Kesedihan datang perlahan-lahan, menyerap semua sisa kebahagiaan yang tersisa. Kesedihan merontokkan semua harapan, mengubah langit biru c...

Sebuah Catatan Untuk Hati yang Bersedih


 

Kesedihan datang perlahan-lahan, menyerap semua sisa kebahagiaan yang tersisa. Kesedihan merontokkan semua harapan, mengubah langit biru cerah menjadi kelabu pudar. Kesedihan ibarat malam yang gelap, kelamnya datang berlapis-lapis. Gelap dan lebih gelap lagi. Kesedihan mengubah segala sesuatu yang tampak indah menjadi lebih sendu.


Kesedihan ibarat Hujan yang turun, angin yang bertiup dingin dan burung yang menangis didahan-dahan pohon. Ketenangan yang mencekam.  kesedihan seperti berjalan di labirin yang tak berujung. Seperti terjerembah kedalam lumpur hitam yang dalam atau terjebak dalam ruangan yang sempit lagi gelap. Kesedihan menyerap semua kebahagian, membiarkan hati mengering rapuh, membusuk dan berulat.


Bagaimana bisa, hati kecil ini mampu menampung kesedihan yang begitu besar ?

0 komentar:

  Tiba-tiba saya sudah di titik ini, di umur kepala tiga. Dahulu dimasa saya masih berstatus mahasiswa, saya mengira umur dititik ini masih ...

Tertipu Oleh Waktu

 



Tiba-tiba saya sudah di titik ini, di umur kepala tiga. Dahulu dimasa saya masih berstatus mahasiswa, saya mengira umur dititik ini masih begitu jauh, tapi nyatanya saya seperti tertipu waktu. Hari ini saya terbangun dan sadar, saya sampai juga dititik mendewasa secara angka.


Pada titik ini saya tak lagi bersemangat merayakan bahkan mengingat hari lahirku. Saya menghela nafas panjang, umur memang bukan menjadi standar ukur apapun. Untuk mati misalnya tidak perlu umurmu harus berbilang tahun. Kau bisa tiba-tiba saja mati. Mati begitu saja. Pun perkara lainnya umur sungguh tak bisa jadi tolak ukur. Menikah, jadi kaya, sekolah, bahagia, bersedih, bekerja, pendek kata perkara apapun. Satu-satunya yang pasti terkait umur adalah  semakin waktu berlalu artinya waktu hidupmu semakin habis. Tidak ada cerita itu kau terbangun dipagi hari dan umurmu juga bertambah sehari, yang ada setiap kali kau terbangung dipagi hari itu berarti selangkah lagi kau menuju liang lahatmu. Manusia sungguh selalu tertipu oleh waktu


Dahulu saya berfikir, semakin kita dewasa semakin kita akan merasa bahagia, kenyatannya semakin kita mendewasa beban hidup kita justru semakin bertambah. Mimpi-mimpi masa muda yang dulu kita bangun seakan tergerus oleh realitas yang menyakitkan. Kau akan mendapati satu persatu mimpimu rontok terbentur realita yang menyakitkan.


Saya pernah bertanya kepada seorang kawan “Kenapa manusia bisa merasa sedih atau kenapa manusia masih sering merasa kecewa”. Kenapa Allah masih menyisahkan perasaan seperti itu bahkan saat kita berusaha meniti jalan-Nya. Sahabatku tersenyum dan berkata “Manusia itu penduduk langit, bukan penduduk bumi. Jadi Manusia di uji dengan perasaan seperti itu agar mereka tidak merasa terlalu betah untuk tinggal di bumi. Agar kita selalu merasa rindu untuk kembali ke rumah kita, kembali ke langit, kembali ke surga.


Barangkali memang kita tidak bisa merasakan bahagia seutuhnya, barangkali memang kita harus disuruh bersabar sampai nanti kita melangkah ke surga atau barangkali kita hanya kurang bersyukur untuk semua hal yang telah Allah titipkan. Bukannya rasa bahagia itu memang hanya datang sejenak, Kita disesapi bahagia  sesaat lalu ditimpakan rasa bermacam-macam setelahnya. Barangkali cara kerjanya memang seperti itu.


Beberapa hari yang lalu saya membuka catatan-catatan lamaku, saya menemukan seratus hal yang ingin kucapai dalam hidupku. Saya tersenyum melihat catatan itu. Beberapa memang tercapai, bahkan sebagian besar sudah tercapai tapi beberapa terlihat sangat tidak realistis untuk kondisiku sekarang ini. Kenyataannya ketika mendewasa idealisme menjadi hal yang tidak terlalu penting. Kita menjadi lebih rasional untuk melihat sesuatu.


Rasa-rasanya saya tiba-tiba ingin menyusun kembali agenda hidupku, ingin menata kembali banyak hal yang terlewatkan selama ini. Entah kenapa beberapa tahun belakangan ini  saya mengabaikan mapping life ku itu, terutama semenjak saya bekerja. Dunia saya seperti tersedot oleh dunia kerja, waktu berjalan terlalu cepat dan tiba-tiba saya disini. Diangka kepala tiga. Saya tertipu waktu.  


Berbicara mengenai mimpi, apakah diusia seperti ini saya masih punya kesempatan untuk bermimpi apakah saya masih layak menyusun mimpi-mimpi saya kembali ? saya sendiri tidak terlalu yakin, tapi bagaimanapun juga  saya tetap berusaha menyusunnya. Saya berusaha kembali menyusunnya dengan cara yang lebih realistis. Saya memetakan kembali apa yang harus kucapai setiap tahunnya sampai sepuluh tahun kedepan saya berharap dengan kembali membuat planning seperti ini saya punya pegangan untuk melangkah dan kemana akan saya bawah arah hidup ini.  




3 November 2020

0 komentar:

  Perkenalan pertamaku dengan buku ini tahun 200x, saat itu saya mahasiswa baru kere yang tak punya cukup uang untuk mengoleksi buku seperti...

Resensi Buku Imperium III

 



Perkenalan pertamaku dengan buku ini tahun 200x, saat itu saya mahasiswa baru kere yang tak punya cukup uang untuk mengoleksi buku seperti ini. Buku ini kutemukan di toko buku terkenal itu, dan begitu jatuh cinta setelah membaca beberapa bagiannya. Saya menahan hasratku untuk mengoleksinya sampai kemudian saya sempat terlupa dengan buku ini. Beberapa tahun kemudian, saat perkara uang bukan lagi menjadi masalah utamaku, saya kembali mencari buku ini, sayangnya buku ini sudah tidak tersedia dibuku manapun, tidak ada platform online yang juga menjual buku original dari Imperium III ini. saya bahkan sempat menghubungi penulisnya menanyakan sekiranya apakah buku ini akan kembali dicetak ulang. Hasilnya nihil.


Saya kemudian akhirnya benar-benar bisa memiliki buku ini di tahun 2020, seseorang menjual buku bekasnya diplatform online. Buku ini sungguh membuatku terkagum. Berisi rentetan peristiwa sejarah dari dark era sampai saat ini. sampai saat kita hanya duduk cantik didepan layar laptop kita atau di depan handpone kita dan kita bisa mendapatkan berbagai macam informasi dari seluruh dunia.


Bagiku buku ini seperti layaknya buku bidaya wan nihayah karya besar Ibnu Katsar yang membahas sejarah dunia dari zaman penciptaan adam sampai kiamat, namun buku ini berfokus pada pembahasan sejarah dunia secara umum. Buku ini sungguh menjawab penasaranku, bagaimana akhirnya dunia bisa berkembang sampai seperti sekarang ini. bagaimana manusia bisa menikmati alat komunikasi super canggih, alat transportasi yang super cepat dan berbagai macam kemegahan-kemegahan lainya. Saya melihat banyak optimisme yang dibangun Eko Laksono dalam bukunya ini, tak hanya seputar sejarah buku ini juha banyak mengutip quote motivasi dari pemikir-pemikir hebat di zamannya, juga cerita bangsa-bangsa yang sempat terpuruk kahirnya bisa sukses membangun imperiumnya seperti Jepang. Bagiku, buku ini sungguh luar biasa.

 

0 komentar:

  Barangkali pernah, dalam hidupmu, engkau memiliki simpul persahabatan yang engkau percaya tak ada tandingannya. Engkau mengandalkannya kad...

Resensi Novel: Aku Angin Engkaulah Samudra


 

Barangkali pernah, dalam hidupmu, engkau memiliki simpul persahabatan yang engkau percaya tak ada tandingannya. Engkau mengandalkannya kadang lebih dibanding engkau memercayai kemampuanmu sendiri. Engkau mengenangnya seperti halnya Padi melagukan Harmoni. Engkau merasa tidak mungkin berdiri hari ini tanpa dirinya di masa lalu, meski di masa nanti, di mana dia, engkau tak tahu lagi.

(Tasaro GK)

 

Buku ini berkisah tentang Maru dan orang-orang yang hadir dalam satu wilayah waktunya. “Persahabatan” begitu mungkin orang-orang menyebutnya. Ikatan yang terjalin kuat karena satu alasan, entah karena kesamaan nasib, hobi, pekerjaan, latar belakang masa lalu atau hanya karena kebetulan bertemu disuatu tempat namun memberi suatu ekses yang mendalam.


Saya membaca buku ini saat hubungan antar orang-orang yang tadinya kuanggap sahabat mulai merenggang. Satu persatu simpul yang pernah kuikat begitu kokoh itu melerai. Kenyataannya waktu, jarak dan interaksi yang tak lagi seintens dulu menjadi tembok tak kasat mata yang sukses merenggankan ikatan itu. Kita akhirnya berjarak. Seperti Maru, satu persatu satu orang-orang yang dianggap sahabat akhirnya tertinggal dibelakang. Maru pergi, hidup berpindah seperti angin.


Nyatanya memang seperti kata Maru “waktu selalu punya superheronya masing-masing”. Kita akan selalu menemukan orang-orang baru dalam kehidupan kita, pun sebaliknya mungkin kita pada akhirnya juga akan saling melupakan dan itu tak perlu terlalu kita sedihkan.


Buku ini bermula dari kisah Maru di masa kecil, persahabatannya yang kental degan Samu menjadi kisah nostalgia yang melatari hampir semua kisah dalam novel ini. Maru yang namanya konon berarti Angin dan Samu yang merupakan singkatan dari Samudera. Dua anak manusia yang harus memilih dan menajalani pilihan hidupnya masing-masing. Samu menjadi tentara seperti impian kecilnya dan Maru ditadirkan untuk hidup berpindah seperti angin dia menjadi jurnalis dan bepergian ke berbagai daerah.


Konflik bersenjata antara TNI dan GAM di Aceh kembali mempertemukan mereka. Persahabatan yang tadinya merenggang oleh waktu kita menemukan titik jalannya kembali. Apakah persahabatan yang dulu dibina di masa kecil bisa kembali menguat seperti sedia kala atau senyatanya waktu dan jarak memang begitu sukses merenggangkan suatu hubungan.


Manusia pasti akan megalami banyak hal dalam hidupnya, memasukkan banyak pemahaman baru yang mewarnai idiologi dan cara pandang mereka. Ketulusan persahabatan di masa lalu harus di uji dengan idealisime dan kepentingan pribadi. Samu yang tentara dan Maru yang jurnalis. Samu harus melihat segala sesuatu dari kacamata militernya, sementara Maru sebaliknya dia melihat segala sesuatu dari perspektif yang berbeda.


Saya selalu menyukai membaca buku Tasaro GK. Tertalogi “Muhammad lelaki penggengam hujan” atau “sewindu” yang sukses membuatku baper berat. Entah kenapa tulisannya selalu bernaas. Selalu terasa hidup. Pun sama halnya dengan buku ini. Diluar ada bebeberapa hal yang terasa begitu mengganggu karena penggunaan sudut pandang yang berubah-ubah, buku ini masih tetap layak diberi bintang 4. Terimakasih Mas Tasaro GK untuk semua karya-karyanya yang selalu menginspirasi.

 

0 komentar:

Tahun 2020 kembali saya mengikut goodread challange. Seperti tahun kemarin saya menarget untuk menyelesaikan 30 buku selama setahun ini dan ...

The 10 Best Books of 2020 (Part 1)



Tahun 2020 kembali saya mengikut goodread challange. Seperti tahun kemarin saya menarget untuk menyelesaikan 30 buku selama setahun ini dan saya berharap 70%nya adalah buku non fikis. Sampai dengan pertengahan tahun ini taget saya berjalan dengan baik. Saya telah menyelesaikan 15 buku atau setengah target yang harus saya selesaikan di tahun 2020.. Beberapa buku yang saya baca begitu berkesan tapi juga beberapa diantaranya sangat tidak dirokemendasikan untuk dibaca. Sebagian besar buku non fiksi yang kubaca adalah buku tentang sejarah dan peradaban sementara buku non fiksi masih lebih suka membaca karya klasik non menye-menye.

Dari 15 buku yang kubaca, saya akan mengurutkan 10 diantaranya yang merupakan buku terbaik yang kunilai  berdasar berbagai pertimbangan subjektif. Jadi penilaian ini sama sekali tidak ilmiah, tidak bisa dijadikan tolak ukur bagus tidaknya buku itu, murni hanya pandangan pribadi saya. Berikut bukunya:

1.       Ring of Fire: An Indonesia Odyssey by Lawrence Blair, Lorne Blair

Buku yang menempati posisi pertama adalah “Ring of Fire”-nya Blair bersaudara. Buku ini sungguh membuatku jatuh cinta. Ditulis dengan narasi yang sangat meneraik dan detail. Buku ini menurutku buku catatan perjalanan terbaik tentang Indonesia sejauh ini yang pernah saya baca, pun  diterjemahkan dengan sama baiknya  oleh Tiyas Palar. Satu-satunya kekurangan buku ini adalah rentang waktu yang terlalu jauh antara zaman saya membacanya dan era yang diceritakan Blair. Banyak hal telah berubah di Indonesia. Saya sangat menyesal kenapa buku sebagus ini baru saya temukan sekarang. Mewakili  penduduk Indonesia saya merasa berkewajiban  mengucapkan banyak terimakasih kepada Lawrance dan Lorn Blair karena telah mendedikasikan hidupnya untuk menghasilkan karya tentang Indonesia yang begitu luar biasa ini. Saya rasa bahkan orang Indonesia sendiri pun tidak banyak yang memiliki minat seperti apa yang telah dilakukan oleh mereka. Sekali lagi, terimakasih Lawrence dan Lorne Blair untuk karya yang luar biasa ini. 4,5 bintang untuk buku ini.

Resensi lengkapnya bisa dibaca di sini https://www.asdarmunandar.com/2020/03/resensi-buku-ring-of-fire-indonesia.html

2.       Saladin: Life, Legend, Legacy by John Man

John Man adalah sejarawan dan travel writer dengan ketertarikan khusu terhadap islam dan timur jauh, termasuk Mongolia. setelah menyelesaikan studi mengenai Jermand an Prancis di oxford, ia mengambil dua program kursus pascasarjana: kajian sejarah sains di oxford dan studi bangsa Mongol pada School of Oriental and African Studies di London.

Latar belakang akademik itu menjadikan karyanya memang luar biasa, salah satu yang sangat memukau menurutku adalah buku Biografi Shalahuddin AL-Ayyubi ini. ditulis dengan sangan detail dan objektif. BUku ini bukan hanya berisi tentang riwayat hidup Shalahuddin, buku ini juga berisi catata sejarah Imperium-imperium besar yang melatar belakangi kisah hidup Shalahuddin. Salahuddin atau dibarat disebuet Saladin adalah tokokh yang paling ikonik pada zamannya.

Kesuksesannya menaklukkan Yerussalam tercatat dalam tinta emas sejarah peradaban Islam, namun dibalik suksesnya itu banyak hal yang selama ini tidak kita ketahui, bagaimana masa kecilnya, peperangan-peperangan mana yang dia menangkan dan dikalahkan. motif apa yang melatar belakangi perang suci yang dikobarkannya bertahun-tahun lamanya. buku ini mampu mengulas semua itu dengan baik dan tentunya sangat objektif. buat kalian yang menyengi sejarah peradaban Islam saya sangat sarangkan membaca buku ini. banyak kejutan yang akan kalian temukan terkait sosok pahlawan Islam Salahuddin itu. 4 bintang untuk buku ini.

3.       Metropolis Universalis: Belajar Membangun Kota yang Maju dari Sejarah Perkembangan Kota di Dunia (Metropolis Universalis) by Eko Laksono

Buku ini Bercerita tentang kota-kota besar masa kini dengan kisah pencetus serta ide-ide bangsa besar ini yang awalnya terkesan utopis. Siapa sangka, adalah sesuatu yang ironis bahwa Eiffel awalnya hanya dibangun sementara sebagai "gerban masuk" (raksasa) Exposition Universelle 1889, dan dibenci oleh semua orang. Media membencinya, warga Paris membencinya. Begitupula Alexander Dumas dan Guy de Maupassant, penulis yang dikagumi Nietzsche. Maupassant bahkan suka makan siang dibawah Eiffel Tower karena di sana adalah satu-satunya tempat dia tidak akan bisa melihat menera metal raksasa itu. tapi seiring berjalannya waktu, orang-orang dari seluruh duni datang ke sini. setiap tahun kota itu dikunjungi 40 juta turis, terutama untuk menikmati keindahan kotanya, aura romantismenya, dan tentu saja Eiffel Tower-nya. Menciptakan sesuatu yang besar di sebuah kota tentunya selalu memerlukan perjuangan. (hal-31). 4 bintang untuk buku ini

Resensi lengkapnya bisa dibaca di sini https://www.asdarmunandar.com/2020/02/metropolis-universalis.html

4.       Sapiens: A Brief History of Humankind by Yuval Noah Harari

Pada dasarnya buku ini terbagi 4 bagian besar: (1) Revolusi Kognitif, (2) Revolusi Agrikultur, (3) Penyatuan Manusia dan (4) Revolusi Saintifik. Seperti kata Bill Gates buku ini secara garis besar berisi tentang “sejarah ummat manusia “. Sejarah leluhur ummat manusia homo sapiens dari masa pra sejarah sampai masa ini di jaman revolusi saintifik.

Pada awalnya saya benar-benar tidak bisa memahami kemana arah tulisan ini akan dibawa. Apakah untuk kembali melegitimasi teori Evolusi yang mulai usang itu. Bahwa manusia senyatanya memang hasil dari evolusi spesies berupa primata yg tadinya hanya merupakan evoulosi dari  makhluk berupa ganggang bersel tunggal di laut. Bahkan konon Sapiens di Indonesia merupakan keturunan dari kera yang hidup di savana Afrika.

Selain teori evolusi buku ini juga banyak mengulas dampak dan kegagalan revolusi industri terhadap “homo sapiens” dan bagaimana era revolusi industri itu justru membawa manusia ke gerbang kepunahan. Buku ini juga menceritakan secara gamblang sejarah kelam kolonialisasi bangsa-bangsa besar di masa lalu. dan bagaimana kolonialisasi itu sukses menghapuskan beberapa ras penduduk asli pribumi di suatu wilayah.Jadi mengapa akhirnya saya membaca buku ini. Prof Harrary juga mengajukan pertanyaan yang sama. Jadi, mengapa belajar sejarah?  Menurutnya “ sejarah tak seperti fisika dan ekonomi, sejarah bukanlah alat untuk membuat prediksi akurat. Kita mempelajari sejarah bukan untuk mengetahui masa depan, tetapi  untuk memperluas cakrawala, untuk memahami bahwa situasi  kita saat ini bukanlah alamiah atau tak terelakkan, dan bahwa kita dengan demikian memiliki lebih banyak kemungkinan di depan untuk kita bayangkan. Misalnya, mempelajari bagaimana bangsa Eropa mendominasi Afrika memungkinkan kita menyadari bahwa tidak ada yang natural atau tak terelakkan tentang hierarki rasial, dan bahwa dunia mungkin diatur secara berbeda. 285. 4 bintang untuk buku ini

Resensi lengkapnya bisa dibaca di sini https://www.asdarmunandar.com/2020/06/resensi-buku-sapiens-brief-history-of.html

5.       Jurus Sehat Rasulullah by Zaidul Akbar

Tubuh kita adalah tubuh terbaik. Maka dari itu, sudah seharusnya kita menjaga tubuh kita agar tetap sehat. Lalu, baqaimana caranya menciptakan tubuh yang sehat? Ikutilah pola hidup Rasulullah saw. Beliau selalu menjaga kesehatannya secara optimal, dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Konsep-konsep pencegahan dan peningkatan kesehatan yang dijalankan beliau selalu berlandaskan pada wahyu Allah Swt. Maka dari itu, kualitas DNA beliau sangatlah baik. Itulah sebabnya, seumur hidup, beliau hanya dua kali mengalami sakit. Ternyata, konsep-konsep itu merupakan konsep terbaik yang masih update hingga saat ini. Jadi, bagi Anda yang ingin hidup sehat, bacalah buku ini dan ikuti jurus Rasulullah saw. Begitu dr, Zaidul Akbar menjelaskan dalam bukunya. Saya rasa buku ini saah satu buku wajib yang harus dimiliki ummat Islam. Buku ini memberikan gambaran kepada kita bagaimana seharusnya kita lebih perhatian terhadap hal-hal yang kita konsumsi

6.       Seni Hidup Minimalis: Petunjuk Minimalis Menuju Hidup Yang Apik, Tertata, Dan Sederhana by Francine Jay

Menurutku, buku ini sangat bagus, sangat cocok dibaca oleh semua golongan, buku ini mengajarkan bagaimana pola hidup minimalis bisa diterapkan. pada dasarnya buku ini membahas sepuluh hal berikut: (1). mulai dari awal (2). Buang, simpan atau berikan (3) Alasan setiap barang (4) Semua barang pada tempatnya (5) Semua permukaan bersih (6) Ruang (7) Batas (8) Satu msauk, satu keluar (9) Kurangi, dan (10) Perawatan setiap hari

Dengan bahasa yang sederhana Francine Jay mampu menyajikan perspektif yang berbeda tentang bagaimana "thing" itu harus dilihat. Dengan menerapkan pola hidup mininalis tidak hanya dampak financial yang akan terasa, pola hidup kita dan keluarga akan semakin berkualitas. seorang ibu akan punya lebih banyak waktu berkualitas dengan keluarganya jika tidak direpotkan dengan mengurus prabotan dapur yang berantakan. atau seorang ayah akan punya banyak waktu bermain dengan putranya jika tidak harus membereskan dokumen-dokumen pekerjaan atau peralatan bengkel yang terbengkalai.

Hidup minimalis ternyata tidak hanya terpaku pada "berapa banyak barang" yang harus dimiliki, lebih jauh dari itu, hidup minimalis juga berbicara mengenai dari mana dan bagaimana barang itu diproduksi, dampak lingkungannya bahkan proses daur ulangnya. semua hal tersebut saling terkait sehingga pola hidup minimalis ini menuntut kita untuk menjalani hidup lebih praktis, sederhana dan bermanfaat buat orang lain dan lingkungan. Terimakasih Francine Jay telah menuliskan buku ini dengan baik. 4 bintang untuk buku ini

7.       Guru Aini by Andrea Hirata

Saya tidak bisa mereview buku ini dengan baik. Mugkin karena ekspektasi saya yang terlalu tinggi, mengingat buku pendahulunya luar biasa bagusnya. Buku ini merupakan prequel dari buku berjudul “orang-orang biasa”. Meski tidak semenarik buku pertamanya namun saya rasa buku ini juga bisa menjadi salah satu koleksi yang sangat layak baca buat kalian pecinta karya Andrea Hirata. Secara garis besar, buku ini berkisah tentang Bu Desi, sosok guru idealis yang rela mengorbankan segala yang dimilikinya untuk menjadi seorang guru matematika di peloksok negeri. Apakah kemudian idealisme yang dia bangun rontok bersama realitas yang menyakitkan ? seperti dikatakan dalam sampul buku ini dikatakan “Konon, berdasarkan penelitian antah berantah, umumnya idealisme anak muda yang baru tamat dari perguruan tinggi bertahan paling lama 4 bulan. Setelah itu mereka akan menjadi pengeluh, penggerutu, dan penyalah seperti banyak orang lainnya, lalu secara menyedihkan terseret arus deras sungai besar rutinitas dan basa-basi birokrasi lalu tunduk patuh pada sistem yang buruk” tapi tunggu sampai kalian berkenalan dengan sosok Bu Desi. Wanita berhati baja dengan kemauan yang sama kuatnya. 4 bintang untuk buku ini.

8.       Jalan Tak Ada Ujung by Mochtar Lubis

Tentang Guru Isa, Hazil dan Fatimah.

Tentang ketakutan, kemerdekaan dan idealisme semu.

Tentang kesetiaan dan integritas ketika harus berbenturan dengan realitas

Secara garis besar tema utama dari buku ini adalah “ketakutan manusia”. Pada awal buku ini, Mochtar Lubis mengutip kata-kata dari Jules Romains: ‘Apakah yang harus kita punyai, agar kita bebas dari ketakutan?. Setiap manusia akan menghadapi ketakutan-ketakutannya sendiri, sebagian bisa dengan tegar berdiri menghadapinya sebagian lagi justru memilih menghindarinya. Novel klasik ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1952 ini, Mochtar Lubis ingin memaparkan kisah perjalanan kemanusiaan seorang guru yang senantiasa hidup dalam tekanan dan ketakutan pada masa revolusi sepanjang tahun 1946-1947.  Menurutku buku ini sangat layak dibaca, dengan alur yang begitu kelam dan mencekam Muktar Lubis sukses membawa saya menjelajah bersama ketakutan Guru Isa.

"Guru Isa ingat jalan tidak ada ujung. Sekali dijalani harus dijalani terus, tiada habis-habisnya. Terutama sekali ketakutannya sendiri. Dia takut ikut dengan mereka yang memperolok-olok maut ini. Dan lebih takut lagi untuk tidak ikut." (halaman 92)

 

9.       Senyum Karyamin by Ahmad Tohari

Kumpulan cerita pendek ini berisi 13 cerpen Ahmad Tohari yang ditulis antara tahun 1976 dan 1986. Seperti dalam karya-karyanya terdahulu, dalam kumpulan ini pun Tohari menyajikan kehidupan pedesaan dan kehidupan orang-orang kecil yang lugu dan sederhana. Dan sebagaimana dikatakan dalam “Prakata”, kekuatan Tohari “terletak pada latar alam pedesaan yang sarat dengan dunia flora dan fauna”. Selain itu, gaya bahasa Tohari “lugas, jernih, tapi juga sederhana, di samping kuatnya gaya bahasa metafora dan ironi. Begitu sampul belakang buku ini mendskripsikan buku tipis ini. Saya beri 4 bintang untuk semua kisah yang disajikan Ahmad Tohari dalam kumpulan ceritanya ini. Buku ini seakan menampar pembaca dari sudut pandang manusia kecil yang jadi pemeran utama di setiap ceritanya.

