Judul : Sapiens – The Brief History of Humankind Penulis : Yuval Noah Harari Jenis Buku : Non Fiksi - Sejarah Penerbit : Vin...

Resensi Buku Sapiens: A Brief History of Humankind





Judul : Sapiens – The Brief History of Humankind
Penulis : Yuval Noah Harari
Jenis Buku : Non Fiksi - Sejarah
Penerbit : Vintage Publishing
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman :  512 halaman
Dimensi Buku :  12.90 x 19.70 x 4.10 cm
ISBN : 9780099590088
Paperback

Sapiens: A Brief History of Humankind

Pertama kali saya mengenal buku ini karena  sempat diviralkan generasi “open minded” di jagad twitter. Awalnya saya tidak cukup punya minat untuk membaca buku seperti ini, bahkan sampai saya menyelesaikan buku ini pun saya belum bisa memberi penilaian secara objektif, apakah buku ini cukup layak atau tidak untuk dikoleksi. Namun karena tiba-tiba seorang teman memberi buku ini secara gratis, saya mulai membacanya dan benar-benar berusaha menyelesaikannya dengan baik. Pada dasarnya buku ini terbagi 4 bagian besar: (1) Revolusi Kognitif, (2) Revolusi Agrikultur, (3) Penyatuan Manusia dan (4) Revolusi Saintifik. Seperti kata Bill Gates buku ini secara garis besar berisi tentang “sejarah ummat manusia “. Sejarah leluhur ummat manusia homo sapiens dari masa pra sejarah sampai masa ini di jaman revolusi saintifik.

Pada awalnya saya benar-benar tidak bisa memahami kemana arah tulisan ini akan dibawa. Apakah untuk kembali melegitimasi teori Evolusi yang mulai usang itu. Bahwa manusia senyatanya memang hasil dari evolusi spesies berupa primata yg tadinya hanya merupakan evoulosi dari  makhluk berupa ganggang bersel tunggal di laut. Bahkan konon Sapiens di Indonesia merupakan keturunan dari kera yang hidup di savana Afrika. Menjadi pelaut Pasifik tampa menumbuhkan sirip dan tanpa harus menunggu hidung mereka bermigrasi ke bagian atas kepala mereka seperti yang dialami paus. Namun, mereka membangun perahu-perahu dan belajar cara mengendalikannya. Dan, kemampuan-kemampua  ini memungkinkan mereka untuk menjangkau serta mendiami Australia. (hal 84).

Terkait teori evolusi saya justru jauh lebih nyaman membaca tulisan "Alfred Russel Wallace" penemu teori " Wallace line".  Dalam karyanya "The Malay of Arcipelago"  Wallace meletakkan pondasi dan dasar teori evolusi yang jauh lebih logis, didasarkan pada penelitian yang mendalam tentang demografi suatu wilayah. Teori evolusi ke Alfred Russel Wallace menyodorkan ide evolusi via seleksi alam yang berbeda dari Darwin. Mungkin tidak banyak orang yang mengetahui bahwa teori inilah yang dijadikan Darwin sebagai sandaran untuk mengembangkan teori evolusinya yang kita kenal sekarang “Origin of Species” dan mungkin lebih tidak banyak yang mengetahui bahwa penelitian Wallace ini jusru di lakukan di Nusantara, iya di Indonesia negeri kita ini.

Selain teori evolusi buku ini juga banyak mengulas dampak dan kegagalan revolusi industri terhadap “homo sapiens” dan bagaimana era revolusi industri itu justru membawa manusia ke gerbang kepunahan. Buku ini juga menceritakan secara gamblang sejarah kelam kolonialisasi bangsa-bangsa besar di masa lalu. dan bagaimana kolonialisasi itu sukses menghapuskan beberapa ras penduduk asli pribumi di suatu wilayah.

Menurutnya Prof Harrari, spesies yang paling dirugikan dengan adanya revolusi industri adalah "homo sapiens" manusia “kita ini”. Spesies ini pada awalnya adalah oumnipora, anatomi tubuhnya dirancang untuk berburu dan memanjat pohon, bukan untuk bercocok tanam. Revolusi industri justru menjebak mereka dengan pariates makanan yang terbatas. biji-bijian gandum, padi dan tanaman lainnya yang jumlahnya terbatas. sebelumnya mereka mampu medapatkan makanan berbagai macam jenis dari hewan-hewan buruan, buah dan tanaman-tanaman hutan. tapi semenjak bangsa nomaden ini mulai mengasosiasikan diri menjadi kawanan atau komunal  dan menetap di suatu kawasan, kemampuan otak mereka akhirnya berkurang. kepekaan terhadap alam tereduksi dan mereka terjebak dari sumber makanan tunggal dari tanaman yang didomestikasi. Keterbatasan sumber makanan itu mendorong bangsa-bangsa superior yang didorong oleh paham kredo kapitalis berinvasi dan melakukan kolonialisasi keberbagai daerah termasuk ke Indonesia.

Saya cukup terkejut, menemukan banyak bagian di buku ini yang membahas Indonesia. bukan hanya keragaman penemuan tentang homo sapiens dan berbagai ritus ritus bersejarah lainnya, tapi juga terkait bagaimana kredo kapitalis adalah cikal bakan negara ini terjajah beratus-raus tahun lamanya.
Meski banyak hal yang tidak sejalan dengan nilai-nilai yang kuanut tapi ada beberapa bagian yang betul-betul aku sukai dari buku ini. Seperti misalnya pandangan Prof Harrary  tentang kemewahan. Salah satu hukum sejarah adalah bahwa kemewahan cenderung menjadi keharusan dan melahirkan beban-beban baru. Begitu orang terbiasa dengan satu kemewahan tertentu, mereka menerimanya sebagai kebiasaan. Kemudian, mereka mulai menjadikannya kebutuhan. Akhirnya mereka mencapai satu titik ketika mereka tidak bisa hidup tanpanya. (hal 110)

Pandangannya terhadap “isme-isme” juga begitu berkesan bagiku. “isme” atau faham baginya seperti halnya adalah agama-agama hukum alam baru. liberalisme, komunisme,  kapitalisme, nasionalisme, dan nazisme. Kredo-kredo ini tidak  suka disebut agama, dan menganggap diri sebagai ideologi.  Namun, ini hanyalah percaturan semantik belaka. Jika sebuah  agama adalah sebuah sistem norma-norma dan nilai-nilai manusia  yang bertumpu pada keyakinan terhadap suatu tatanan manusia  super, maka Komunisme Soviet tak ubahnya sebuah agama sebagaimana Islam.( Hal 274).

Pun sama dengan Humanisme. Agama-agama teis fokus pada pemujaan dewa-dewa. Agama-agama humanis memuja kemanusiaan, atau lebih tepatnya Homo sapiens. Humanisme adalah sebuah keyakinan bahwa Homo sapiens punya sifat unik dan sakral, yang secara fundamental berbeda dari sifat semua binatang lain dan semua fenomena lain. Para pengikut humanis percaya bahwa sifat unik Homo sapiens merupakan hal yang paling penting di dunia, dan itu menentukan  makna segala hal yang terjadi di Bumi, dan menentukan makna segala hal yang terjadi di alam semesta. Kebaikan yang tertinggi adalah kebaikan Homo sapiens. Selebihnya di dunia ini dan semua  makhluk yang ada semata-mata untuk manfaat bagi spesies ini.

Jadi mengapa akhirnya saya membaca buku ini. Prof Harrary juga mengajukan pertanyaan yang sama. Jadi, mengapa belajar sejarah?  Menurutnya “ sejarah tak seperti fisika dan ekonomi, sejarah bukanlah alat untuk membuat prediksi akurat. Kita mempelajari sejarah bukan untuk mengetahui masa depan, tetapi  untuk memperluas cakrawala, untuk memahami bahwa situasi  kita saat ini bukanlah alamiah atau tak terelakkan, dan bahwa kita dengan demikian memiliki lebih banyak kemungkinan di depan untuk kita bayangkan. Misalnya, mempelajari bagaimana bangsa Eropa mendominasi Afrika memungkinkan kita menyadari bahwa tidak ada yang natural atau tak terelakkan tentang hierarki rasial, dan bahwa dunia mungkin diatur secara berbeda. 285.

4 bintang untuk buku ini.

0 komentar: