Showing posts with label Lain-lain. Show all posts

Triwulan kedua tahun ini sudah berlalu. Saya bahkan sama sekali belum menyusun resolusi tahun 2019 ku. Belakangan beberapa tahun terakh...



Triwulan kedua tahun ini sudah berlalu. Saya bahkan sama sekali belum menyusun resolusi tahun 2019 ku. Belakangan beberapa tahun terakhir hampir 75% resolusi yang kususun gagal. Rontok terbentur realita yang menyakitkan. Resolusi tahunan  ini tadinya agenda rutin yang memang selalu kususun di awal tahun,  ada banyak harapan yang tertulis dalam catatan-catatan itu. Ada banyak janji masa depan yang kususun dengan baik disana. Tapi kalian tahu, cerita kehidupan tidak semenyenangkan drama-drama murahan ditivi yang sering kita tonton.

Tahun ini tak banyak yang ingin kugapai, aku hanya ingin menjadi ikhlas menjalani semua ini. Menjadi lebih bersabar atas apa yang takdir telah gariskan. Bukannya ke sabaran itu hanya sebentar, hanya sampai kita meninggal. Dan jika sekiranya besok adalah saatnya, artinya kita hanya bersabar sampai besok. Tidak terlalu lama bukan.

Untuk perjalananku, tahun ini aku memang berencana ingin kembali ke jalan. menemukan diriku di masa lalu. Mungkin sebuah perjalanan terakhir, the last solo backpacker. Saya ingin menyusuri jejak panjang perjalanan lintas Sumatera. Saya ingin mengunjungi Medan, Padang, Bukit Tinggi, Danau Toba, Aceh hingga Sabang. Titik terjauh Indonesia bagian barat. Terdengar sedikit mengerikan bukan, tapi bagiku perjalanan perjalan seperti ini ibarat perjalanan spiritual yang bisa mengantarkanmu bertemu Tuhan.

Orang-orang sering menemukan Tuhan di jalan, bukan di tempat ibadah. begitu seorang sufi pernah mengajariku. Kau mungkin kesulitan menemukan Tuhan ditempat ibadah, kebanyakan manusia disana berdiri menyembah Tuhan dengan angkuh tapi di jalan kau bisa tiba-tiba menemukan Tuhanmu.

“kau pernah bepergian dengan pesawat” ? tanyanya padaku

“aku mengangguk”

Saat pesawat turbelensi akut, tiba-tiba orang-orang dengan seketika menemuka Tuhan bukan.!
Aku kembali mengangguk.

Aku tiba-tiba teringat penerbanganku suatu hari dulu, di sore yang hujan. Turbelensi akut 11 menit pertama penerbangan kami membuatku begitu gugup. Saya merasa Tuhan begitu dekat saat itu.

Apakah seperti itu rasanya ?

Saya kembali membuka resoluis-resolusi tahun-tahun kemarin yang belum sempat ku gapai. Sebuah catatan berhurup kafital membuatku begitu tertarik. Aku tersenyum membaca catatan itu. rasa-rasanya waktu sudah berlalu begitu lama. Aku semakin tua.

Aku pernah menulis mimpi seperti itu. Tidak ada salahnya bermimpi, bukan ? saya terus menerus tersenyum membaca tulisan-tulisan usang itu. dulu saat umurku belum lagi seperempat abad, saya merasa begitu ambisisu, ingin ini ingin itu. mau ke sini mau kesana.  

Mimpi manusia bisa berubah ternyata. Nyatanya semakin bertambah umur kita, mimpi kita akhirnya semakin mengkerucut. Semakin sederhana. Dahulu aku pernah menulis bisa berkeliling dunia, aku menulis deretan nama-nama tempat indah yang wajib kukunjungi sebelum meninggal. kini bahkan meninggalkan kampung halaman pun aku segan. Kenyataannya saat kita semakin dewasa, mimpi menjadi tidak terlalu pentig. Realitas mengubah banyak persepsi kita tentang hidup dan kehidupan.  

Saya tetiba teringat suatu hari di pedalaman Topoyo, kabupaten terbaru di Sulawesi Barat. Hari itu saya mengikuti Kelas Inspirasi, saya ditugaskan untuk membawakan tema tentang mimpi didepan bocah-bocah sd yang masih polos. Satu persatu mereka mengutarakan mimipinya. Seorang anak membuatku tertarik. Diantara riuh-riuh teman kelasnya yang ingin menjadi polisi, pilot atau guru dia justru ingin menjadi nelayan. Kenapa tanyaku kepadanya. Aku tersenyum mendengar jawaban polosnya. Katanya biar bisa seperti bapaknya, bisa melaut bareng bapak.  Aku tersenyum memeluknya. Tak ada satu manusia dimuka bumi ini pun yang boleh meremehkan mimpimu nak.

Setelah di moratorium sejak 2015 kemarin tahun 2017 ini pemerintah Indonesia kembali membuka lowongan CPNS di beberapa instansi, kement...


Setelah di moratorium sejak 2015 kemarin tahun 2017 ini pemerintah Indonesia kembali membuka lowongan CPNS di beberapa instansi, kementerian dan lembaga, setidaknya ada kurang lebih 60 Kementerian dan lembaga yang membuka lowongan penerimaan CPNS di tahun ini dengan berbagai macam formasinya.

Di oh iya sebelumnya tahun 2014 kemarin saya berhasil diterima sebagai CPNS di salah satu lembaga tinggi negara. Saya melewati serangkaian tes yang bisa dibilang tidak mudah. Tapi Alhamdulillah saya berhasil melewati semua tahapan itu dengan baik.

Assalamu alaikum. Selamat Malam ************************ Kehidupan Bukan Perlombaan Kita tidak pernah berlomba dengan sesiapa K...

Assalamu alaikum. Selamat Malam

************************
Kehidupan Bukan Perlombaan
Kita tidak pernah berlomba dengan sesiapa
Kita berlari pada poros kita sendiri
Berlari menurut ukuran kecepatan kita sendiri
Berlari di jalur kita sendiri


Sesekali mungkin kita akan menoleh
Melihat jalur dan laju orang lain
Bisa jadi kita merasa telah melaju jauh ke depan
Meninggalkan orang-orang  dibelakang.
Atau justru  kita mungkin merasa tertinggal
Melihat orang-orang berlari kencang
Seakan tak mampu terkejar

Tapi bukan berarti kita harus berpindah jalur
Meniti diatas titian orang lain
Menapak pada jejak kaki orang lain
Bagaimanapun juga kita harus berada di poros kika.
Sesulit dan seberat apapun itu

Sejatinya kita tidak sedang terlambat.
atau lebih cepat dari yang lain.
Kita sangat-sangat tepat waktu!
Setiap orang berlari di lintasannya masing-masing
Seseorang bisa mencapai banyak hal dengan kecepatannya

Berlarilah sesuai tempomu
Jangan memaksakan apa yang belum bisa kau capai
Sahabatmu, teman-temanmu, adik kelasmu mungkin "tampak" lebih maju.
 Mungkin yang lainnya "tampak" di belakangmu
Jangan iri atau mengejeknya

Alloh selalu punya rencana berbeda untuk masing-masing kita
Punya lintasan dan rute yang berbeda
Punya jarak dan tempo yang berbeda.
Adanya disyukuri, jangan sombong dan tetaplah rendah hati.
Tidak adanya disabari, berjuang lagi, berdoa lagi dan tawakallah kepada Alloh.

Semoga kita bisa istiqomah di lintasannya 



Mamasa, 25 February 2017
@copas

Tengkorak Manusia di Pekuburan Batu Tana Toraja Bayangkan kita terjebak di suatu tempat  yang kita tahu takkan lagi ada jalan untu...



Tengkorak Manusia di Pekuburan Batu Tana Toraja
Bayangkan kita terjebak di suatu tempat 
yang kita tahu takkan lagi ada jalan untuk kembali.
 Bayangkan kita akan menjalani kekekalan di sana,
 tidak ada seseorang yang bisa menolong.
Kita sendirian, kesepian, putus asa dan menyesal.

Saya bermimpi, melihat rohku perlahan-lahan keluar dari jasadku. Tubuhku perlahan-lahan mendingin. Mulutku mulai membiru. Orang-orang tertegun sejenak disekelilingku. Beberapa mungkin menangis. Ibu dan adik-adikku. Setelah itu semuanya seperti berjalan begitu cepat. Saya dimandikan, dikahafani dan disholatkan oleh beberapa orang yang tidak semua ku kenal. Setelahnya orang-orang terburu-buru mengusung jasad ku ke kuburan. Saya diletakkan di liang kecil itu, ditutupi dengan beberapa lembar papan dan ditimbun dengan tanah basah.  Orang-orang memadatkan tanah kuburan ku. Batu nisan bertulis namaku telah terpasang. Dan satu persatu orang-orang berjalan meninggalkanku. Aku ditinggalkan sendiri dihimpit tanah dan dilupakan.

Tengkorak Manusia di Pekuburan Batu Tana Toraja
Kematian hanya seperti itu. hanya seperti selaput gagasan tipis yang begitu gampang diseberangi. Dan tiba-tiba kita disitu. Di dunia kehampaan, dunia keabadian. Dunia ketiadaan. Kita mati. Begitu kita mati, berarti bagian yang dimainkan di dunia ini telah berakhir, dan sekarang saatnya untuk melanjutkan arus yang lebih besar lagi. Maka dari itu, kematian hendaknya mengajarkan kita betapa pendek dan tidak berharganya kehidupan di dunia ini. Kehidupan dan kematian hanyalah bagian dari suatu arus yang jauh lebih besar, dan muara untuk semua ini adalah ketiadaan. Keabadian, Kekekalan, kekosongan sempurna. 


@asdar_munandar “Jangan Pernah Terlambat Pulang”  Kata itu dulu tak henti-hentinya sahabatku mengingatkanku. Tadinya terdengar sepel...

@asdar_munandar

“Jangan Pernah Terlambat Pulang” 
Kata itu dulu tak henti-hentinya sahabatku mengingatkanku. Tadinya terdengar sepele bagiku, bukankah tanpa dia ingatkanpun saya pasti pulang. Tidak mungkin selamanya saya akan jadi perantau bukan, begitu selalu kilahku.  Setelah bertahun-tahun kalimat itu pernah saya dengar, sore ini, saat perjalanan udara Makasar-Jakarta entah kenapa kata-kata itu tiba-tiba terngiang kembali. “Jangan terlambat Pulang”. Saya tersadar  betapa kalimat sepele itu memiliki arti yang luar biasa.
  
Apakah kali ini saya akan terlambat pulang, begitu fikirku. Turbelensi akut di 11 menit pertama penerbanganku tak ayal membuatku sedikit takut, tiba-tiba banyak hal terlintas. Apakah kali ini saya sungguh akan terlambat pulang ?. Tiba-tiba kata pulang itu terasa begitu berarti.

Tengkorak Manusia Asli di Pekuburan Batu Tana Toraja Picture by @asdar_munandar Suatu malam yang panjang, saya mengalami mimpi yang a...

Tengkorak Manusia Asli di Pekuburan Batu Tana Toraja
Picture by @asdar_munandar

Suatu malam yang panjang, saya mengalami mimpi yang aneh. seperti sadar dan tidak sadar, seperti nyata dan tidak nyata. saya tidak tahu kenapa saya bisa bermimpi seaneh ini. Saya seperti berada di sebuah lorong gelap dan panjang. Di sisinya ada patung-patung kesatria berpedang panjang. Lorong itu hanya disinari cahaya temaram dari sinar rembulan yang menembus ke sela-sela jendela kaca. Lorong itu begitu sepi, ketika kita melangkah suara langkah kaki  menggema ke seluruh ruangan. Terpantul hingga ke sudut-sudut ruangan yang jauh. Hampir-hampir saya merasa mampu mendengar helaan nafas dan degup jantungku. Saya terus melangkah, melewati patung-patung besar itu, menyusuri lorong menuju ke suatu titik cahaya di kejauhan.   

Saya merasa seperti ada sepasang mata yang mengawasi ku di balik kegelapan itu. Lorong ini seperti tak berujung. Cahaya kecil itu semakin terasa jauh. Dari kejauhan suara serigala terdengar sedih. Lolongan nya seperti memanggil seseorang yang telah lama pergi atau kadang terdengar seperti suara-suara kematian. Mengerikan dan menyayat hati.

Saya keluar melalui pintu kecil di ujung lorong itu. Bulan menggantung sempurna dilangit kelabu pudar. Padang pasir maha luas sejauh mata memandang semuanya tampak berbeda di kegelapan malam. Bintang-bintang berwarna terang berkelap kelip terlihat begitu jauh.  Angin malam bertiup lembut. dinginnya menusuk tulang.

Saya seperti terjebak di dimensi yang lain. Padang pasir maha luas, langit kelabu sendu dan suara-suara aneh hewan malam yang entah apa. Tiba-tiba dari cela-cela pasir keluar gumpalan-gumpalan lumpur hitam menyembur dengan derasnya. Banyak dan semakin banyak. hanya dalam hitungan menit, lautan pasir berubah menjadi lautan lumpur.

@asdar_munandar Adakah dunia selain dunia yang kita lihat ini ? Bagaimana dimensi-dimensinya jika ia benar-benar ada ? Barangkali...


@asdar_munandar
Adakah dunia selain dunia yang kita lihat ini ?
Bagaimana dimensi-dimensinya jika ia benar-benar ada ?
Barangkali ia ada karena kita tidak mampu melihat setiap yang ada
Apa benar kita ini nyata ?
Apa benar kita ini benar-benar ada ?
 Atau kita hanya semacam ilusi yang diciptakan oleh Sang Creator. 
Bermain di imajinasinya lalu tiba-tiba saja kita tiada. 
Meniada lalu lenyap begitu saja.
“@_m”


Apakah Kalian Percaya Dimensi Paralel  ?
Apakah dia benar-benar ada ?

Dunia paralel adalah suatu konsep di mana terdapat banyak dunia yang berjalan sendiri-sendiri, di mana urutan peristiwa di satu dunia bisa jadi tidak sejalan dengan urutan peristiwa di dunia lain. Konsep ini secara tersembunyi diterapkan dalam kisah Elemen Kekosongan, di mana banyak pengetahuan-pengetahuan yang di dunia lain belum saatnya ditemukan, akan tetapi di sini telah ada dan lazim digunakan.*

Gagasan tentang dunia paralel sudah mengemuka di awal era 1920-an. Teori dunia paralel sendiri pertama kali dicetuskan Profesor Bill Poirier. Teori yang diungkapkannya berhasil menarik perhatian para ilmuwan fisika dan menuai banyak kontroversi. Setelah teori tersebut mencuat di publik, banyak spekulasi lain yang bermunculan. Salah seorang ilmuwan menganggap bahwa interaksi bersama antara dunia paralel telah menimbulkan semua efek kuantum di alam semesta.*

@asdar_munadar Aku Pamit Kalimat itu sudah diketik, hampir saja dikirim pada sebuah nomor yang selama ini cukup spesial baginya. Tapi ...

@asdar_munadar
Aku Pamit
Kalimat itu sudah diketik, hampir saja dikirim pada sebuah nomor yang selama ini cukup spesial baginya. Tapi kalimat ini berisi dua kata itu dihapus lagi. Ia justru mematikan handponnya. Menyimpan di bawah bantal.  Kemudian,  ia mengambil mushafnya. Lelaki itu menangis.  Menangis sambil  terus membaca ayat demi ayat di lembar mushafnya.
Tidak ada artinya kata pamit. Semua berawal tanpa kata, selesai pun tanpa kata, pikirnya. Lelaki itu sejenak terdiam, menghayati makna ayat demi ayat yang dia baca. Lalu lelaki muda itu  kembali menangis.
Lima tahun yang lalu, tanpa kata cinta, layaknya sepasang  muda-mudi menjalin tali  asrama, dua orang ini justru saling menjauh, memilih menghindari perasaan mereka, sampai suatu waktu, tabir-tabir hati itu tersingkap dan mereka pun tak mampu lagi menutupi apa yang ada di hati mereka. Tidak ada tali apapun yang mengikat hati mereka, sungguh tidak ada. Atau kalaupun ada, mungkin tali itu yang disebut orang-orang bernama perasaan.
Lelaki itu, lima tahun menyimpan perasaannya. Bukan waktu yang lama, sungguh singkat sebenarnya.Tidak ada yang tahu, tetapi sesosok perempuan yang ia beri nama  “bintang utara” mengerti dan memahami. Sesosok perempuan itu membuatnya memiliki harapan.
Jauh perjalanan mereka. Harapan-harapan itu menggantung dalam doa. Hingga lelaki itu kini mendapati banyak “bintang-bintang lain yang juga ternyata siap menyinari malam-malamnya. Lelaki itu jengah. Bukan ia berhenti mencintai bintangnya, tapi karena ia mengerti satu hal. Tangannya tak mampu menggapai “bintang utara“ itu. Dan kali ini, ia benar-benar menghayati kalimat itu.

@asdar_munandar Dalam buku The Art of Loving, atau Seni Mencinta, Erich Fromm menulis bahwa para manusia modern sesungguhnya adala...


@asdar_munandar
Dalam buku The Art of Loving, atau Seni Mencinta, Erich Fromm menulis bahwa para manusia modern sesungguhnya adalah orang-orang yang menderita. Penderitaan tersebut diakibatkan karena kehausan mereka untuk dicintai oleh orang lain. Mereka berusaha keras melakukan apa saja agar dapat dicintai. Anak-anak muda akhirnya terjerumus ke dalam pergaulan bebas karena mereka ingin dicintai dan diterima oleh kawan-kawan sebayanya. Para istri berjuang untuk menguruskan tubuh mereka agar dicintai oleh para suami mereka. Para politisi tidak segan-segan berdusta dan menipu orang agar dicintai oleh para pemilih dan pengikut mereka.

Yang dilakukan oleh manusia modern adalah upaya untuk dicintai, bukannya upaya untuk mencintai. Dalam dunia modern, kita menemukan bahwa semakin keras manusia berusaha untuk dicintai, semakin sering pula mereka gagal dan dikecewakan. Adalah sangat sulit untuk memperoleh kecintaan seluruh manusia. Kecintaan semacam ini adalah tujuan yang takkan pernah bisa dicapai karena selalu saja ada orang yang membenci orang yang lain. Manusia selalu dikelilingi oleh dua jenis orang; yang mencintai dan yang membenci dirinya. 

Oleh sebab itu, manusia modern mengalami gangguan psikologis karena kegagalan untuk dicintai. Buku The Art of Loving mengisahkan para istri yang akhirnya harus mengisi malam-malam mereka dengan tangisan dan penderitaan karena tak kunjung memperoleh cinta suami mereka. Pada satu bagian dalam buku itu, Fromm menulis: "Mungkin sudah waktunya kita beritahu mereka untuk belajar mencintai." 

Di dalam buku lain yang berjudul The Mismeasures of Women, atau Kesalah-ukuran Perempuan. Buku ini bercerita bahwa sepanjang sejarah, kecantikan wanita itu diukur bukan oleh wanita itu sendiri, melainkan oleh kaum lelaki. Pernah pada satu masa, yang disebut sebagai wanita jelita adalah perempuan yang bertubuh gemuk. Lukisan-lukisan di zaman Renaissans menggambarkan wanita-wanita telanjang dengan berbagai gumpalan lemak di tubuh mereka. Pada zaman itu, perempuan berusaha menggemukkan tubuhnya dengan obat-obatan, yang terkadang amat berbahaya, agar dianggap rupawan dan dicintai lawan jenisnya. Lalu datanglah satu masa ketika seorang perempuan disebut cantik bila tubuhnya kurus kering. Dunia kecantikan internasional pernah mengenal seorang model ternama yang disebut dengan Miss Twiggy, Nona Ranting. Perempuan cantik adalah mereka yang bertubuh seperti ranting kayu, tinggi dan langsing. Seluruh perempuan di dunia kemudian berlomba-lomba menguruskan tubuhnya dengan menahan nafsu makan dan melaparkan diri. Mereka melakukan puasa yang khusus dijalankan untuk memperoleh kecintaan lelaki; mereka menyebutnya diet. 


“Hidup itu menyedihkan. Kita dibiarkan memasuki dunia yang indah, kita bertemu satu sama lain di sini, saling menyapa dan berkelana b...




“Hidup itu menyedihkan. Kita dibiarkan memasuki dunia yang indah, kita bertemu satu sama lain di sini, saling menyapa dan berkelana bersama untuk sejenak. Lalu kita saling kehilangan dengan cara yang sama mendadaknya”
D_S

Barisan putih hitam terlihat rapi. Derap langkah kaki terdengar kompak. Kiri kanan, kiri kanan, kiri kanan. Jika kalian mengira kami peserta gerak jalan tujuh belasan atau  mahasiswa baru yang lagi dipelonco senior. Kalian keliru.  Kami adalah CPNS peserta diklat JFP dan ATY BPK RI tahun 2015. Rutinitas baris berbaris ini salah satu rutinitas pagi yang harus kami jalani. Setiap pagi. Berbulan-bulan.

Rasa-rasanya September datang begitu lama. Akhir bulan ini rangkaian diklat yang panjang ini akan segera berakhir. Setelahnya kami akan disebar ke seluruh penjuru negeri ini, dari Sabang hingga Papua sana. Mengabdi untuk negeri. Menjadi pemeriksa, auditor negara. Seperti mars BPK yang hampir tiap hari kami nyanyikan.
 
Menjadi seorang auditor bukan perkara mudah, bukan hanya seleksi masuknya yang sangat ketat, selain itu banyak rangkaian diklat yang harus kami lewati. Rangkaian Diklat yang sering kali terasa melelahkan dan menjenuhkan. Bayangkan saja, setiap hari kami harus duduk di kelas hampir 8 jam lamanya. Menyimak berbagai macam ilmu yang dijejalkan ke otak-otak kami. Tugas dari instruktur yang seakan tiada pernah ada habis-habisnya, evaluasi pekanan dan berbagai macam rutinitas yang menjadi kewajiban kami sebagai peserta diklat. Dan juga kami harus menjalani latihan disiplin dari pembina-pembina TNI, dari kami bangun hingga bangun lagi dengan berbagai aturan baris berbarisnya.  Melelahkan bukan.

Tapi, dibalik semua kelelahan itu ada banyak hal yang akan kita rindukan di tempat ini. Momen-momen persahabatan, momen-momen saat harus berebut kursi di kelas, atau saat menjahili teman angkatan yang tertidur di kelas atau saat-saat harus antri di ruang makan, atau ketika menghadapi kenyataan nilai hasil ujian keluar menyakitkan alias “HER”. Ujian SPKP yang gampang-gampang susah, nasi goreng Kang Amin, suara-suara aneh tengah malam di lantai 4, bahkan suara cempreng sempritan peluit pembina yang selalu membuat jantung berdetak sedikit lebih kencang tiap kali mendengarnya.  Semuanya akan jadi kenangan yang indah dan suatu hari nanti kita akan tersenyum mengingat masa-masa seperti ini.

23 September 2015, diklat yang panjang ini akhirnya berakhir. Setelah berbulan-bulan kita bersama, berbagi cerita, berbagai kejenuhan, berbagi ranjang, berbagi kamar mandi dan kini semuanya tiba-tiba harus berakhir. Betapa menyesakkannya. Kini aku harus mengucapkan selamat tinggal. Bagaimanapun juga waktu selalu berkosokbali. Kita tidak mungkin untuk berada di sini selamanya. Kita akhirnya harus menemukan petualangan-petualangan kehidupan kita yang lain, di tempat penempatan kita nanti.

Banyak cerita Di tempat diklat ini. Di sini kita telah di tempa, pondasi kita  dibentuk, akar kita diperkokoh, agar kelak bisa menjadi penopang yang cukup kuat menghadapi berbagai macam ujian di luar sana. Mungkin di sini kita ibarat pohon bambu cina. Kalian tahu bagaimana bambu cina itu bisa  tumbuh bermeter-meter menjulang tinggi ke langit. Bambu cina tumbuh dengan cara berbeda. Bambu cina melalui proses yang begitu lama, bukan sebulan dua bulan. Bertahun-tahun.  Sebelum bertumbuh, sang bambu cina mengokohkan akarnya selama rentang waktu tertentu memastikan kekokohan pondasi-pondasi yang akan menopang kekuatan batangnya kelak.

Mungkin kita ibarat pohon bambu cina tadi, kita harus memiliki akar yang kuat, agar kelak mampu menopang batang yang menjulang tinggi. Agar mampu bertahan melawan sekeras apapun angin berhembus. Kehidupan di luar sana tidak akan pernah mudah, banyak hal yang  jauh lebih berat yang akan kita hadapi nanti. Saya rasa rangkaian diklat ini adalah cara kita untuk membangun pondasi dan akar yang kuat tadi, yang  dengannya kita akan mampu melewati sekeras apapun ujian hidup auditor itu.

*terimakasih untuk semuanya.


Moralitas Pengemis Berbicara tentang moralitas. Mungkin moralitas saya telah tereduksi sedemikian rupa. Hati saya tidak lagi berg...

Moralitas Pengemis



Berbicara tentang moralitas. Mungkin moralitas saya telah tereduksi sedemikian rupa. Hati saya tidak lagi bergeming melihat pengemis dan derivatifnya di pinggir jalan. Ibu-ibu dengan anak-anak balitanya atau perempuan tua di depan pintu-pintu mini market. Amplop-amplop permohonan bantuan biaya sekolah dan biaya hidup yang dibagikan kepada pengunjung ATM. Entahlah rasa percaya saya sama mereka telah terkikis habis. Saya menyebut mereka orang-orang yang mempermainkan rasa.

Bayangkan hanya dengan tampan melas, baju compang-camping, muka sedikit kusut mereka mempermainkan hati kita. Kita kemudian tersentuh, bergetar hatinya, menyodorkan lembar ribuan. Mereka tersenyum, mengucapkan terima kasih dan sedikit doa. Hahaa.. cerita lama kawan. Saya mengenali ibu-ibu dengan seorang anak gadisnya di depan kampus saya yang juga berprofesi seperti itu. Bayangkan hampir tiga tahun saya lalu lalang di kampus dan saya selalu melihat mereka di lampu merah yang sama, dengan keadaan dan kondisi yang sama, dengan selogan yang sama “Mohon Bantuan Biaya Sekolah”. Mereka bukan pengemis kawan, mereka penipu berkedok pengemis.

Ironi memang, kadang saya berpikir berapa rupiah duit yang mereka bisa kumpulkan tiap harinya. Sedikit ? anda salah, mereka bisa hidup makmur dengan profesinya itu.  Mereka kaya tanpa perlu bersusah payah. Kehidupan memang menampilkan berbagai macam lakon. Mengajarkan berbagai macam modus. Menuntut manusia untuk terus menerus kreatif dan inovatif termasuk dalam hal profesi ngemis-mengemis. Hei, kawan bahkan saya sering menemukan pengemis-pengemis dengan modus beraneka rupa.

Saya pernah didatangi seseorang yang mengaku satu daerah dengan saya. Mengalami nasib tragis, kabur dari tempat penampungan TKI, tak punya uang, tak punya kerabat dan terakhir minta ongkos pulang. Kenapa saya meyakini ini penipuan, ternyata di hari yang sama dia datang juga ke tempat teman saya dengan modus dan cara yang sama dan besok-besoknya saya sharing ke yang lain ternyata banyak yang juga mengalami penipu dengan modus seperti ini. Mengaku satu daerah asal, kehilangan dompet lah, nyasar lah, apa lah. Inti-intinya mereka-mereka ini sedang menipu rasa kasihan kita.


Dewasa ini kita sungguh dituntut untuk skeptis, tidak mudah percaya dan tidak mudah iba. 

LARI   Berlari ibarat bertanding dengan diri sendiri Akhir-akhir ini saya sering berlari. Berlari di awal pagi. Rasanya begitu b...

LARI

 Berlari ibarat bertanding dengan diri sendiri

Akhir-akhir ini saya sering berlari. Berlari di awal pagi. Rasanya begitu bersemangat. Ketika kakiku kukayuh berlari, sesuatu seakan tertinggal di belakang. Sesuatu yang selama ini memang selalu ingin kutinggalkan. aku selalu ingin mempercepat lariku, memperjauh langkahku. Meninggalkan masa laluku. Tiba-tiba saja aku ingin jadi pelari.

Dengan berlari aku tiba-tiba kembali merasa hidup. Hidup yang dulunya melambat tiba-tiba berubah, berganti ritme, semakin cepat. Mungkin dengan semakin cepat berlari saya bisa lebih cepat melupakan masa laluku. Masa-masa yang menyakitkan itu.

Saya suka ketika berlari, buliran-buliran keringat keluar melalui pori-pori setetes demi setetes membawa sesuatu dari dasar hatiku. Sesuatu yang memang sudah seharusnya kukeluarkan sejak dulu. Berlari memberiku kesempatan untuk bisa bernapas lebih panjang, bisa kembali mengatur ritme pernafasanku yang dulu begitu kacau. Itu artinya aku bisa hidup lebih lama, bisa bernafas lebih lama. Aku berharap dengan banyak berlari hormon androgen dalam tubuhku bisa tumbuh menjadi lebih baik. Saya bisa lebih bahagia.

Kenapa harus berlari. Mungkin karena aku berharap hidupku sesimpel berlari. Kita tidak membutuhkan banyak infrastruktur untuk melakukannya, yang kita butuhkan hanya keinginan berlari. Kita bisa melakukannya di mana saja dan kapan saja.

Aku menemukan banyak hal di pagi hari saat berlari. Seorang kakek mendorong kursi roda istrinya sambil terus bergumang sesuatu. Istrinya tersenyum penuh arti. Saya akan menghentikan sejenak langkahku. Berdiri diam terpaku. Menatap kehangatan mereka. Sungguh senja yang indah bagi hidup mereka.

Diperempatkan berikutnya, saya akan berpapasan seorang ibu dengan tumpukan sayuran di keranjang sepedanya. Mendorongnya dengan semangat. Entahlah kehidupan selalu sulit di cerna bagi otak kecilku ini. Selalu ada rona bahagia di wajah berpeluh itu. setiap pagi, setiap aku berpapasan dengannya di perempatan yang sama. Aku berharap hidupku seperti berlari, pada akhirnya kita bisa sampai ke tempat yang kita inginkan.

Apa yang salah menjadi seorang syi’ah, Ahmadiyah, atau Islam liberal ? Well, Keyakinan saya mengharuskan saya meyakini mereka sal...





Apa yang salah menjadi seorang syi’ah, Ahmadiyah, atau Islam liberal ?

Well, Keyakinan saya mengharuskan saya meyakini mereka salah, salah secara aqidah. Tapi saya tidak ingin membahas kenapa aqidah mereka salah, kenapa mereka sesat atau kenapa mereka menyelisihi umat Islam pada umumnya. Silakan baca sendiri fatwa-fatwa ulama tentang penyimpangan-penyimpangan mereka.

Saya hanya ingin sedikit melihat mereka secara berbeda. Melihat mereka sebagai manusia, sebagai suatu entitas yang utuh. Sebagai seorang warga negara, tetangga, keluarga, saudara, teman, atau siapa pun mereka dalam kehidupan kita.   

Tetangga saya seorang syi’ah.  Apa karena dengan ke Syi’ahannya itu saya serta merta harus memutus silaturahmi dengannya. Apa karena dengan kesesatannya itu saya kemudian harus membunuhnya, merampas hartanya, menjadikan istri dan anak-anaknya budak. Apakah semua orang syi’ah yang ada di sekitar kita harus di generalisasi,  disamakan statusnya seperti syi’ah-syi’ah di Suriah atau Iran sana.

Ah bukannya itu terlalu paradoks. Bukankah kita selama ini juga tidak rela ketika Islam di generalisasi. orang-orang menyamakan kita dengan aliran-aliran ekstremis di luar sana “ISIS” misalnya. Bukannya kita juga yang selalu sibuk berkoar-koar menanggapi ocehan-ocehan non muslim tentang tuduhan teroris yang selama ini disemakkan ke kita umat Islam pada umumnya. Kita selalu berusaha membela diri, mengeluarkan berbagai argumen untuk menyelamatkan citra kita.

Saya melihat begitu lucu  tingkah saudara-saudara saya yang membenci mereka begitu berlebihan. Mencaci maki mereka di media sosial, begitu bernafsu menyebar gambar-gambar provokatif. Mendiskreditkan the other di luar kita, memvonis sesat orang-orang yang kita anggap pendukung dan pembela mereka. Yang justru malah semakin membuat mereka tidak bersimpati pada kita.

Saya sering bingung, apa karena status mereka yang sesat itu (menurut kita) dengan serta merta menghilangkan hak-hak mereka sebagai manusia, hak mereka sebagai warga negara, hak konstitusi mereka yang telah dijamin undang-undang, atau bahkan mungkin hak mereka untuk hidup dan menikmati kehidupan.  Bukannya Islam adalah rahmatalillalamin, rahmat bagi seluruh alam, rahmat bagi kaum muslimin dan rahmat bagi mereka yang ada di luar kita. Bukankah Tuhan kita sendiri tidak melarang kita bergaul dengan umat lain selama mereka tidak memerangi kita.

Saya merasa justru selama ini kitalah yang tidak ingin menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Kita egois, menganggap rahmat itu hanya untuk diri kita sendiri. Kita akhirnya tidak bisa menerima kehadiran the other di luar kita. Kita dengan gampang memvonis, menuduh dan  menghakimi mereka.

Saya hanya berharap dunia yang kita pijak ini, dunia yang kita huni bersama ini, menjadi tempat yang lebih baik untuk hidup, untuk persahabatan, untuk kemanusiaan, untuk perdamaian umat manusia. Saya berharap kita bisa melihat segala sesuatunya secara proporsional. Saya berharap kita bisa lebih memanusiakan manusia tanpa harus melihat dari golongan mana mereka berangkat.


* “Kita” disini merujuk pada diri penulis pribadi. Penggunaan kata “kita” hanya untuk pemakaian diksi yang lebih sopan.
* Part I silahkan merujuk pada link berikut