. Berteriak kencang meminta di jatuhkan uang dari langit. Tanpa pernah berfikir mana mungking mereka di atas ketinggian beberapa puluh ribu mdpl itu bisa mendengar suara cempreng kami.

Dulu waktu saya kecil, saya sering berkhayal, bagaimana rasanya berada di atas sana. Bagaimana rasanya berada dilangit. Diatas awan, di atas gunung. Bagaimana jika malam hari bisakah kita memegang bitang yang berkelip kelip itu. Khayalan-khayalan konyol anak-anak kecil. Hingga saya akhirnya memahami, langit tak pernah sedekat tampaknya, bintang tak secantik yang kita bayangkan. Kita tertipu oleh mata kita sendiri.

Pagi-pagi saya sudah berada di Twins Towers, berpose ala-ala. Saya terkagum-kagum memandangi Petronaks Tower ini. Terlihat tinggi dan begitu megah. Twins Towers merupakan ikon negeri ini. Saya tiba-tiba teringat monas. Ikon negeri tercinta kita itu. Berkali-kali saya ke Jakarta saya belum pernah sekalipun menyempatkan mampir ditempat ini, bahkan ketika saya harus menetap selama beberapa bulan di ibu kota itu, saya tidak sekalipun menginjakkan kakiku di sana. Saya tiba-tiba merasa menghianati negeriku.

Kuala lumpur terlihat asri, pohon-pohon tinggi di sepanjang jalan. Burung-burung liar berbulu cantik beterbangan tanpa rasa takut. Berebut makanan di trotoar jalanan. Batinku jika burung-burung secantik ini berkeliaran di jalan-jalan  Jakarta, saya pastikan dalam waktu dekat burung itu sudah terpajang dengan cantik di pasar burung pramuka.  Tak jauh dari Twins Towers terdapat rumah makan India di pinggir jalan, tepatnya di pasar tradisonal yang saya lupa namanya. Makanannya murah meriah. Saya mencicipi nasi kari India. Rasa karinya kental dan bumbu rempahnya terlalu kuat. Perutku memanas.

Setelah sarapan tempat yang terpikir olehku adalah batu caves. Salah satu objek wisata yang di rekomendasikan jika berkunjung ke Kuala Lumpur. Batu Caves sendiri hanyalah kompleks peribadatan umat Hindu. Yang membuatnya istimewa dikarenakan di sana ada patung  besar yang berbalut warna emas. Patung Dewa Murugan tampak menjulang tinggi. tingginya mencapai 43 meter dan konon katanya patung ini merupakan patung Dewa Hindu yang tertinggi di dunia.


Selain keindahan patung Dewa Murugan, Batu Caves juga memiliki 3 gua utama dan gua kecil. di pintu masuk vihara ini kita akan disambut ratusan burung dara yang siap menjadi objek foto. Ditambah dengan latar belakang 272 anak tangga menuju kuil dan patung Dewa Hindu itu.

Kami menggunakan taksi online menuju ke sana, hanya 14 ringgit saja jika di konversi ke rupiah kurang lebih 50.000 untuk jarak yang lumayan jauh, sekitar 25 menit berkendara. Di banding Singapura, orang-orang Malaysia cenderung lebih santai. Lebih bersahabat. Lebih sopan dan lebih cantik (hahahhahaha). Suku Melayu masih mendominasi di sini. Kita masih cenderung lebih leluasa bercakap-cakap. Saya tidak merasa tertekan dan terintimidasi. Tidak ada tatapan sinis dan merendahkan. Meski sentimen Indonesia dan Malaysia sedang hangat-hangatnya karena persoalan bendera terbalik. Bakan karena kebaikan orang-orang melayu itu saya berkesempatan menonton closing ceremony sea games di bukit jalil dengan tiket  gratis.

Seorang bapak-bapak mengajak saya bercakap-cakap. Dia tampak terkaget, katanya bahasa kita tidak terlalu berbeda. Dia lumayan faham dengan bahasa Indonesia  yang saya gunakan, kecuali jika saya menggunakan bahasa slank katanya. saya nonton Upin dan Ipin tiap hari, jawabku. dia tertawa lebar. 

Bersambung

Ada banyak cara menuju Johor dari Singapura. Salah satunya dengan rute yang saya tempuh ini. Kami menggunakan MRT dari Harbourfront ke Wo...



Ada banyak cara menuju Johor dari Singapura. Salah satunya dengan rute yang saya tempuh ini. Kami menggunakan MRT dari Harbourfront ke Woodlands lalu dilanjutkan dengan bus ke Wodlands Chekpoint dan terakhir ke Johor Baru. Meski tak bisa berbahasa Inggris dengan baik, saya tidak menemukan banyak kendala terkait jalur-jalur transport di Singapura. Segala sesuatu di Singapura sudah di setting demikian jelasnya, sehingga potensi untuk tersasar sangat kecil kemungkinannya bahkan untuk saya yang tidak mampu berbahasa Inggris ini, petunjuk-petunjuk yang ada di sini sangat memudahkan. Bilapun jika terdesak kebingungan dan membutuhkan pertolongan saya sarankan carilah ibu-ibu bertampang melayu yang berjilbab. Melayu Singapura paling tidak masih menyisakan sedikit kepedulian terhadap orang lain, apatisme akut yang menjangkiti sebagian besar warga Singapura masih belum sepenuhnya menjangkiti orang-orang Melayu. Lagi pula meski kita tidak bersaudara dalam identitas kebangsaan paling tidak kita bersaudara dalam hal keimanan.




Saya kebingungan di Woodlads station, saya harus menemukan Wodlands checkpoint gerbang perbatasan antara Singapura dan Malaysia, berdasarkan petunjuk yang saya peroleh di Woodlands inilah pintu keluar Singapura menuju Malaysia. Saya berputar-putar mengelilingi stasiun ini namun tidak berhasil menemukan dimana tempat menyeramkan itu (read: imigrasi). Orang-orang masih tampak terburu-buru. Berseliweran kemana kemari. Pertama kalinya saya melihat pengamen di Singapura di stasiun ini. Seorang bapak tua bermain alat musik chaines. Menggeseknya dengan penuh penghayatan. Gesekan dawainya mengeluarkan suara menyayat hati. Meski demikian saya perhatikan tak ada seseorang yang tampak tertarik menikmati iramanya. Polisi wanita bertampang India berdiri dengan serius didepannya. Berkacak pinggang seakan menampakkan arogansinya. Saya takut-takut menghampirinya. Tatapan seriusnya menyiutkan nyali saya. Saya masih belum pulih dari trauma imigrasi.

Seorang ibu-ibu berjilbab hitam berparas melayu segera kuhampiri. Dengan malu-malu saya menanyakan arah Woodlands chekpiont. Hal pertama yang diucapkan kepadaku adalah “bisa cakap Melayu? “ sambil tersenyum lega saya mengangguk.




Dari Woodlads MRT kita harus menuju ke Woodlands Checkpoint by bus. Jangan lupa siapkan duit recehan kalo enggak salah saya harus bayar hanya beberapa sen untuk kesana. Woodlands Checkpoint adalah titik imigrasi keluar masuk Singapura via 1st link (jalur 1) yang berbatasan langsung dengan Johor Baru. Disini kita diminta untuk turun dan melaporkan keberangkatan ke Johor, sama seperti imigrasi biasa. Jangan lupa persiapkan paspor anda dan kartu identitas anda.

Malam itu tampak antrean pelintas batas mengular, terutama di pelayanan paspor Malaysia. Di sini ada beberapa loket paspor. Beberapa di khususkan untuk warga negera Singapura, bebera loket di khususkan untuk warga negara Malaysia dan sisanya untuk seluruh Pasport dari berbagai negara. Saya menghabiskan waktu kurang lebih sejam untuk antri di sini. Saya sungguh kelelahan dan lapar. Kepalaku berkunang-kunang, antrean di depanku tampak tak ada habisnya. Di sini kita dilarang mengambil gambar, jadi saya tidak bisa mengabadikan momen ini.

Setelah proses imigrasi selesai, kita harus berjalan ke bawah tempat antrian menanti bus. Dari imigrasi ini kita akan menuju ke Johor Baru Chekpoint (JBC) pintu imigrasi Malaysia. Berhubung karena proses imigrasi yang lumayan lama maka di sini aturan busnya akan sedikit berbeda. Bus yang menuju Johor bila sudah di Woodlands Checkpoint boleh dinaiki oleh semua penumpang, jadi jangan takut ketinggalan bus yang digunakan sebelumnya. Pastikan saja tiket bus kalian tidak sampai hilang. Ingat tiket bus itu hanya berupa selembaran kecil sebesar stik es krim. Berjalanlah menuju tempat antrean keberangkatan bus. Ikuti saja orang-orang yang keluar dari imigrasi. Selama menjalani proses imigrasi ini beruntung saya sempat berkenalan dengan seorang pemuda berparas melayu berkewarganegaraan Singapura yang kebetulan juga akan menyeberang ke Johor. Saya banyak mendapat bantuan dari dia, bahkan dia rela menunggu saya menjalani proses imigrasi yang lumayan lama. Terimakasih untukmu kisanak.

*bersambung

Merlion Park. Terlepas dari imigrasi Singapura rasanya seperti baru saja menyelesaikan PR matematika yang rumit, plooong. saya dan kawan...


Merlion Park.
Terlepas dari imigrasi Singapura rasanya seperti baru saja menyelesaikan PR matematika yang rumit, plooong. saya dan kawan saya bisa bernafas lega. Tempat pertama yang akan kami tuju adalah Merlion Park. Kata orang-orang, kamu belum dikatakan mengunjungi Singapura jika belum berfoto dengan latar patung kepala Singa yang mulutnya mengeluarkan air ini. Merlion Park terletak di kawasan Raffles. Dari Harbourtfront atau dari bandara Changi kita bisa ke sini dengan MRT. Disini apapun bisa di jangkau dengan MRT sih

Berikut rute untuk menuju tempat ini dari Harbourfront.
*dari stasuin MRT harbourfront (basement mall vivo city), naik MRT purple line jurusan punggol dan turun di outram park station.
*naik MRT green line jurusan Pasir Ris dan turun di raffles place stasiun.
*keluar stasiun melalui exit B dan jalan menuju singapore river. kemudian belok kanan dan jalan hingga menemui cavanagh bridge dan hotel fullerton. setelah itu menyeberang ke merlion park.

Kami menyusuri jalan-jalan di kawasan Rafles ini, melihat keramaian dan apatisme orang-orang kosmopolitan. Gedung-gedung menjulang tinggi, masyarakat berbagai bangsa berlalu lalang dengan sibuk. Satu dua bahkan tampa rasa canggung memadu kasih dengan intim di pinggir Singapura river yang tertata cantik. Hal-hal yang selama ini hanya kulihat di tivi-tivi kini secara nyata tergambar didepanku. Saya jijik.




Patung Merlion sendiri dibangun pada tahun 1964. Patung ini berbentuk kepala singa dengan badan ikan di atas puncak ombak. Patung ini hingga kini menjadi ikon Singapura bagi dunia. Patung ini dirancang oleh Mr. Fraser Brunner, anggota panitia suvenir dan kurator di Van Kleef Aquarium, kepala singanya melambangkan singa yang terlihat oleh Pangeran Sang Nila Utama saat ia menemukan kembali Singapura di tahun 11 M, seperti yang tercantum dalam “Sejarah Melayu”. Ekor ikan sang Merlion melambangkan kota kuno Temasek (berarti “laut” dalam bahasa Jawa), nama Singapura sebelum sang Pangeran menamakannya “Singapura” (berarti “Kota Singa” dalam bahasa Sansekerta) dan juga melambangkan awal Singapura yang sederhana, yaitu sebagai perkampungan nelayan.

Bugis Street


Bugis Street terletak di antara Rocchor, Victoria, dan Queen Street. Bugis Street terkenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan murah di Singapura, orang-orang datang ke sini untuk berburu oleh-oleh dan barang-barang murah namun bagiku satu-satunya yang membuatku tertarik mengunjungi tempat ini adalah namanya “Bugis Street”. Nama jalan yang diambil dari nama suku saya, suku “Bugis”. Salah satu suku terbesar di Sulawesi Selatan. Suku yang terkenal keuletannya menjelajahi samudera. Suku pelaut, Suku perantau. Suku Pedagang Begitu kata orang-orang.

Dahulu konon katanya Bugis dan Singapura pernah memiliki hubungan yang erat. dahulu pelat-pelaut Bugis banyak yang bermigrasi ke Singapura. Akar rumpun budaya Melayu Singapura banyak diwarnai suku Bugis, Karena penghormatan itu maka hingga kini di singapura kita masih bisa menemukan sisa-sisa peninggalan masa lalu itu. Di beberapa tempat di Singapura seperti di Distrik ini masih dinamai dengan nama bugis seperti Bugis street ini. Selain itu salah satu distrik di sini juga di beri nama Sengkang yang juga merupakan nama salah satu ibu kota kabupaten di sulawesi selatan. Saya bayangkan di masa lalu di jalan ini kita akan menemukan banyak orang bercakap-cakap menggunakan bahasa bugis. Bahasa sukuku.

Masjid Sultan


Masjid sultan terseok-seok membentengi umat Islam dari dominasi agama lain di negeri yang multirasial ini. Populasi umat Islam di Singapura makin menyusut. Dari segi bangunan Masjid Sultan tidak terlalu istimewa menurutku jika dibandingkan dengan masjid-masjid di Indonesia, namun masjid itu sangat patut di apreasiasi. Mengingat perannya yang begitu krusial bagi umat Islam yang minoritas di sini. Masjid ini dibangun pada tahun 1824 untuk Sultan Hussein Shah, sultan pertama di Singapura dan telah mengalami beberapa kali pemugaran.

Masjid ini menjadi salah satu bangunan bersejarah di Singpaura dan telah ditetapkan oleh pemerintah Singapura pada tanggal 14 maret 1975. Jadi selain tempat ibadah Masjid ini juga terbuka bagi seluruh turis yang ingin masuk melihat suasana didalam masjid. Masjid ini terdiri dari dua bangunan besar yang diperkirakan bisa menampung sekitar 5000 jamaah. Saya menyukai beberapa ornamen masjid ini juga warna kubah emasnya yang dominan. juga bagian bawah kubahnya yang didekorasi dengan ujung botol kaca. Konon katanya botol-botol kaca itu merupakan sumbangan kaum dhuafah selama masa pembangunan masjid ini.

Persis di depan masjid ini tepatnya di arab street terdapat berbagai macam kedai makanan yang menjual cenderamata dan makanan halal. Saya menikmati makan siang di salah satu kedai milik muslim india tak jauh dari gerbang utama masjid ini. Saya memesan ayam goreng sambal hijau lengkap dengan segelas mokachino dinginnya. Saya harus mengeluarkan hampir 10$ Singapura untuk makanan ala kadarnya ini, yang jika dirupiahkan kurang lebih Rp100.000,00. Bagi backpacker kere seperti saya, uang sebesar itu sangat sayang dikeluarkan hanya untuk sepiring makanan yang bisa saya dapatkan dengan harga Rp15.000,00 saja di Indonesia.

Universal Studio


Universal Studio berada di Sentosa Island. Pulau kecil di ujung Singapura yang sampai hari ini masih terus di reklamasi. Pulau ini awalnya hanyalah pulau mati tak berpenghuni namun seiring perkembangan Singapura yang semakin pesat pulau sentosa akhirnya bertransformasi menjadi kawasan wisata yang mengundang setidaknya sekin juta pengunjung tiap tahunnya. Universal Studio menjadi daya tarik utama tempat ini. Universal Studio Singapore merupakan Universal Studio keempat di dunia dan pertama di ASEAN. Wahana-wahana wisata di sini bertemakan film-film produksi Universal Studio. Selintas, kawasan wisata ini mengingatkan kita pada Ancol Taman Impian di Jakarta.

Tak banyak yang bisa kuceritakan di sini. Saya tidak pernah tertarik mengunjungi wisata-wisata dengan macam-macam wahananya seperti ini, satu-satunya yang membuatku harus ke sini karena ingin berfoto di depan Bola dunia yang bertuliskan Universal Studio itu. Hahahahhaha
Bayangkan saja, untuk menikmati berbagai macam wahana di dalam universal studio ini kita harus mengeluarkan duit sebesar 50$ Singapura atau setara dengan Rp500 ribu rupiah. Sementara duit di dompet saya hanya sebanyak $70 $ Singapura. Jadi lupakan wahana-wahana itu.

Singapura seperti bagian lain dari Malaysia yang kebetulan terbelah. Malaysia dan Singapura di pisahkan oleh Selat Johor. Membentang panj...

Singapura seperti bagian lain dari Malaysia yang kebetulan terbelah. Malaysia dan Singapura di pisahkan oleh Selat Johor. Membentang panjang dari Jurong ke Changi. Bahkan dulu Singapura pernah secara resmi berada dibawa persekutuan kerajaan-kerajaan Malaya. Sayangnya penyatuan dua negeri itu tidak berjalan lancar. Selang setahun setelahnya Singapura memisahkan diri, kembali mendirikan negerinya sendiri. Hingga kini konflik perbatasan Singapura-Malaysia serta sentimen kebangsaan kedua negara ini masih sering terjadi.
Singapura tadinya merupakan negeri Melayu namun perlahan-lahan masyarakat pribumi itu tergerus, hingga kini Populasi Melayu di Singapura sampai sekarang hanya tersisa kurang lebih 13% dari total penduduk Singapura. Penduduk pribumi itu tersisih di negerinya sendiri, kehilangan identitas, kebanggaan, budaya dan akar rumpun mereka. Masa depan Melayu sedang dipertaruhkan di negeri ini.
Di negara-negara multirasial, perbedaan etnis sering kali menjadi problem. Berbagai macam problematika etnis ini kadang terlihat sangat sulit di urai benang merahnya. Ada arogansi identitas, ada iri hati, ada perasaan saling curiga dan tidak percaya. Namun bagi saya akar dari semua ini hanyalah ketidak adilan. 
Saya teringat tulisan Agustinus Wibowo dalam salah satu bukunya “Negara-negara yang terlalu menonjolkan kebangsaannya cenderung menekan minoritas. Apa yang terjadi untuk bangsa-bangsa  yang bukan “pemilik” negara itu? Diintegrasi ? dilebur ? atau dibantai ?” .
Hipotesa itu terjawab di Singapura. Negara-negara yang tidak menonjolkan kebangsaannya akan kehilangan harga dirinya. Orang-orang Melayu Singapura telah kehilangan kebangsaannya. Di Singapura saya sangat jarang mendengar orang-orang berbahasa melayu, sebagian besar berbahasa Mandarin dan sebagian lagi berbahasa Inggris Singapura dengan aksen Singapura yang kental, Bahasa Singlis (Singapura Inggris) yang menurutku agak susah dipaham oleh pendatang. Bahkan orang-orang yang masih sangat berwajah melayu cenderung lebih nyaman menggunakan bahasa inggris dibanding bahasa melayu itu sendiri.  Satu-satunya yang tersisa dari Melayu di Singapura  mungkin hanyalah Lagu Nasionalnya “Majulah Singpapura” yang hingga sekarang liriknya masih tetap menggunakan bahasa melayu.
Marilah kita Rakyat Singapura
Sama-sama menuju bahagia
Cita-cita kita yang mulia
Berjaya Singapura

Marilah kita bersatu
Dengan semangat yang baru
Semua kita berseru
Majulah Singapura
Majulah Singapura 2X
(lagu Kebangsaan Singapura)

Di Indonesia sendiri pergesekan “mayoritas” dan “minoritas” sedang hangat-hangatnya, Di Indonesia permasalahan etnis ini sangat sensitif. Begitu kau menyinggung etnis tertentu serta merta kau akan dicap “Rasis” ,anti Pancasilais, kebanyakan makan micin, IQ jongkok, bumi datar atau sindiran macam-macam itu lah dan bla..bla.. bla… Sedang di Singapura sendiri kesan pertama saya menjadi Melayu berarti menjadi warga kelas dua. Melayu tidak memiliki ruang gerak yang cukup di sini. Terpinggirkan.  Semoga saja hipotesa saya salah.

Namun demikian, kita orang luar datang hanya sekali atau dua kali tidak pernah benar-benar mengerti apa yang terjadi di sana, kita hanya datang melihat-lihat sekilas, mengumpulkan hipotesa, menarik kesimpulan sepihak lalu pergi dan mungkin tidak lagi berniat untuk kembali, tapi bagi mereka warga negara Singapura kenyataan itu segamblang hitam dan putih.

@asdar_munandar Perbatasan, garis batas, tapal batas, titik akhir atau apapun sebutannya. Kesan yang ditimbulkan biasanya sama “menyera...

@asdar_munandar
Perbatasan, garis batas, tapal batas, titik akhir atau apapun sebutannya. Kesan yang ditimbulkan biasanya sama “menyeramkan”. Batam adalah limit akhir dari Nusantara yang membatasi kita dengan Singapura. Hanya kurang lebih 45 menit di seberang sana kita sudah berada di spektrum lain kehidupan. Bagian lain dari dunia yang begitu luas ini. Di seberang garis itu yang jaraknya tidak lebih dari 45 menit dari sini berlaku aturan yang lain, bahasa yang lain, mata uang, lambang negara, spektrum kehidupan yang lain dan berbagai macam identitas-identitas lain yang berbeda. Dan satu-satunya jalan untuk menembus itu semua adalah “imigrasi”
Saya mengalami pengalaman kurang mengenakkan di Imigrasi Singapura, meski mereka memperlakukanku dengan ramah dan profesional, namun tendensius etnis begitu terasa. Atau karena saya pemegang passport hijau. Dua kali saya masuk Singapura dua kali pula saya harus berurusan dengan bagian interogasi imigrasi Singapura yang terkenal angker.
Saya seperti pesakitan, digiring ke ruangan rahasia dengan kepala tertunduk malu. Saya nanya “if ther is something wrong whit my paspor ser” dengan agak canggung. Si pria berkepala botak yang bertampan India itu cuman masem sebentar. Dengan muka ketusnya dia cuman bilang. “Nope” just Random chek dengan gaya bahasa Inggris ala-alanya.
Random chek-random chek palamu, dongkolku dalam hati. Kenapa harus saya lagi.   Saya iri dengan sepasang traveler berkewarganegaraan German yang kebetulan melintas batas bersamaan denganku. Meski carier mereka 10 kali lebih besar dibanding daypack yang saya bawa, mereka melenggang kangkung dengan mulus melintasi Singapura. Mereka tidak di giring ke ruang interogasi, tidak harus mengeluarkan satu persatu dan memperlihatkan rupa-rupa barang tak berguna yang dibawa di tasnya. Tidak harus menghitung lembar demi lembar dollar singapura yang ada di dompet mereka.  Aii betapa menjadi Indonesia harus banyak beradaptasi dengan berbagai macam pemakluman.
Ruang interogasi Imigrasi Singapura terkesan angker, dingin dan menakutkan.  terdapat pintu kaca yang hanya bisa dibuka dengan identity card dari luar. Mirip ruang pemeriksaan CIA di filem-filem itu.  Di ruangan itu terdapat help desk yang dikelilingi peralatan komputer dan berbagai tetek bengeknya. Juga terdapat beberapa ruang interogasi yang lebih mirip kamar penjara berpintu besi.
Seorang petugas Imigrasi bertampang cines berumur hampir pensiun terlihat emosi. Berkali-kali dia menjelaskan kesalahan yang dilakukan pria pemegang paspor India yang jadi pesakitan di depannya itu. Konyolnya, pria India itu sama sekali tidak memahami apa maksudnya, batinku pria india ini hanya pura-pura. Dia mendebatnya dengan bahasa India sementara bapak imigrasi mencercanya dengan bahasa Inggris melayu.  Saya tak bisa menahan tawaku, pria India itu hanya mengangguk-angguk tak mengerti. Bapak-bapak Imgirasi itu tampak prustasi  kami bersitatap kemudian tertawa bersamaan.
Berdasarkan catatan-catatan blog yang saya baca, rata-rata orang-orang akan menghabiskan berjam-jam di Imigrasi ini hanya untuk ditanya persoalan-persoalan sepele. Bahkan kasus terakhir, ustad artis  yang terkenal dari Indonesia sempat di tahan di Imigrasi Singapura berjam-jam tanpa kejelasan yang pasti. Saya ngeri, bagaimana jika saya juga ditahan berlama-lama seperti itu. Sementara waktu saya di Singapura memang tidak banyak. Beruntunglah prosesi sakral di imigrasi singapura tidak sampai berjam-jam. Setelah saya diinterogasi saya kemudian dipersilahkan memasuki Singapura dengan penekanan harus meninggalkan Singapura secepatnya, seakan tidak percaya tiket kapal penyeberangan yang kuperlihatkan bersama dengan pasporku.
Meski demikian ada beberapa hal yang kusukai di Singapura.  Saya suka budaya antrinya, juga kebersihannya, lalu lintas yang tidak macet, sistem transportasi yang sangat bagus. juga budaya ketika di eskalator. Saya suka bagaimana mereka begitu tertib berdiri di sebelah kanan dan membiarkan sisi kiri kosong melompong untuk dilalui orang yang terburu-buru.
Secara umum orang-orang Singapura tampak terlihat serius. Saya canggung dan merasa aneh dengan keseriusan dan ketergesa-gesaan orang-orang di sini. Kita tidak akan menemukan senyum hangat khas orang Indonesia di sini, tidak ada salam basa basi apalagi ajakan mampir minum kopi atau sekedar saling  berkenalan. Tak seperti di Indonesia  dimana orang tak dikenal di jalan tanpa rasa curiga  mengundang kita mampir ke rumahnya.. “Monngo pinara-pinara” Begitu sapaan sopan orang-orang tua di Jogja saat saya menyusuri jalan-jalan di gang-gang Jogja suatu masa dulu. Di Sini di Singapura bahkan untuk bertegur sapapun orang-orang seakan tak punya hasrat, apalagi mengajak bercakap-cakap orang asing bertampan kere seperti saya.  Moderenitas, kemajuan ekonomi, kemakmuran memang berbanding terbalik dengan keeratan hubungan manusia.  Kekayaan  dan kenyamanan hidup menjadi sekat  kita dengan sesama manusia. Saya rasa hati nurani memang tak punya tempat di negeri seperti ini.
Indentitas dan Kebanggaan adalah dua hal yang penting bagi warga Singapura. Mejadi Singapore berarti mejadi warga kelas dunia. Menjadi warga negeri modern, warga kelas atas, Negeri kosmopolitan, maju, cerdas dan seabrek kebanggaan-kebanggaan duniawi lainnya.
Warga Singapura patut berbangga, negeri kecil itu ibarat Amerikanya Asia. Kiblat moderenisme di Asia. Jika ingin belajar keteraturan belajarlah pada warga Singapura, jika ingin belajar arti kerja keras belajarlah ke Singapura, jika ingin belajar menata negara belajarlah di Singapura. Di Singapura semua serba teratur dan tertata. Kebangaan seperti itulah kira-kira yang tertulis di jidat orang-orang Singapura. 
Tapi sayangnya orang Singapura seperti tidak pernah punya waktu untuk menikmati itu semua. Mereka selalu tampak terburu-buru. Orang Singapura cenderung tindak bahagia, bahkan berdasarkan banyak survey seperti jajak pendapat Gallup Internasional, warga Singapura bukan hanya tanpa emosi, tetapi juga orang paling tak bahagia di dunia. wow. Kesejahteraan duniawi tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan. 
Menurutku jika ingin belajar menikmati hidup datanglah ke Indonesia. Menjadi warga Indonesia berarti menjadi warga negara yang berbahagia. Di Indonesia apapun bisa membuat orang bahagia, bahkan meski hanya perkara sepele. Kaum alayers misalnya, mereka bisa bahagia hanya dari like and share status facebooknya. Hanya karena foto selfie monyongnya di medsos banyak mendapat jempol dan komentar. Followers instagramnya semakin banyak. Atau pengikutnya di twitter sudah jutaan. 
Para Ibu-ibu bisa bahagia hanya karena durasi sinetron India di tivi semakin diperpanjang. Bapak-bapak bahagia karena tokoh pilihannya yang selama ini dipuja pujinya memenangkan pemilu. Kaum hedon bisa bahagia jika mampu membayar segelas kopi dengan harga ratusan bahkan hingga jutaan rupiah di kafe-kafe elit. Marketing MLM selalu terlihat bahagia meski hanya bisa berfoto di depan mobil mewah yang konon katanya bonus dari usaha MLMnya selama ini. Atau yang lagi trend saat ini orang-orang bisa puas berbahagia jika menemukan objek bulliying di media sosial. Di Indonesia kebahagiaan bisa berarti apa saja, bisa ditemukan dimana saja. Defenisi kebahagiaan di sini terlalu absurd. Pendeknya di Indonesia semua orang ingin tampak bahagia dengan definisinya masing-masing, entah itu harus pura-pura bahagia atau memang sedang berbahagia.
Di Indonesia orang-orang terlalu ramah dan sopan. orang-orang terlalu santai, tidak diperumit dengan berbagai keruwetan hidup. Orang-orang Indonesia tidak terlalu di pusingkan bagaimana menciptakan nukril atau bagaimana menerbankan roket ke angkasa. Tidak dipusingkan bagaimana harus membangun kereta bawa tanah di tengah kota seperti di Singapura. Orang-orang Indonesia menyukai macet yang berkepanjangan. Dengan macet artinya beban kerjaan akan semakin sedikit. Saat macetpun orang Indonesia bisa berbahagia. Bisa selfi-selfian.  Selain itu orang-orang Indonesia juga cenderung pemaaf, dibohongi setiap hari oleh pemerintah, uang pajak yang mencekik yang kemudian di korupsi juga oleh pemerintah, semua tak membuat orang Indonesia marah. Semua dihadapi dengan senyum. Kebanggaan tiada duanya jika memikirkan itu semua. Betapa bahagiannya menjadi warga negara Indonesia