10.   Lelaki Tua dan Laut by Ernest Hemingway,

Buku ini menjadi salah satu buku sastra terbaik dan berhasil memenangkan banyak penghargaan dalam bidang sastra. Diantaranya Hadiah Publitzer 1953 dan Award of Merit Medal for Novel dari American AcaAdemy of Letters. Ernest juga meraih penghargaan bergengsi Hadiah Nobel SastraA pada tahun 1954 berkat novel ini. Namun kesuksesan buku itu tidak menjamin akan penghadirkan pengalaman membaca yang luar biasa bagi semua orang. Entah otakku yang tidak mampu mencernanya atau memang karena seleraku tidak di gendre ini. Novel ini tidak semenarik yang kubayangkan. sungguh membosankan. Kalau kalian pernah membaca life of pie, kalian akan dibosankan dengan percakapan yang monoton antara Pi Patel dan Harimau yang terjebak bersama di perahunya, dan buku ini menghadirkan kisah yang sama, celakanya percakapan monoton itu justru terjadi antara pria tua itu dan alam bawah sadarnya, jauh lebih membosankan lagi.  Bayangkan kau membaca buku 120an halaman yang isinya orang tua yang memancing sendirian, mengeluh, mengerutu dan bertarung dengan ikan Marlin raksasa selama beberapa hari. Ikan itu mampu memberikan perlawan yang sengit dan bahkan membawa pria tua itu terombang ambing ke tengah samudera. Dalam pertarungannya itu si orang tua tadi banyak bercakap-cakap dengan fikirannya sendiri. Buku ini begitu membosankan, dengan narasinya yang panjang-panjang. dan orang tua itu sebagai tokoh utama selalu menggerutu, merutuki nasibnya. Meski demikian, karya sastara klasik ini masih tetap layak untuk dibaca. Tiga bintang untuk buku ini

 

 


1 komentar:

Judul: Kisah Klan Otori: Across the Nightingale Floor Penulis: Lian Hearn Penerjemah: Meithya Rose Prasetya Penyunting: Miq Acango Desain is...

Resensi Novel Kisah Klan Otori: Across the Nightingale Floor (Buku #1)


Judul: Kisah Klan Otori: Across the Nightingale Floor

Penulis: Lian Hearn

Penerjemah: Meithya Rose Prasetya

Penyunting: Miq Acango

Desain isi: Cadera Studio

Jumlah halaman: 400

Cetakan: VII, Februari 2007

Penerbit: Matahati

ISBN: 9799840716


Kisah Klan Otori: Across the Nightingale Floor adalah buku pertama dari triologi yang fenomenal karya Lian Hearn. Buku ini konon telah diterjemakan ke dalam 26 bahasa dan telah memperoleh 11 penghargaan dari berbagai negara. Berkisah tentang Takeo seorang remaja berumur belasan tahun yang terjebak dengan kehidupan yang rumit di jaman feodal Jepang. Takeo harus menjalani takdirnya yang tiba-tiba berubah di suatu sore yang kelabu. Desa nya dibakar, orang tuanya dan dua adiknya yang masih kecil di bunuh oleh penyerangan membabi buta Klan Toan yang dipimpin oleh Lord Lida Sadamu yang kejam. Beruntung secara tak sengaja dia diselamatkan oleh pengembara yang juga merupakan bagsawan Klan Otori Lord Shigeru


Pertemuannya dengan Lord Shigeru mengubah nasibnya, tidak hanya diangkat anak, Takeso juga dipertemukan dengan seseorang yang akhirnya mengungkap jati dirinya sebagai seroang Tribe yakni suku rahasia yang memiliki kemampuan yang spesial. Dengan latihan yang keras dan bimbingan yang teliti dari dua gurunya serta bakatnya yang diturunkan dari garis keturunan Tribe dari orang tuanya Takeso menjelma menjadi mimpi buruk bagi Lord Lida.


Buku ini ditulis oleh Lian Hearn, awalnya saya sedikit meremehkannya mengingat Lian Hearn ini bukan merupakan penulis novel berkebangsaan Jepang. Apa lagi standarku cukup tinggi untuk buku sejenis ini. Saya pernah membaca kisah “Miyamoto Mushasi karya Eiji Yoshikawa” dan buku itu sukses menjadi salah satu buku terbaik yang ada dalam list bacaanku. Buku itu merupakan buku rujukan bahkan konon menjadi raja untuk karya-karya fiksi yang berlatar sejarah Jepang dalam kaitannya dengan Samurai dan Shogun.  Jadi ketika saya membaca biografi penulisnya saya sedikit mengerutkan dahi, bagiaman bisa orang asing akan membahasakan tradisi Jepang yang begitu rumit itu dengan baik. Namun keraguanku tampaknya tak terbukti, Lian Hearn mampu bercerita sama baiknya dengan Eji Yoshikuwa. Lian Hearn membuatku terkagum-kagum dengan bagaimana dia mengembahkan tokoh dan alur ceritanya. Setiap karakter digambarkan begitu kuat dengan ciri khasnya tersendiri. Setiap toko dalam cerita ini diberi porsi yang baik. Alur ceritanya meski terlihat sederhana dan gampang ditebak nyatanya memberikan plot yang sangat bagus untuk eksekusi akhirnya. Buku ini tidak memberi efek jenuh saat membacanya. Mungkin karena penggunaan diksi yang sederhana dan penggambaran akan kejadian dan peristiwa yang begitu detail menjadi nilai plus untuk novel ini. Tak banyak bisa kuresensi dari buku ini. Mengingat masih ada beberapa seri yang harus kuselesaikan lagi. Namun meski demikian ada beberapa quote dari buku ini yang cukup membuatku tertarik, berikut beberapa diantaranya:


“The less people think of you, the more they will reveal to you or in your presence.”

“But just as the river is always at the door, so is the world always outside. And it is in the world that we have to live.”

“How was it possible for the world to be so beautiful and so cruel at the same time?”

“I believe the test of government is the contentment of the people.”

“When illusions are shattered by truth, talent is set free.”

“The painter had achieved what we would all like to do: capture time and make it stand still”

“It's what you do to yourself when you go mad with rage. You have no idea how much you can hurt yourself with your own strength.”

“Don't you know the man whose life you spare will always hate you?”

“I learned embroidery," Kaede said, "But you can't kill anyone with a needle."

“The world is always outside. And it is in the world that we must live.”

“Death comes suddenly and life is fragile and brief. No one can alter this, either by prayers or spells. Children cry about it, but men and women do not cry. They have to endure.”

“They reminded me of the people of my village, their indomitable spirit in the face of disaster, their unshakable belief that no matter what might befall them, life was basically good and the world benign.”

“Why do women have to suffer this way? Why don’t we have the freedom men have?”

Lian Hearn, Across the Nightingale Floor


0 komentar:

Sepanjang ingatanku, tak banyak kenangan manis yang terjalin antara sayadan Bapakku. Satu-satunya kenanganku yang paling melekat dibenakku a...

A Story for Bicycle




Sepanjang ingatanku, tak banyak kenangan manis yang terjalin antara sayadan Bapakku. Satu-satunya kenanganku yang paling melekat dibenakku adalah pernah di bonceng dengan sepeda tuanya ke sawah. saat itu umurku m masih sangat kecil, masih TK. saya ingat, sepeda kumbang yang bapak miliki berwarna hitam, meski bukan yang terbaik di jamannya tapi bagiku saat itu dibonceng sepeda oleh bapak suatu kebahagian yang luar biasa. Saya ingat kakiku diikat di stan sepedanya dengan robekan kain sarung. dan saya selalu bersemangat di ajak bapak ke sawah dengan sepedanya. 

Selain kenangan itu tak banyak lagi  moment bahagia yang bisa mengaitkan antara kami. kejadian-kejadian yang datang berikutnya  tidak banyak yang bisa dikenang. pahit bahkan cenderung menorehkan luka yang menjadi-jadi. Sampai saya mendewasa hubungan kami tidak menjaid lebih baik. Mungking memang sudah menjadi hukum allam, antara ayah dan anak lelakinya  selalu ada tembok yang tak kasat mata yang dipasang oleh kedua-duanya. selalu ada jarak yang kita bangun, komunikasi yang terbatas, pola fikir yang berbeda dan banyak hal lagi yang membuat hubungan atara bapak dan anak lelakinya tidak selalu berjalan dengan baik.

Berbicara tentang sepeda, orang-orang saat ini sedang menggandrungi olah raga ini. komunitas-komunitas sepeda menjamuar dimana-mana. Dikota besar bahkan di pelosok desa, akitivitas bersepda ini menjadi pavorit, apalagi semenjak wabah virus covid ini merebak. Sepeda seperti alternatif lain yang aman dan nyaman.  

Bagiku, selain berlari dan bersepeda tak banyak aktivitas olah raga yang kusukai. Barangkali kenangan sekelabat antara saya dan bapakku di masa lalu itu menjadi sebuah memori  yang membuat saya sampai saat ini menyukai bersepeda. Bersepeda atau berlari mungkin memiliki dasar filosofi yang sama. Sejauh-jauhnya jarak yang kita tempuh jika kaki tetap mengayuh pada akhirnya akan mebawa kita sampai pada tujuan kita. Sejauh-jauh jarak yang akan kita tempuh, jika kaki tetap melangkah maka pada akhirnya kita pasti akan sampai pada tujuan kita.


Sungguh, bersepda bagiku bukan hanya sekedar eforia sesaat, atau sekedar olah raga rutin untuk menjaga kebugaran atau menghilangkan lemak perut. Bersepeda bagiku  lebih dari itu semua, bersepda ibarat mencoba membangun suatu rasa yang berbeda antara saya dan bapakku. Bersepeda bagiku seperti berusaha memperbaiki hubungan yang buruk bertahun-tahun belakangan ini. berusaha menutup semua kenangan buruk dan menggantinya kenangan bahagia seperti masa kecilku dulu. Saya berharap dengan semakin jauh mengayuh saya mampu meniggalkan luka-luka batin yang bapak pernah torehkan dimasa lalu. Luka-luka masa lalu itu berguguran, keluar bersama keringat yang mengucur. 

Konon, orang yang paling bisa mencintaimu dengan tulus adalah orang tuamu, pun juga sebaiknya orang yang paling berpotensi menorehkan luka batin padamu juga adalah manusia yang bisa mencitaimu dengan tulus itu. orang tuamu sendiri. Saya sering menemukan banyak orang tua yang sering kecewa, atas ambisi-ambisi pribadi mereka yang tak bisa ditunaikan anak-anaknya, tapi dsiatu sisi orang tua juga sering tidak menyadari, anak-anak terluka atas ego pribadi orang tuanya yang justru hanya melukai anak-anaknya.

Perasaan timbal balik dan saring terluka seperti itu kadang menjadi bumerang, menjadi alasan mengapa hubungan antara anak dan orang tua pada akhirnya tidak berjalan baik. Merenggang. Luka batin antara keduanya karna harapan-harapan yang berlebihan akhirnya berbuah menjadi jarak. Jurang yang terus menganga sampai pada satu titik penyesalan yang sama. Kedua-duanya menyesal, orang tua menyesal atas apa yang terjadi, mengapa sampai seperti ini, Anak-anak bahkan lebih menyesal lagi. 

Hubungan buruk seperti in ibarat memintal benang yang kusut. Susah menemukan titik temunya. maka langkah awal untuk mengurai semua ini adalah melupakan dan berusaha mereknstruksi ulang kenangan kita melalui afirmasi. Saya berharap dengan banyak bersepeda, hormon endrofin saya semakin meningkat. Saya bisa mengafirmasi kenangan-kenangan baik kedalam memori otakku. Seperti kenangan bahagia di masa kecilku dulu. Saya berharap dengannya bisa menutup rongga-rongga luka yang pernah tertoreh. 

Bagiku hormon endrofin pemicu kebahagian itu bisa menjadi alat pengurai benang kusut, bisa mengurai duka dan dendam masa lalu. Agar kelak saat orang tua saya sudah tidak ada, saya tidak lagi menyimpan dendam dan luka batin lagi, agar kelak saya bisa mengingat Bapak saya dengan tersenyum. Saya bisa bangga pernah memiliki Bapak seperti dia. saya bisa berkata "terimakasih Bapak, untuk semua hal baik yang kau lakukan untukku"




Bersepda ke Air Terjun Tamasapi-Mamuju Sulawesi Barat
 
 


0 komentar:

Judul : Sapiens – The Brief History of Humankind Penulis : Yuval Noah Harari Jenis Buku : Non Fiksi - Sejarah Penerbit : Vin...

Resensi Buku Sapiens: A Brief History of Humankind





Judul : Sapiens – The Brief History of Humankind
Penulis : Yuval Noah Harari
Jenis Buku : Non Fiksi - Sejarah
Penerbit : Vintage Publishing
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman :  512 halaman
Dimensi Buku :  12.90 x 19.70 x 4.10 cm
ISBN : 9780099590088
Paperback

Sapiens: A Brief History of Humankind

Pertama kali saya mengenal buku ini karena  sempat diviralkan generasi “open minded” di jagad twitter. Awalnya saya tidak cukup punya minat untuk membaca buku seperti ini, bahkan sampai saya menyelesaikan buku ini pun saya belum bisa memberi penilaian secara objektif, apakah buku ini cukup layak atau tidak untuk dikoleksi. Namun karena tiba-tiba seorang teman memberi buku ini secara gratis, saya mulai membacanya dan benar-benar berusaha menyelesaikannya dengan baik. Pada dasarnya buku ini terbagi 4 bagian besar: (1) Revolusi Kognitif, (2) Revolusi Agrikultur, (3) Penyatuan Manusia dan (4) Revolusi Saintifik. Seperti kata Bill Gates buku ini secara garis besar berisi tentang “sejarah ummat manusia “. Sejarah leluhur ummat manusia homo sapiens dari masa pra sejarah sampai masa ini di jaman revolusi saintifik.

Pada awalnya saya benar-benar tidak bisa memahami kemana arah tulisan ini akan dibawa. Apakah untuk kembali melegitimasi teori Evolusi yang mulai usang itu. Bahwa manusia senyatanya memang hasil dari evolusi spesies berupa primata yg tadinya hanya merupakan evoulosi dari  makhluk berupa ganggang bersel tunggal di laut. Bahkan konon Sapiens di Indonesia merupakan keturunan dari kera yang hidup di savana Afrika. Menjadi pelaut Pasifik tampa menumbuhkan sirip dan tanpa harus menunggu hidung mereka bermigrasi ke bagian atas kepala mereka seperti yang dialami paus. Namun, mereka membangun perahu-perahu dan belajar cara mengendalikannya. Dan, kemampuan-kemampua  ini memungkinkan mereka untuk menjangkau serta mendiami Australia. (hal 84).

Terkait teori evolusi saya justru jauh lebih nyaman membaca tulisan "Alfred Russel Wallace" penemu teori " Wallace line".  Dalam karyanya "The Malay of Arcipelago"  Wallace meletakkan pondasi dan dasar teori evolusi yang jauh lebih logis, didasarkan pada penelitian yang mendalam tentang demografi suatu wilayah. Teori evolusi ke Alfred Russel Wallace menyodorkan ide evolusi via seleksi alam yang berbeda dari Darwin. Mungkin tidak banyak orang yang mengetahui bahwa teori inilah yang dijadikan Darwin sebagai sandaran untuk mengembangkan teori evolusinya yang kita kenal sekarang “Origin of Species” dan mungkin lebih tidak banyak yang mengetahui bahwa penelitian Wallace ini jusru di lakukan di Nusantara, iya di Indonesia negeri kita ini.

Selain teori evolusi buku ini juga banyak mengulas dampak dan kegagalan revolusi industri terhadap “homo sapiens” dan bagaimana era revolusi industri itu justru membawa manusia ke gerbang kepunahan. Buku ini juga menceritakan secara gamblang sejarah kelam kolonialisasi bangsa-bangsa besar di masa lalu. dan bagaimana kolonialisasi itu sukses menghapuskan beberapa ras penduduk asli pribumi di suatu wilayah.

Menurutnya Prof Harrari, spesies yang paling dirugikan dengan adanya revolusi industri adalah "homo sapiens" manusia “kita ini”. Spesies ini pada awalnya adalah oumnipora, anatomi tubuhnya dirancang untuk berburu dan memanjat pohon, bukan untuk bercocok tanam. Revolusi industri justru menjebak mereka dengan pariates makanan yang terbatas. biji-bijian gandum, padi dan tanaman lainnya yang jumlahnya terbatas. sebelumnya mereka mampu medapatkan makanan berbagai macam jenis dari hewan-hewan buruan, buah dan tanaman-tanaman hutan. tapi semenjak bangsa nomaden ini mulai mengasosiasikan diri menjadi kawanan atau komunal  dan menetap di suatu kawasan, kemampuan otak mereka akhirnya berkurang. kepekaan terhadap alam tereduksi dan mereka terjebak dari sumber makanan tunggal dari tanaman yang didomestikasi. Keterbatasan sumber makanan itu mendorong bangsa-bangsa superior yang didorong oleh paham kredo kapitalis berinvasi dan melakukan kolonialisasi keberbagai daerah termasuk ke Indonesia.

Saya cukup terkejut, menemukan banyak bagian di buku ini yang membahas Indonesia. bukan hanya keragaman penemuan tentang homo sapiens dan berbagai ritus ritus bersejarah lainnya, tapi juga terkait bagaimana kredo kapitalis adalah cikal bakan negara ini terjajah beratus-raus tahun lamanya.
Meski banyak hal yang tidak sejalan dengan nilai-nilai yang kuanut tapi ada beberapa bagian yang betul-betul aku sukai dari buku ini. Seperti misalnya pandangan Prof Harrary  tentang kemewahan. Salah satu hukum sejarah adalah bahwa kemewahan cenderung menjadi keharusan dan melahirkan beban-beban baru. Begitu orang terbiasa dengan satu kemewahan tertentu, mereka menerimanya sebagai kebiasaan. Kemudian, mereka mulai menjadikannya kebutuhan. Akhirnya mereka mencapai satu titik ketika mereka tidak bisa hidup tanpanya. (hal 110)

Pandangannya terhadap “isme-isme” juga begitu berkesan bagiku. “isme” atau faham baginya seperti halnya adalah agama-agama hukum alam baru. liberalisme, komunisme,  kapitalisme, nasionalisme, dan nazisme. Kredo-kredo ini tidak  suka disebut agama, dan menganggap diri sebagai ideologi.  Namun, ini hanyalah percaturan semantik belaka. Jika sebuah  agama adalah sebuah sistem norma-norma dan nilai-nilai manusia  yang bertumpu pada keyakinan terhadap suatu tatanan manusia  super, maka Komunisme Soviet tak ubahnya sebuah agama sebagaimana Islam.( Hal 274).

Pun sama dengan Humanisme. Agama-agama teis fokus pada pemujaan dewa-dewa. Agama-agama humanis memuja kemanusiaan, atau lebih tepatnya Homo sapiens. Humanisme adalah sebuah keyakinan bahwa Homo sapiens punya sifat unik dan sakral, yang secara fundamental berbeda dari sifat semua binatang lain dan semua fenomena lain. Para pengikut humanis percaya bahwa sifat unik Homo sapiens merupakan hal yang paling penting di dunia, dan itu menentukan  makna segala hal yang terjadi di Bumi, dan menentukan makna segala hal yang terjadi di alam semesta. Kebaikan yang tertinggi adalah kebaikan Homo sapiens. Selebihnya di dunia ini dan semua  makhluk yang ada semata-mata untuk manfaat bagi spesies ini.

Jadi mengapa akhirnya saya membaca buku ini. Prof Harrary juga mengajukan pertanyaan yang sama. Jadi, mengapa belajar sejarah?  Menurutnya “ sejarah tak seperti fisika dan ekonomi, sejarah bukanlah alat untuk membuat prediksi akurat. Kita mempelajari sejarah bukan untuk mengetahui masa depan, tetapi  untuk memperluas cakrawala, untuk memahami bahwa situasi  kita saat ini bukanlah alamiah atau tak terelakkan, dan bahwa kita dengan demikian memiliki lebih banyak kemungkinan di depan untuk kita bayangkan. Misalnya, mempelajari bagaimana bangsa Eropa mendominasi Afrika memungkinkan kita menyadari bahwa tidak ada yang natural atau tak terelakkan tentang hierarki rasial, dan bahwa dunia mungkin diatur secara berbeda. 285.

4 bintang untuk buku ini.

0 komentar:

Judul asli: Ring of Fire, An Indonesian Odyssey Judul buku: Ring of fire, Indonesia Dalam Lingkaran Api Penulis: Lawrence dan Lo...

Resensi Buku Ring OF Fire, Indonesia Dalam Lingkaran Api




Judul asli: Ring of Fire, An Indonesian Odyssey
Judul buku: Ring of fire, Indonesia Dalam Lingkaran Api
Penulis: Lawrence dan Lorne Blair
Penerjemah: Tyas Palar
Jumlah Halaman: 400 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Ufuk Press
Tahun terbit: 2012

Siapa sangka Alfred Russel Wales penemu Wallance line dan teori natural selection  yang konon merupakan cikal bakal atau landasan kuat teori evolusi  Carles Darwin  "origin of species" pernah berkeunjung ke nusantara  pada abad ke 19. Walles menulis penemuannya “ The Malay Archipelago: The Land of The Orangutan and The Birds Paradise (1869)”. Tulisan ini didasarkan catatan perjalanannya dipulau-pulau disebelah timur Singapura pada tahun  1850an. dan uniknya dia bepergian sendiri selama delapan tahun melalui kepulauan rempah terbesar di dunia dan yang paling jarang dijelajahi oleh bangsa manapun.

Dari buku itulah yang menginsprisai Blair bersaudara Lawrence dan Lorne memulai petualangannya menemukan Burung Surga bersurai kuning itu di kedalaman hutan kepulauan Aru. Tempat pertama yang dia datangi di Indonesia adalah Makasar, tempat para pelaut ulung dan perompak bugis yang terkenal kuat dan tampa rasa takut mengarungi samudera. Layar Kapal mereka berwarna  hitam menggambarkan kengerian dan sangat menakutkan bagi semua pelaut yang berpapasan di samudera.

Degan memanfaatkan keahlian melaut suku bugis dan memanfaatkan angin musone, petuaalngan Blair bersaudara bermula. menempueh jarak 1.500 mil melalui kepulauan rempah-rempah dan menyeberangi laut banda, Blair mencatatatkan dirinya sebagai orang barat pertama yang merekam secara langsung burung cendrawasi menari di habitatnya di kepulauan Aru. Selama lebih dari dua dekade di Indonesia Blair bersaudara menjelajahi Nusantara. Keduanya melawat banyak tempat, antara lain Krakatau, Bira, Toraja, Aru, Borneo serta Asmat. Proyek Ring of Fire dimulai pada 1972 dengan dana bersumber antara lain dari BBC dan Ringo Starr, penabuh drum The Beatles. Buku Ring of Fire terbit pada 1988. Versi filmnya yang tidak bisa dipisahkan dari buku ini  terdiri dari lima episode, diluncurkan oleh PBS dan BBC juga pada 1988. Episode pertamanya, Spice Island Saga, menuturkan ekspedisi napak tilas Alfred Russel Wallace menaiki pinisi sementara episode selanjutnya membahas banyak tempat yang dikunjungi dan sempat didokumentasikannya di Indonesia. Film dokumenter yang terbagi menjadi 5 potongan film ini menjadi salah satu film dokumenter tentang Indonesia yang paling banyak ditonton dan terlaris sejauh ini.

Bab-bab pertama buku ini banyak membahas bagaimana suku bugis di pesisir sulawesi dan kempuan melaut mereka yang terkenal tangguh dan bengis. selain itu pada bab-bab awal di buku ini, Blair menceritakan pengalamannnya mengadiri pemakanan Raja Terakhir orang Toraja, Puang Sangkala. pemakaman yang megah, sakral dan mistis.

Pada Sesi selanjutnya, Blair menceritakan kekagumannya pada hewan Purba sisa jaman prasejarah Naga Komodo di Pulau komodo juga pemandangan bawah laut yang menakjubkan di perairannya. Tak jauh dari Komodo, pertempuran antara kesatria-kesatria berkuda di Sumba juga menarik perhatiannya. perpaduan antara tradisi berkuda yang tangguh dan pemandangan bebukitan yang indah serta kehidupan masarakat desa yang begitu harmonis dengan alam serta kepercayaan dan tradisi mistis nenek moyang  yang masih sangat kuat juga  kecanduan mereka terhadap sirih. Perjalanan Blair terus berlanjut termasuk persinggahan mereka di Buton dan sambutan meriah kesultanan Buton pada saat itu, dan bagaimana dia secara tidak sengaja menemukan ikan yang berwarna biru cerah dengan sorot mata setajam lampu 5 wat yang mengeluarkan cahaya seperti aurora, peristiwa terlangkah dan paling menakjubkan yang dia temui di perairan Bandanaira.  

Selanjutnya pada separuh halaman buku ini  Blair menceritakan pertemuannya dengan suku Asmat. Menumpang penerbangan gratis yang membawanya ke pedalaman Papua. Blair bertemu dengan suku kanibal. Suku Asmat. Blair mendokumentasikan dengan baik bagaimana suku ini bertahan secara mengangumkan dijantung hutan primer Papua Nugini. Blair menghabiskan waktu berhari-hari di Asmat. Berusaha memahami suku Asmat seperti apa adanya. Bahkan berhasil menemukan sejumlah fakta tentang hilangnya Michael Rockefeller, putra bungsu gubernur negara bagian New york, Nelson Rockefeller sekaligus cicit John D. Rockefeller, pendiri standar oil company yang juga merupakan salah satu orang paling kaya dalam sejarah ummat manusia.

Buku ini benar-benar didasarkan penelitian ilmiah, berlatar belakan pendidikan antropologi yang sangat relevan dengan  pendekatan Etnographi naturalisyang dia gunakan. Blair bersaudara kadang kala harus berdiam diri disatu tempat hanya untuk memahami dan menjelaskan fenomena yang tampak sebagaimana adanya. Pemahaman yang mendalam seperti itu tidak bisa didapatkan dengan hanya melihat sekilas, pemahaman akan sesuatu harus didasarkan dari interaksi, keterlibatan yang intens dan kemapuan memahami apa yang menjadi makna mendasar dari suatu peristiwa dan budaya sebagaimana ciri khas penelitan etnographi.

Membaca Indonesia melalui buku tipis yang hanya setebal 400an halaman ini tentunya masih sangat kurang. Keragaman budaya Indonesia terlalu luas dan terlalu singkat jika hanya dipelajari dalam kurung waktu satu atau dua dekade. Butuh waktu bertahun-tahun  memang untuk memahami multikulturalisme yang ada di Indonesia. Sayangnya budaya-budaya unik itu sedang terseok-seok melawan jaman, hampir punah terbentur dengan perkembangan zaman yang semakin modern dan materalistis.

Buku ini menurutku buku catatan perjalanan terbaik tentang Indonesia sejauh ini yang pernah saya baca, pun  diterjemahkan dengan sama baiknya  oleh Tiyas Palar. Satu-satunya kekurangan buku ini adalah rentang waktu yang terlalu jauh antara zaman saya membacanya dan era yang diceritakan Blair. Banyak hal telah berubah di Indonesia. Saya sangat menyesal kenapa buku sebagus ini baru saya temukan sekarang. Mewakili  penduduk Indonesia saya merasa berkewajiban  mengucapkan banyak terimakasih kepada Lawrance dan Lorn Blair karena telah mendedikasikan hidupnya untuk menghasilkan karya tentang Indonesia yang begitu luar biasa ini. Saya rasa bahkan orang Indonesia sendiri pun tidak banyak yang memiliki minat seperti apa yang telah dilakukan oleh mereka. Sekali lagi, terimakasih Lawrence dan Lorne Blair untuk karya yang luar biasa ini.





0 komentar: