Showing posts with label Cerpen. Show all posts

  Cries in the Drizzle by Yu Hua     Paperback, 312 pages Published November 18th 2020 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1993) Orig...

 

Cries in the Drizzle by Yu Hua

 

 

Paperback, 312 pages

Published November 18th 2020 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1993)

Original Title: 细雨中呼

ISBN13: 9786020648262

Edition Language: Indonesian

Setting China

 

 

 Kemiskinan yang Turun Temurun


 Yu Hua selalu mampu menggambarkan ironi dengan baik. Spesialisasinya mungkin memang seperti itu.  Pada novel-novel sebelumnya juga seperti itu, To live atau Chronicle of a Blood Merchant misalnya. Sungguh menarik bagaimana dia menceritakan penderitaan, kesedihan, kemiskinan, kemalangan, kesialan, kematian bahkan kenangan dengan bahasa yang begitu sederhana namun sangat menyakitkan.


Perhatikan bagaimana dia menggambarkan tentang kenangan dalam bukunya kali ini:

“Gambaran Kabur muncul di hadapanku, dan aku seakan bisa melihat gerakan waktu. Dalam bayanganku waktu menyerupai desiran kelabu transfaran, dan segala kejadian mendapatkan tempat di dalam bentangan gelapnya. Kehidupan kita, bagaimanapun lebih mengakar ke waktu daripada tempat, Ladang, jalan sungai, rumah-semua teman kita, yang memiliki tempatnya masing-masing di ranah waktu. Waktu mendorong kita maju atau mundur, dan mengubah semua aspek kita’’


Saya benar-benar menyukai bagaimana Yu hua menyuguhkan konsep dan gagasan tentang kenangan begitu sederhana namun berkesan. Kenangan seperti memiliki dimensi sendiri dan beberapa potongan kehidupan kita tertinggal disana. Manusia tidak pernah bisa lari dari masa lalunya seberapa kuat pun mereka mencoba. Kenangan ibarat sebuah dunia multiverse dimana kehidupan kita yang lain hidup disana. Begitu kira-kira Yu Hua menggambarkan.


Gambarannya tentang kematian tak kalah menyedihkannya. Yu Hua menuliskan bagaimana Su Gualing memaknai kematian adiknya dengan bahasa sederhana namun menyakitkan’


“ketika aku menelusuri jalan panjang kenangan dan melihat Sun Guangming sekali lagi, yang ditinggalkan ketika itu bukan rumah: dia dengan semberono pergi meninggalkan waktu. Begitu dia kehilangan keterikatan dengan waktu, dia menjadi tetap, abadi, sementara kami terus terbawa maju oleh momentumnya. Yang dilihat Sung Guangming adalah waktu yang merenggut orang-orang dan pemandangan disekelilingnya, dan yang kulihat adalah kebenaran yang lain: setelah dikuburkan, jasad akan terbaring diam selamanya, sementara para penguburnya akan melanjutkan kesibukan mereka. Dalam kesunyian maut, kita yang masih berkeliaran bisa melihat pesan yang dikirimkan oleh waktu”


Saya membaca kalimat ini dengan perasaan hampa. Mungkin seperti Sun Gualing saat berjalan kembali ke gerbang selatan menelusuri jejak-jejak masa lalunya yang menyakitkan. Meski novel ini tidak seperti dua novel Yu Hua lainnya yang begitu booming, namun menurutku Novel ini tidak menghilangkan citra Yu Hua sang peramu ironi dan penderitaan. Novel-novelnya memang terkenal seperti itu. penuh duka lara dan nestapa. Bahkan di Criez in The Drizzle penderitaan digambarkan turun temurun dari generasi kakek buyutnya sampai pada si penutur dalam novel ini - Sun Gualing.


Satu-satunya yang tak kusukai dari novel ini adalah plotnya yang loncat ke mana-mana. Tidak ada urutan yang jelas antar setiap peristiwanya. Tiba-tiba kita di masa Sun Gualing dewasa dan lembar berikutnya kita bisa terlempar jauh kebelakang. Mungkin karena novel ini memang di gambarkan dari sudut pandang Sung Gualing dalam melihat dinamika sosial di masyarakat di masa itu. Dia kemudian menceritakan bagaimana kejadian-kejadian  yang bersinggungan dengan dirinya dan orang-orang disekitarnya. Tidak runut tapi benang merah peristiwa demi peristiwa tetap terhubung.


Selain itu saya kehilangan taste Agustinus Wibowo dalam novel ini, dua novelnya yang lain memang diterjemahkan dengan sangat baik oleh AW namun di novel ini penerjemahnya berbeda. Saya benar-benar kehilangan cara bertutur AW dalam menerjemahkan karya-karya Yu Hua. Mungkin karena AW memiliki kesamaan etnis dengan Yu Hua yang membuatnya begitu nyaman membahasakannya kembali dalam kata demi kata dalam bahasa Indonesia.


 Middle child syndrom; Ironi Tentang Anak Tengah


Hal menarik lain dari buku ini adalah karakter tokoh utamanya “Sun Gualing” sang anak tengah yang tak dianggap. Mitos yang berkembang di masyarakat sejauh ini mungkin memang seperti itu. Anak tengah selalu dianggap tak pernah ada. Diabaikan, tidak mendapatkan cukup porsi perhatian dan prioritas dalam keluarga.


Dalam kaca mata pribadi saya yang terlahir sebagai anak sulung, Sung Gualing ini hanya menderita middle child syndrome. Middle child syndrom atau sindrom anak tengah adalah keyakinan bahwa anak tengah dikucilkan atau bahkan diabaikan karena urutan kelahirannya. Menurut banyak orang, beberapa anak mungkin memiliki kepribadian dan karakteristik hubungan tertentu sebagai akibat menjadi anak tengah.


Middle Child Syndrome biasanya muncul karena anak tengah kerap kali tidak diprioritaskan seperti kakaknya atau dimanja seperti adiknya. Alhasil ini yang membuat mereka merasa dikucilkan atau diabaikan. Anak tengah mungkin merasa bahwa tidak ada yang mengerti atau mendengarkan apa yang mereka katakan. Ia juga kerap iri karena kakaknya bisa melakukan hal menyenangkan lebih dulu, sementara semua perhatian di rumah terfokus pada adiknya yang merupakan anak bungsu.


Middle child syndrom inilah yang kemudian membentuk karakter utama Sun Gualing. Pada dasarnya saya sendiri tidak melihat dari sudut mana Sung Gualing ini begitu merasa di abaikan oleh keluarganya. Satu-satunya alasan kuat yang menjadi awal semua pengabaian itu karena Sun Gualing sendiri pada umur enam tahun dia dititipkan kepada keluarga lain yang lebih mapan, dan baru pulang ke rumah orangtuanya enam tahun kemudian karena orang tua angkatnya meninggal. Saya rasa Sun Kuwangtsai ayah dari tokoh utama kita ini bukan tidak menyayangi putra keduanya, melainkan karena kondisi sosialnya saat itu yang dibekap kemiskinan dengan tiga putra yang lahir dengan jarak waktu yang tidak terlalu berjahuaan. Pilihan terbaik yang memang harus di ambil ayahnya adalah menyerahkan putranya ke keluarga yang dianggap bisa memberi masa depan yang lebih baik.


 Nah, kenapa harus anak kedua ?,secara logika tidak ada orang tua yang ingin dipisahkan dengan anak-anaknya, namun dalam kondisi tertentu beberapa pilihan berat memang harus diambil demi kebaikan bersama. Pilihan untuk menyerahkan putera keduanya mungkin dilatari karena anak pertamanya saat itu sudah sedikit lebih dewasa dan lebih bisa membantu permasalahan ekonomi keluarga sementara anak bungsunya masih menyusu jadi pilihan terbaik memang adalah putera keduanya Sung Gualing.


 Penggambaran karakter tokoh utama dalam novel ini sungguh menarik. Didekap derita kurangnya kasih sayangnya dari keluarga, Sun Guanling kemudian mencari perasaan diterima itu di luar sana.  Jalinan rumit persahabatannya dengan beberapa tokoh yang dibangun dalam karakter ini bukannya berakhir bahagia malah berujung nestapa tiada akhir. Benar-benar sungguh novel yang penuh dengan balutan derita.  


 

Tentang Penulis: Yu Hua


Yu Hua (Cina sederhana: 余华 ; Cina tradisional: 余華 ; pinyin: Yú Huá ) adalah seorang penulis Cina yang lahir 3 April 1960 di Hangzhou, provinsi Zhejian. Dia lulus SMA pada masa revolusi kebudayaan dan kemudian bekerja sebagai dokter gigi. Yu Hua telah menerbitkan empat novel, enam kumpulan cerita, dan tiga kumpulan esai. Meski buku pertamanya sempat dilarang terbit di Tiongkok karena terkesan begitu kritis dan satir pada pemerintahan komunis namun tak menyurutkannya untuk menelurkan karya sastra yangluar biasa lainnya. Karyanya telah diterjemahkan lebih 20 bahasa sepererti Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Spanyol, Jepang, Korea dan tentunya Indonesia. Pada tahun 2002 Yu Hua menjadi penulis Tiongkok pertama yang memenangkan Penghargaan Yayasan James Joyce yang bergengsi. Novelnya To Live dianugerahi oleh Premio Grinzane Cavour Italia pada tahun 1998. Selain itu To Live dan Chronicle of a Blood Merchant dinobatkan sebagai dua dari sepuluh buku paling berpengaruh dalam dekade terakhir di Tiongkok pada 1990-an oleh Wenhui Bao, surat kabar terbesar di Shanghai. Saat ini Yu Hua tinggal di Beijing. 


  Judul: The Song of Achilles Penulis: Madeline Miller Penerbit: Ecco Tahun cetakan: 2012 Jenis: ebook ISBN: 9780062060631  Hector membunuh ...

 


Judul: The Song of Achilles

Penulis: Madeline Miller

Penerbit: Ecco

Tahun cetakan: 2012

Jenis: ebook

ISBN: 9780062060631


 Hector membunuh Patroclus, sahabat Achilles. Orang yang paling dia sayangi. Sahabat terbaiknya. Ramalan itu akhirnya akan mewujud, bahwa Hector akan mati ditangan Achilles. Begitu pun Achiles, manusia setengah dewa itu juga akan berakhir di medan peran Troy, menjadi sebuah legenda yang dikenang manusia beratus-ratus tahun kemudian, Achilles sosok pahlawan besar Yunani, sang penakluk Troy.


Novel ini sangat menarik namun tragis. Endingnya sudah bisa ditebak di separuh halaman awal dari buku ini, meski demikian fragmen-fragmen yang begitu mengejutkan pun masih bisa kita jumpai di setiap lembarnya. Novel ini benar-benar mengingatkanku pada buku bergendre sama namun versi lokal “Raden Mandasia si Pencuri daging sapi” bedanya Sungu lembu pemeran kedua yang menarasikan novel tersebut, sahabat dekat Raden Mandasia tidak meninggal dengan tragis seperti Patroclus. Novel ini pun di narasikan oleh pemeran kedua Petroclus, bukan dari sudut padang Achilles sang legenda dan tokoh utama buku ini.


Ketertarikanku pada buku ini karena mengambil latar belakang kisah perang Troya yang begitu melegenda. Kisah perang Troya ini pernah di filmkan pada tahun 2004 silam  yang dipernakan oleh Brad Pitt dan menjadi salah satu film terlaris di masanya. Film ini pun menjadi salah satu nominasi untuk mendapatkan penghargaan piala Oscar. Bedanya pada film tersebut mengambil sudut pandang para kesatria Troy namun dalam novel ini justru sebaliknya, sudut pandang prajurit Yunani penyerang Troy yang akhirnya memenangkan perang besar tersebut yang diberi porsi lebih dalam.


Buku ini menurutku sangat bagus untuk kelas pengembangan novel klasik. Madeline Miller  novelis wanita asal Boston berhasil melihat cela lain yang unik yang kemudian dia kembangkan menjadi sebuah kisah yang begitu epic. Madeline Miller diketahui menghabiskan sepuluh tahun lamanya untuk menulis The Song of Achilles. Novel The Song of Achilles merupakan karya pertama, yang resmi dirilis pada 2012. Tidak heran jika dalam novel ini konon  bukan hanya membingkai cerita yang menakjubkan, tetapi juga menyelipkan potongan sejarah yang akurat.


“What is admired in one generation is abhorred in another. We cannot say who will survive the holocaust of memory… We are men only, a brief flare of the torch.”

“I could recognize him by touch alone, by smell; I would know him blind, by the way his breaths came and his feet struck the earth. I would know him in death, at the end of the world.” 

“And perhaps it is the greater grief, after all, to be left on earth when another is gone.”

– Madeline Miller, “The Song of Achilles”

  Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi  Penulis: Yusi Avianto Pareanom  Penerbit: Banana Publisher, 2016 ISBN: 9789791079525 “Tak ada senja...

 

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi 
Penulis: Yusi Avianto Pareanom 
Penerbit: Banana Publisher, 2016
ISBN: 9789791079525

“Tak ada senjata yang lebih tajam ketimbang akal, tak ada perisai lebih ampuh ketimbang nyali, dan tak ada siasat yang lebih unggul ketimbang hati.”

Yusi Avianto Pareanom, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi


Seseorang pernah bertanya, menurutmu mana yang kau sukai Novel Kura-kura berjanggut" atau Novel Raden Mandasia. saat itu aku belum bisa menjawabnya, karena Novel ini belum rampung kubaca. Menurut orang-orang, kalau kau menyukai Novel KKB kau juga pasti akan menyukai novel ini.


Bener saja, novel ini membuatku jatuh suka, petualangan Raden Mandasia yang dituturkan secara apik oleh teman seperjalannya Sungu Lembu sungguh memukau. saya terhipnitos kisah-kisah menakjubkan di dalamnya. Adalah Raden Mandasia pangeran kerajaan Gilingwessi yang berusaha menemukan cara agar peperangan antara dua kerajaan besar tidak terjadi. Dalam perjalanannya mencegah perang besar itu, dia bertemu Sungu Lembu yang justru memiliki niat yang berbeda. tapi entah karena garis takdirnya yang unik mereka akhirnya bahu membahu untuk menuntaskan misi pribadi yang masing-masing mereka embang.


Meski diberi judul Raden Mandasia, novel ini justru dituturkan oleh "Sungu Lembu" sebagai sudut pandang orang pertama. Raden Mandasia justru tidak terlalu mengambil banyak porsi, tapi memang semua kisah di sini seakan-akan terpaut oleh kisah kehidupan Raden Mandasia dan keluarga kerajaannya


Meski demikian, menurutku novel ini masih setingkat dibawa KKB, beberapa adegan di novel ini di sadur dari kisah dan dongen-dongen yang sudah cukup mashur di masyarakat kita. juga beberapa adegan yang dibuat terlalu fulgar membuatku melewatkan beberapa halaman yang tidak seharusnya dibaca anak seumuran saya :)


Ending novel ini sungguh tidak bisa ditebak. Siapa sangka, dibalik peristiwa besar yang dikisahkan dalam novel ini ternyata di latar belakangi oleh sesuatu hal yang sama sekali tak terpikirkan sebelumnya. Novel ini sungguh layak menjadi salah satu koleksi bacaan kalian yang menggemari gendre novel klosal. 4 bintang untuk buku ini


“Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekadar makan dan minum sebelum disembelih," kata Loki Tua waktu itu.” Yusi Avianto Pareanom, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi


Kau pernah merasa bosan pada suatu keadaan ? "Agustus Minggu Pertama" Berada diatas ketinggian berpuluh-puluh ribu mill...

@asdar_munandar

Kau pernah merasa bosan pada suatu keadaan ?

"Agustus Minggu Pertama"
Berada diatas ketinggian berpuluh-puluh ribu mill diatas laut berjam-jam lamanya pasti akan sangat membosankan. Kau hanya bisa menggerutui detik demi detik waktu yang terlewat. Tak ada yang bisa kau lakukan selain menyerahkan nasibmu pada pilot yang tidak kau kenali itu. Aku sangat benci ketergantungan seperti ini, ketidakberdayaan atas takdir yang aku tak punya daya mengupayakan apapun selain berpasrah. Aku benci berpasrah, menyerah pada ketidak berdayaanku. Menjadi lemah.  Namun pada kenyataannya ada banyak hal yang memang tidak bisa kita paksakan. Manusia selalu dibatasi garis takdir, ada batasan-batasan tak kasat mata yang memang tak bisa kita seberangi seberapa kuat pun kita terus menerus mencoba.



Hiruk pikuk bandara seperti tak pernah berakhir, tak ada jeda. Dari pagi sampai pagi lagi. Orang-orang berlalu lalang entah kemana, mereka bepergian dengan berbagai alasan. Cinta, keluarga, masa depan, rasa sakit, rindu, atau bahkan ada banyak yang bepergian tampa alasan. Mereka hanya ingin pergi, menjeda sejenak dari rutinitas dunianya yang mungkin semakin menjenuhkan. Menggendong ransel berkilo-kilo, menuju suatu tempat yang belum pernah mereka lihat. Traveler begitu orang-orang menyebutnya. Dulu saya pernah menjadi bagian dari orang-orang itu, bepergian tampa alasan, pergi hanya karena ingin pergi.  Tiba-tiba saja berada di spektrum lain dunia ini, berada di suatu tempat antah berantah, hilang di suatu tempat yang asing dan itu menyenangkan.

