" TAHUKAH ANDA BAHWA BERBICARA ITU ADA SENINYA? Oh Su Hyan menulis sebuah buku luar biasa tentang bagaimana berbicara yang efektif....

Bicara Itu Ada Seninya karya Oh Su Hyang.

 


"TAHUKAH ANDA BAHWA BERBICARA ITU ADA SENINYA?

Oh Su Hyan menulis sebuah buku luar biasa tentang bagaimana berbicara yang efektif. Buku ini diterbitkan pada tahun 2018. Buku ini membahas. tentang pentingnya komunikasi yang efektif. OH Su Hyang membagi buku ini menjadi lima bab utama yang terdiri dari: Bab 1: Apa itu Seni Berbicara?Bab 2: Kebiasaan Penting untuk Menjadi Pembicara yang Efektif, Bab 3: Teknik Komunikasi yang Efektif, Bab 4: Cara Menjadi Pembicara yang Persuasif dan Bab 5: Cara Menjadi Pembicara yang Negosiator yang Efektif

0 komentar:

  Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sesuatu di blog ini, mungkin sudah setahun lebih. Terakhir saya menulis tentang makna potonga...

Ternyata selama ini saya tidak mengetahui terlalu banyak tentang orang tuaku

 



Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sesuatu di blog ini, mungkin sudah setahun lebih. Terakhir saya menulis tentang makna potongan lagu “waktu bukan kita yang punya”. Sebuah bait syair yang begitu berkesan menurutku. Tulisan itu rupanya menarik banyak perhatian, dalam waktu singkat view-nya sudah lebih dari ribuan orang. Namun belakangan tulisan itu saya takedown dari blog-ku. Sesuatu hal buruk menimpaku, saya fikir bisa jadi karena tulisan itu diaminkan oleh banyak orang dan pada akhirnya kesedihan-kesedihan yang kuceritakan itu benar-benar menghajarku tanpa ampun.

Desember tahun kemarin saya tiba-tiba terkena panic attack, sebuah peristiwa yang sangat menakutkan yang kualami seumur hidupku. Rasanya seperti waktu hidupmu sebentar lagi akan berakhir. Saya begitu ketakutan, membayangkannya saja membuatku bergidik. Kejadian itu sudah berlalu setahun yang lalu, namun rasa traumanya masih kurasakan sampai saat ini. Kali ini saya tidak ingin bercerita tentang bagaimana kengerian serangan panik itu, atau bagaimana akhirnya saya bisa bertahan sejauh ini. Lain kali saya akan tuliskan lebih detail di sini.

Kali ini saya hanya ingin bercerita tentang potongan film yang kebetulan lewat di beranda Facebookku. Tentang seorang anak yang terjebak di masa lalu. Seorang anak yang tiba-tiba tersesat di dimensi berbeda. Bertemu dengan ayahnya di usia sekolahnya dan menyaksikan bagaimana ayahnya bertumbuh di masa-masa itu, melewati berbagai macam kesedihan yang tak pernah diceritakan kepada anaknya.

Saya tidak tahu bagaimana keseluruhan kisah film ini, saya hanya melihat sedikit adegan itu. Bagian yang menarik saat anak itu berkata “ternyata selama ini saya tidak mengetahui terlalu banyak tentang orang tuaku”

Potongan kalimat itu benar-benar seperti menamparku, saya tiba-tiba merenungi diriku. Bagaimana dengan masa lalu Ayah-Ibuku. Apakah sebenarnya mereka juga melewati masa-masa sulit. Bagaimana mereka melalui masa-masa itu. Barangkali selama ini saya ternyata kurang peduli dengan apa yang telah mereka alami dan lalui. Barangkali yang saya lihat hari ini adalah tumpukan-tumpukan batu yang tersusun dari darah dan air mata mereka di masa lalu.



Saya kembali membayangkan percakapan-percakapan dengan ibuku. Rasa-rasanya Ibuku selama ini hampir tidak pernah menceritakan masa lalunya, yang saya tahu, ibu ditinggal pergi nenekku di usianya yang masih sangat kecil. Ibu tidak pernah bercerita bagaimana dia melewati masa-masa suram itu.

Yang saya tahu selama ini Ibuku wanita kuat, sangat jarang mengeluh. Saya selalu menganggapnya kuat dan selalu baik-baik saja, namun belakangan saya sadar. Ibu menyimpan lukanya sendiri. Ibu memendam semua hal yang dia lalui sendiri. Ibu tak pernah memiliki siapa pun untuk berbagi. Ibu hanya dituntut untuk selalu kuat, untuk selalu hadir di segala kondisi. Terakhir saya melihat ibu menangis saat saya jatuh sakit. Dia memelukku sambil terisak. Selebihnya hampir tak pernah melihat ibu menangis.

Tentang ayahku, saya pun tak banyak tahu bagaimana masa lalunya. Konon dia dibesarkan dengan cara yang sangat keras. Kakekku penjudi dengan temperamen yang buruk. Ayah sering  mendapat perlakuan kasarnya, ditambah lagi ayah harus menjadi tulang punggung keluarga. Harus bekerjakeras menghidupi ibu dan saudara-saudaranya yang lain.

Saya dulu sering membenci ayahku karena temperamennya yang sama buruk. Suaranya yang keras, dan bentakannya yang sering menyakitkan hati. Belakangan semakin tua ayahku mulai berubah. Mulai lebih hangat. Belakangan saya sadar, temperamen ayah terbentuk dari masa lalunya yang sama menyedihkannya. Sayangnya dulu saya tidak pernah menyadari itu semua.

Tiba-tiba saya begitu merindukan ibu bapaku.

Semoga Allah memanjangkan umurnya, memberinya kebahagian dan menyayanginya sebagaimana mereka menyayangiku dimasa kecilku.

                                               






Ilustrasi Desaku di masa lalu

0 komentar: