Showing posts with label Sejarah. Show all posts

  Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi  Penulis: Yusi Avianto Pareanom  Penerbit: Banana Publisher, 2016 ISBN: 9789791079525 “Tak ada senja...

 

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi 
Penulis: Yusi Avianto Pareanom 
Penerbit: Banana Publisher, 2016
ISBN: 9789791079525

“Tak ada senjata yang lebih tajam ketimbang akal, tak ada perisai lebih ampuh ketimbang nyali, dan tak ada siasat yang lebih unggul ketimbang hati.”

Yusi Avianto Pareanom, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi


Seseorang pernah bertanya, menurutmu mana yang kau sukai Novel Kura-kura berjanggut" atau Novel Raden Mandasia. saat itu aku belum bisa menjawabnya, karena Novel ini belum rampung kubaca. Menurut orang-orang, kalau kau menyukai Novel KKB kau juga pasti akan menyukai novel ini.


Bener saja, novel ini membuatku jatuh suka, petualangan Raden Mandasia yang dituturkan secara apik oleh teman seperjalannya Sungu Lembu sungguh memukau. saya terhipnitos kisah-kisah menakjubkan di dalamnya. Adalah Raden Mandasia pangeran kerajaan Gilingwessi yang berusaha menemukan cara agar peperangan antara dua kerajaan besar tidak terjadi. Dalam perjalanannya mencegah perang besar itu, dia bertemu Sungu Lembu yang justru memiliki niat yang berbeda. tapi entah karena garis takdirnya yang unik mereka akhirnya bahu membahu untuk menuntaskan misi pribadi yang masing-masing mereka embang.


Meski diberi judul Raden Mandasia, novel ini justru dituturkan oleh "Sungu Lembu" sebagai sudut pandang orang pertama. Raden Mandasia justru tidak terlalu mengambil banyak porsi, tapi memang semua kisah di sini seakan-akan terpaut oleh kisah kehidupan Raden Mandasia dan keluarga kerajaannya


Meski demikian, menurutku novel ini masih setingkat dibawa KKB, beberapa adegan di novel ini di sadur dari kisah dan dongen-dongen yang sudah cukup mashur di masyarakat kita. juga beberapa adegan yang dibuat terlalu fulgar membuatku melewatkan beberapa halaman yang tidak seharusnya dibaca anak seumuran saya :)


Ending novel ini sungguh tidak bisa ditebak. Siapa sangka, dibalik peristiwa besar yang dikisahkan dalam novel ini ternyata di latar belakangi oleh sesuatu hal yang sama sekali tak terpikirkan sebelumnya. Novel ini sungguh layak menjadi salah satu koleksi bacaan kalian yang menggemari gendre novel klosal. 4 bintang untuk buku ini


“Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekadar makan dan minum sebelum disembelih," kata Loki Tua waktu itu.” Yusi Avianto Pareanom, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi


Bagaimana Rasanya hidup di atas perahu? Dulu khayalan-khayalan seperti itu sering muncul di alam bawah sadarku. Hidup di atas perahu, j...




Bagaimana Rasanya hidup di atas perahu?
Dulu khayalan-khayalan seperti itu sering muncul di alam bawah sadarku. Hidup di atas perahu, jauh dari siapa-siapa jauh dari apa-apa. Hanya laut, air, angin dan bintang di malam hari. Betapa menyenangkannya.

Pagi ini saya menyaksikan kehidupan itu secara nyata, orang-orang berdatangan dari samudera nan luas, membawa hasil laut aneka macam. Muka-muka lelah tergambar jelas di garis wajah yang di dominasi pemuda-pemuda tanggung itu. Semalaman menerjang ombak dan angin laut yang kadang tak bersahabat. Kehidupan di laut tak semenyenangkan yang kubayangkan, fikirku.

Semalaman mempertaruhkan nyawa kami hanya mendapatkan segini. Begitu kata seorang abk yang usianya mungkin masih belasan. Sekotak kecil ikan aneka macam dia perlihatkan.

“Tak ada lagi yang lain ?” tanyaku memastikan. Dia hanya menggeleng menatap sayu.

“Malam ini purnama, ikan-ikan tak ada yang mendekat. Kami bisanya segini”.  Saya mengangguk pelan.

Pelan-pelan kutinggalkan dermaga ini. hiruk pikuk penadah ikan memang tak seramai beberapa hari kemarin, hanya satu dua ibu-ibu tua yang tak lelah bergulat dengan kehidupan masih betah disana. Menanti sekantong dua kantong ikan jatah dari ABK yang ingin ditadah dan dijualnya kembali di pasar. Rutinitas seperti ini sudah berjalan lama sekali, sudah puluhan bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu.

Awalnya saya bingung, bagaimana transaksi-transaksi bisu itu terjadi. Orang-orang melakukan transaksi tanpa banyak cakap. Hanya gelengan dan anggunkan uang dan kresek hitam berisi ikan bertukar tangan.

Ibu-ibu tua pengepul ikan mengumpulkan kresek demi kresek yang berhasil di tadahnya dari jatah-jatah ABK. Dikumpulkan kedalam termos berisi es batu lalu kemudian di angkut ke pasar, dijual lagi ke pembeli dalam jumlah yang telah dibagi kecil-kecil.

 Orang-orang Mandar memang terkenal ulung mengarungi samudera. Nenek moyang mereka konon katanya berasal dari lautan. “Kami tak bisa lepas dari laut, Kami terbiasa hidup diatas potongan-potongan kayu itu. Berjalan diatas daratan berlama-lama seperti ini malah membuat kami mabok.  begitu kata mualim kapal sambil tertawa lebar.

“Kenapa dulu tidak mencari pekerjaan yang lain aja, jualan atau jadi pegawai kantoran misalnya”, tanyaku iseng.

Bapak tua itu tertawa, menatapku dengan heran. Kami ini tak bisa hidup didaratan, orang tua kami dahulu dilahirkan di laut, dari sanalah kami berasal. Meski penghasilan menjadi nelayan tak pasti, meski kadang kami harus bertaruh nyawa namun kami justru akan mati jika dipisahkan dari akar kehidupan kami” begitu mualim itu menjawabnya.

Suku Mandar dan Laut memang mungkin dua hal yang tak bisa dipisahkan. Kecintaan mereka terhadap samudera telah mengakar, salah satu contoh nyata dari kecintaan itu adalah “Sandeq” perahu layar bercadik yang sepenuhnya menggunakan tenaga angin ini telah lama digunakan melaut oleh nelayan Mandar. Perahu ini sudah tercipta sejak masa silam, dan telah banyak mengajarkan para pelaut Mandar untuk menjadi pelaut ulung

Dewasa ini meski Sandeq tak lagi digunakan untuk menangkap ikan perahu buatan tangan yang sangat diakui oleh dunia ini masih terus terjaga eksistensinya. Selain untuk transportasi antar pulau perahu-perahu sandeq ini lebih sering digunakan untk pestival lomba balap sandeq, dan anehnya hanya orang-orang mandar yang bisa dan mampu menunggangi kuda laut ini.

Festival Sandek sendiri hanya ada di Mandar, setiap tahun dalam rangka memeriahkan hari ulang tahun Republik Indonesia Pemerintah Daerah Kabupaten Polewali Mandar  mengadakan lomba balap sandeq yang diberi nama “Sandeq Race”. Konon pestifal ini tidak hanya melibatkan ketangkasan mengendarai perahu berlayar, kemampuan menaklukkan ombak, dan ketajaman membaca  arah angin juga sangat dibutuhkan. Tak jarang perlombaan balap sandeq ini melibatkan perkara-perkara mistis, ilmu ghaib bahkan beberapa kali pula lomba balap perahu layar ini menelan korban jiwa. “kalah angin” begitu kata pemerhati budaya Mandar yang sempat kutemui beberapa waktu lalu.
Sandeq adalah Mandar, begitu kata orang-orang. Menurut sejarah Sandeq sendiri sebelumnya bernama Pakur, yakni jenis perahu bercadik yang masih kasar bentuknya dan lebih lebar. Pakur kemudian berevolusi, menjadi sandeq. Pertimbangannya untuk kecepatan. Itulah sebabnya, bentuk ideal Sandeq adalah seperti jantung pisang jika dilihat dari muka. Dan soal kecepatan, konon sandeq adalah perahu tercepat sedunia.


Polewali Mandar, 28 April 2018


Akhir agustus kemarin, saya berkesempatan kembali mengunjungi tanah mistis “Toraja”. Ini kali ketiga saya berkunjung ke tempat ini.   k...



Akhir agustus kemarin, saya berkesempatan kembali mengunjungi tanah mistis “Toraja”. Ini kali ketiga saya berkunjung ke tempat ini.  kali ini saya bersama seorang teman saya yang memaksa saya untuk menjadi guidenya. Toraja memang menarik, menyuguhkan wisata yang berbeda dari tempat wisata manapun  yang pernah kukunjungi di Indonesia. Wisata Toraja cenderung lebih mistis dan menyeramkan.  Berbeda dari obyek wisata di tempat lain di sini obyek wisatanya cenderung unik yakni kuburan, rumah adat atau mayat-mayat.  Bayangkan hanya di Toraja kita bisa menemukan ratusan tengkorak mayat-mayat manusia berserakan di goa-goa. Perpaduan wisata budaya dan wisata alam menjadikan Toraja menjadi salah satu tujuan wisatawan lokal dan mancanegara. Tercatat setidaknya tercatat hampir seratusan ribu wisatawan ke Toraja setiap tahunnya. Selama dua hari di Toraja saya mengunjungi tempat-tempat menarik, berbekal sepeda motor sewaan kami mengelilingi banyak tempat di Toraja. Berikut beberapa tempat yang layak dikunjungi versi saya di Toraja.

Bori Kalimbuang


Batu-batu berbagai ukuran itu berdiri kokoh, menjulang tinggi ke langit. Bebatuan ini seperti berasal dari zaman-zaman yang telah lama berlalu, zaman yang telah lama orang lupakan. Bebatuan ini seakan telah merekam begitu banyak peristiwa kehidupan orang-orang Toraja, dari masa ke masa. Menyimpan rahasia dan mistismenya. Aroma purba terasa begitu kuat di sini.

Tempat ini tidak seterkenal Londa, Lemo atau Kete’ Kesu namun bagi saya tempat ini sangat layak di kunjungi saat berkunjung ke Toraja. Letaknya tidak terlalu jauh dari kota, Kita hanya butuh berkendara 10-20 Menit dari Rantepao.

Tak hanya batu-batu menhir nan megah yang menghiasi Bori, di sini juga terdapat kuburan batu yang tak kalah tuanya (Liang Paa’). Kuburan-kuburan batu yang masih berpenghuni dan masih digunakan hingga sekarang. Juga terdapat Pohon “Tara” Pohon sejenis pohon sukun yang tumbuh menjulang tinggi. Pohon ini bukan pohon biasa di dalam batang pohon ini disemayamkan jasad-jasad anak kecil yang telah meninggal. Orang Toraja menyebutnya ‘Passilirian’ atau ‘Liang Pia’. Pohon Tara dilubangi bagian tengahnya lalu jenazah anak kecil diletakkan di sana. Setelah jenazah diletakkan lubang pohonnya kemudian ditutupi degan ijuk. Lama kelamaan lubang itu akan menutup dengan sendirinya. Jenazah bayi-bayi akhirnya menyatu dengan pohon ini. Saya sendiri menyebut pohon ini Pohon arwah mengingatkanku pada pohon arwah di film Avatar

Tidak ada catatan pasti mengenai sejarah awal mula tempat ini, Bori’ Kalimbuang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1718 yaitu saat pembukaan rante (digontingan rante) untuk Ne Ramba. Tempat ini cukup terawat, bersih dan asri. Tarif masuk seikhlasnya. 

Dalam sejarah penjajahan Belanda di Eropa yang pernah mengalahkan Inggris, di Afrika, Amerika Latin dan Asia Tenggara; Belanda tida...




Dalam sejarah penjajahan Belanda di Eropa yang pernah mengalahkan Inggris, di Afrika, Amerika Latin dan Asia Tenggara; Belanda tidak pernah mengumumkan perang secara resmi, terkecuali kepada Aceh. Ini berarti perang melawan Aceh merupakan pengecualian dari segala perang yang pernah dilancarkan Belanda di atas belahan dunia.

Perang Aceh termasuk ke dalam sepuluh perang terlama di dunia. Pada tanggal 26 Maret 1873, Kerajaan Belanda mengeluarkan Pernyataan perang dengan resmi atas kerajaan Aceh. Maka pasukan Belanda dibawah pimpinan Jendral J.H.R Kohler pada tanggal 5 April 1873 mulai menyerang Aceh. Pasukan Belanda memusatkan serangannya pada Masjid Raya Baiturrahman. Setelah pertempuran berlangsung beberapa lama, Masjid Raya Baiturrahman terbakar dan dapat dikuasai Belanda. Dalam pertempuran tersebut Jendral Kohler tewas. Meskipun Masjid Raya Baiturrahman dapat dikuasai Belanda, namun hal itu tidak berlangsung lama. Belanda semakin terdesak dan pergi meninggalkan Aceh pada tanggal 29 April 1873.


Puncak Sikunir Kadang memang kita butuh sendiri seperti hari ini, saya berada di bilik sebuah warnet aku suka dunia sempit ini ...

Puncak Sikunir


Kadang memang kita butuh sendiri
seperti hari ini, saya berada di bilik sebuah warnet
aku suka dunia sempit ini
seperti melepaskanku dari sesutau
aku merasa aman, hanya aku dan diriku.
tidak melakukan apa-apa.
menikmati segelas kopi hitam Toraja yang beraroma pahit dan sedikit pekat

******


Kalian penah ke Dataran Tinggi Dieng ? Kalian tahu tempat itu ? Konon katanya golden sunrise terindah di Indonesia bisa dinikmati di tempat ini. negeri pada Dewa. Golden sunrise bisa di nikmati di ketinggian Gng. Prau 2 565 mdpl, atau kalau tidak ingin repot cukup ke puncak sekunir dengan ketingginya yang hanya 2.263 mdpl. Untuk menikmati golden sunrise di puncak sikunir anda harus berangkat dini hari. Dari penginapan kami berkendara ke arah desa tertinggi di pulau Jawa "sembungan". Desa ini berada di ketinggian kurang lebih 2.000 meter di atas permukaan laut, dengan suhu yang cukup dingin, sekitar 10 -18 derajat celcius  dan panorama yang luar biasa indahnya.

selain Tibet di Himalaya yang eksotis itu, (baca bukunya Agustinus Wibowo: Titik Nol, Selimut Debu, Garis Batas. Recomendet banget deh) Desa Sembungan ini adalah dataran tiggi  berpenghuni ke dua di dunia. Oh iya, di desa ini juga da sebuah telaga indah namanya telaga cebong, biasanya wisatawan lokal maupun mancanegara memilih mendirikan tenda di seputaran telaga ini. Telaga ini cukup cantik, dengan airnya yang kehjau-hijauan, meski tidak secantik telaga warna. Dari titik ini pulalah pendakian ke puncak sikunir bermula tidak butuh lama untuk sampai puncak sikunir, hanya kuran lebih 30 menit. hari itu kebetulan pengunjung lagi ramai-ramainya, kami berdesak-desakan mencari spot terbaik untuk menikmati golden Sunrise itu.

Golden Sunrise
Awalnya saya sedikit kecewa, matahari tampaknya terlambat bersinar. Saya takut setelah menempuh perjalanan berjam-jam dari Jogja, saya tidak menemukannya tapi beberapa menit kemudian akhirnya matahari malu-malu menampakkan sinarnya. perlahan-lahan tapi pasti. cahaya kemerahan berpendar, merah, jingga, orange dan kadang berwarna emas kekuning-kuningan. Dadaku tiba-tiba terasa hangat, begitu menenangkan. aku menemukannya, sesuatu yang membuat aku selalu merindukan berdiri di titik-titik tertinggi negeri ini.

Kemarin saya juga menantinya di ketinggian prau 2.565 mdpl. setelah berjalan kaki
mengejar sunrise
 berjam-jam dari Dieng Plateau. Indah memang, susatu yang membuat saya selalu ingin dan ingin lagi, berdiri di ketinggian gunung-gunung itu. Menyaksikan matahari terbit dari balik awan. Mungkin ini disebut mountsick. sejenis penyakit yang menjangkiti orang-orang yang pernah merasakan summing atack di pucak gunung. Gejalanya hampir serupa penyakit homesick.

Dari puncak sikunir ini kita juga bisa memandang tujuh puncak gunung. Yakni Sindoro, Merapi, Merbabu, Lawu, Telomoyo, Ungaran, dan Prau di kawasan Dieng. Dari puncak Sikunir ketika pandangan mengarah ke barat terlihat Telaga Cebong yang bersebelahan dengan perkampungan Sembungan. Di sekitar Bukit Sikunir selain Telaga Cebong juga ada empat telaga lain, yakni Asat atau Wurung, Gunung Kendil, dan dua Telaga Pakuwujo.

Dibalik semua tempat indah itu, ternyata ada sebuah kisah tragis yang kalian harus tahu. Sebuah kisah yang telah diceritakan turun temurun oleh penduduk negeri ini. sebuah tragedi. Sebuah bencana. Kata orang "alam selalu punya cara utuk membalas kelakuan manusia" dan hal itu pernah terjadi di negeri indah ini.

Tahun 1979 sebuah tragedi memilukan terjadi. Gas beracun dari Kawah Sinila merenggut ratusan korban  Tragedi Sinila adalah peristiwa mencekam yang terjadi pada malam hari menjelang subuh tepatnya pada tanggal 20 Februari 1979. Tragedi ini disebabkan karena sebuah fenomena alam, yaitu letusan salah satu kawah di dataran tinggi Dieng, yaitu kawah Sinila. 149 orang tewas dalam peristiwa ini. Kawah Sinila terletak di antara Desa Batur, Desa Sumberejo, dan Desa Pekasiran, Kecamatan Batur. Pada malam mengerikan tersebut, Kawah Sinila meletus dan mengeluarkan banyak gas karbondioksida dari dalam kawah tersebut ke udara. Banyaknya gas beracun yang keluar dari dalam kawah, menyebabkan udara di sekitar pemukiman penduduk ikut tercemar. Orang dewasa, orang tua, dan anak-anak ditemukan tewas bergelimpangan di jalan-jalan di sekitar pemukiman penduduk. Bahkan, tidak hanya manusia, sejumlah hewan ternak pun ikut menjadi korban dalam tragedi mengerikan ini. Kawah Sinila meletus setelah sebelumnya terjadi gempa bumi di sekitar kawasan Dieng. Pemerintah Indonesia menyatakan Tragedi Kawah Sinila Dieng sebagai bencana nasional. (*)

Gas beracun merupakan ancaman utama di kompleks gunung api Dieng yang padat penduduk dan ramai dikunjungi wisatawan. Gas beracun ini kerap menguar dari 11 kawah yang bertebaran di kaldera Dieng. Misalnya, tahun 2011, Kawah Timbang yang sebelumnya dianggap tidak aktif tiba-tiba melepaskan gas beracun dan memaksa warga di sekitarnya mengungsi.

Kejadian serupa pernah terjadi di danau kawah gunung api di Danau Nyos dan Monoun, keduanya di Kamerun. Danau Monoun melepaskan gas karbon dioksida tahun 1984 dan merenggut 37 jiwa. Sedangkan, Danau Nyos melepaskan 1,24 juta ton karbon dioksida hanya dalam beberapa jam tahun 1986. Gas itu menewaskan 1.700 orang.

Sunrise yang dirindukan
Lebih jauh ke belakang, tahun 1955. Alkisah pada suatu malam turun hujan yang lebat. Tengah malam hujan reda. Tiba-tiba terdengar suara "buum", seperti suara benda yang teramat berat berjatuhan. Pagi harinya masyarakat disekitar dukuh Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras itu menyaksikan bahwa Gunung Pengamun-amun sudah terbelah (bahasa jawanya: tompal), dan belahannya itu ditimbunkan ke dukuh Legetang.   Menurut cerita dan mitos dari penduduk di sekitar desa tersebut bahwa anugerah yang di berikan terhadap masyarakat di desa itu telah di salah gunakan untuk kegiatan yang menyimpang dari ajaran agama. Sebagai bentuk hukuman Tuhan.  Alam dibuatnya murka, puncak dari Gunung Pengamun-amun di sebelah barat dari desa itu terlempar serta menimbun pemukiman penduduk setempat. Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya mati. Kisah ini mirip dengan kisah kaum nabi Luth yang tenggelam dalam ke maksiatan. Tuhan mengadzab kaum itu dengan menimpakan gunung kepada penduduknya.

Selalu ada ibrah yang bisa diambil dibalik sebuah peristiwa.  Peringatan atas peristiwa bencana alam tanah longsor itu sekarang di bangun sebuah Monumen peringatan di atas desa tersebut yang di kenal sebagai Monumen Legetang Dieng. Di tugu tersebut tertulis:

"TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN PADA TG. 16/17-4-1955"

Kisah ini sudah lama, tetapi mungkin banyak dari pengunjung Dieng atau bahkan warga Dieng sendiri yang belum mengetahuinya. Semoga kisah-kisah pilu seperti itu tidak lagi terjadi di negeri yang indah itu. Hendaklah kita bisa mengambil banyak pelajaran dari situ, hendaklah kita untuk selalu berusaha menjaga alam kita yang indah ini dan yang lebih penting kejadian-kejadian seperti itu seharusnya menjadi pelajaran buat manusia agar senantiasa berusaha untuk lebih mencintai alamnya dan Pencipta Alam itu sendiri.

Puncak Prau 2.565 mdpl


















* Semua Fakta-fakta tentang Dieng di tulisan ini disadur dari berbagai sumber
* Silahkan baca Postingan saya tentang Gunung Prau dan Bagaimana ke Dieng di postingan saya sebelumnya.
* Semua foto-foto di atas merupakan koleksi pribadi saya. Harap tidak mengambil tanpa izin terlebih dahulu.