Triwulan kedua tahun ini sudah berlalu. Saya bahkan sama sekali belum menyusun resolusi tahun 2019 ku. Belakangan beberapa tahun terakh...
RESOLUSI
Setelah di moratorium sejak 2015 kemarin tahun 2017 ini pemerintah Indonesia kembali membuka lowongan CPNS di beberapa instansi, kement...
Tips dan Trik Lulus CPNS 2017
Assalamu alaikum. Selamat Malam ************************ Kehidupan Bukan Perlombaan Kita tidak pernah berlomba dengan sesiapa K...
Kehidupan Bukan Perlombaan
Tengkorak Manusia di Pekuburan Batu Tana Toraja Bayangkan kita terjebak di suatu tempat yang kita tahu takkan lagi ada jalan untu...
M.A.T.I
![]() |
| Tengkorak Manusia di Pekuburan Batu Tana Toraja |
yang kita tahu takkan lagi ada jalan untuk kembali.
tidak ada seseorang yang bisa menolong.
![]() |
| Tengkorak Manusia di Pekuburan Batu Tana Toraja |
@asdar_munandar “Jangan Pernah Terlambat Pulang” Kata itu dulu tak henti-hentinya sahabatku mengingatkanku. Tadinya terdengar sepel...
Jangan Terlambat Pulang
Tengkorak Manusia Asli di Pekuburan Batu Tana Toraja Picture by @asdar_munandar Suatu malam yang panjang, saya mengalami mimpi yang a...
Mimpi yang Aneh
![]() |
| Tengkorak Manusia Asli di Pekuburan Batu Tana Toraja Picture by @asdar_munandar |
@asdar_munandar Adakah dunia selain dunia yang kita lihat ini ? Bagaimana dimensi-dimensinya jika ia benar-benar ada ? Barangkali...
Dunia Paralel, Dejavu dan Dimensi Alam Ghaib
![]() |
| @asdar_munandar |
@asdar_munadar Aku Pamit Kalimat itu sudah diketik, hampir saja dikirim pada sebuah nomor yang selama ini cukup spesial baginya. Tapi ...
PAMIT
![]() |
| @asdar_munadar |
Kalimat itu sudah diketik, hampir saja dikirim pada sebuah nomor yang selama ini cukup spesial baginya. Tapi kalimat ini berisi dua kata itu dihapus lagi. Ia justru mematikan handponnya. Menyimpan di bawah bantal. Kemudian, ia mengambil mushafnya. Lelaki itu menangis. Menangis sambil terus membaca ayat demi ayat di lembar mushafnya.
@asdar_munandar Dalam buku The Art of Loving, atau Seni Mencinta, Erich Fromm menulis bahwa para manusia modern sesungguhnya adala...
Learn to Love
![]() |
| @asdar_munandar |
“Hidup itu menyedihkan. Kita dibiarkan memasuki dunia yang indah, kita bertemu satu sama lain di sini, saling menyapa dan berkelana b...
“CATATAN AKHIR DIKLAT”
Rasa-rasanya September datang begitu lama. Akhir bulan ini rangkaian diklat yang panjang ini akan segera berakhir. Setelahnya kami akan disebar ke seluruh penjuru negeri ini, dari Sabang hingga Papua sana. Mengabdi untuk negeri. Menjadi pemeriksa, auditor negara. Seperti mars BPK yang hampir tiap hari kami nyanyikan.
Menjadi seorang auditor bukan perkara mudah, bukan hanya seleksi masuknya yang sangat ketat, selain itu banyak rangkaian diklat yang harus kami lewati. Rangkaian Diklat yang sering kali terasa melelahkan dan menjenuhkan. Bayangkan saja, setiap hari kami harus duduk di kelas hampir 8 jam lamanya. Menyimak berbagai macam ilmu yang dijejalkan ke otak-otak kami. Tugas dari instruktur yang seakan tiada pernah ada habis-habisnya, evaluasi pekanan dan berbagai macam rutinitas yang menjadi kewajiban kami sebagai peserta diklat. Dan juga kami harus menjalani latihan disiplin dari pembina-pembina TNI, dari kami bangun hingga bangun lagi dengan berbagai aturan baris berbarisnya. Melelahkan bukan.
Tapi, dibalik semua kelelahan itu ada banyak hal yang akan kita rindukan di tempat ini. Momen-momen persahabatan, momen-momen saat harus berebut kursi di kelas, atau saat menjahili teman angkatan yang tertidur di kelas atau saat-saat harus antri di ruang makan, atau ketika menghadapi kenyataan nilai hasil ujian keluar menyakitkan alias “HER”. Ujian SPKP yang gampang-gampang susah, nasi goreng Kang Amin, suara-suara aneh tengah malam di lantai 4, bahkan suara cempreng sempritan peluit pembina yang selalu membuat jantung berdetak sedikit lebih kencang tiap kali mendengarnya. Semuanya akan jadi kenangan yang indah dan suatu hari nanti kita akan tersenyum mengingat masa-masa seperti ini.
23 September 2015, diklat yang panjang ini akhirnya berakhir. Setelah berbulan-bulan kita bersama, berbagi cerita, berbagai kejenuhan, berbagi ranjang, berbagi kamar mandi dan kini semuanya tiba-tiba harus berakhir. Betapa menyesakkannya. Kini aku harus mengucapkan selamat tinggal. Bagaimanapun juga waktu selalu berkosokbali. Kita tidak mungkin untuk berada di sini selamanya. Kita akhirnya harus menemukan petualangan-petualangan kehidupan kita yang lain, di tempat penempatan kita nanti.
Banyak cerita Di tempat diklat ini. Di sini kita telah di tempa, pondasi kita dibentuk, akar kita diperkokoh, agar kelak bisa menjadi penopang yang cukup kuat menghadapi berbagai macam ujian di luar sana. Mungkin di sini kita ibarat pohon bambu cina. Kalian tahu bagaimana bambu cina itu bisa tumbuh bermeter-meter menjulang tinggi ke langit. Bambu cina tumbuh dengan cara berbeda. Bambu cina melalui proses yang begitu lama, bukan sebulan dua bulan. Bertahun-tahun. Sebelum bertumbuh, sang bambu cina mengokohkan akarnya selama rentang waktu tertentu memastikan kekokohan pondasi-pondasi yang akan menopang kekuatan batangnya kelak.
Mungkin kita ibarat pohon bambu cina tadi, kita harus memiliki akar yang kuat, agar kelak mampu menopang batang yang menjulang tinggi. Agar mampu bertahan melawan sekeras apapun angin berhembus. Kehidupan di luar sana tidak akan pernah mudah, banyak hal yang jauh lebih berat yang akan kita hadapi nanti. Saya rasa rangkaian diklat ini adalah cara kita untuk membangun pondasi dan akar yang kuat tadi, yang dengannya kita akan mampu melewati sekeras apapun ujian hidup auditor itu.
*terimakasih untuk semuanya.
Moralitas Pengemis Berbicara tentang moralitas. Mungkin moralitas saya telah tereduksi sedemikian rupa. Hati saya tidak lagi berg...
Moralitas Pengemis
LARI Berlari ibarat bertanding dengan diri sendiri Akhir-akhir ini saya sering berlari. Berlari di awal pagi. Rasanya begitu b...
LARI
Apa yang salah menjadi seorang syi’ah, Ahmadiyah, atau Islam liberal ? Well, Keyakinan saya mengharuskan saya meyakini mereka sal...
Mereka bilang saya Liberal (Part II)
Apa yang salah menjadi seorang syi’ah, Ahmadiyah, atau Islam liberal ?
Well, Keyakinan saya mengharuskan saya meyakini mereka salah, salah secara aqidah. Tapi saya tidak ingin membahas kenapa aqidah mereka salah, kenapa mereka sesat atau kenapa mereka menyelisihi umat Islam pada umumnya. Silakan baca sendiri fatwa-fatwa ulama tentang penyimpangan-penyimpangan mereka.
Saya hanya ingin sedikit melihat mereka secara berbeda. Melihat mereka sebagai manusia, sebagai suatu entitas yang utuh. Sebagai seorang warga negara, tetangga, keluarga, saudara, teman, atau siapa pun mereka dalam kehidupan kita.
Tetangga saya seorang syi’ah. Apa karena dengan ke Syi’ahannya itu saya serta merta harus memutus silaturahmi dengannya. Apa karena dengan kesesatannya itu saya kemudian harus membunuhnya, merampas hartanya, menjadikan istri dan anak-anaknya budak. Apakah semua orang syi’ah yang ada di sekitar kita harus di generalisasi, disamakan statusnya seperti syi’ah-syi’ah di Suriah atau Iran sana.
Ah bukannya itu terlalu paradoks. Bukankah kita selama ini juga tidak rela ketika Islam di generalisasi. orang-orang menyamakan kita dengan aliran-aliran ekstremis di luar sana “ISIS” misalnya. Bukannya kita juga yang selalu sibuk berkoar-koar menanggapi ocehan-ocehan non muslim tentang tuduhan teroris yang selama ini disemakkan ke kita umat Islam pada umumnya. Kita selalu berusaha membela diri, mengeluarkan berbagai argumen untuk menyelamatkan citra kita.
Saya melihat begitu lucu tingkah saudara-saudara saya yang membenci mereka begitu berlebihan. Mencaci maki mereka di media sosial, begitu bernafsu menyebar gambar-gambar provokatif. Mendiskreditkan the other di luar kita, memvonis sesat orang-orang yang kita anggap pendukung dan pembela mereka. Yang justru malah semakin membuat mereka tidak bersimpati pada kita.
Saya sering bingung, apa karena status mereka yang sesat itu (menurut kita) dengan serta merta menghilangkan hak-hak mereka sebagai manusia, hak mereka sebagai warga negara, hak konstitusi mereka yang telah dijamin undang-undang, atau bahkan mungkin hak mereka untuk hidup dan menikmati kehidupan. Bukannya Islam adalah rahmatalillalamin, rahmat bagi seluruh alam, rahmat bagi kaum muslimin dan rahmat bagi mereka yang ada di luar kita. Bukankah Tuhan kita sendiri tidak melarang kita bergaul dengan umat lain selama mereka tidak memerangi kita.
Saya merasa justru selama ini kitalah yang tidak ingin menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Kita egois, menganggap rahmat itu hanya untuk diri kita sendiri. Kita akhirnya tidak bisa menerima kehadiran the other di luar kita. Kita dengan gampang memvonis, menuduh dan menghakimi mereka.
Saya hanya berharap dunia yang kita pijak ini, dunia yang kita huni bersama ini, menjadi tempat yang lebih baik untuk hidup, untuk persahabatan, untuk kemanusiaan, untuk perdamaian umat manusia. Saya berharap kita bisa melihat segala sesuatunya secara proporsional. Saya berharap kita bisa lebih memanusiakan manusia tanpa harus melihat dari golongan mana mereka berangkat.
* “Kita” disini merujuk pada diri penulis pribadi. Penggunaan kata “kita” hanya untuk pemakaian diksi yang lebih sopan.
* Part I silahkan merujuk pada link berikut























Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances