Kau pernah merasa bosan pada suatu keadaan ? "Agustus Minggu Pertama" Berada diatas ketinggian berpuluh-puluh ribu mill...

Lelaki Yang Tertawan Masa Lalu: Bandara

@asdar_munandar

Kau pernah merasa bosan pada suatu keadaan ?

"Agustus Minggu Pertama"
Berada diatas ketinggian berpuluh-puluh ribu mill diatas laut berjam-jam lamanya pasti akan sangat membosankan. Kau hanya bisa menggerutui detik demi detik waktu yang terlewat. Tak ada yang bisa kau lakukan selain menyerahkan nasibmu pada pilot yang tidak kau kenali itu. Aku sangat benci ketergantungan seperti ini, ketidakberdayaan atas takdir yang aku tak punya daya mengupayakan apapun selain berpasrah. Aku benci berpasrah, menyerah pada ketidak berdayaanku. Menjadi lemah.  Namun pada kenyataannya ada banyak hal yang memang tidak bisa kita paksakan. Manusia selalu dibatasi garis takdir, ada batasan-batasan tak kasat mata yang memang tak bisa kita seberangi seberapa kuat pun kita terus menerus mencoba.



Hiruk pikuk bandara seperti tak pernah berakhir, tak ada jeda. Dari pagi sampai pagi lagi. Orang-orang berlalu lalang entah kemana, mereka bepergian dengan berbagai alasan. Cinta, keluarga, masa depan, rasa sakit, rindu, atau bahkan ada banyak yang bepergian tampa alasan. Mereka hanya ingin pergi, menjeda sejenak dari rutinitas dunianya yang mungkin semakin menjenuhkan. Menggendong ransel berkilo-kilo, menuju suatu tempat yang belum pernah mereka lihat. Traveler begitu orang-orang menyebutnya. Dulu saya pernah menjadi bagian dari orang-orang itu, bepergian tampa alasan, pergi hanya karena ingin pergi.  Tiba-tiba saja berada di spektrum lain dunia ini, berada di suatu tempat antah berantah, hilang di suatu tempat yang asing dan itu menyenangkan.

Bagian terbaik dari suatu perjalanan bagiku adalah menunggu di bandara. Menunggu pesawat yang akan membawamu pergi. Saya betah berlama-lama di bandara, menyaksikan jutaan manusia berlalu lalang itu, kau bisa membedakan tujuan bepergian mereka dari cara berpakaian atau tentengan yang mereka bawa. Bandara memang menceritakan banyak spektrum kehidupan, ada banyak hal yang terjadi di bandara. Ada banyak cerita yang bisa dikisahkan.

Pramugari-pramugari berdandan rapi, perempuan-perempuan muda bergaya glamor, celana setengah jengkal atau dengan rok panjang dengan sobekan yang tak kalah panjangnya, Makeup-makeup menor dengan koper-koper yang terlihat mewah. Orang-orang di bandaran selalu ingin terlihat lebih kaya bahkan paramu saji restoran atau toko oleh-oleh di ruang tunggu juga terlihat lebih berkelas, satu-satunya yang selalu tampak sederhana dan bersahaja hanyalah tukang bersih-bersih toilet.

Aku pernah bertemu seseorang di bandara, kami sama-sama menanti perjalanan selanjutnya, sama-sama harus menunggu berjam-jam lamanya. Bedanya dia akan ke barat dan saya akan ke timur. Secara tak sengaja kami duduk di meja yang sama di sebuah kafe pojok di terminal keberangkatan internasional. Kami bertukar cerita, tempat-tempat menarik yang masing-masing akan kami kunjungi. Uniknya dia pernah mengunjungi tempat yang akan kukunjungi dan aku pernah mengunjungi tempat yang dia kunjungi. Lucunya, selama berjam-jam itu kita tidak saling memperkenalkan diri, tidak bertukar nomor hape bahkan tidak saling follow di Instagram.  Aku rasa pertemuan-pertemuan sepintas seperti itu hanya suatu yang kontemplatif, suatu keadaan yang membiarkan kita hadir dan tersingkir dalam satu wilayah waktu seseorang. Tak lagi ada pertemuan-pertemuan berikutnya. namun pertemuan singkat itu meninggalkan sedikit kenangan manis, yang entah kenapa kadang saya berharap momen itu bisa terulang atau saya berharap dalam satu penerbangan tiba-tiba kita kembali dipertemukan. Lucu, memang garis takdir mempertemukan manusia lalu mempermainkannya.  


0 komentar: