Showing posts with label Banyuwangi. Show all posts

Gejala awal hiportemia adalah tubuh akan berusaha menghasilkan panas dengan cara menggigil, jika tidak berhasil, sirkulasi darah akan m...


Gejala awal hiportemia adalah tubuh akan berusaha menghasilkan panas dengan cara menggigil, jika tidak berhasil, sirkulasi darah akan menurun secara ekstrem metabolisme tubuh akan menjadi melambat. kau sekarat tanpa kau sadari, pada tahap akhir kamu hanya bisa bernafas tiap dua kali semenit, kamu berada dalam keadaan mati suri. Saya menggeliat kedinginan di puncak Gunung Ijen. Jaket tipisku tak mampu menghalau udara dingin yang menusuk-nusuk. Kecerobohanku berbuah penyesalan. Jaket tebal yang seharusnya kubawa serta, tertinggal di rumah hanya karena alasan fleksibilitasi. Saya memang akan langsung menuju Mataram setelah dari sini. Pertimbangan itulah membuatku harus mengemas barang seefisien dan seringkas mungkin.




Suhu dingin pegunungan ini membuatku hampir hipotermia, beruntung dipuncak saya bertemu dengan beberapa pendaki lokal yang sedang membuat api unggung. Saya dipersilahkan bergabung menghangatkan diri. Rasa-rasanya saya ingin membakar diri diatas perapian itu saking dinginnya.
Kawah ijen merupakan destinasi utama yang ingin kudatangi di Banyuwangi. Perkenalanku pertama kali dengan ijen pada akhir 2013 lalu, dalam penyebrangan lintas pulau, Banyuwangi-Bali. Saya melihat Gunung Ijen menjulang tinggi dari atas kapal penyebrangan yang menyebrangkan kami ke pulau dewata. Seseorang di  kapal penyeberangan itu bercerita, konon di puncak ijen itu ada api yang berwarna biru yang begitu indah, mitosnya api itu tidak bisa menapakkan dirinya pada sembarang orang.  Sejak hari itu saya terus menerus bermimpi untuk bisa melihat dari dekat blue fire yang konon hanya ada dua di dunia itu. Di kawah ijen dan di Islandia.

Pendakian di kawah ijen bermula di pos Paltidung,. Pintu gerbang pendakian baru dibuka pada pukul 01.00 dini hari, dan akan ditutup menjelang siang hari, lewat dari jam itu, jangan harap pengelola kawasan wisata ini akan mengijinkan kita untuk mendaki. Pendakian hari ini tidak terlalu ramai, mungkin karena bukan musim liburan. Pendaki justru di dominasi oleh wisatwan asing. Sekolompok turis dari Singapur tampak begitu bersemangat, juga sepasang manula dari Spanyol yang datang hanya berdua tampa guide. Keluarga kecil dari Jerman dengan anak lelakinya yang belum berumur lima tahun juga terlihat bersemangat. Selain wisatawan asing tempat ini juga diramaikan dengan penambang belerang dan penjajah jasa ojek troli. Kalian jangan bayangkan ojek ini sama seperti ojek-ojek yang kalian kenal pada umumnya. Ojek ini seratus persen menggunakan tenaga manusia bukan tenaga mesin. Jadi, troli yang seharusnya digunakan untuk mengangkut belerang dari puncak gunung dimodifikasi sedemikian rupa agar bisa mengangkut manusia. Satu atau dua manusia bisa diangkut sekali jalan. tarifnya tergantung jarak. Dari pos satu titik awal pendakian, tarif ditawarkan sekitar Rp800.000 untuk bolak balik perjalanan. Tarif akan terus berkurang tergantung jauh dan dekatnya puncak ijen.


Saya miris melihat adegan ini. Ini bukan jasa ojek menurutku, ini jasa perbudakan. Perbudakan dengan cara yang berbeda.  Dikotomi memang, orang-orang berduit mengeluarkan beberapa lembar rupiah untuk memudahkan menikmati tempat ini, berfoto-foto, pamer di medsos hanya untuk beberapa like dan komen di Instagram. Disisi sebaliknya, penjajah jasa ojek harus bejibaku, bermandikan keringat mengendalikan troli di jalan-jalan pendakiang yang curam, untuk beberapa lembar rupiah agar asap dapur tetap bisa mengepul, agar anak-anak mereka masih bisa tetap menikmati bangku sekolah. kehidupan selalu punya dua sisi



Untuk mencapai puncak kawah setidaknya dibutuhkan waktu normal 2 sampai 4 jam perjalanan, dengan jalur tracking menanjak tampa jeda. Jalur pendakian terbilang lebar dengan bebatuan, jalan berdebu dan pepohonan rapat khas vegetasi hutan di sepanjang jalannya.

Tantangan pertama yang kuhadapi adalah perjalanan dari tempat penginapan ke pintu gerbang Gunung Ijen, dari stasiun Karangasem kita harus berangkat dini hari. Saya memacu kendaraanku pukul 01 dini hari, menuju posko penjaga taman nasional gunung ijen. Peralanan dari stasiun karang asem ke titik awal pendakian kurang lebih satu jam lamanya. Perjalan ke pos platidung ini tidak bisa dibilang mudah. Motor matik yang kugunakan berkali kali harus ku dorong, mengingat jalan yang dilewati mendaki dan berkelok kelok.

Teman seperjalananku sudah jauh meninggalkanku. Bayangkan kau mendorong motor di pendakian dini hari ditengah hutan dan tak ada sesiapa. Bahkan sampai sekarang kalau aku mengigatnyapun membuat bulu kudukku merinding. Saya mengumpat berkali-kali dalam hati. Teman seperjalananku meninggalkanku begitu saja. Resiko backpacker sendiri kadang memang setragis ini. Kau tak boleh berharap pada siapapun, termasuk teman seperjalanan yang baru kau temui.  Satu-satunya yang bisa kau harapkan adalah dirimu sendiri. Beruntung tak lama kemudian pos platidung tampak terlihat dari kejahuan.  Orang-orang sudah sedari tadi memulai pendakian, mengingat blue fire hanya bisa dilihat pada jam-jam tertentu.

Saya berkeliling mencari teman perjalananku tadi, kutemukan dia menantiku di dekat pintu gerbang utama. Sebelum mendaki kuputuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Di kawasan ini tak susah untuk menemukan warung yang masih terbuka hingga dini hari. Saya menikmati segelas pop mie di warung persis didepan pintu gerbang utama, juga segelas kopi jahe hangat dan membeli sebotol besar air minum untuk kubawa serta ke puncak.

Setelah merasa siap, kami mulai mendaki dari pos Platidung, tak lupa membayar biaya registrasi terlebih dahulu. Sepanjang pengalaman saya, 30 menit pertama pendakian adalah waktu-waktu kritis, tubuh kita mengalami perubahan metabolism secara drastis. Suhu dingin pegunungan turut mempengaruhi ketahanan tubuh kita. Itulah mengapa pendakian ke gunung itu bukan perkara sederhana, bukan perkara kau bisa memenuhi feed instagrammu dengan berbagai foto kece. Pendakian ke gunung itu bisa kau bayar dengan nyawamu. Saya terbayang-bayang peristiwa dua tahun lalu, sesorang pendaki asal Bali meninggal di Puncak Ijen. Di usianya yang masih sangat belia.
Apalagi persiapanku mendaki tidak cukup baik, mengingat perjalanan ini begitu tiba-tiba. Berkali-kali aku harus berhenti menenangkan diri, membiarkan tubuhku bisa beradaptasi dengan baik. Teman seperjalananku entah dimana. Nyatanya kami memang tidak cukup akrab karena baru saja dipertemukan sore tadi. Mungkin saya meninggalkannya terlalu jauh.

Pendakian menuju puncak kawah ijen terus menerus menanjak, beruntung di pertangahan jalan kita bisa berehat sejenak. Terdapat warung yang menyediakan anekan minuman hangat dan mie instan yang bisa kembali menyuplai tenaga. Juga terdapat toilet dengan fasilitasnya yang lumayan memadai. Saya memutuskan kembali berhenti sejenak, menikmati segelas wedan jahe hangat. Kembali mengumpulkan tenaga dan semangat.  Beberapa tahun yang lalu saya telah memutuskan untuk tidak lagi melakukan pendakian-pendakian semacam ini namun kerinduanku dan rasa penasarannya dengan blue fire itu membuatku melanggar janjiku. Dengan kondisi yang serba terbatas ini, saya memaksakan diri menggapai puncak ijen

Setiap orang punya alasan masing-masing, kenapa harus mendaki gunung ? atau kenapa memilih bepergian sendiri atau naik gunung sendiri. Aku juga menyimpan alasanku sendiri. Perjalan-perjalanan sendiri seperti ini semacam endropin tambahan buat tubuhku. Memberiku jeda sejenak dari rutinitas kerjaan atau beban masalah yang kadang tak ada habisnya. Perjalanan sendiri memberimu banyak space untuk merenung. Memaknai ulang apa-apa yang telah terjadi dengan hidupmu.

Saya tak ditakdirkan bertemu dengan api abadi itu, si blue fire yang mengagumkan. Api Biru yang hanya ada dua di dunia. Kecewa. Pendakian selalu mengajarkan banyak hal, termasuk kegagalan. Nyatanya tidak semua hal yang kita inginkan bisa kita dapatkan, seberapa kuat pun kita terus menerus mencoba. Manusia selalu dibatasi garis batas. Orang-orang menyebutnya “takdir”. Mungkin memang banyak hal dalam hidup ini harus berlalu begitu saja. Mungkin memang kita harus lebih banyak belajar untuk kecewa agar kita bisa berdamai dengan banyak hal yang tidak sejalan dengan hati kita.
Setelah pendakian ini, saya merasa tak lagi memiliki minat untuk mendaki ke gunung manapun di Indonesia, tidak Semeru yang puncaknya dulu menolakku untuk kegapai atau  Rinjani yang telah menolakku dua kali, bahkan ketika saya telah berdiri didepan pintu gerbangnya.

Perjalananku berikutnya mungkin akan ku fokuskan pada tempat-tempat menarik di seluruh wilayah Indonesia, saya hanya akan berkeliling dari provinsi ke provinsi, kota ke kota bahkan desa ke desa, saya berjanji akan menginjakkan kaki di lebih banyak tempat di negeri ini. Melihat berbagai macam hal yang sebelumnya belum pernah kulihat, tapi maaf untuk mendaki gunung, sudah kuucapkan terimakasih dan Assalamualaikum.   





Bersambung

Jalan-jalan tidak perlu harus spektakuler. cukup pergi ke tempat-tempat yang asing atau melakukan sesuatu yang baru Karena pendakia...


Jalan-jalan tidak perlu harus spektakuler. cukup pergi ke tempat-tempat yang asing atau melakukan sesuatu yang baru

Karena pendakian ke Gunung Ijen baru bisa dimulai pada tengah malam buta maka praktis pagi ini saya belum bisa menuju kawasan taman nasional gunung ijen. Saya memutuskan mengunjjungi Taman Nasional Baluran dulu. Setelah bersih-bersih, sarapan dan istirahat sebentar saya memutuskan untuk mengunjungi Baluran seorang diri. Berbekal google maps pada aplikasi smarphoneku dan motor rentalan yang juga disediakan di penginapan tempatku menginap, saya menyusuri jalan-jalan sepi di Banyuwangi.


Taman Nasional Baluran sendiri merupakan sebuah kawasan konservasi hutan lindung terbesar ke sekian yang dimiliki Indoneisia. Taman Nasional ini  terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo dan Wongsorejo, Banyuwangi (sebelah utara), Jawa TimurIndonesia. Nama dari Taman Nasional ini diambil dari nama gunung yang berada di daerah ini, yaitu Gunung Baluran. Gerbang untuk masuk ke Taman Nasional Baluran berada di 7°55'17.76"S dan 114°23'15.27"E. Taman nasional ini terdiri dari tipe vegetasi sabana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun. Tipe vegetasi sabana mendominasi kawasan Taman Nasional Baluran yakni sekitar 40 persen dari total luas lahan. (Sumber: Wikipedia)

