@asdar_munandar “Jangan Pernah Terlambat Pulang”  Kata itu dulu tak henti-hentinya sahabatku mengingatkanku. Tadinya terdengar sepel...

Jangan Terlambat Pulang

@asdar_munandar

“Jangan Pernah Terlambat Pulang” 
Kata itu dulu tak henti-hentinya sahabatku mengingatkanku. Tadinya terdengar sepele bagiku, bukankah tanpa dia ingatkanpun saya pasti pulang. Tidak mungkin selamanya saya akan jadi perantau bukan, begitu selalu kilahku.  Setelah bertahun-tahun kalimat itu pernah saya dengar, sore ini, saat perjalanan udara Makasar-Jakarta entah kenapa kata-kata itu tiba-tiba terngiang kembali. “Jangan terlambat Pulang”. Saya tersadar  betapa kalimat sepele itu memiliki arti yang luar biasa.
  
Apakah kali ini saya akan terlambat pulang, begitu fikirku. Turbelensi akut di 11 menit pertama penerbanganku tak ayal membuatku sedikit takut, tiba-tiba banyak hal terlintas. Apakah kali ini saya sungguh akan terlambat pulang ?. Tiba-tiba kata pulang itu terasa begitu berarti.

Pulang berarti banyak hal. Pulang berarti kembali setelah mengalami perjalanan panjang kehidupan. Bukankah kehidupan manusia sejatinya hanyalah perjalanan untuk kembali pulang. Bukankah rumah sejati  kita bukan di bumi melainkan di langit sana dan di sini kita hanya singgah berbekal-bekal agar kelak kita mampu menempati tempat yang layak. Pesawat boing ini masih terus berguncang, kumpulan awan mendung seperti tak ada habis-habisnya. Bergetar dan bergetar.  Tiba-tiba saya begitu takut terlambat pulang.

Setelah sekian lama saya tersesat. Kekhilafan demi kekhilafan kulakukan dan hari ini tiba-tiba kata “pulang” itu terasa begitu dekat. Apakah sungguh saya telah terlambat pulang. Apakah saya akan berakhir seperti ini, merugi di dunia dan merana di akhirat. Apakah ini waktunya.  Sungguh, manusia itu akan menyesal atas apa yang telah dia lakukan. Atas kedoliman-kedzolimannya, kekhilafan yang terus berlanjut, atas waktu yang disia-siakan  dan atas rasa syukur yang tak pernah terucap. Kita sungguh akan menyesal.

Bila selama ini kita terlalu banyak melakukan hal yang tidak berguna, maka sudahilah cukup sampai disini. Bila selama ini kita terlalu banyak berkata dusta, maka sudahilah, kembalilah dan obati hati kita dengan kejujuran. Bila selama ini kita telalu menggantungkan hidup kita kepada manusia, maka sudahilah dan kembalilah kepadaNya, bergantung hanya pada ketentuan-Nya. Bila selama ini kita terlalu gampang terombang ambing hawa nafsu, maka sudahilah berhentilah pada titik ini kemudian berputar arahlah. Dan pulanglah sebelum semuanya terlambat. Karena sungguh, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap  kita akhirnya akan kembali pulang, nafas kita akan berhenti pada suatu titik. Saya sungguh takut, jika detik ini, saat ini, di penerbangan ini adalah waktu terakhir saya dan saya belum menemukan jalan pulang. 


Jakarta, 20 November 2016
Perjalanan Pulang, Boarding Gate.


Bandara Internasional Soekarno Hatta. 

0 komentar: