Showing posts with label Olah Rasa. Show all posts

  “ Ini adalah kisah indah dan menyentuh hati sehingga kita pikir butuh Mitch Albom untuk menuliskannya. Tetapi, Albom lebih dari seorang pe...

 



Ini adalah kisah indah dan menyentuh hati sehingga kita pikir butuh Mitch Albom untuk menuliskannya. Tetapi, Albom lebih dari seorang penulis karena kisah ini adalah kisah hatinya sendiri, yang hancur karena kedatangan yang mengejutkan dan kepergian yang menyiksa dari seorang gadis kecil Haiti yang memesona bernama Chika---yang menjadi putri yang berharga bagi ia dan istrinya.
Ini adalah kisah kehidupannya sendiri, yang ia satukan kembali dalam buku ini.”
—Melissa Fay Greene, penulis There Is No Me Without You


Saya menutup lembaran terakhir buku ini dengan dada penuh sesak. Meski saya sudah tau ending buku ini akan seperti apa, namun saya hampir-hampir tak bisa membendung air mataku. Mr. Mitch dalam lembaran prolog buku ini pun bahkan sudah menjelaskan dengan gamblang, Chika gadis kecil itu, hanya bisa bertahan sampai di usianya yang ke 7. Kanker ganas di otaknya tak bisa dikalahkan. Berbagai usaha telah di upayakan, namun takdir tak pernah datang terlambat.


Mitch Albom selalu mampu meramu kematian menjadi sebuah pelajaran yang berharga, seperti halnya buku-buku terdahulunya Thursday With Morrie misalnya, yang juga dalam buku ini beberapa kali disinggung. Buku tentang memoar Prof Morrie di akhir-akhir hidupnya, dibukukan menjadi narasi yang sangat menyentuh sebuah kisah penuh filosofi, bagaimana pertemuan yang dilaksanakan di tiap selasa itu menjadi pelajaran yang berharga dan memberikan inspirasi kepada banyak orang. Pun buku lainnya dengan gendre yang berbeda yang menurutku sama bagusnya “for one more day” kisah tentang Charley Chik Benetto  yang diberi kesempatan untuk kembali bertemu Ibunya setelah bertahun-tahun yang lalu meninggalkannya dalam sebuah kematian yang menyedihkan. Buku yang berkali-kali kubaca dan tak pernah membuatku bosan.


Berbeda dari dua buku sebelumnya yang membahas mengenai kematian dari sudut pandang yang lebih positif, buku ini “Finding Chika” justru merupakan memoar pribadi Mr. Mitch menghadapi hari-hari terakhir dan segala upaya yang dia dan istrinya telah lakukan untuk anak angkatnya “Chika” gadis kecil yang diadopsi nya dari Haiti.

 

Finding Chika: A Little Girl, an Earthquake, and the Making of a Family oleh Mitch Albom bukanlah sekadar memoar biasa. Ia adalah kisah nyata yang menusuk kalbu, merajut benang antara kesedihan dan harapan, tentang seorang gadis kecil bernama Chika, gempa bumi dahsyat di Haiti, dan perjalanan seorang pria untuk menemukannya serta membangun keluarga yang tak terduga


 Chika menderita tumor otak, usianya di vonis hanya bisa bertahan tak lebih dari 4 bulan lagi. Apakah kemudian Mr. Mitch menyerah dan berpasrah pada vonis dokter ? Buku ini, mengisahkan segala upaya yang dilakukan oleh Mich Albom dan istrinya Mrs. Jennie untuk membuka semua kemungkinan yang bisa diberika kepada Chika. Salah satu ungkapan yang begitu menyentuh yang diungkapkan Mr. Mitch “Bagi Dokter, Chika mungkin hanya satu dari sekian pasien yang ditanganinya, sedangkan untuk kami, Chika adalah satu-satunya yang kami miliki. Saya terpekur lama setelah membaca bagian itu. Buku ini berhasil membuatku sebak berkali-kali, saya membayangkan Mr. Mitch, menuliskan semua memoar ini dengan linangan air mata. Buku ini saya rasa menjadi master piece dari semua buku Mitch Albom


 Finding Chika" adalah bacaan yang emosional, inspiratif, dan membuka wawasan. Ia mengingatkan kita tentang kekuatan cinta, pentingnya keluarga (dalam bentuk apapun), dan kemampuan manusia untuk menemukan harapan di tengah kesulitan. Untuk siapa pun yang mencari kisah nyata yang mengharukan dan penuh makna, buku ini tak boleh dilewatkan.


 Buku ini melampaui sekadar pengalaman personal Mr. Mitch. Ia mengangkat isu kemanusiaan pasca bencana, perjuangan meraih akses kesehatan, dan kompleksitas adopsi internasional. Melalui Chika, Albom mengajak pembaca melihat Haiti bukan sebagai statistik tragedi, melainkan sebagai negeri dengan semangat, harapan, dan budaya yang kaya.


"Ada berbagai wujud keegoisan di dunia ini, tetapi yang paling egois adalah menunda, sebab tidak seorang pun di antara kita yang tahu berapa banyak waktu yang masih tersisa, dan berasumsi bahwa kita punya lebih banyak waktu sama saja seperti menentang Tuhan." Mitch Albom

 

 

The Midnight Library: Kekuatan Menerima Takdir"  Judul: The Midnight Library Penulis: Matt Haig Genre: Fiksi, Fantasi Penerbit...



The Midnight Library: Kekuatan Menerima Takdir" 


Judul: The Midnight Library

Penulis: Matt Haig

Genre: Fiksi, Fantasi

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun

Terbit: 2021

Tebal: 368 Halaman

 

Begitu selesai membaca buku ini, hal pertama yang terlintas dari pikiranku adalah kutipan ini "Hadiah terbaik adalah apa yang kau miliki, dan takdir terbaik adalah apa yang kau jalani."

 

The Midnight Library adalah novel fiksi fantasi karya Matt Haig yang diterbitkan pada tahun 2020. Novel ini menceritakan kisah Nora Seed, seorang wanita berusia 35 tahun yang merasa hidupnya hampa dan penuh penyesalan. Ia merasa tidak pernah mencapai apa pun yang ia inginkan, dan ia merasa hidupnya sia-sia. Pada suatu malam, Nora memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atap gedung.

  " TAHUKAH ANDA BAHWA BERBICARA ITU ADA SENINYA? Oh Su Hyan menulis sebuah buku luar biasa tentang bagaimana berbicara yang efektif....

 


"TAHUKAH ANDA BAHWA BERBICARA ITU ADA SENINYA?

Oh Su Hyan menulis sebuah buku luar biasa tentang bagaimana berbicara yang efektif. Buku ini diterbitkan pada tahun 2018. Buku ini membahas. tentang pentingnya komunikasi yang efektif. OH Su Hyang membagi buku ini menjadi lima bab utama yang terdiri dari: Bab 1: Apa itu Seni Berbicara?Bab 2: Kebiasaan Penting untuk Menjadi Pembicara yang Efektif, Bab 3: Teknik Komunikasi yang Efektif, Bab 4: Cara Menjadi Pembicara yang Persuasif dan Bab 5: Cara Menjadi Pembicara yang Negosiator yang Efektif

  Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sesuatu di blog ini, mungkin sudah setahun lebih. Terakhir saya menulis tentang makna potonga...

 



Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sesuatu di blog ini, mungkin sudah setahun lebih. Terakhir saya menulis tentang makna potongan lagu “waktu bukan kita yang punya”. Sebuah bait syair yang begitu berkesan menurutku. Tulisan itu rupanya menarik banyak perhatian, dalam waktu singkat view-nya sudah lebih dari ribuan orang. Namun belakangan tulisan itu saya takedown dari blog-ku. Sesuatu hal buruk menimpaku, saya fikir bisa jadi karena tulisan itu diaminkan oleh banyak orang dan pada akhirnya kesedihan-kesedihan yang kuceritakan itu benar-benar menghajarku tanpa ampun.

Desember tahun kemarin saya tiba-tiba terkena panic attack, sebuah peristiwa yang sangat menakutkan yang kualami seumur hidupku. Rasanya seperti waktu hidupmu sebentar lagi akan berakhir. Saya begitu ketakutan, membayangkannya saja membuatku bergidik. Kejadian itu sudah berlalu setahun yang lalu, namun rasa traumanya masih kurasakan sampai saat ini. Kali ini saya tidak ingin bercerita tentang bagaimana kengerian serangan panik itu, atau bagaimana akhirnya saya bisa bertahan sejauh ini. Lain kali saya akan tuliskan lebih detail di sini.

Kali ini saya hanya ingin bercerita tentang potongan film yang kebetulan lewat di beranda Facebookku. Tentang seorang anak yang terjebak di masa lalu. Seorang anak yang tiba-tiba tersesat di dimensi berbeda. Bertemu dengan ayahnya di usia sekolahnya dan menyaksikan bagaimana ayahnya bertumbuh di masa-masa itu, melewati berbagai macam kesedihan yang tak pernah diceritakan kepada anaknya.

Saya tidak tahu bagaimana keseluruhan kisah film ini, saya hanya melihat sedikit adegan itu. Bagian yang menarik saat anak itu berkata “ternyata selama ini saya tidak mengetahui terlalu banyak tentang orang tuaku”

Potongan kalimat itu benar-benar seperti menamparku, saya tiba-tiba merenungi diriku. Bagaimana dengan masa lalu Ayah-Ibuku. Apakah sebenarnya mereka juga melewati masa-masa sulit. Bagaimana mereka melalui masa-masa itu. Barangkali selama ini saya ternyata kurang peduli dengan apa yang telah mereka alami dan lalui. Barangkali yang saya lihat hari ini adalah tumpukan-tumpukan batu yang tersusun dari darah dan air mata mereka di masa lalu.



Saya kembali membayangkan percakapan-percakapan dengan ibuku. Rasa-rasanya Ibuku selama ini hampir tidak pernah menceritakan masa lalunya, yang saya tahu, ibu ditinggal pergi nenekku di usianya yang masih sangat kecil. Ibu tidak pernah bercerita bagaimana dia melewati masa-masa suram itu.

Yang saya tahu selama ini Ibuku wanita kuat, sangat jarang mengeluh. Saya selalu menganggapnya kuat dan selalu baik-baik saja, namun belakangan saya sadar. Ibu menyimpan lukanya sendiri. Ibu memendam semua hal yang dia lalui sendiri. Ibu tak pernah memiliki siapa pun untuk berbagi. Ibu hanya dituntut untuk selalu kuat, untuk selalu hadir di segala kondisi. Terakhir saya melihat ibu menangis saat saya jatuh sakit. Dia memelukku sambil terisak. Selebihnya hampir tak pernah melihat ibu menangis.

Tentang ayahku, saya pun tak banyak tahu bagaimana masa lalunya. Konon dia dibesarkan dengan cara yang sangat keras. Kakekku penjudi dengan temperamen yang buruk. Ayah sering  mendapat perlakuan kasarnya, ditambah lagi ayah harus menjadi tulang punggung keluarga. Harus bekerjakeras menghidupi ibu dan saudara-saudaranya yang lain.

Saya dulu sering membenci ayahku karena temperamennya yang sama buruk. Suaranya yang keras, dan bentakannya yang sering menyakitkan hati. Belakangan semakin tua ayahku mulai berubah. Mulai lebih hangat. Belakangan saya sadar, temperamen ayah terbentuk dari masa lalunya yang sama menyedihkannya. Sayangnya dulu saya tidak pernah menyadari itu semua.

Tiba-tiba saya begitu merindukan ibu bapaku.

Semoga Allah memanjangkan umurnya, memberinya kebahagian dan menyayanginya sebagaimana mereka menyayangiku dimasa kecilku.

                                               






Ilustrasi Desaku di masa lalu

  Judul: The Song of Achilles Penulis: Madeline Miller Penerbit: Ecco Tahun cetakan: 2012 Jenis: ebook ISBN: 9780062060631  Hector membunuh ...

 


Judul: The Song of Achilles

Penulis: Madeline Miller

Penerbit: Ecco

Tahun cetakan: 2012

Jenis: ebook

ISBN: 9780062060631


 Hector membunuh Patroclus, sahabat Achilles. Orang yang paling dia sayangi. Sahabat terbaiknya. Ramalan itu akhirnya akan mewujud, bahwa Hector akan mati ditangan Achilles. Begitu pun Achiles, manusia setengah dewa itu juga akan berakhir di medan peran Troy, menjadi sebuah legenda yang dikenang manusia beratus-ratus tahun kemudian, Achilles sosok pahlawan besar Yunani, sang penakluk Troy.


Novel ini sangat menarik namun tragis. Endingnya sudah bisa ditebak di separuh halaman awal dari buku ini, meski demikian fragmen-fragmen yang begitu mengejutkan pun masih bisa kita jumpai di setiap lembarnya. Novel ini benar-benar mengingatkanku pada buku bergendre sama namun versi lokal “Raden Mandasia si Pencuri daging sapi” bedanya Sungu lembu pemeran kedua yang menarasikan novel tersebut, sahabat dekat Raden Mandasia tidak meninggal dengan tragis seperti Patroclus. Novel ini pun di narasikan oleh pemeran kedua Petroclus, bukan dari sudut padang Achilles sang legenda dan tokoh utama buku ini.


Ketertarikanku pada buku ini karena mengambil latar belakang kisah perang Troya yang begitu melegenda. Kisah perang Troya ini pernah di filmkan pada tahun 2004 silam  yang dipernakan oleh Brad Pitt dan menjadi salah satu film terlaris di masanya. Film ini pun menjadi salah satu nominasi untuk mendapatkan penghargaan piala Oscar. Bedanya pada film tersebut mengambil sudut pandang para kesatria Troy namun dalam novel ini justru sebaliknya, sudut pandang prajurit Yunani penyerang Troy yang akhirnya memenangkan perang besar tersebut yang diberi porsi lebih dalam.


Buku ini menurutku sangat bagus untuk kelas pengembangan novel klasik. Madeline Miller  novelis wanita asal Boston berhasil melihat cela lain yang unik yang kemudian dia kembangkan menjadi sebuah kisah yang begitu epic. Madeline Miller diketahui menghabiskan sepuluh tahun lamanya untuk menulis The Song of Achilles. Novel The Song of Achilles merupakan karya pertama, yang resmi dirilis pada 2012. Tidak heran jika dalam novel ini konon  bukan hanya membingkai cerita yang menakjubkan, tetapi juga menyelipkan potongan sejarah yang akurat.


“What is admired in one generation is abhorred in another. We cannot say who will survive the holocaust of memory… We are men only, a brief flare of the torch.”

“I could recognize him by touch alone, by smell; I would know him blind, by the way his breaths came and his feet struck the earth. I would know him in death, at the end of the world.” 

“And perhaps it is the greater grief, after all, to be left on earth when another is gone.”

– Madeline Miller, “The Song of Achilles”

  Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi  Penulis: Yusi Avianto Pareanom  Penerbit: Banana Publisher, 2016 ISBN: 9789791079525 “Tak ada senja...

 

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi 
Penulis: Yusi Avianto Pareanom 
Penerbit: Banana Publisher, 2016
ISBN: 9789791079525

“Tak ada senjata yang lebih tajam ketimbang akal, tak ada perisai lebih ampuh ketimbang nyali, dan tak ada siasat yang lebih unggul ketimbang hati.”

Yusi Avianto Pareanom, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi


Seseorang pernah bertanya, menurutmu mana yang kau sukai Novel Kura-kura berjanggut" atau Novel Raden Mandasia. saat itu aku belum bisa menjawabnya, karena Novel ini belum rampung kubaca. Menurut orang-orang, kalau kau menyukai Novel KKB kau juga pasti akan menyukai novel ini.


Bener saja, novel ini membuatku jatuh suka, petualangan Raden Mandasia yang dituturkan secara apik oleh teman seperjalannya Sungu Lembu sungguh memukau. saya terhipnitos kisah-kisah menakjubkan di dalamnya. Adalah Raden Mandasia pangeran kerajaan Gilingwessi yang berusaha menemukan cara agar peperangan antara dua kerajaan besar tidak terjadi. Dalam perjalanannya mencegah perang besar itu, dia bertemu Sungu Lembu yang justru memiliki niat yang berbeda. tapi entah karena garis takdirnya yang unik mereka akhirnya bahu membahu untuk menuntaskan misi pribadi yang masing-masing mereka embang.


Meski diberi judul Raden Mandasia, novel ini justru dituturkan oleh "Sungu Lembu" sebagai sudut pandang orang pertama. Raden Mandasia justru tidak terlalu mengambil banyak porsi, tapi memang semua kisah di sini seakan-akan terpaut oleh kisah kehidupan Raden Mandasia dan keluarga kerajaannya


Meski demikian, menurutku novel ini masih setingkat dibawa KKB, beberapa adegan di novel ini di sadur dari kisah dan dongen-dongen yang sudah cukup mashur di masyarakat kita. juga beberapa adegan yang dibuat terlalu fulgar membuatku melewatkan beberapa halaman yang tidak seharusnya dibaca anak seumuran saya :)


Ending novel ini sungguh tidak bisa ditebak. Siapa sangka, dibalik peristiwa besar yang dikisahkan dalam novel ini ternyata di latar belakangi oleh sesuatu hal yang sama sekali tak terpikirkan sebelumnya. Novel ini sungguh layak menjadi salah satu koleksi bacaan kalian yang menggemari gendre novel klosal. 4 bintang untuk buku ini


“Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekadar makan dan minum sebelum disembelih," kata Loki Tua waktu itu.” Yusi Avianto Pareanom, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi


Kalimat itu kutemukan entah di sosmed mana, entah kenapa setiap kali merapalkannya   membuat saya selalu merinding. Pamit ke Masjid, pulan...




Kalimat itu kutemukan entah di sosmed mana, entah kenapa setiap kali merapalkannya  membuat saya selalu merinding. Pamit ke Masjid, pulang ke Surga. Sederhana itu, tapi bagiku begitu sangat syarat makna. Setiap kita pada dasarnya mengharapkan akhir hidup yang baik “khusnul khotima” pun juga diriku. Akhir-akhir ini entah kenapa saya selalu membayangkan detik-detik terahir hidupku. Bagaimana nanti dititik itu. Bagaimana saya melewatinya. Apakah kelak saya berakhir di sujud terakhir di masjid, atau sedang sibuk-sibuknya menyusun laporan di depan laptopku.


Seseorang pernah berkata, akhir dari hidupmu akan menentukan awal dari arus kehidupanmu yang lebih besar nanti.  Bagaimana kau berakhir, begitu pula kau akan memulai kehidupan barumu di akhirat.  Saya selalu merasa belum mempersiapkan banyak hal untuk kehiddupan baruku, sementara tuntutan dunia seakan tidak ada habis-habisnya untuk dituruti. Saya selalu merasa tertinggal di belakang dan waktu berlalu begitu cepatnya berlalu. Saya takut, ketika garis finisku tiba saya tidak bisa tersenyum lega, berpamitan pada dunia dengan penuh kemenangan. Pamit ke masjid tapi pulang ke surga. Saya takut, justru ketika detik-detik itu datang, saya justru malah gigih menggenggam kuat tali dunia. Berpegangan pada sesuatu yang semu, sesuatu yang pasti akan kulepaskan terpaksa atau tidak. Saya takut.Setiap kali merasa tertekan seperti itu, saya merasa kecewa pada diriku.

  Pagi ini saat saya iseng buka facebook, tetiba pemberitahuan tentang kenangan beberapa tahun silam muncul diberandaku. Iseng kemudian saya...

 



Pagi ini saat saya iseng buka facebook, tetiba pemberitahuan tentang kenangan beberapa tahun silam muncul diberandaku. Iseng kemudian saya menscrol pemberitahun itu. Saya menemukan postingan fotoku kurang lebih 10 tahun silam, bersama kawan-kawan lama saya.


Saya memperhatikan gambar itu lamat-lamat, menelusuri wajah satu persatu kawanku yang dulu pernah sangat akrab. Sambil berusaha meresonasi ingatan masa lalu.  Mereka-meraka yang ada digambar itu adalah orang-orang yang pernah hadir dalam satu wilayah waktuku. Mejalani hidup bersama, bertualang, bermain, saling tertawa, saling terluka dan saling bahagia. Hingga kemudian waktu dan jarak akhirnya menjadi jurang pemisah.


Saya kembali menelusuri wajah mereka satu persatu, kini mereka bukan lagi teman yang dulu kukenal seperti itu. Bahkan satu persatu kira menjadi asing. Saling menjauh dan hampir tidak pernah bertegur sapa. Mereka dan aku kini menjadi orang yang berbeda, dengan wilayah waktu yang berbeda pula.


Saya kemudian menyimpulkan sesuatu, “semua masa ada heronya”.  Masa itu, mungkin mereka-mereka diutus untuk menjadi Hero dalam hidupku, tapi kini mereka harus menjadi hero untuk orang lain. Untuk keluarga kecil mereka, atau hero di lingkungan kantor kerja mereka dan aku pun demikian. Saat ini, di usia seperti ini fokus kita bukan lagi pada simpul yang biasa kita sebut “persahabatan’, fokus kita seharusnya bergeser pada arus yang lebih besar, pada ikatan kuat keluarga, pada visi, misi dan tujuan hidup yang sama, pada surga yang bahagianya abadi. Bukan lagi hanya sekedar bisa tertawa dan nongkrong bersama, atau bisa saling berbagi hobi yang sama. Bukan, bukan perkara nisbi seperti itu.


Saya berdoa dimanapun kalian dan apapun kehidupan yang kalian jalani saat ini, saya sungguh berharap kalian bisa menjalaninya dengan bahagia. J


  Kalian pikir karena apa manusia mati ? saat jantungnya tertembus peluru. ? bukan . S aat mereka terserang penyakit mematikan ? bukan , ...

 

Kalian pikir karena apa manusia mati ? saat jantungnya tertembus peluru. ? bukan. Saat mereka terserang penyakit mematikan ? bukan, atau saat mereka minum racun ? bukan. manusia mati saat dilupakan. 

(dr. Hiluluk-One Piece)


Kesepian membunuhmu perlahan-lahan.

Saya pernah membaca kalimat itu entah dimana. Mungkin disebuah buku yang tengah kubaca, atau dalam percakapan anime yang sering kutonton. Saya tidak ingat pasti dimana tepatnya. Entah kenapa kalimat itu begitu berksesan buat saya “apa mungkin rasa kesepian bisa membunuh seseorang ?” fikirku dalam hati.


Beberapa hari yang lalu saya akhirnya bisa menemukan jawabannya. Kesepian senyatanya memang bisa membunuh seseorang. Rupanya Kesepian ternyata lebih berbahaya dari penyakit ganas manapun. Kenapa ? jawabannya sederhana, begitu kau merasa dilupakan, begitu kau merasa tidak memiliki sesiapa, disitulah akhirnya tubuhmu dengan sendirinya mulai menyerah. Tubuhmu dengan sendirinya akan berhenti berjuang untuk terus menerus bertahan. Tubuhmu memilih mati, Kau sekarat secara perlahan-lahan tampa kau sadari.


Beberapa waktu yang lalu, saya divonis positif covid. Saya akhirnya diisolasi secara mandiri di tempat tinggal saya. Benar-benar sendiri. Diruangan kamar yang berukuran tak lebih dari 4*4. Awalnya saya merasa tidak ada perbedaan yang berarti antara sebelum di vonis covid dan setelahnya karena statusnya memang hanya OTG. Pada dasarnya saya memang cenderung merasa nyaman menyendiri, tidak terlalu suka berinteraksi dengan manusia, cenderung solitude jadi saya fikir ini tidak akan menjad masalah yang berarti. Tapi kalian tahu setelah berjalan dua  atau tuga minggu, rasa sepi itu akhirnya berwujud sesuatu. Sesuatu yang benar-benar mengerikan. Perasaan tersisih, perasaan dilupakan, perasaan tidak memiliki sesiapa perlahan-lahan datang merayap kedalam hati. Menyesap, menyebabkan goresan luka menganga.


Kesepian punya efek yang luar biasa terhadap hati. Hati menjadi lebih sensitif. Lebih gampang terpiling kenangan masa lalu dan saya benci perasaan ini. Entah kenapa banyak hal yang disesali di masa lalu. Orang-orang yang datang dan pergi. Orang-orang yang datang meski sekelebat. Kejadian-kejadian yang terlewatkan, tempat-tempat yang pernah dikunjungi. Pragmen kehidupan di masa lalu itu muncul satu persatu. Bersama semua rasa yang mengikutinya. Ternyata hal yang paling buruk dari merasa sepi adalah mengingat kenangan-kenangan itu. Saya mungkin bisa bertahan tampa harus berinteraksi dengan sesiapa, tapi saya tidak bisa bertahan dengan cerita dari masa lalu yang datang berkunjung. Terlalu menyedihkan.


Saya akhirnya memahami, mengapa rasa sepi itu bisa membunuh manusia.


November 2020

dalam masa isolasi mandiri

Semoga pandemi ini segera berakhir

 


  Kesedihan datang perlahan-lahan, menyerap semua sisa kebahagiaan yang tersisa. Kesedihan merontokkan semua harapan, mengubah langit biru c...


 

Kesedihan datang perlahan-lahan, menyerap semua sisa kebahagiaan yang tersisa. Kesedihan merontokkan semua harapan, mengubah langit biru cerah menjadi kelabu pudar. Kesedihan ibarat malam yang gelap, kelamnya datang berlapis-lapis. Gelap dan lebih gelap lagi. Kesedihan mengubah segala sesuatu yang tampak indah menjadi lebih sendu.


Kesedihan ibarat Hujan yang turun, angin yang bertiup dingin dan burung yang menangis didahan-dahan pohon. Ketenangan yang mencekam.  kesedihan seperti berjalan di labirin yang tak berujung. Seperti terjerembah kedalam lumpur hitam yang dalam atau terjebak dalam ruangan yang sempit lagi gelap. Kesedihan menyerap semua kebahagian, membiarkan hati mengering rapuh, membusuk dan berulat.


Bagaimana bisa, hati kecil ini mampu menampung kesedihan yang begitu besar ?

  Tiba-tiba saya sudah di titik ini, di umur kepala tiga. Dahulu dimasa saya masih berstatus mahasiswa, saya mengira umur dititik ini masih ...

 



Tiba-tiba saya sudah di titik ini, di umur kepala tiga. Dahulu dimasa saya masih berstatus mahasiswa, saya mengira umur dititik ini masih begitu jauh, tapi nyatanya saya seperti tertipu waktu. Hari ini saya terbangun dan sadar, saya sampai juga dititik mendewasa secara angka.


Pada titik ini saya tak lagi bersemangat merayakan bahkan mengingat hari lahirku. Saya menghela nafas panjang, umur memang bukan menjadi standar ukur apapun. Untuk mati misalnya tidak perlu umurmu harus berbilang tahun. Kau bisa tiba-tiba saja mati. Mati begitu saja. Pun perkara lainnya umur sungguh tak bisa jadi tolak ukur. Menikah, jadi kaya, sekolah, bahagia, bersedih, bekerja, pendek kata perkara apapun. Satu-satunya yang pasti terkait umur adalah  semakin waktu berlalu artinya waktu hidupmu semakin habis. Tidak ada cerita itu kau terbangun dipagi hari dan umurmu juga bertambah sehari, yang ada setiap kali kau terbangung dipagi hari itu berarti selangkah lagi kau menuju liang lahatmu. Manusia sungguh selalu tertipu oleh waktu


Dahulu saya berfikir, semakin kita dewasa semakin kita akan merasa bahagia, kenyatannya semakin kita mendewasa beban hidup kita justru semakin bertambah. Mimpi-mimpi masa muda yang dulu kita bangun seakan tergerus oleh realitas yang menyakitkan. Kau akan mendapati satu persatu mimpimu rontok terbentur realita yang menyakitkan.


Saya pernah bertanya kepada seorang kawan “Kenapa manusia bisa merasa sedih atau kenapa manusia masih sering merasa kecewa”. Kenapa Allah masih menyisahkan perasaan seperti itu bahkan saat kita berusaha meniti jalan-Nya. Sahabatku tersenyum dan berkata “Manusia itu penduduk langit, bukan penduduk bumi. Jadi Manusia di uji dengan perasaan seperti itu agar mereka tidak merasa terlalu betah untuk tinggal di bumi. Agar kita selalu merasa rindu untuk kembali ke rumah kita, kembali ke langit, kembali ke surga.


Barangkali memang kita tidak bisa merasakan bahagia seutuhnya, barangkali memang kita harus disuruh bersabar sampai nanti kita melangkah ke surga atau barangkali kita hanya kurang bersyukur untuk semua hal yang telah Allah titipkan. Bukannya rasa bahagia itu memang hanya datang sejenak, Kita disesapi bahagia  sesaat lalu ditimpakan rasa bermacam-macam setelahnya. Barangkali cara kerjanya memang seperti itu.


Beberapa hari yang lalu saya membuka catatan-catatan lamaku, saya menemukan seratus hal yang ingin kucapai dalam hidupku. Saya tersenyum melihat catatan itu. Beberapa memang tercapai, bahkan sebagian besar sudah tercapai tapi beberapa terlihat sangat tidak realistis untuk kondisiku sekarang ini. Kenyataannya ketika mendewasa idealisme menjadi hal yang tidak terlalu penting. Kita menjadi lebih rasional untuk melihat sesuatu.


Rasa-rasanya saya tiba-tiba ingin menyusun kembali agenda hidupku, ingin menata kembali banyak hal yang terlewatkan selama ini. Entah kenapa beberapa tahun belakangan ini  saya mengabaikan mapping life ku itu, terutama semenjak saya bekerja. Dunia saya seperti tersedot oleh dunia kerja, waktu berjalan terlalu cepat dan tiba-tiba saya disini. Diangka kepala tiga. Saya tertipu waktu.  


Berbicara mengenai mimpi, apakah diusia seperti ini saya masih punya kesempatan untuk bermimpi apakah saya masih layak menyusun mimpi-mimpi saya kembali ? saya sendiri tidak terlalu yakin, tapi bagaimanapun juga  saya tetap berusaha menyusunnya. Saya berusaha kembali menyusunnya dengan cara yang lebih realistis. Saya memetakan kembali apa yang harus kucapai setiap tahunnya sampai sepuluh tahun kedepan saya berharap dengan kembali membuat planning seperti ini saya punya pegangan untuk melangkah dan kemana akan saya bawah arah hidup ini.  




3 November 2020

Sepanjang ingatanku, tak banyak kenangan manis yang terjalin antara sayadan Bapakku. Satu-satunya kenanganku yang paling melekat dibenakku a...




Sepanjang ingatanku, tak banyak kenangan manis yang terjalin antara sayadan Bapakku. Satu-satunya kenanganku yang paling melekat dibenakku adalah pernah di bonceng dengan sepeda tuanya ke sawah. saat itu umurku m masih sangat kecil, masih TK. saya ingat, sepeda kumbang yang bapak miliki berwarna hitam, meski bukan yang terbaik di jamannya tapi bagiku saat itu dibonceng sepeda oleh bapak suatu kebahagian yang luar biasa. Saya ingat kakiku diikat di stan sepedanya dengan robekan kain sarung. dan saya selalu bersemangat di ajak bapak ke sawah dengan sepedanya. 

Selain kenangan itu tak banyak lagi  moment bahagia yang bisa mengaitkan antara kami. kejadian-kejadian yang datang berikutnya  tidak banyak yang bisa dikenang. pahit bahkan cenderung menorehkan luka yang menjadi-jadi. Sampai saya mendewasa hubungan kami tidak menjaid lebih baik. Mungking memang sudah menjadi hukum allam, antara ayah dan anak lelakinya  selalu ada tembok yang tak kasat mata yang dipasang oleh kedua-duanya. selalu ada jarak yang kita bangun, komunikasi yang terbatas, pola fikir yang berbeda dan banyak hal lagi yang membuat hubungan atara bapak dan anak lelakinya tidak selalu berjalan dengan baik.

Berbicara tentang sepeda, orang-orang saat ini sedang menggandrungi olah raga ini. komunitas-komunitas sepeda menjamuar dimana-mana. Dikota besar bahkan di pelosok desa, akitivitas bersepda ini menjadi pavorit, apalagi semenjak wabah virus covid ini merebak. Sepeda seperti alternatif lain yang aman dan nyaman.  

Bagiku, selain berlari dan bersepeda tak banyak aktivitas olah raga yang kusukai. Barangkali kenangan sekelabat antara saya dan bapakku di masa lalu itu menjadi sebuah memori  yang membuat saya sampai saat ini menyukai bersepeda. Bersepeda atau berlari mungkin memiliki dasar filosofi yang sama. Sejauh-jauhnya jarak yang kita tempuh jika kaki tetap mengayuh pada akhirnya akan mebawa kita sampai pada tujuan kita. Sejauh-jauh jarak yang akan kita tempuh, jika kaki tetap melangkah maka pada akhirnya kita pasti akan sampai pada tujuan kita.


Sungguh, bersepda bagiku bukan hanya sekedar eforia sesaat, atau sekedar olah raga rutin untuk menjaga kebugaran atau menghilangkan lemak perut. Bersepeda bagiku  lebih dari itu semua, bersepda ibarat mencoba membangun suatu rasa yang berbeda antara saya dan bapakku. Bersepeda bagiku seperti berusaha memperbaiki hubungan yang buruk bertahun-tahun belakangan ini. berusaha menutup semua kenangan buruk dan menggantinya kenangan bahagia seperti masa kecilku dulu. Saya berharap dengan semakin jauh mengayuh saya mampu meniggalkan luka-luka batin yang bapak pernah torehkan dimasa lalu. Luka-luka masa lalu itu berguguran, keluar bersama keringat yang mengucur. 

Konon, orang yang paling bisa mencintaimu dengan tulus adalah orang tuamu, pun juga sebaiknya orang yang paling berpotensi menorehkan luka batin padamu juga adalah manusia yang bisa mencitaimu dengan tulus itu. orang tuamu sendiri. Saya sering menemukan banyak orang tua yang sering kecewa, atas ambisi-ambisi pribadi mereka yang tak bisa ditunaikan anak-anaknya, tapi dsiatu sisi orang tua juga sering tidak menyadari, anak-anak terluka atas ego pribadi orang tuanya yang justru hanya melukai anak-anaknya.

Perasaan timbal balik dan saring terluka seperti itu kadang menjadi bumerang, menjadi alasan mengapa hubungan antara anak dan orang tua pada akhirnya tidak berjalan baik. Merenggang. Luka batin antara keduanya karna harapan-harapan yang berlebihan akhirnya berbuah menjadi jarak. Jurang yang terus menganga sampai pada satu titik penyesalan yang sama. Kedua-duanya menyesal, orang tua menyesal atas apa yang terjadi, mengapa sampai seperti ini, Anak-anak bahkan lebih menyesal lagi. 

Hubungan buruk seperti in ibarat memintal benang yang kusut. Susah menemukan titik temunya. maka langkah awal untuk mengurai semua ini adalah melupakan dan berusaha mereknstruksi ulang kenangan kita melalui afirmasi. Saya berharap dengan banyak bersepeda, hormon endrofin saya semakin meningkat. Saya bisa mengafirmasi kenangan-kenangan baik kedalam memori otakku. Seperti kenangan bahagia di masa kecilku dulu. Saya berharap dengannya bisa menutup rongga-rongga luka yang pernah tertoreh. 

Bagiku hormon endrofin pemicu kebahagian itu bisa menjadi alat pengurai benang kusut, bisa mengurai duka dan dendam masa lalu. Agar kelak saat orang tua saya sudah tidak ada, saya tidak lagi menyimpan dendam dan luka batin lagi, agar kelak saya bisa mengingat Bapak saya dengan tersenyum. Saya bisa bangga pernah memiliki Bapak seperti dia. saya bisa berkata "terimakasih Bapak, untuk semua hal baik yang kau lakukan untukku"




Bersepda ke Air Terjun Tamasapi-Mamuju Sulawesi Barat
 
 


Judul : Sapiens – The Brief History of Humankind Penulis : Yuval Noah Harari Jenis Buku : Non Fiksi - Sejarah Penerbit : Vin...





Judul : Sapiens – The Brief History of Humankind
Penulis : Yuval Noah Harari
Jenis Buku : Non Fiksi - Sejarah
Penerbit : Vintage Publishing
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman :  512 halaman
Dimensi Buku :  12.90 x 19.70 x 4.10 cm
ISBN : 9780099590088
Paperback

Sapiens: A Brief History of Humankind

Pertama kali saya mengenal buku ini karena  sempat diviralkan generasi “open minded” di jagad twitter. Awalnya saya tidak cukup punya minat untuk membaca buku seperti ini, bahkan sampai saya menyelesaikan buku ini pun saya belum bisa memberi penilaian secara objektif, apakah buku ini cukup layak atau tidak untuk dikoleksi. Namun karena tiba-tiba seorang teman memberi buku ini secara gratis, saya mulai membacanya dan benar-benar berusaha menyelesaikannya dengan baik. Pada dasarnya buku ini terbagi 4 bagian besar: (1) Revolusi Kognitif, (2) Revolusi Agrikultur, (3) Penyatuan Manusia dan (4) Revolusi Saintifik. Seperti kata Bill Gates buku ini secara garis besar berisi tentang “sejarah ummat manusia “. Sejarah leluhur ummat manusia homo sapiens dari masa pra sejarah sampai masa ini di jaman revolusi saintifik.

Pada awalnya saya benar-benar tidak bisa memahami kemana arah tulisan ini akan dibawa. Apakah untuk kembali melegitimasi teori Evolusi yang mulai usang itu. Bahwa manusia senyatanya memang hasil dari evolusi spesies berupa primata yg tadinya hanya merupakan evoulosi dari  makhluk berupa ganggang bersel tunggal di laut. Bahkan konon Sapiens di Indonesia merupakan keturunan dari kera yang hidup di savana Afrika. Menjadi pelaut Pasifik tampa menumbuhkan sirip dan tanpa harus menunggu hidung mereka bermigrasi ke bagian atas kepala mereka seperti yang dialami paus. Namun, mereka membangun perahu-perahu dan belajar cara mengendalikannya. Dan, kemampuan-kemampua  ini memungkinkan mereka untuk menjangkau serta mendiami Australia. (hal 84).

Terkait teori evolusi saya justru jauh lebih nyaman membaca tulisan "Alfred Russel Wallace" penemu teori " Wallace line".  Dalam karyanya "The Malay of Arcipelago"  Wallace meletakkan pondasi dan dasar teori evolusi yang jauh lebih logis, didasarkan pada penelitian yang mendalam tentang demografi suatu wilayah. Teori evolusi ke Alfred Russel Wallace menyodorkan ide evolusi via seleksi alam yang berbeda dari Darwin. Mungkin tidak banyak orang yang mengetahui bahwa teori inilah yang dijadikan Darwin sebagai sandaran untuk mengembangkan teori evolusinya yang kita kenal sekarang “Origin of Species” dan mungkin lebih tidak banyak yang mengetahui bahwa penelitian Wallace ini jusru di lakukan di Nusantara, iya di Indonesia negeri kita ini.

Selain teori evolusi buku ini juga banyak mengulas dampak dan kegagalan revolusi industri terhadap “homo sapiens” dan bagaimana era revolusi industri itu justru membawa manusia ke gerbang kepunahan. Buku ini juga menceritakan secara gamblang sejarah kelam kolonialisasi bangsa-bangsa besar di masa lalu. dan bagaimana kolonialisasi itu sukses menghapuskan beberapa ras penduduk asli pribumi di suatu wilayah.

Menurutnya Prof Harrari, spesies yang paling dirugikan dengan adanya revolusi industri adalah "homo sapiens" manusia “kita ini”. Spesies ini pada awalnya adalah oumnipora, anatomi tubuhnya dirancang untuk berburu dan memanjat pohon, bukan untuk bercocok tanam. Revolusi industri justru menjebak mereka dengan pariates makanan yang terbatas. biji-bijian gandum, padi dan tanaman lainnya yang jumlahnya terbatas. sebelumnya mereka mampu medapatkan makanan berbagai macam jenis dari hewan-hewan buruan, buah dan tanaman-tanaman hutan. tapi semenjak bangsa nomaden ini mulai mengasosiasikan diri menjadi kawanan atau komunal  dan menetap di suatu kawasan, kemampuan otak mereka akhirnya berkurang. kepekaan terhadap alam tereduksi dan mereka terjebak dari sumber makanan tunggal dari tanaman yang didomestikasi. Keterbatasan sumber makanan itu mendorong bangsa-bangsa superior yang didorong oleh paham kredo kapitalis berinvasi dan melakukan kolonialisasi keberbagai daerah termasuk ke Indonesia.

Saya cukup terkejut, menemukan banyak bagian di buku ini yang membahas Indonesia. bukan hanya keragaman penemuan tentang homo sapiens dan berbagai ritus ritus bersejarah lainnya, tapi juga terkait bagaimana kredo kapitalis adalah cikal bakan negara ini terjajah beratus-raus tahun lamanya.
Meski banyak hal yang tidak sejalan dengan nilai-nilai yang kuanut tapi ada beberapa bagian yang betul-betul aku sukai dari buku ini. Seperti misalnya pandangan Prof Harrary  tentang kemewahan. Salah satu hukum sejarah adalah bahwa kemewahan cenderung menjadi keharusan dan melahirkan beban-beban baru. Begitu orang terbiasa dengan satu kemewahan tertentu, mereka menerimanya sebagai kebiasaan. Kemudian, mereka mulai menjadikannya kebutuhan. Akhirnya mereka mencapai satu titik ketika mereka tidak bisa hidup tanpanya. (hal 110)

Pandangannya terhadap “isme-isme” juga begitu berkesan bagiku. “isme” atau faham baginya seperti halnya adalah agama-agama hukum alam baru. liberalisme, komunisme,  kapitalisme, nasionalisme, dan nazisme. Kredo-kredo ini tidak  suka disebut agama, dan menganggap diri sebagai ideologi.  Namun, ini hanyalah percaturan semantik belaka. Jika sebuah  agama adalah sebuah sistem norma-norma dan nilai-nilai manusia  yang bertumpu pada keyakinan terhadap suatu tatanan manusia  super, maka Komunisme Soviet tak ubahnya sebuah agama sebagaimana Islam.( Hal 274).

Pun sama dengan Humanisme. Agama-agama teis fokus pada pemujaan dewa-dewa. Agama-agama humanis memuja kemanusiaan, atau lebih tepatnya Homo sapiens. Humanisme adalah sebuah keyakinan bahwa Homo sapiens punya sifat unik dan sakral, yang secara fundamental berbeda dari sifat semua binatang lain dan semua fenomena lain. Para pengikut humanis percaya bahwa sifat unik Homo sapiens merupakan hal yang paling penting di dunia, dan itu menentukan  makna segala hal yang terjadi di Bumi, dan menentukan makna segala hal yang terjadi di alam semesta. Kebaikan yang tertinggi adalah kebaikan Homo sapiens. Selebihnya di dunia ini dan semua  makhluk yang ada semata-mata untuk manfaat bagi spesies ini.

Jadi mengapa akhirnya saya membaca buku ini. Prof Harrary juga mengajukan pertanyaan yang sama. Jadi, mengapa belajar sejarah?  Menurutnya “ sejarah tak seperti fisika dan ekonomi, sejarah bukanlah alat untuk membuat prediksi akurat. Kita mempelajari sejarah bukan untuk mengetahui masa depan, tetapi  untuk memperluas cakrawala, untuk memahami bahwa situasi  kita saat ini bukanlah alamiah atau tak terelakkan, dan bahwa kita dengan demikian memiliki lebih banyak kemungkinan di depan untuk kita bayangkan. Misalnya, mempelajari bagaimana bangsa Eropa mendominasi Afrika memungkinkan kita menyadari bahwa tidak ada yang natural atau tak terelakkan tentang hierarki rasial, dan bahwa dunia mungkin diatur secara berbeda. 285.

4 bintang untuk buku ini.

#31 Milad Mubaraq Angka ini berarti banyak buat hidupmu, angka ini berarti umur yang telah kau lalui sudah lebih banyak dibanding um...



#31 Milad Mubaraq
Angka ini berarti banyak buat hidupmu, angka ini berarti umur yang telah kau lalui sudah lebih banyak dibanding umur yang akan kau hadapi, Jika mengacu pada ummat Nabimu yang hanya dikisaran #60 tahunan, artinya sisa yang akan kau hadapi tidak sebanyak yang telah kau lewati ini, bisa jadi malah lebih sebentar lagi. Pada dasarnya kita hanya berjalan menuju ke kuburan kita, tiap detik, menit dan hari yang terlewati sejatinya hanya semakin mendekatkan kita pada titik akhir kehidupan kita. Sayangnya kita selalu merasa waktu kita masih cukup panjang, namun kenyataannya maut selalu datang lebih cepat dari yang kita duga.

Di titik usia ini akan semakin banyak guncangan yang terjadi, peralihan dari masa awal dewasa menjadi dewasa secara matang dari segi apapun. Diawal dekade umur ini, manusia akan mengalami banyak hal dalam hidupnya, peristiwa-peristiwa bahagia maupun duka lara yang menyakitkan. Sesuatu yang dahulu di masa sekolah bahkan kuliah masih terasa begitu jauh. Orang-orang disekitar kita mungkin berpulang satu persatu, menyadarkan kita bahwasanya kita tak pernah punya cukup waktu untuk mereka. Bahwasanya kita tak pernah benar-benar mempersiapkan diri untuk ditinggalkan dengan cara yang sama mendadaknya seperti itu. Bahwasanya kita juga sejatinya belum mempersiapkan apapun untuk perjalanan panjang di kehidupan kita berikutnya. Kita selalu merasa masih ada waktu, masih belum, masih lama, masih ada kesempatan besok, lusa, tahun depan atau bertahun-tahun lagi. Namun kenyataannya tidak seperti itu, kita justru akan terkaget-kaget dengan cara maut dan takdir bekerja. 

Pada cerita yang lain dikehidupan yang sama, orang tua kita semakin menua, uban-uban dirambutnya semakin banyak, keriput diwajahnya juga membanyak, garis dan tanda-tanda usia tua semakin nampak dan kita selalu merasa mereka akan ada selamanya disana, di rumah, menanti kita pulang, mengangkat telponnya ketika kita menelponnya. Tapi sekali lagi, cerita kehidupan tidak akan pernah seperti itu. kita tidak pernah tahu dititik mana mereka akan berhenti. Kita atau orang tua kita yang akan kembali lebih dulu, kita tidak pernah tahu. Dan sayangnya kita selalu merasa semuanya baik-baik saja.

Adik-adik kecil kita mungkin mendewasa, sebagian kuliah ditempat jauh, yang lain menikah dan melanjutkan kehidupan mereka dengan jalannya sendiri. Kita akhirnya akan berfokus pada lingkaran kecil kehidupan kita. Sahabat karibpun menjauh, yang tadinya selalu bersama, berkirim kabar, kita satu persatu hilang tampa jejak, mereka sibuk pada lingkaran kecil kehidupannya. Beberapa diantaranya bahkan sudah beranak pinak, yang lain mungkin sedang merajuk rumah tangga baru atau  beberapa lainnya semakin betah membujang dengan kedewasaannya. Semuanya punya titik rasionalnya masing-masing Dan kita harus tetap melanjutkan hidup dengan segala lika likunya.
Kita akhirnya tersadar, kehidupan tak selama itu, tak selama yang kita pikirkan. Kehidupan seperti berlari, dan tiba-tiba saja kita dititik ini. Di titik ini kita pun kembali tersadar, betapa setengah dari hidup yang telah dilalui ini begitu banyak hal yang telah disia-siakan. Betapa di masa lalu kita terlalu rajing mengumpulkan maksiat. Menimbung dosa. Betapa banyak hal yang telah kita sia-siakan dan kita selalu merasa semuanya baik-baik saja. Tidak, sungguh kehidupan kita tidak baik-baik saja. Sesuatu yang lebih besar, lebih rumit, menanti kita didepan sana. Kehidupan setelah kematian. Kehidupan dengan segala kerumitan perhitungannya. Sudah siapkah ?

#31 Apa yang Telah Kau Capai
Dalam rentang waktu yang membentang panjang ini apa yang telah kau capai ? Rumah ? Kendaraan ? Tabungan ? Emas ? atau harta duniawi lainnya ?. Bukan, pertanyaan ini bukan tentang pencapaian duniamu, justru yang harus kau pikirkan adalah apa yang telah kau capai untuk akhiratmu. Dalam rentang waktu yang panjang yang telah kau lalui, berapa banyak waktumu yang kau habiskan untuk berbekal-bekal mempersiapkan kehidupan berikutnya. Bukankah kau sadar, kehidupan tidak pernah memberikan isyarat kapan akan berakhir. Dan sampai sekarang kau masih saja terlena mengejar dunia yang semu.

Pada rentang usia ini sudut pandang yang kita bangun selama ini seharusnya lebih banyak berfokus pada sudut pandang akhirat. Berhentilah memperpanjang angan-angan. Berhentilah menghalalkan segala cara untuk dunia, berentilah mencari pembenaran untuk segala maksiat yang telah kau lakukan. Sudahilah sampai disini dan kembalilah ke Rabbmu.

#31 Mari Berdamai Dengan Kenyataan
Manusia pasti akan mengalami banyak hal dalam hidupnya, tertuma hal-hal yang begitu menyakitkan. Mimpi-mimpi yang dibangun selama ini kebanyakan justru tergerus rontok dengan realitas yang menyakitkan. Harapan-harapan yang digantungkan harus kalah oleh kenyataan yang kita hadapi. Semua hal itu kadang membuat kita kecewa dengan kehidupan kita sendiri.

Barangkali kita memang hanya menginginkan sesuatu yang tidak kita butuhkan. Barangkali keinginan kita selama ini justru Allah anggap tidak baik buat kita. Mari berdamai dengan kenyataan, hentikan prasangka-prasangka buruk pada Rabbmu, bukannya sudah kau ketahui, boleh jadi kau membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kau meyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah tahu apa yang terbaik. dan dari Allah itu semua pasti baik.  Maka di usiamu yang sekarang ini, kembalilah kepada Allah. Allah sudah merencanakan masa depanmu dengan baik, jalanilah dengan rasa syukur dan berdamailah dengan kenyataan hidupmu.

#31 Harapan-harapanku
Dititik usia ini saya berhrap tidak banyak gejolak di hatiku, bisa lebih bersabar dan lebih pasrah menerima ketetapan Rabbku, bukankah segala yang datang darinya adalah baik. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Saya berharap lebih banyak berfokus untuk mempersiapkan akhiratku, lebih tulus dan lebih khusuk dalam beribadah, lebih sayang pada istri dan keluargaku dan bisa lebih banyak memberi kebaikan untuk orang lain.

Saya berharap semakin bertambahnya usiaku ini semakin berpautnya hatiku pada Allah kareana konon semakin bertambah usia semakin sensitif perasaan kita. Allah sedang mengajarkan bahwa pautan hati dengan makhluk senantiasa menghampakan. Namun hati yang berpaut kepada Allah, tiada pernah mengecewakan.  Rabbana atina fi dunniya hasanatan wafil akhirati hasanatan. Allahumma ya muqalibbal kulub, sabbits qalbi ala dinik


#november2019

Pada postingan sebelumnya ( baca disini ) saya menempatkan buku Sea Prayer by Kahled Hosseini, Kura-kura berjanggut by Azhari Aiyub, Ra...



Pada postingan sebelumnya (baca disini) saya menempatkan buku Sea Prayer by Kahled Hosseini, Kura-kura berjanggut by Azhari Aiyub, Raden Mandasia by Yusi Avianto, For one more day by Mitch Albom dan orang-orang biasa karya Andrea Hirata sebagai urutan terbaik 1 sampai 5 dalam daftar buku terbaik yang kubaca ditahun 2019. Pengurutan/perengkingan buku terbaik tersebut didasarkan berbagai macam pertimbangan dan selera dari saya pribadi jadi sangat tidak bisa dijadikan sumber referensi ilmiah. Nah, berikut buku terbaik di urutan 6 sampai dengan 15 menurut versi saya.

6. laut Bercerita by Leila S. Chudory

"Kepada mereka yang dihilangkan
dan tetap hidup selamanya"

Sebagian besar buku ini bercerita mengenai perjuagan Biru Laut dan teman-temannya di masa reformasi. Adalah Biru Laut, pemuda dengan idealisme tinggi, membangun organisasi perlawanan dari kampus untuk menumbangkan resim orde baru pada jaman itu. Adalah Laut dengan sekelompok pemuda yang bervisi sama menghadirkan iklim demokratis yang lebih baik di Indonesia, meski pada akhirnya “mereka tak sempat mengecap sebuah Indonesia yang lain. Mereka hanya mengenal Indonesia yang berbeda, yang gelap dan keras”. Adalah Laut dan sejumlah rekan-rekannya dihilang jejaknya tidak diketemukan sampai saat ini. Adalah Laut yang hatinya seluas samudra semangatnya selalu membiru seperti namanya harus berakhir di kedalaman laut biru yang sampai saat ini kerangka jenazahnya tidak pernah ditemukan 

Jika dilihat lebih dalam, buku ini sejatinya bercerita mengenai kepedihan orang-orang yang ditinggalkan, Bagaimana Ibu, Bapak dan Adiknya harus menghadapi kehilangan yang begitu menyakitkan. Bagaimana Ibu laut mereka terus menerus membangun harapan, menunggu anak laki-laki satu-satunya kembali kerumah, menikmati masakan favorit ibunya seperti dulu. Sungguh novel ini penuh dengan kesedihan, kelam dan buram. Saya yakin kalian akan menangis membaca novel ini.

7. Twenty Thousand Leagues under The Sea by Jules Verne 

Tiga orang pria Prof Aronnax, Conseil, dan Ned, dalam pencarian sebuah monster laut raksasa tiba-tiba menemukan bahwa monster yang mereka cari itu ternyata adalah sebuah kapal selam yang luar biasa. Pencarian itu berujuang sebuah kesialan atau bisa dikatakan sebuah kemujuran buat mereka. ketiga pria tersebut akhirnya menjadi tawanan dari Kapten Nemo, pemilik kapal selam yang serba misterius tadi. “Nautilius” begitu mereka menamai kapal selamnya. Nautilus sejenis kapal selam canggih, dengan berbagai teknologi hebat yang membuatnya mampu berada lama di dasar laut. Kapten Nemo pada dasarnya bukanlah orang jahat. Kapten Nemo dan para awak kapalnya hanyalah sekelompok manusia yang merasa ‘kecewa’ dengan penduduk bumi dan memilih mengasingkan diri bersama orang-orang yang sependapat dengannya di bawah laut. Ia sendiri yang menciptakan berbagai teknologi hebat yang dipakai di kapal Nautilus tersebut. Prof Aronanax kemudian diikut sertakan dalam serangkaian petualangan yang menakjubkan dan membawa mereka pada penjelajahan 20.000 gugusan pulau yang ada di bawah lautan-lautan di seantero dunia. Uniknya novel ini ditulis Jules Verne pada tahun 1870 jauh sebelum tekhnologi seperti kapal selam ditemukan. sebuah pemikirian yang begitu visioner pada jamannya

8. Harimau-Harimau by Mochtar Lubis

Pertamakali membaca buku ini saat itu saya baru kelas 4 Sd. Saya belum tahu, novel seperti apa yang saya baca ini, yang saya tahu novel ini jadi novel yang paling menyeramkan yang saya baca di masa kanak-kanakku dulu. saya ingat persis novel ini kutemukan di perpustakaan sekolahku dan sukses membuat saya bermimpi buruk di malam-malam pertama saya membaca novel ini. Belakangan kuketahui, jauh setelahnya, novel ini memanglah sebuah maha karya, sebuah karya sastra agung dari penulis hebat yang pernah dimiliki Indonesia. Mochtar Lubis, peraih banyak penghargaan dibidang kesusatraan dan jurnalistik.  Baca resensi lengkapnya disini https://www.asdarmunandar.com/2019/09/resensi-novel-harimau-harimau.html

9. Kafka Of The Shore by Haruki Murakami

Novel ini berisi dua plot yang berbeda namun salin terkait satu sama lain. Satu sisi mengisahkan petualangan Kafka Tamura yang lari dari rumah karena menghindari kutukan ayahnya serta untuk menemukan Ibu dan saudara perempuannya. Satu sisi novel ini berkisah mengenai seorang pria tua Satoru Nakata yang bodoh, polos namun jujur tapi pria tua ini memiliki kemampuan istimewa yakni mampu berbicara dengan kucing. Satoru Nakata bekerja sebagai penemu kucing yang hilang dan dia sangat menikmati pekerjaannya. Pada suatu kasus, demi seekor kucing, ia membunuh seorang lelaki misterius. Kasus ini membawanya hengkang jauh dari rumahnya dan berakhir di jalanan, hingga bertemanlah ia dengan sopir truk bernama Hoshino yang membawanya menuju kota tempat pelarian Kafka. Novel surealis ini harus dibaca pelan-pelan dicerna baik-baik agar tidak ikut gila dengan kejadian-kejadian yang mengejutkan yang disugukan Murakami disetiap plot ceritanya. Tuan Murakami benar-benar mampu membalut cerita ini begitu sureal, tidak memberikan batasan yang jelas antara realita, khayalan dan dunia mimpi, nyata dan tidak nyata hitam dan putih, phantasmogaria. Beberapa bagian mungkin terasa begitu lamban dan membosankan, juga percakapan-percakapan panjang antar tokoh yang kadang terasa mendikte, namun secara garis besar novel ini jauh lebih mudah dipahami dibanding novel dengan gendre yang sama, dunia sofi misalnya.

10. Animal Farm by George Orwel

Konon buku ini merupakan salah satu karya sastra terbaik yang wajib dibaca oleh penikmat literasi. Bercerita mengenai sekelompok hewan yang melawan pemilik peternakan Manor dan akhirnya berhasil menguasai pertanian itu dan mengusir pemiliknya yang dianggap lalim terhadap hak-hak binatangisme. Sekelompok hewan tersebut kemudian mendirikan pemerintah baru dengan mengusung hak-hak kehewanan yang dianggap konsesus bersama. George Orwel menulis novel satir ini secara brutal, konon dipicu oleh peristiwa-peristiwa politik pada zaman Soviet Union di masa kekuasaan Komunis.  Kisah ini merupakan sebuah alegori tentang kodrat kekuasaan, dan penurunan moral bahkan dalam hal-hal baik, dan meskipun kisah itu ditulis sesuai pada masanya, diyakini di dalamnya terdapat tanda-tanda mengenai totalitarianisme modern yang membuat buku itu terasa semakin relevan pada saat ini. Saya membaca buku ini sambil tersenyum-senyum membayangkan kondisi Indonesia saat ini dan berguman kok mirip ya.


11. And The Mountahin Echoed by Khaled Hosseini

Abdullah sangat menyayangi Pari, adik satu-satunya. Sejak ibu meninggal dan ayah mereka menikah lagi dengan Parwana, Abdullah menjadi ayah, sekaligus ibu bagi Pari. Bagi Abdullah, Pari adalah bumi, langit sekaligus seluruh semestanya. Dan tiba-tiba Pari dijual ayahnya, dunia Abdullah tiba-tiba berhenti.

Novel ini berisi banyak kisah yang saling berentet dan terhubung. Kisah pertama dimulai dengan kisah Abdullah dan adiknya Pari, lalu kemudian dilanjut dengan kisah Ibu tiri Pari yang rela meninggalkan saudara kembarnya yang cacat di tengah gurung gersan demi kelanjutan hidupnya sendiri. Selanjutnya kisah paman Nabi, saudara kandung ibu tiri Pari dan majikannya begitu seterusnya. Buku ini seperti kumpulan cerpen tapi saling terhubung, setiap akhir satu bagian menjadi awal bagian dari kisah selanjutnya. Begitu seterusnya sampai akhir kisah yang kemudian membentuk satu kisah yang saling terkiat.
Entah kenapa Khaled Hosseini selalu menciptakan karya yang setiap pemerannya harus merasakan penderitaan luar biasa, tidak ada akhir bahagia di novel ini seperti halnya pada karya-karyanya yang lain kitt runner atau a thousand splendid sun misalnya. Khaled Hosseini memang mungkin penulis dengan bakat menciptakan ending yang menyedihkan dan sama tragisnya dengan alur novelnya.

12. The Children of Hurin by J.R.R. Tolkien

Karena saya pencinta berat serial Lord of The ring maka hampir semua buku yang berkaitan dengan kisah cincin bertuah karya JR Tolkien ini sudah kubaca, dan buku paling anyar karya J.R.R Tolkien yang diterbitkan adalah The Children of Hurin, Kisah Anak-anak Hurin. Kisah paling tragis dalam sejarah kelam Middle earth. Kisah anak-anak Hurin berlangsung jauh sebelum The Lord of The Rings, ketika Morgoth masih menghuni benteng Angband di Utara.

Konon dikisahkan, Hurin adalah manusia yang paling berani menentang Morgoth secara terang-terangan akhirnya dikalahkan, tidak sampai hanya menangkap Hurin dan menjadikannya budak di Angbad, Morgoth yang begitu membenci Hurin mengutuk keturunanya bahkan Morgoth mengirim pelayannya yang paling digdaya, Glaurung, roh dahsyat berbentuk naga api raksasa tak bersayap, untuk menggenapi kutukan Morgoth dan menghancurkan anak-anak Hurin.

Turin dan adiknya Nienor saling terikat takdir secara tragis, tidak ada kebahagiaan dan kemenangan umat manusia dalam novel ini bahkan hingga lembar terakhir buku ini, Morgoth terus menerus mendominasi dan memenangkan perangnya, baik ketika melawan bangsa Elf ataupun Manusia penghuni middle earth. Nasib Hurin dan keturunannya sungguh dibuat begitu tragis.

13. Saman by Ayu Utami

Novel ini padat, berisi banyak hal, tapi endingnya menggantung dan banyak kisah yang tidak berakhir. Berkisah tentang Saman dan empat perempuan yang saling bersahabat dari kecil; Laila, Yasmin, Cok, dan Sakhuntala yang memiliki permasalahan masing-masing. Kisah dalam novel ini seputar perjuangan saman melawan tirani berkuasa dan keempat permasalahan perempuan tersebut yang entah kenapa saling terkait takdir. Novel klasik ini diterbitkan sejak era reformasi, itulah mengapa latar belakang peristiwa di novel ini sangat khas dengan peristiwa-peristiwa dimasa orde baru. Sampai saat ini novel Saman masih banyak diminati dan diterjemahkan ke banyak bahasa asing, diantaranya: Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, Prancis, Czech, Italia, dan Korea.Novel Saman ini juga merupakan pemenang Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Novel ini juga mendapat penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri karena dianggap telah mendobrak hal yang tabu sekaligus memperluas cakrawala sastradi Indonesia.

14. Gadis Kretek by Ratih Kumala

"Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin"

Pak Raja yang sekarat. Dalam menanti ajal, ia memanggil satu nama perempuan yang bukan istrinya; Jeng Yah. Tiga anaknya, Tegar, Karim dan Lebas mau tidak mau harus menemukan misteri terakhir dalam kehidupan ayah mereka. berlomba dengan maut, mereka memilih kembali ke masa lalu ayah mereka. di sebuah desa terpencil Kota M (sebuah kota yang merupakan perbatasan antara Jogjakarta dan Magelang) tempat awal mula semua kehidupan keluarga mereka dan perusaahaan mereka dimulai.

Dalam pencarian itu, ketiga anak nya justru tidak hanya menemukan siapa Jeng Yah. Mereka juga menemukan fakta kelam bagaiamana perusaah ayahnya yang begitu besar ini berdiri diatas kisah pilu perusahaan rokok keluarga yang lain.

Buku ini tidak hanya bercerita tentang cinta dan pencarian jati diri masing-masing tokohnya, tetapi juga tentang pondasi keluarga, kesetiaan, pengorbanan dan dunia bisnis yang kadang begitu brutal. Meski demikian seperti yang tertulis pada sampul belakang buku ini, Gadis Kretek adalah buku yang kaya akan wangi tembakau. Sarat dengan aroma cinta.

15. Rahasia Salinem by Briant Yotenega
Buku ini berkisah tentang rahasia seorang wanita abdi dalem yang bernama Salinem yang mengabdikan hidupnya untuk cinta yang tak biasa. Buku ini sungguh membuat bulu kudukku merindding saat membacanya, bukan karena menyeramkan, tapi karena kisahnya yang tak biasa.

Kisah hidup Salinem merentang hampir satu abad lamanya, sejak 1923 hingga 2013, latar ketika cerita ini dimulai, ia bergelut dengan serangkaian peristiwa kelam. Namun, barulah saat menjelang kematiannya, misteri hidup Salinem yang sesungguhnya terkuak. Adalah Tiyo, tokoh utama dalam buku ini yang begitu penasaran untuk menguak kisah hidup Mbah Nem, sosok wanita tua bersahaja yang tadinya dia kira adalah Mbah kandungnya, namun belakangan dia ketahui fakta yang berbeda. Mbah Nem justru hanyalan abdi dalem keluarganya yang mendedikasikan hidupnya untuk merajut keluarga Kakek Nenek Tiyo yang sempat tercerai berai karena kondisi yang begitu sulit di jamannya. Pencarian Tiyo untuk menelusuri siapa Mbah Nem sebenarnya juga menuntunnya pada satu rahasia yang lain. Rahasia kehidupan asmara Mbah Nem dan Rahasi bumbu pecel Mbah Nem yang konon rasanya begitu berbeda dan khas.

Baca Resensi lengkpanya disini https://www.asdarmunandar.com/2019/10/resensi-dan-quote-dari-novel-rahasia.html