Sebelum sampai ke Taman Nasiunal Baluran, saya sempat tersesat sejauh 15 kilometer. Saya terhipnotis hutan-hutan jati yang berjejer rapi di sepanjan jalan menuju Situbondo. Keindahan hutan-hutan jati yang mengering ini membuatku tak sadar. Tampa kusadari saya sudah berkendara terlalu jauh meninggalkan pintu gerbang masuk ke Baluran. Beruntung saat itu mata saya ngantuk sekali, saya memutuskan menepi di warung kopi pinggir jalan, menikmati segelas kopi hitam beraroma nikmat. Ibu pemilik warung kopi menertawakanku. Saya terlalu jauh tersesatnya katatanya. Tersesat seperti ini justru kadang patut disyukuri. Saya tidak mungkin menemukan pemandangan sebegini indahnya andai kata tidak tersesat tadi. Disepanjang jalan berjejer pohon-pohon jati yang hampir mengering tak berdaun. Rumput dan ilalang berwarna coklat keemasan, juga sisa bekas hutan terbakar menyisakan pepohonan yang hangus dan rerumputan yang kini berwarna arang. Tempat ini terlihat aneh namun eksotis, sedikit kelam namun mempesona. Saya berkali-kali harus berhenti hanya untuk mengangumi keindahan lukisan alam didepanku itu. Sayangnya tak ada seseorang yang bisa kumintai tolong untuk mendokumentasikanku di tempat ini. Tempat ini begitu sepi, kendaraan yang melintas pun hanya satu dua. Resiko solo backpacker seperti saya ini pasti akan sangat minim dokumentasi pribadi.

Setelah memutar haluan, saya akhirnya menemukan pintu masuk taman nasional Baluran. Tak banyak yang berkunjung hari ini, mungkin karena memang bukan akhir peken dan cuaca juga sedang panas-panasnya. Tiket masuk Baluran terbilang murah hanya beberapa puluh ribu rupiah saja, dan kita bisa menikmati banyak hal di dalam taman nasional itu.


Jalan menuju posko induk berbatu dan berdebu. Disepanjang jalan pohon-pohon mengering disana sini. Daun-daunnya berguguran rontok tertelan hawa panas yang menjadi-jadi. Tempat ini terlihat begitu rapuh. Kering dan rawan terbakar. Ayam-ayam hutan berlarian di sepanjang areal savanna. Membuatku harus berhenti berkali-kali mengambil gambar sebisanya.  Setelah jalan berdebu dengan pepohonan mengeringnya kita juga akan melewati kawasan hutan musiman “Evergreen”. Berbanding terbalik dengan kondisi hutan sebelmunya, tempat ini justru berwarnah hijau cerah. Dengan dedaunan dan pepohonan yang rapat disepanjang jalan. kupu-kupu beraneka warna beterbangan juga beberapa berkelompok di beberapa titik genangan air disepanjang jalan. Konon hutan ini berada diwilayah cekungan dimana terdapat sungai bawah tanan yang sellau menyupai air di pepohonan sehingga tempat ini akan selalu hijau sepanjang tahun.


Ada beberapa Julmah titik wisata yang bisa dinikmati di taman nasional ini, namun diantara bagian itu, savanna bekol adalah bagian yang paling indah dan memukau. Saya betul-betul minikmati pesona padang savana bekol  ini. Sejauh mata memandang, padang savana membentang luas. Saya seperti menyaksikan Serengeti secara langsung. tempat yang selama ini hanya bisa kusaksikan dilayar kaca dalam program Natgeo kini betul-betul tampak nyata di depanku. Ayam-ayam hutan berlariang kesana sini. Rusa-rusa berkelompok maupun sendirian juga sesekali memotong jalan. Segerombolan monyet-monyet kecil menguasai oase ditengah padang rumput itu. Juga seekor kerbau liar seukuran gajah tampak begitu perkasa berkubang dibawa genangan air yang tak jauh dari jalan utama. Membuatku harus memperlambat laju motorku dan mengabadikannya satu dua gambar melalu kamera kecil yang kubawa serta ini.  Sayangnya saya tak berhasil menemukan “Macan Tutul Jawa” hewan buas yang jadi pemangsa utama selain manusia di Taman Nasional ini.


Tempat ini mengingatkanku pada filem lawas "The Gods Must Be Crazy" filem lucu yang mengambil setting di padang Savana Bushmen di pedalaman Gurun Kalahari Afrika Selatan. Film ini bercerita tentang Xixo seseorang dari suku tradisional di Afrika menemukan benda modern berupa botol Coca-cola yang terjatuh dari sebuah pesawat

Alkisah, botol cocacola yaang dianggap kiriman dari langit tadinya  menjadi sebuah berkah, awalnya, suku Bushmen berpikir bahwa botol kaca tersebut merupakan pemberian para dewa dan menggunakannya untuk berbagai keperluan. Sayangnya, hanya karena satu botol kaca yang diberikan, suku Bushmen sering bertengkar dan bahkan melakukan kekerasan demi mendapatkan botol itu.

Xi yang menyadari bahwa benda tersebut lebih banyak membawa dampak negatif memutuskan untuk segera membawa botol tersebut ke “ujung Bumi”. Petualangan Xi demi membebaskan kaumnya dari “kutukan” botol pun dimulai. Bayangkan jika hanya satu buah botol bisa merusak tatanan dan keharmonisan sebuah suku dan alam , bagaimana jika berton-ton sampah yang secara sadar maupun tidak sadar kita buang ke alam. Berapa besar dampak kerusakan ekosistem yang dihasilkan dari ketololan kita.

Setelah padang savanna, juga ada posko induk atau gardu pandang. Namun sayangnya tempat ini sedang dalam masa renovasi, wisatawan tidak diperkenangkan untuk memanjat gardu pandang ini. Masih dilokasi yang sama juga terdapat mushollah dan  warung sederhana yang menyajikan es kelapa yang terasa begitu segar setelah terbakar hawa panas. Selain itu masih di kawasan yang sama juga terdapat beberapa vila yang dikelola oleh taman nasional baluran yang biasa disewakan kepada wisatawan bagi yang ingin merasakan sensasi bermalam di alam liar Baluran.


Tak jauh dari padang savanna bekol juga terdapat kawasan wisata pantai Bama dengan pasir putihnya yang indah jaraknya kurang lebih 3 km lagi. Selain itu masih dikawasan yang sama juga tedapat hutan Magrove dan dermaga mangrove yang tenang dan romantis. Tempat ini juga merupakan habitat asli monyet berekor panjang. Monyet disini terkenal usil dan jahil suka mencuri dan merampas makanan para pengunjung. Bebeapa kali tas saya hampir dijarahnya, beruntung mas mas penjaga pantai sigap mengamankan barang-barang saya.  Pantai Bama juga di lengkapi berbagai macam fasilitas yang membuat nyaman pengunjung, terdapat toilet bersih dan musolah juga beberapa tempat peristirahatan dan kantin yang juga sama bersihnya. Selain itu wisata bawah air di pantai ini juga terkenal bagus. Waktu terbaik untuk snorkeling disini


*Bersambung: Banyuwangi Part III

Bertualang lagi pergi ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjung melihat sesuatu yang belum pernah ditemui aku tak sabar bertual...


Bertualang lagi
pergi ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjung
melihat sesuatu yang belum pernah ditemui
aku tak sabar bertualang lagi

bertualang lagi
seperti kaum hippie yang hidup dijalanan
bersama teman-teman terbaikmu
dunia selalu membuka jalannya untuk kami
aku tak sabar bertualang lagi

Dua Hari di Banyuwangi
16 September 2018. Dini hari pukul 00.30. Stasiun Surabaya Gubeng ke Karangasem Banyuwangi.  Waktu tempuh diperkirakan 6 jam.  Kereta ini akan tiba di satisun tujuan pada pukul 6.30 pagi.  Satu-satunya yang menemaniku hanya novel setebal bantal.  Yang jika bosan membolak baliknya memang kujadikan bantal penjanggal leher. Saya dalam perjalanan menuju Banyuwangi, sendirian.


Sorang kawan lama pernah bertanya, “Bagaimana rasanya bepergian sendiri”. Saya tersenyum, menjawabnya. Sejatinya kita tidak pernah benar-benar sendiri. Berkali-kali saya melalukakan solo backpacker berkali-kali pula saya dipungut oleh backpacker lain. Kita akhirnya tidak pernah benar-benar sendiri. Akhir tahun 2016 yang lalu saya solo backpacker ke Labuan bajo selama Sembilan hari lamanya. Diperjalanan saya justru dipungut oleh 3 orang backpacker dari Kalimantan dan membuat peralanan saya jauh lebih menyenangkan. Saya pernah dipungut oleh backpacker asal Gorontalo, pernah dipungut oleh backpaker asal Medan atau entah dipungut oleh orang  yang entah dari mana datangnya. Mungkin didahi saya orang-orang melihat tulisan tolong selamatkan saya, tolong bantu saya, tolong saya tidak tahu jalan. Maka dari itu orang-orang berkenang menolong saya. Intinya perjalan sendiri tidak berarti kau harus melakukan segalanya sendirian. Perjalanan kali ini pun saya tidak benar-benar sendiri. Saya dipungut oleh backpacker dari Sumatera. Secara tak sengaja kami dipertemukan di Taman Nasional Balurang kami akhirnya bersepakat untuk bersama-sama menuju kawah ijen di malam harinya.

Kenapa harus bertualang sendiri ?. Bagiku dalam sebuah perjalanan dimana tak ada seorang pun yang mengenaliku secara personal, saya justru merasa lebih bebas. Bebas mengekspresikan diri, lebih leluasa menjadi diriku sendiri. saya pikir, perjalanan seperti itu memang sangat perlu dilakukan. bayangkan hampir setiap hari kita terbatasi oleh batas-batas portabel yang dibuat manusia. Batasan-batasan sosial yang memaksa kita untuk harus menghormatinya. tanpa protes. Perjalanan “sendiri” membuka semua selubung itu.  Kita tak harus banyak bertoleransi dengan berbagai macam batasa-batasan yang dibuat orang lain atau lingkungan kita.

Saya sangat jarang bepergian dengan rombongan yang banyak, batas toleransi saya hanya empat orang. batas ideal hanya dua orang, dan sangat menyenangkan bila bisa bertualang sendiri. Bepergian rombongan terlalu menguras tenaga, kita akan merasa capek harus banyak bertoleransi, harus menyamakan persepsi dan itenary, harus memaklumi macam-macam hal yang bisa jadi justru merugikan saya sendiri. Kalau masalah teman, saya yakin kita bisa bertemu banyak manusia-manusia luar biasa di jalan. Merencanakan hal-hal bego bareng, memulai hubungan baru atau siapa tahu bagi yang jomblo kronis bisa ketemu jodoh di jalan :-). Perjalanan sendiri memang menyenangkan.  Adrenalinku seperti terpacu lebih cepat.  Hormon endorpin pemicu rasa bahagia seperti membuncah.   Perasaan bebas sekaligus penasaran bercampur baur jadi satu.  Aku menuju tempat yang asing.

Saya tiba di Banyuwangi  lebih lambat satu jam dari waktu perkiraan tiba. Keluar dari stasiun karang asem saya kebingungan tak tahu harus kemana. Beruntung kemudahan akses internet sekarang sangat membantu pelancong dadakan minim persiapan seperti saya ini. Dari penelusuran singkat mbah google, saya akhirnya memutuskan untuk memilih basecamp di staisun karang asem ini. Mengingat posisi staisun yang sangat strategis untuk menjangkau semua dsetinasi wisata yang menarik di Banyuwangi ini. Saya memilih penginapan persis didepan pintu keluar stasiun karang asem “Rumah Singgah Banyuwangi”. Tariff permalam berkisar 50 ribu sampai 100 ribu rupiah. Dengan tipe kamar dormitory dengan beberapa orang dalam satu kamarnya, atau privasi. Saya sendiri memilih kamar privasi dengan tariff 100 ribu permalamnya, kamar sendiri yang dilengkapi dengan kipas angin dan kamar mandi dalam. Dengan pertimbangan barang-barangku akan lebih aman jika kutinggal berpergian disbanding jika harus berbagi kamar dengan orang asin. Tidak banyak pengunjung yang menginap di penginapan ini, hanya dua orang yang berasal dari Belgia, transit untuk sementara waktu menunggu kereta menuju Bromo. Jauh-jauh mereka datang dari Belgia hanya untuk mengunjungi Bali dan Bromo katanya. Mereka sudah meghabiskan dua Bulan di Bali dan berencana masih akan tinggal di Indonesia untuk dua atau tiga bulan kedepan.

Saya sempat merasa berbangga dan sekaligus miris, mereka datang dari negeri yang jauh untuk menikmati negeri kita ini sementara orang-orang Indoneisa sendiri berlomba-lomba memposting foto jalan-jalannya ke luar negeri. Bukannya iri tapi saya merasa negara kita memiliki banyak hal yang lebih layak dan lebih cantik untuk dikunjungi, memiliki banyak tempat-tempat yang tak akan habis untuk di jelajahi. Itulah mengapa saya putuskan untuk menikmati Indonesiaku, memuaskan diri untuk berkeliling sebelum melirik-lirik negeri tetangga. Sayangnya beberapa objek wisata di Indonesia justru terlalu mahal untuk dijangkau dibanding ke luar negeri sendiri. Raja Ampat misalnya, sekali ke Raja Ampat bisa sebanding perjalanan dua kali bolak balik ke Malaysia atau Thailand.

*bersambung