Showing posts with label Gunung. Show all posts

Gejala awal hiportemia adalah tubuh akan berusaha menghasilkan panas dengan cara menggigil, jika tidak berhasil, sirkulasi darah akan m...


Gejala awal hiportemia adalah tubuh akan berusaha menghasilkan panas dengan cara menggigil, jika tidak berhasil, sirkulasi darah akan menurun secara ekstrem metabolisme tubuh akan menjadi melambat. kau sekarat tanpa kau sadari, pada tahap akhir kamu hanya bisa bernafas tiap dua kali semenit, kamu berada dalam keadaan mati suri. Saya menggeliat kedinginan di puncak Gunung Ijen. Jaket tipisku tak mampu menghalau udara dingin yang menusuk-nusuk. Kecerobohanku berbuah penyesalan. Jaket tebal yang seharusnya kubawa serta, tertinggal di rumah hanya karena alasan fleksibilitasi. Saya memang akan langsung menuju Mataram setelah dari sini. Pertimbangan itulah membuatku harus mengemas barang seefisien dan seringkas mungkin.




Suhu dingin pegunungan ini membuatku hampir hipotermia, beruntung dipuncak saya bertemu dengan beberapa pendaki lokal yang sedang membuat api unggung. Saya dipersilahkan bergabung menghangatkan diri. Rasa-rasanya saya ingin membakar diri diatas perapian itu saking dinginnya.
Kawah ijen merupakan destinasi utama yang ingin kudatangi di Banyuwangi. Perkenalanku pertama kali dengan ijen pada akhir 2013 lalu, dalam penyebrangan lintas pulau, Banyuwangi-Bali. Saya melihat Gunung Ijen menjulang tinggi dari atas kapal penyebrangan yang menyebrangkan kami ke pulau dewata. Seseorang di  kapal penyeberangan itu bercerita, konon di puncak ijen itu ada api yang berwarna biru yang begitu indah, mitosnya api itu tidak bisa menapakkan dirinya pada sembarang orang.  Sejak hari itu saya terus menerus bermimpi untuk bisa melihat dari dekat blue fire yang konon hanya ada dua di dunia itu. Di kawah ijen dan di Islandia.

Pendakian di kawah ijen bermula di pos Paltidung,. Pintu gerbang pendakian baru dibuka pada pukul 01.00 dini hari, dan akan ditutup menjelang siang hari, lewat dari jam itu, jangan harap pengelola kawasan wisata ini akan mengijinkan kita untuk mendaki. Pendakian hari ini tidak terlalu ramai, mungkin karena bukan musim liburan. Pendaki justru di dominasi oleh wisatwan asing. Sekolompok turis dari Singapur tampak begitu bersemangat, juga sepasang manula dari Spanyol yang datang hanya berdua tampa guide. Keluarga kecil dari Jerman dengan anak lelakinya yang belum berumur lima tahun juga terlihat bersemangat. Selain wisatawan asing tempat ini juga diramaikan dengan penambang belerang dan penjajah jasa ojek troli. Kalian jangan bayangkan ojek ini sama seperti ojek-ojek yang kalian kenal pada umumnya. Ojek ini seratus persen menggunakan tenaga manusia bukan tenaga mesin. Jadi, troli yang seharusnya digunakan untuk mengangkut belerang dari puncak gunung dimodifikasi sedemikian rupa agar bisa mengangkut manusia. Satu atau dua manusia bisa diangkut sekali jalan. tarifnya tergantung jarak. Dari pos satu titik awal pendakian, tarif ditawarkan sekitar Rp800.000 untuk bolak balik perjalanan. Tarif akan terus berkurang tergantung jauh dan dekatnya puncak ijen.


Saya miris melihat adegan ini. Ini bukan jasa ojek menurutku, ini jasa perbudakan. Perbudakan dengan cara yang berbeda.  Dikotomi memang, orang-orang berduit mengeluarkan beberapa lembar rupiah untuk memudahkan menikmati tempat ini, berfoto-foto, pamer di medsos hanya untuk beberapa like dan komen di Instagram. Disisi sebaliknya, penjajah jasa ojek harus bejibaku, bermandikan keringat mengendalikan troli di jalan-jalan pendakiang yang curam, untuk beberapa lembar rupiah agar asap dapur tetap bisa mengepul, agar anak-anak mereka masih bisa tetap menikmati bangku sekolah. kehidupan selalu punya dua sisi



Untuk mencapai puncak kawah setidaknya dibutuhkan waktu normal 2 sampai 4 jam perjalanan, dengan jalur tracking menanjak tampa jeda. Jalur pendakian terbilang lebar dengan bebatuan, jalan berdebu dan pepohonan rapat khas vegetasi hutan di sepanjang jalannya.

Tantangan pertama yang kuhadapi adalah perjalanan dari tempat penginapan ke pintu gerbang Gunung Ijen, dari stasiun Karangasem kita harus berangkat dini hari. Saya memacu kendaraanku pukul 01 dini hari, menuju posko penjaga taman nasional gunung ijen. Peralanan dari stasiun karang asem ke titik awal pendakian kurang lebih satu jam lamanya. Perjalan ke pos platidung ini tidak bisa dibilang mudah. Motor matik yang kugunakan berkali kali harus ku dorong, mengingat jalan yang dilewati mendaki dan berkelok kelok.

Teman seperjalananku sudah jauh meninggalkanku. Bayangkan kau mendorong motor di pendakian dini hari ditengah hutan dan tak ada sesiapa. Bahkan sampai sekarang kalau aku mengigatnyapun membuat bulu kudukku merinding. Saya mengumpat berkali-kali dalam hati. Teman seperjalananku meninggalkanku begitu saja. Resiko backpacker sendiri kadang memang setragis ini. Kau tak boleh berharap pada siapapun, termasuk teman seperjalanan yang baru kau temui.  Satu-satunya yang bisa kau harapkan adalah dirimu sendiri. Beruntung tak lama kemudian pos platidung tampak terlihat dari kejahuan.  Orang-orang sudah sedari tadi memulai pendakian, mengingat blue fire hanya bisa dilihat pada jam-jam tertentu.

Saya berkeliling mencari teman perjalananku tadi, kutemukan dia menantiku di dekat pintu gerbang utama. Sebelum mendaki kuputuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Di kawasan ini tak susah untuk menemukan warung yang masih terbuka hingga dini hari. Saya menikmati segelas pop mie di warung persis didepan pintu gerbang utama, juga segelas kopi jahe hangat dan membeli sebotol besar air minum untuk kubawa serta ke puncak.

Setelah merasa siap, kami mulai mendaki dari pos Platidung, tak lupa membayar biaya registrasi terlebih dahulu. Sepanjang pengalaman saya, 30 menit pertama pendakian adalah waktu-waktu kritis, tubuh kita mengalami perubahan metabolism secara drastis. Suhu dingin pegunungan turut mempengaruhi ketahanan tubuh kita. Itulah mengapa pendakian ke gunung itu bukan perkara sederhana, bukan perkara kau bisa memenuhi feed instagrammu dengan berbagai foto kece. Pendakian ke gunung itu bisa kau bayar dengan nyawamu. Saya terbayang-bayang peristiwa dua tahun lalu, sesorang pendaki asal Bali meninggal di Puncak Ijen. Di usianya yang masih sangat belia.
Apalagi persiapanku mendaki tidak cukup baik, mengingat perjalanan ini begitu tiba-tiba. Berkali-kali aku harus berhenti menenangkan diri, membiarkan tubuhku bisa beradaptasi dengan baik. Teman seperjalananku entah dimana. Nyatanya kami memang tidak cukup akrab karena baru saja dipertemukan sore tadi. Mungkin saya meninggalkannya terlalu jauh.

Pendakian menuju puncak kawah ijen terus menerus menanjak, beruntung di pertangahan jalan kita bisa berehat sejenak. Terdapat warung yang menyediakan anekan minuman hangat dan mie instan yang bisa kembali menyuplai tenaga. Juga terdapat toilet dengan fasilitasnya yang lumayan memadai. Saya memutuskan kembali berhenti sejenak, menikmati segelas wedan jahe hangat. Kembali mengumpulkan tenaga dan semangat.  Beberapa tahun yang lalu saya telah memutuskan untuk tidak lagi melakukan pendakian-pendakian semacam ini namun kerinduanku dan rasa penasarannya dengan blue fire itu membuatku melanggar janjiku. Dengan kondisi yang serba terbatas ini, saya memaksakan diri menggapai puncak ijen

Setiap orang punya alasan masing-masing, kenapa harus mendaki gunung ? atau kenapa memilih bepergian sendiri atau naik gunung sendiri. Aku juga menyimpan alasanku sendiri. Perjalan-perjalanan sendiri seperti ini semacam endropin tambahan buat tubuhku. Memberiku jeda sejenak dari rutinitas kerjaan atau beban masalah yang kadang tak ada habisnya. Perjalanan sendiri memberimu banyak space untuk merenung. Memaknai ulang apa-apa yang telah terjadi dengan hidupmu.

Saya tak ditakdirkan bertemu dengan api abadi itu, si blue fire yang mengagumkan. Api Biru yang hanya ada dua di dunia. Kecewa. Pendakian selalu mengajarkan banyak hal, termasuk kegagalan. Nyatanya tidak semua hal yang kita inginkan bisa kita dapatkan, seberapa kuat pun kita terus menerus mencoba. Manusia selalu dibatasi garis batas. Orang-orang menyebutnya “takdir”. Mungkin memang banyak hal dalam hidup ini harus berlalu begitu saja. Mungkin memang kita harus lebih banyak belajar untuk kecewa agar kita bisa berdamai dengan banyak hal yang tidak sejalan dengan hati kita.
Setelah pendakian ini, saya merasa tak lagi memiliki minat untuk mendaki ke gunung manapun di Indonesia, tidak Semeru yang puncaknya dulu menolakku untuk kegapai atau  Rinjani yang telah menolakku dua kali, bahkan ketika saya telah berdiri didepan pintu gerbangnya.

Perjalananku berikutnya mungkin akan ku fokuskan pada tempat-tempat menarik di seluruh wilayah Indonesia, saya hanya akan berkeliling dari provinsi ke provinsi, kota ke kota bahkan desa ke desa, saya berjanji akan menginjakkan kaki di lebih banyak tempat di negeri ini. Melihat berbagai macam hal yang sebelumnya belum pernah kulihat, tapi maaf untuk mendaki gunung, sudah kuucapkan terimakasih dan Assalamualaikum.   





Bersambung

Mt. Papandayan 2.665 mdpl Saya duduk termenung di depan perapian, gugusan bintang terlihat begitu mempesona, ratusan ribu b...




Mt. Papandayan 2.665 mdpl



Saya duduk termenung di depan perapian, gugusan bintang terlihat begitu mempesona, ratusan ribu berkelap kelip sangat cantik, tapi kalian tahu bintang tak pernah secantik tampaknya, tak pernah sedekat yang bisa kita bayangkan, mata kita selalu tertipu. September ini angin gunung  terasa begitu dingin, kayu terbakar habis begitu cepat. Jaket tebalku semakin kukencangkan. Jam 10. 30 pm, saya masih betah duduk di depan perapian ini. Sendiri. Teman-temanku sudah nyaman bergemul dibawa sleeping bagnya masing-masing. Menghalau dingin. Saya selalu menyukai momen-momen seperti ini, bisa berkontenplasi, bisa lebih dekat dengan alam,  hidup terasa begitu bebas.

Kami mendirikan tendah di area pekemahan Gunung Papandayan, Pondok Saladah. Kami sedang melakukan pendakian ceria di Gunung ini. Gunung yang memiliki ketinggian hanya 2.665 mdpl ini. Gunung ini berada di wilayah Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Area camping ground ini telihat sepi, tidak banyak pendaki yang melakukan pendakian  akhir pekan ini. Mungkin karena kebakaran dahsyat minggu lalu, ratusan hektar hutan hangus terbakar, juga berhektar-hektar bunga edelweis yang menjadi  daya tarik gunung ini hampir tak bersisa, semuanya terbakar hangus. Entah berapa banyak tanaman dan satwa endemik juga ikut terbakar.

Papandayan layaknya Prau di Wonosobo, cukup bersahabat untuk pendaki pemula. Tidak membutuhkan usaha yang begitu keras untuk menapak puncaknya. Banyak fasilitas di atas sana, tidak perlu bersusa payah membawa bekal yang memberatkan pendakian. Ada beberapa warung di sana. juga pasilitas toilet dan musollah sederhana. Pendaki sangat dimanjakan di pondok Salada. Pendakian di gunung ini hampir tidak pernah sepi. 

Di titik awal pendakian kita akan melewati kawah belerang yang berbau sangat menyengat, titik awal pendakian ini terbilang cukup menyiksa. Aroma beleran begitu menyengat ditambah hawa panas pegunungan menjadi tantangan awal para pendaki. Setelah titik ini kita akan melwati jalur treking berdebu dan area hutan  pohon cantigi dengan rantingnya yang menyebar ke mana-mana. Bagian ini adalah bagian yang sangat kusukai dari pendakian papandayan ini, hutan hoomgen ini tampak begitu berbeda dibawa sinar matahari. Kesan eksotis dan sedikit menyeramkan begitu terasa, apa lagi saat senjahari, saat matahari hampir tenggelam menyebabkan bayangan hutan lebih gelap.


Selain traking dan pemandangan selama jalur pendakian yang indah, Papandayan juga terkenal dengan hutan matinya. Hutan mati jaauh lebih eksotis, ratusan pohon-pohon cantigi  mati yang hangus terbakar begitu terlihat berbeda. Konon dulu katanya hutan mati ini lebih lebat lagi, lebih banyak pepohonan bekas terbakarnya, tapi seiring semakin banyaknya pengunjung yang datang area hutan mati ini pun semakin berkurang. Sejengkal demi sejengkal, sebatang demi sebatang. hampir punah. Begitulah alam, manusia datang tanpa sadar membawa perubahan. Manusia  menginginkan alam berubah sekehendak hatinya, bukan malah sebaliknya belajar banyak hal pada alam.

Di sisi lain hutan mati ini ada jurang yang mengaga dengan asap belerangnya yang cukup tebal, tanah kapur putih begitu kontraks dengan pepohonan yang hangus terbakar, bunga-bunga edelwais yang belum mekar sempurna juga tanaman perdu di sekeklilingnya.  Hembusan angin utara menerbangkan debu-debu pegunungan yang berwarna putih kelabu. Warna debu-debu bebatuan kapur.



Papandaya kurasa sebagai titik akhir pendakianku. Cukup sudah, saya tidak lagi ingin menambah daftar panjang manusia-manusia yang datang dan merubah alam. Cukup sudah keinginan-keinginan itu. Aku akan mulai mencintai alam dengan caraku, dengan tidak mengunjungi, membiarkan alam dengan kisahnya sendiri. Pendakian ini memberiku banyak pelajaran berahrga, bahwasanya tidak semua hal yang kita anggap baik ternyata memang baik. Nyatanya Papandayan habis terbakar oleh orang-orang yang mengaku mencintai alam. Ratusan hektar hilang hangus terbakar api. Hamparan edelweis yang indah itu hampir tak bersisah, juga pepohonan-pepohonan yang cantik itu. Apa lagi yang kita banggakan sebagai pecinta alam. Bagiku cukup sudah.






sudah kuucapkan selamat tinggal pada bebatuaan dan rerumputan
juga pada pepohonan yang bernyanyi riang diterpa angin
Sudah kuucapkan selamat tinggal pada ribuan bintang dilangit 
yang begitu indah menatapnya dari ketinggian
juga pada dinginnya malam dan pada tetesan embun dipagi hari.
selamat tinggal.. selamat tinggal
a_m





terimakasih untuk teman-teman dari @Postualang
untuk kebersamaannya yang singkat
Perjalanan mempertemukan persaudaraan
Papandayan September 2015

Puncak Sikunir Kadang memang kita butuh sendiri seperti hari ini, saya berada di bilik sebuah warnet aku suka dunia sempit ini ...

Puncak Sikunir


Kadang memang kita butuh sendiri
seperti hari ini, saya berada di bilik sebuah warnet
aku suka dunia sempit ini
seperti melepaskanku dari sesutau
aku merasa aman, hanya aku dan diriku.
tidak melakukan apa-apa.
menikmati segelas kopi hitam Toraja yang beraroma pahit dan sedikit pekat

******


Kalian penah ke Dataran Tinggi Dieng ? Kalian tahu tempat itu ? Konon katanya golden sunrise terindah di Indonesia bisa dinikmati di tempat ini. negeri pada Dewa. Golden sunrise bisa di nikmati di ketinggian Gng. Prau 2 565 mdpl, atau kalau tidak ingin repot cukup ke puncak sekunir dengan ketingginya yang hanya 2.263 mdpl. Untuk menikmati golden sunrise di puncak sikunir anda harus berangkat dini hari. Dari penginapan kami berkendara ke arah desa tertinggi di pulau Jawa "sembungan". Desa ini berada di ketinggian kurang lebih 2.000 meter di atas permukaan laut, dengan suhu yang cukup dingin, sekitar 10 -18 derajat celcius  dan panorama yang luar biasa indahnya.

selain Tibet di Himalaya yang eksotis itu, (baca bukunya Agustinus Wibowo: Titik Nol, Selimut Debu, Garis Batas. Recomendet banget deh) Desa Sembungan ini adalah dataran tiggi  berpenghuni ke dua di dunia. Oh iya, di desa ini juga da sebuah telaga indah namanya telaga cebong, biasanya wisatawan lokal maupun mancanegara memilih mendirikan tenda di seputaran telaga ini. Telaga ini cukup cantik, dengan airnya yang kehjau-hijauan, meski tidak secantik telaga warna. Dari titik ini pulalah pendakian ke puncak sikunir bermula tidak butuh lama untuk sampai puncak sikunir, hanya kuran lebih 30 menit. hari itu kebetulan pengunjung lagi ramai-ramainya, kami berdesak-desakan mencari spot terbaik untuk menikmati golden Sunrise itu.

Golden Sunrise
Awalnya saya sedikit kecewa, matahari tampaknya terlambat bersinar. Saya takut setelah menempuh perjalanan berjam-jam dari Jogja, saya tidak menemukannya tapi beberapa menit kemudian akhirnya matahari malu-malu menampakkan sinarnya. perlahan-lahan tapi pasti. cahaya kemerahan berpendar, merah, jingga, orange dan kadang berwarna emas kekuning-kuningan. Dadaku tiba-tiba terasa hangat, begitu menenangkan. aku menemukannya, sesuatu yang membuat aku selalu merindukan berdiri di titik-titik tertinggi negeri ini.

Kemarin saya juga menantinya di ketinggian prau 2.565 mdpl. setelah berjalan kaki
mengejar sunrise
 berjam-jam dari Dieng Plateau. Indah memang, susatu yang membuat saya selalu ingin dan ingin lagi, berdiri di ketinggian gunung-gunung itu. Menyaksikan matahari terbit dari balik awan. Mungkin ini disebut mountsick. sejenis penyakit yang menjangkiti orang-orang yang pernah merasakan summing atack di pucak gunung. Gejalanya hampir serupa penyakit homesick.

Dari puncak sikunir ini kita juga bisa memandang tujuh puncak gunung. Yakni Sindoro, Merapi, Merbabu, Lawu, Telomoyo, Ungaran, dan Prau di kawasan Dieng. Dari puncak Sikunir ketika pandangan mengarah ke barat terlihat Telaga Cebong yang bersebelahan dengan perkampungan Sembungan. Di sekitar Bukit Sikunir selain Telaga Cebong juga ada empat telaga lain, yakni Asat atau Wurung, Gunung Kendil, dan dua Telaga Pakuwujo.

Dibalik semua tempat indah itu, ternyata ada sebuah kisah tragis yang kalian harus tahu. Sebuah kisah yang telah diceritakan turun temurun oleh penduduk negeri ini. sebuah tragedi. Sebuah bencana. Kata orang "alam selalu punya cara utuk membalas kelakuan manusia" dan hal itu pernah terjadi di negeri indah ini.

Tahun 1979 sebuah tragedi memilukan terjadi. Gas beracun dari Kawah Sinila merenggut ratusan korban  Tragedi Sinila adalah peristiwa mencekam yang terjadi pada malam hari menjelang subuh tepatnya pada tanggal 20 Februari 1979. Tragedi ini disebabkan karena sebuah fenomena alam, yaitu letusan salah satu kawah di dataran tinggi Dieng, yaitu kawah Sinila. 149 orang tewas dalam peristiwa ini. Kawah Sinila terletak di antara Desa Batur, Desa Sumberejo, dan Desa Pekasiran, Kecamatan Batur. Pada malam mengerikan tersebut, Kawah Sinila meletus dan mengeluarkan banyak gas karbondioksida dari dalam kawah tersebut ke udara. Banyaknya gas beracun yang keluar dari dalam kawah, menyebabkan udara di sekitar pemukiman penduduk ikut tercemar. Orang dewasa, orang tua, dan anak-anak ditemukan tewas bergelimpangan di jalan-jalan di sekitar pemukiman penduduk. Bahkan, tidak hanya manusia, sejumlah hewan ternak pun ikut menjadi korban dalam tragedi mengerikan ini. Kawah Sinila meletus setelah sebelumnya terjadi gempa bumi di sekitar kawasan Dieng. Pemerintah Indonesia menyatakan Tragedi Kawah Sinila Dieng sebagai bencana nasional. (*)

Gas beracun merupakan ancaman utama di kompleks gunung api Dieng yang padat penduduk dan ramai dikunjungi wisatawan. Gas beracun ini kerap menguar dari 11 kawah yang bertebaran di kaldera Dieng. Misalnya, tahun 2011, Kawah Timbang yang sebelumnya dianggap tidak aktif tiba-tiba melepaskan gas beracun dan memaksa warga di sekitarnya mengungsi.

Kejadian serupa pernah terjadi di danau kawah gunung api di Danau Nyos dan Monoun, keduanya di Kamerun. Danau Monoun melepaskan gas karbon dioksida tahun 1984 dan merenggut 37 jiwa. Sedangkan, Danau Nyos melepaskan 1,24 juta ton karbon dioksida hanya dalam beberapa jam tahun 1986. Gas itu menewaskan 1.700 orang.

Sunrise yang dirindukan
Lebih jauh ke belakang, tahun 1955. Alkisah pada suatu malam turun hujan yang lebat. Tengah malam hujan reda. Tiba-tiba terdengar suara "buum", seperti suara benda yang teramat berat berjatuhan. Pagi harinya masyarakat disekitar dukuh Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras itu menyaksikan bahwa Gunung Pengamun-amun sudah terbelah (bahasa jawanya: tompal), dan belahannya itu ditimbunkan ke dukuh Legetang.   Menurut cerita dan mitos dari penduduk di sekitar desa tersebut bahwa anugerah yang di berikan terhadap masyarakat di desa itu telah di salah gunakan untuk kegiatan yang menyimpang dari ajaran agama. Sebagai bentuk hukuman Tuhan.  Alam dibuatnya murka, puncak dari Gunung Pengamun-amun di sebelah barat dari desa itu terlempar serta menimbun pemukiman penduduk setempat. Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya mati. Kisah ini mirip dengan kisah kaum nabi Luth yang tenggelam dalam ke maksiatan. Tuhan mengadzab kaum itu dengan menimpakan gunung kepada penduduknya.

Selalu ada ibrah yang bisa diambil dibalik sebuah peristiwa.  Peringatan atas peristiwa bencana alam tanah longsor itu sekarang di bangun sebuah Monumen peringatan di atas desa tersebut yang di kenal sebagai Monumen Legetang Dieng. Di tugu tersebut tertulis:

"TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN PADA TG. 16/17-4-1955"

Kisah ini sudah lama, tetapi mungkin banyak dari pengunjung Dieng atau bahkan warga Dieng sendiri yang belum mengetahuinya. Semoga kisah-kisah pilu seperti itu tidak lagi terjadi di negeri yang indah itu. Hendaklah kita bisa mengambil banyak pelajaran dari situ, hendaklah kita untuk selalu berusaha menjaga alam kita yang indah ini dan yang lebih penting kejadian-kejadian seperti itu seharusnya menjadi pelajaran buat manusia agar senantiasa berusaha untuk lebih mencintai alamnya dan Pencipta Alam itu sendiri.

Puncak Prau 2.565 mdpl


















* Semua Fakta-fakta tentang Dieng di tulisan ini disadur dari berbagai sumber
* Silahkan baca Postingan saya tentang Gunung Prau dan Bagaimana ke Dieng di postingan saya sebelumnya.
* Semua foto-foto di atas merupakan koleksi pribadi saya. Harap tidak mengambil tanpa izin terlebih dahulu.

Hamparan bunga Daisy di Puncak Prau jangan datang ke sini pergilan dan lupakan seperti angin yang berhembus  tak pernah kembal...



Hamparan bunga Daisy di Puncak Prau


jangan datang ke sini
pergilan dan lupakan
seperti angin yang berhembus 
tak pernah kembali ke lembah
bersama aroma wangi bunga daisy


Bunga Daisy di Ketinggian Prau

Kalian tahu bunga daisy ?
Bunga daisy adalah bunga dari keluarga asteraceae sama halnya seperti bunga aster atau sunflower. Asteraceae adalah keluarga tumbuhan berbunga kedua terbesar dalam segi banyaknya species atau jenis. Bunga daisy ini diperkirakan mencapai 10 persen dari semua tumbuhan berbunga di bumi

Bunga Daisy  (asteraceae)
 Bunga daisy cukup sederhana bentuknya, memiliki bundaran yang lebar di tengah dan dikelilingi oleh petal-petal yang seperti sinar matahari, mungkin karena inilah bunga ini mulai disebut jenis bunga sunflower. Salah satu ciri bunga ini yaitu membuka petalnya pada pagi hari saat matahari terbit dan menutupnya kembali pada saat matahari terbenam, tetapi bunga daisy ini tidak cuman dikenal dalam hal itu, bunga ini juga terkenal akan kemampuannya menyembuhkan penyakit penyakit tertentu. Kebanyakan bunga ini ditemui berwarna putih, tapi ada juga yang berwarna merah, kuning, dan ungu. Bunga daisy yang paling disukai adalah gerbera daisy atau disebut juga African daisy, transvaal daisy ataupun Barberton daisy.
 
Selain itu menurut legenda, daisy berasal dari seorang peri yang berubah menjadi bunga liar yang anggung tapi tak menawan agar tak terusik.. Marquerite penemu nama bunga Daisy ini bilang, bahwa dalam bahasa yunani, Daisy adalah "pearl" (mutiara). orang inggris menjulukinya  "day's Eye" (matanya hari) karena kelompak bunganya akan terbuka ketika matahari terbit dan menutup ketika matahari kembali tenggelam


Dahulu katanya, para pemuda di Eropa menggunakan bunga ini untuk melamar gadis pujaan hatinya. setelah cincin tunangan dilingkarkan ke jari masing-masing maka sang gadis akan mengenakan bunga daisy sebagai lambang penerimaan.

Konon katanya bunga daisy memiliki makna kepolosan, kemurnian, kesucian, kesetiaan, kelembutan, kesederhanaan. Sebagian bilang bunga daisy melambangkan keceriaan anak-anak, kemurnian jiwa muda atau kekuatan cinta yang mampu mengalahkan segalanya. Bunga ini juga diartikan sebagai bunga kelahiran bulan April. Entah ini kebetulan atau tidak saya menemukan hamparan bunga daisy nan indah ini di ketinggian Prau (2.565 mdpl) pada 4 april kemarin.

bukit teletubbeis yang dipenuhi bunga Daisy


* Catatan tentang pendakian ke Prau akan segera di Upload
* All photo taken by my Phone. harap tidak mengambil tanpa seizin saya
* Rute dan Bagaimana ke Dieng bisa di lihat disini

Sabtu ini seperti sabtu pagi sebelumnya dan juga sabtu pagi sebelum-sebelumnya. Saya selalu menyisihkan waktu khusus ini di Puskot, du...



Sabtu ini seperti sabtu pagi sebelumnya dan juga sabtu pagi sebelum-sebelumnya. Saya selalu menyisihkan waktu khusus ini di Puskot, duduk manis di bagian pojok belakang. Menghabiskan waktu menjelajahi imajinasi para penulis-penulis buku. Menikmati waktu libur, menikmati duniaku, menikmati kesendirianku dan mengamati fenomena unik para pengunjung Puskot. Selalu saja ada cerita yang berbeda tiap pekannya. Dua sejoli yang memadu kasih diam-diam, takut-takut, malu-malu. Bapak-bapak usia paru baya yang beromatisan ria (hehehhe.. asumsi saya mungkin itu istri muda atau istri barunya). Penjaga perpustakaan yang lalu lalang menata buku, sekali-kali tersenyum sopan kepada para pengunjung. Suara lembut lembaran-lembaran kertas yang dibolak-balik. Celoteh-celoteh tertahan bocah-bocah cilik yang kebetulan diajak orang tuanya berkunjung ke puskot. Semuanya membuat saya kangen, menjadikan tak sabaran menanti sabtu datang lagi, saking kangennya sampai-sampai saya tidak sadar hari ini datang kepagian heehehehe . Pagi ini saya kembali duduk di bagian terbaik di Puskot, duduk di sisi pojok belakang bagian paling aku senangi.
Minggu lalu di puskot ada workshopnya Bang Anwar Fuadi pengarang bukunya negeri lima menara itu (udah aku ceritain kan pada episode sebelumnya). Tapi kali ini bukan tentang Bang Fuadi itu lagi khehe.., kali ini hanya ingin menceritakan tentang perjalanan saya beberapa Minggu yang lalu ke Semeru, pasti pada tau kan Gunung Semeru (itu yang di filmnya 5 Cm, yakin kalian pasti udah pada nonton). Biar lebih jelas, sedikit akan aku ulas tentang Semeru.
Nah.. Semeru adalah gunung tertinggi dan salah satu gunung merapi yang masih aktif di pulau jawa, dengan ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl),. Posisi gunung ini terletak di antara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06' LS dan 120°55' BT. Puncak Semeru dikenal dengan nama Mahameru dan kawah di puncaknya di beri nama Jonggring Saloko, menurut legenda Gunung Semeru dipercaya sebagai Bapak Gunung Agung yang berada di Bali. Gunung Semeru juga dipercaya merupakan tempat tinggal atau puncak abadi para Dewa. Mayoritas penduduk di sini masih menganut paham kejawen dan beberapa beragama Hindu dan islam. Maka tak heran ketika kalian berkunjung ke sana, ritual-ritual bernilai budaya dan tradisi-tradisi masa lalu masih kental terasa. Dan itu memberikan eksoktika tersendiri.
Orang pertama yang mendaki gunung ini adalah Clignet (1838) seorang ahli geologi berkebangsaan Belanda. Hingga kini tak terhitung banyaknya pendaki-pendaki yang telah menaklukkan gunung Semeru ini. Pemandangan dan petualangan yang menakjubkan menyebabkan jalur pendakian ini selalu ramai. Oh iya di sini juga tercatat kisah momentual, Soe Hok Gie, salah seorang tokoh aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia, meninggal di Gunung Semeru pada tahun 1969 akibat menghirup asap beracun di Gunung Semeru. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Meskipun demikian denyut di Semeru seperti tak pernah berhenti, tiap saat selalu saja ada yang terpanggil, datang dan datang lagi. Seperti pada hari ini, sabtu 25 september 2013, saya dan segerombolan kawan-kawan saya, turut menorehkan kisah kami disini. Di Gunung Semeru. Kisah tentang perjalanan anak-anak manusia untuk lebih mengenal alam-Nya.
Perjalanan ke Semeru setidaknya membutuhkan waktu 3 sampai 4 hari pulang pergi. Dengan titik tolak awal keberangkatan di Ranu Pani, desa terakhir di kaki Semeru. Kalian bisa ke Ranu Pani dengan menumpang truk sayur atau jip. Dari Malang, mungkin dibutuhkan kurang lebih 3 sampai 4 jam untuk tiba di Ranu Pani. Kami tiba di kaki Gunung Semeru saat matahari malu-malu menampakkan sinarnya dari balik bukit. Pagi, awal yang indah memulai perjalanan. Untuk sampai puncak setidaknya kita akan melewati beberapa titik pemberhentian: Ranu Pani à watu Rejeng à Ranu Kumbolo à Oro-oro Ombo à Kali Mati dan terakhir sebelum sampai puncak Mahamaru, pendaki akan menginap di Arcopodo dan meneruskan perjalanannya menjelang subuh. Menikmati matahari terbit di puncak Mahameru, dataran tertinggi di tanah Jawa.
Dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo perjalanan kami tempuh kurang lebih 4 jam dengan jarak perjalanan +/- 14 km. Dibanding perjalanan saya sebelumnya ke Panderman, menurutku track ke Ranu Kumbolo lebih enak dan lebih landai, menyusuri lereng bukit dan mengikuti track pendakian lumayan mudah. Di sepanjang perjalan kalian akan menikmati indahnya goresan Tuhan, seluet puncak mahameru dari kejahuan, hutan pinus dan cemara, lereng-lereng bukit ditumbuhi edelweis, dan beruntung kami sempat melihat kepulan asap dari puncak Mahameru. Beberapa kali kami break istirahat, setidaknya ada 4 sampai 5 pos peristirahatat yang tersedia. Sepanjang perjalanan, kami sesekali berpapasan dengan pendaki-pendaki yang turun gunung, saling sapa dan saling memberi semangat. Entahlah ada ikatan batin tersendiri yang menyatukan hati-hati para pendaki, membuat suasana terasa lebih akrab.
Matahari beranjak matang, menjelang Dzuhur akhirnya sampailah kami di Ranu Kumbolo. Perjalanan yang melelahkan terbayar sudah. Di depan kami terhampar danau indah dengan air biru kehijau-hijauan. Berada di tengah-tengah bukit, di kelilingi pohon pinus dan cemara, padang sabana terhampar luas. MasyaAllah, Sepotong surga di Indonesia, keindahan semacam apa ini. Kami terdiam, beberapa teman perjalananku terlihat menyeka ujung matanya. Terharu.
Selalu ada rasa bangga, selalu ada rasa haru, ketika kita berhasil berada pada titik tertentu dalam kehidupan kita. Seperti halnya pada hari ini, setelah menempuh perjalanan berjam-jam kini kami di sini. Berdiri bersama rumput, pinus dan kabut. Mengalahkan batas-batas ego, mengalahkan batas-batas rasio. Karenanya sejatinya pendakian bukanlah perjalanan menaklukkan gunung tapi lebih dalam, perjalanan ini adalah perjalanan menaklukkan hati dan aku menamainya perjalanan ini adalah perjalanan cinta.
Dua jam, yah kami di sana memang hanya dua jam, tidak lebih. Dan bagiku itu sudah sangat cukup. Mungkin jika terlalu lama di sana maka keindahannya semakin terasa hambar, hilang rasa spesialnya. Bagiku jauh lebih menyenangkan mengenang sepotong kejadian yang hanya selintas terjadinya. Memberikan cela untuk membayangkan lagi kenangan itu, dan itu akan membuat semakin penasaran saat mengenangnya. Kami memutuskan pulang. Ranu Kumbolo sudah cukup bagi kami. Sedari awal kami memang tidak merencanakan sampai ke puncak Mahameru. Mungkin lain waktu, jika Tuhan memberi banyak kesempatan lagi.
Matahari menua, sayup-sayup suara adzan magrib terdengar dari balik pepohonan. Sepasang kunang-kunang terbang melintas di antara cela-cela ilalang. Bunyi hewan-hewan malam bersahut-sahutan, aroma rumput basah dan sesekali hembusan dingin angin gunung bertiup membawa kabut. Kami akhirnya tiba di desa persis ketika matahari beralih menyinari bagian lain bumi ini. Hari ini cukup sudah. Langkah kaki semakin kaku mungkin pelumas di engselnya habis setelah seharian bekerja terlalu keras menempuh perjalan kurang lebih 8 jam pulang pergi. Astaga.. kalian pernah lihat mumi yang malang di filemnya paraNorman, persis seperti itu. Engsel lutut tak bisa ditekuk, langka tertatih sambil ngangkang, muka super cemong, rambut awut-awutan, aroma menyengat bau kelek., ckckkckc...
Seakan tak cukup terminologi kata untuk menceritakan perjalanan kami ke sana, tak cukup simbol untuk menggambarkan rasa yang mendedah di hati. Biarlah kalian sendiri nanti yang akan menggambarkan rasanya dengan hati. Saat di mana kalian juga menorehkan kisah kalian di sana, meninggalkan sepenggal hati kalian di lereng Gunung Semeru.
1381719197167037381
Saya Axxxr Mxxxxxxr bangga pernah di sini, bersama mereka orang-orang yang berhati baik, orang-orang yang persahabatannya sangat aku hargai, orang-orang yang aku cintai karena Allah. 



NB: Akhir tahun ini merencanakan lagi perjalanan muncak ke Mahameru, menyambut matahari pertama 2014 di sana. InsyaAllah. Bagi yang berminat bareng, silahkan hubungi saya



SUARA HUJAN, AROMA ANGIN DAN GUNUNG    PANDERMAN Semua yang bertemakan pengalaman pertama pasti akan selalu berkesan dan menarik, a...


SUARA HUJAN, AROMA ANGIN DAN GUNUNG   PANDERMAN

Semua yang bertemakan pengalaman pertama pasti akan selalu berkesan dan menarik, apapun itu.  Ketika memulai atau akan melakukan sesuatu untuk pertama kalinya bisa dipastikan segala macam rasa bercampur aduk di dalam hati.  Yupss.., itupun yang saya rasakan kemarin. Untuk pertama kalinya memberanikan diri meninggalkan zona nyaman kediaman saya menuju ke daerah antah berantah di pegunungan Panderman sana.
This is the first time,  melakukan suatu perjalanan menantang yang istilah kerennya biasa disebut “mendaki” ke gunung, tepatnya di Gunung Panderman.  Panderman adalah merupakan salah satu gunung pavorit bagi para pendaki pemula (newbie). Dengan ketinggian 2000 mdpl dan medan yang tidak terlalu sulit panderman bisa ditempuh antara 3-4 jam perjalanan waktu normal menjadikan gunung ini hampir tidak pernah sepi terutama pada akhir pekan.
Kami (saya, Miswar, Salim, Ridho dan seorang teman dari Libia “Muhammad”) merencanakan perjalana kami beberapa hari sebelumnya.  Kami menyiapkan perlengkapan seadanya. Beruntunglah di Malang tidak sulit menemukan tempat persewaan alat-alat camping. Hanya dengan sekitar Rp. 100ribuan kita sudah bisa mendapatkan tenda, sleaping bad, Matras, dan beberapa perlengkapan kecil lainnya yang sangat membantu acara pendakian.
Titik awal pendakian di mulia di desa Purwosari.  Untuk sampai pada titik awal pendakian ini bisa ditempuh dengan sepeda motor, dari malang mungkin hanya sekitaran 45menit saja. Dari situ speda motor dititipkan di rumah warga yang memang menyediaka jasa penitipan sepeda bagi para pendaki. Pendakian kamipun bermula dari sini dengan hanya bermodal nekat dan tampa didampingi seorang guide kami dengan sangat-sangat semangatnya mencoba menapaki jengkal demi jengkal pegunungan tersebut.
30 menit pertama, perjalanan yang tadinya diiringi canda dan guyon perlahan-lahan mulai terganti dengan erangan dan keluhan. Satu persatu dari kami sudah mulai merasa lelah. Bebarapa dari kami termasuk saya sendiri sudah memikirkan untuk mengakhiri dan memilih pulang saja. maklumlah fisik yang tidak terbiasa bekerja sekeras ini tiba-tiba harus bekerja super ekstra mendaki jalanan terjal plus bawaan yang lumayan berat membuatnya cukup berteriak tobat. Kami memilih  Istirahat untuk memulihkan stamina dan kembali saling menguatkan semangat.
Perjalanan mencapai puncak Panderman (Pasundara) akan melewati beberapa tempat persinggahan dimana setiap tempatnya menawarkan panorama eksotis tersendiri.  Untuk sampai pada persinggahan pertama dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam perjalanan. Sayangnya kami tidak bisa menikmati pemandangan indah di tempat tesebut, cuaca saat itu mulai gelap dan langit mulai menampakkan wajah sedihnya. Persinggahan berikutnya yakni di Watu Gedhe suatu dataran datar diketinggian sekitar 1.200 dmpl yang dikeliling beberapa bongkahan batu raksasa memberikan cerita tersendiri. Tapi sayang keeksotisan batu-batu tesebut ternodahi oleh tulisan-tulisan tangan-tangan para manusia yang kurang peka terhadap kealamiahannya.     
Seiring perjalanan kami, bayang-bayang gelap pun mulai menyusupi setiap celah-celah hutan pinus. Beberapa pendaki mulai menyalakan penerangan-penerangan yang telah mereka siapkan sebelumnya. Nyanyian-nyanyian burung yang tadinya menemani perjalanan perlahan tergantikan dengan suara-suara satwa malam yang saling bersahutan. Gelap dan dibumbuhi aroma tanah basah menjadikan suasana sedikit mencekam. Bayang-bayang hutan pinus terlihat seperti monster-monster dalam cerita horor yang siap menerkam. Lampu-lampu senter para pendaki terlihat seperti kendaran dalam satu jalur berkelap kelip di sepanjang jalan setapak yang dilalui. Dari kejahuan sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib menandakan senja telah beranjak pergi dan malam akan segera menyelimuti setiap jengkal pengunungan Panderman ini.
Dua jam perjalanan. Langit semakin beringasnya menumpahkan kemarahannya mengguyur para pendaki. Hujan semakin menambah berat perjalanan ini, jalanan yang semaikin terjal, licin dan basah memperlambat perjalanan kami. Disepanjang perjalanan, kami bersua dengan beberapa kelompok pendaki yang singgah untuk berehat sejanak. Beberapa pendaki juga  terlihat mulai menyerah memilih mendirikan tenda-tenda sebelum sampai di tempat tujuan.
Malam beranjak, jangkrik dan serangga-serangga semakin santer bernyanyi. Alhamdulillah, sebelum pukul 20.00 WIB kami telah menapaki Pasundara puncak tertinggi Panderman. Langit yang tadinya menumpahkan air matanya tiba-tiba saja berhenti, tergantikan dengan hamparan kebun bintang yang begitu indahnya seakan-akan menyambut kedatangan kami. Tenda dan segala perlengkapannya segera dipersiapkan. Makan malam, api unggun, sholat dan beristirahat sambil terus mengagumi kebun bintang yang menjadi penghias langit malam ini.
"Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang."
(QS. 25/Al-Furqon: 61)
Dan sungguh Kami telah menciptakan gugusan bintang
di langit dan menjadikannya terasa indah bagi orang yang memandangnya.
" (QS. 15/Al-Hijr: 16)
Saya begitu terpana memandang bintang-bintang yang menembus kegelapan. Sangat-sangat terasa berebeda menyaksikan jutaan bintang di ketinggian Panderman ini. Diperkiran ada 400 miliar  bintang dilangit sana berada dalam satu  bagian tatanan alam semesta yang kita kenal dengan sebutan galaksi Bima Sakti. Bintang terbesar dalam galaksi ini adalah matahari. Dan bumi yang kita tempaki berpijak ini hanyalah sebongkahan kecil dari miliaran bintang di galaksi Bima Sakti terebut. Galaksi Bima Sakti diperkirakan berdiameter 100.000 tahun cahaya dan lebar 1000 tahun cahaya. Bisa dibayangkan luasnya alam semesta itu seperti apa, jika satu galaksi saja bisa berukuran seperti itu maka luasnya alam semesta yang menampung bermiliar-miliar galaksi ini memang sangat-sangat mustahil untuk bisa diprediksi
Saya dulu tidak pernah habis pikir, bagaimana orang-orang jaman bahula dulu bisa bepergian, menentukan perjalanan, dan bahkan menentukan musim tanam dan musim nikah hanya dengan membaca pola bintang-bintang. Juga ketika teringat pelajaran-pelajaran smp dulu. Tentang rasi-rasi bintang yang tampak saling berhubungan membentuk suatu konfigurasi khusus dan dengan pola-pola tersebut digunakan oleh kebanyakan para ahli nujum untuk meramal nasib yang tingkat keakuratannya sangat patut untuk diragukan.
Bintang-bintang itu juga menjadi petunjuk jalan bagi manusia. "Dan Dialah yang menciptakan bintang-bintang bagimu supaya kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut." (QS. 6/Al-Anam: 97)
"Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk (jalan)."
(QS. 16/An-Nahl: 16)
Manusia alam dan lingkungan merupakan suatu kesatuan yang memang tidak bisa dipisahkan, terikat dalam suatu keteraturan dan hukum-hukum alam yang salin tersinergi.  Setelah perjalanan melelahkan ini kamipun terlelap, berharap  kelehan dan kepenatan hari ini segera beranjak pergi.
Berdiri di atas awan, menyaksikan semurat jingga di awal pagi puncak Panderman. Warnah-warnah nan indah itu seakan memberikan kabar akan datang setelahnya sosok sang Mentari pagi yang di nanti. Penat dan lelah semalam terbayar sudah. Matahari pagi serasa begitu dekatnya. Pesona keindahanya memberikan kepuasan tersendiri bagi mata, hati dan rasa.
Perjalanan ini tentang apa, siapa dan mengapa, dan juga sebuah usaha anak manusia untuk  menemukan epistimologi kehidupannya. Inilah saya, kami, dan mereka yang telah terlalu lama terkungkung dalam suatu pusaran kehidupan yang sedih. Kami kesini untuk melepaskan belenggu-belenggu kehidupan tersebut. Kehidupan yang telah mempenetrasikan apologi akut dalam hati-hati ini dan membiakkan bibit-bibit patologi bersemai subur didalamanya. Akhirnya hati bisa sedikit merasa hidup setelah sekian lama kehilangan daya kohesif yang telah terkikis habis oleh bibit-bibit patologi tersebut. Mati sebelum mati.
Berdiri diatas puncak gunung memberikan sedikit  keyakinan bahwa sejatinya masih ada segenggam idealisme yang patut diperjuangkan. Masih ada realitas yang terbentang panjang sejauh mata memandang seperti gumpalan awan yang terhampar luas didepan kami ini. Dan juga masih ada sejuta rasa cinta, kekuatan, harapan, keajaiban, mimpi dan keyakinan  yang senantiasa menanti diujun perjalana ini. Dan terakhir kami pulang dengan penuh rasa syukur, bersyukur atas semua karunia dariNya yang telah menciptakan keindahan dan keteraturan ini.

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
(maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan)





In memorian
 Panderman 13-14 April 2013

Dedicated for
Akhunafillah  fil Mustawwa Awwal Ma’had Abd. Rahman Bin Auf.
Salam ukhuwa.



                                                                                   (menanti sunr...





  



                                                      

                        (menanti sunrise)

                                                                   
                                                                        
                                                                                                                 (di atas awan)
                             (suara-suara langit)                                                       (matahari, gunung dan awan)