Bagian terbaik dari suatu perjalanan bagiku adalah menunggu di bandara. Menunggu pesawat yang akan membawamu pergi. Saya betah berlama-lama di bandara, menyaksikan jutaan manusia berlalu lalang itu, kau bisa membedakan tujuan bepergian mereka dari cara berpakaian atau tentengan yang mereka bawa. Bandara memang menceritakan banyak spektrum kehidupan, ada banyak hal yang terjadi di bandara. Ada banyak cerita yang bisa dikisahkan.

Pramugari-pramugari berdandan rapi, perempuan-perempuan muda bergaya glamor, celana setengah jengkal atau dengan rok panjang dengan sobekan yang tak kalah panjangnya, Makeup-makeup menor dengan koper-koper yang terlihat mewah. Orang-orang di bandaran selalu ingin terlihat lebih kaya bahkan paramu saji restoran atau toko oleh-oleh di ruang tunggu juga terlihat lebih berkelas, satu-satunya yang selalu tampak sederhana dan bersahaja hanyalah tukang bersih-bersih toilet.

Aku pernah bertemu seseorang di bandara, kami sama-sama menanti perjalanan selanjutnya, sama-sama harus menunggu berjam-jam lamanya. Bedanya dia akan ke barat dan saya akan ke timur. Secara tak sengaja kami duduk di meja yang sama di sebuah kafe pojok di terminal keberangkatan internasional. Kami bertukar cerita, tempat-tempat menarik yang masing-masing akan kami kunjungi. Uniknya dia pernah mengunjungi tempat yang akan kukunjungi dan aku pernah mengunjungi tempat yang dia kunjungi. Lucunya, selama berjam-jam itu kita tidak saling memperkenalkan diri, tidak bertukar nomor hape bahkan tidak saling follow di Instagram.  Aku rasa pertemuan-pertemuan sepintas seperti itu hanya suatu yang kontemplatif, suatu keadaan yang membiarkan kita hadir dan tersingkir dalam satu wilayah waktu seseorang. Tak lagi ada pertemuan-pertemuan berikutnya. namun pertemuan singkat itu meninggalkan sedikit kenangan manis, yang entah kenapa kadang saya berharap momen itu bisa terulang atau saya berharap dalam satu penerbangan tiba-tiba kita kembali dipertemukan. Lucu, memang garis takdir mempertemukan manusia lalu mempermainkannya.  


April Minggu ke 3 Bagaimana seandainya waktu tidak pernah ditemukan ? Bagaimana seandainya alat pengukur waktu tidak pernah dicip...



April Minggu ke 3
Bagaimana seandainya waktu tidak pernah ditemukan ?
Bagaimana seandainya alat pengukur waktu tidak pernah diciptakan ?
Masikah ada kata terlambat ?
Masikah ada manusia yang terburu-buru ?
Masikah ada manusia yang menunggu ?

Menurut catatan sejarah, sundial atau jam matahari merupakan jam tertua dalam peradaban manusia. Jam ini dibuat oleh seorang ahli Astronomi muslim bernama Ibnu al-Shatir sekitar 3.500 tahun sebelum Masehi. Jam ini menunjukan waktu berdasarkan letak matahari, dengan cara memanfaatkan bayangan yang menimpa permukaan datar. Ibnu al-Shatir membagi waktu dalam sehari dengan 12 jam, pada musim dingin waktu pendek, sedangkan pada musim panas waktu lebih panjang. Dari situlah mungkin cikal bakal perkembangan jam hingga saat ini, sampai kita sekarang mengenal macam-macam jam.

Namun dibalik rentetan panjang sejarah jam itu atau dibalik perkembangan jam yang sudah sedemikian modern ini, esensi dari jam itu sejatinya hanyalah alat penanda waktu. Alat ukur yang menentukan kau datang tepat waktu atau tidak, atau alat ukur yang bisa menggambarkan seberapa lama kau akan menunggu seseorang misalnya.

Saya sudah terlalu lama menunggumu, seseorang yang entah siapa, seseorang yang bahkan wujudnya sudah tidak lagi bisa kuingat dengan baik. Rasa-rasanya sudah berabad-abad lamanya. Kata orang-orang waktu-waktu berlalu begitu cepat, namun bagi seseorang yang menunggu waktu justru berjalan merangkak. Kau bisa merasakan pergeseran detik demi detiknya begitu perlahan, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari. Semua seperti dibuat slow motion. Berjalan perlahan tertatih-tatih meninggalkan jejak luka yang menjadi-jadi.

Sampai sekarang saya masih terus menunggu “seseorang” itu. Dia yang namanya bahkan sudah tidak pernah lagi disebut oleh sesiapa, sudah dilupakan orang-orang bertahun-tahun lamanya. Saya berjalan menyusuri garis pantai, meninggalkan jejak-jejak kaki di pasir basah. Angin laut bertiup hangat menenangkan. Konon katanya, dahulu orang-orang bisa berkirim kabar dengan perantara angin laut. Angin laut mengabarkan banyak hal, menceritakan kisah-kisah dari negeri-negeri yang jauh, dari orang-orang yang telah lama pergi, begitu Nenekku dulu pernah bercerita.

Namun perlahan-lahan orang-orang melupakan kebijaksanaan alam itu. Beralih ke tekhnologi super canggih yang bisa mempertemukan dua orang yang terpisah jarak beribu-ribu mill hanya dengan sekali pencetan. Pada akhirnya angin laut terlupakan, manusia kehilangan kepekaan, konektivitas kita dengan alam memudar, manusia tak lagi bisa memahami bahasa alam, bahasa angin.

Namun meski demikian, pada dasarnya kemampuan manusia untuk terhubung dengan alam tidak serta merta hilang. Beberapa orang mungkin masih diberi sedikit kepekaan meski tidak sekuat orang-orang di jaman dahulu. Atau beberapa orang masih diberi kemampuan itu, meski sudah samar-samar.

Pernahkah kalian berjalan-jalan ke pantai, dan tiba-tiba seperti mendengar bisikan samar-samar  entah dari siapa, mungkin itu pesan yang dibawa oleh angin laut. pesan yang dikirm dari seseorang dari negeri yang jauh, dari seseorang yang telah lama pergi. dari seseorang yang mungkin begitu kau rindukan. seseorang yang membuatmu rela menunggu begitu lama. 

Suatu waktu saya berjalan di pantai seperti sekarang ini, tetiba saya mendengar suara angin berbisik, menyampaikan pesan entah dari siapa meski hanya samar-samar. Sejak hari itu saya sering menghabiskan waktuku duduk berlama-lama di sini. Di pinggir pantai ini, menunggu kabar yang dibawa angin. Saya berharap suatu hari bisa memahami bahasa itu dengan baik. Saya berharap pesan yang dibawa angin itu adalah pesanmu.



Bersambung

Juli Minggu ke 4                                                                                                              Ras...




Juli Minggu ke 4                                                                                                           
Rasa-rasanya akhir-akhir ini saya terlalu sering melamun. Waktuku tiba-tiba sering terpause dengan sendirinya, awalnya hanya sepersekian detik tapi lama kelamaan saya rasa saya semakin sering terjebak di dunia paralel itu.

Bus yang membawaku meninggalkan kota ini melaju kencang, namun lagi-lagi saya terjebak di dunia lain itu. Entah sudah berapa jauh Bus ini meninggalkan terminal tadi, waktuku tersekip cukup lama.  Saya bahkan tak sadar sejak kapan gerimis mulai menemani perjalanan kami. Malam perlahan-lahan semakin kelam, lampu-lampu di sudut-sudut jalan padam satu persatu. Rumah-rumah penduduk semakin jarang terlihat berganti pepohonan hutan yang mulai merapat.  

“Waktu-waktu terbaik mengenang masa lalu ada saat kita bersafar”  begitu kata orang-orang. Entah benar atau tidaknya saya rasa kalimat itu cukup mewakili diriku saat ini. Saya seperti dipermainkan masa lalu jutaan kenangan tiba-tiba berpiling di benakku melemparkanku kembali ke tempat dan masa-masa yang jauh, masa-masa yang telah lama orang lupakan. 

Saya kembali melihat rangkaian-rangkaian peristiwa itu begitu jelas. Diputar ulang lagi, dari awal sampai akhir tanpa ada sedikitpun bagian yang terlewatkan dan entah kenapa sesak yang sama bertahun-tahun yang lalu itu kembali memenuhi dadaku. menyedihkan.