Gejala awal hiportemia adalah tubuh akan berusaha menghasilkan panas dengan cara menggigil, jika tidak berhasil, sirkulasi darah akan m...


Gejala awal hiportemia adalah tubuh akan berusaha menghasilkan panas dengan cara menggigil, jika tidak berhasil, sirkulasi darah akan menurun secara ekstrem metabolisme tubuh akan menjadi melambat. kau sekarat tanpa kau sadari, pada tahap akhir kamu hanya bisa bernafas tiap dua kali semenit, kamu berada dalam keadaan mati suri. Saya menggeliat kedinginan di puncak Gunung Ijen. Jaket tipisku tak mampu menghalau udara dingin yang menusuk-nusuk. Kecerobohanku berbuah penyesalan. Jaket tebal yang seharusnya kubawa serta, tertinggal di rumah hanya karena alasan fleksibilitasi. Saya memang akan langsung menuju Mataram setelah dari sini. Pertimbangan itulah membuatku harus mengemas barang seefisien dan seringkas mungkin.




Suhu dingin pegunungan ini membuatku hampir hipotermia, beruntung dipuncak saya bertemu dengan beberapa pendaki lokal yang sedang membuat api unggung. Saya dipersilahkan bergabung menghangatkan diri. Rasa-rasanya saya ingin membakar diri diatas perapian itu saking dinginnya.
Kawah ijen merupakan destinasi utama yang ingin kudatangi di Banyuwangi. Perkenalanku pertama kali dengan ijen pada akhir 2013 lalu, dalam penyebrangan lintas pulau, Banyuwangi-Bali. Saya melihat Gunung Ijen menjulang tinggi dari atas kapal penyebrangan yang menyebrangkan kami ke pulau dewata. Seseorang di  kapal penyeberangan itu bercerita, konon di puncak ijen itu ada api yang berwarna biru yang begitu indah, mitosnya api itu tidak bisa menapakkan dirinya pada sembarang orang.  Sejak hari itu saya terus menerus bermimpi untuk bisa melihat dari dekat blue fire yang konon hanya ada dua di dunia itu. Di kawah ijen dan di Islandia.

Pendakian di kawah ijen bermula di pos Paltidung,. Pintu gerbang pendakian baru dibuka pada pukul 01.00 dini hari, dan akan ditutup menjelang siang hari, lewat dari jam itu, jangan harap pengelola kawasan wisata ini akan mengijinkan kita untuk mendaki. Pendakian hari ini tidak terlalu ramai, mungkin karena bukan musim liburan. Pendaki justru di dominasi oleh wisatwan asing. Sekolompok turis dari Singapur tampak begitu bersemangat, juga sepasang manula dari Spanyol yang datang hanya berdua tampa guide. Keluarga kecil dari Jerman dengan anak lelakinya yang belum berumur lima tahun juga terlihat bersemangat. Selain wisatawan asing tempat ini juga diramaikan dengan penambang belerang dan penjajah jasa ojek troli. Kalian jangan bayangkan ojek ini sama seperti ojek-ojek yang kalian kenal pada umumnya. Ojek ini seratus persen menggunakan tenaga manusia bukan tenaga mesin. Jadi, troli yang seharusnya digunakan untuk mengangkut belerang dari puncak gunung dimodifikasi sedemikian rupa agar bisa mengangkut manusia. Satu atau dua manusia bisa diangkut sekali jalan. tarifnya tergantung jarak. Dari pos satu titik awal pendakian, tarif ditawarkan sekitar Rp800.000 untuk bolak balik perjalanan. Tarif akan terus berkurang tergantung jauh dan dekatnya puncak ijen.


Saya miris melihat adegan ini. Ini bukan jasa ojek menurutku, ini jasa perbudakan. Perbudakan dengan cara yang berbeda.  Dikotomi memang, orang-orang berduit mengeluarkan beberapa lembar rupiah untuk memudahkan menikmati tempat ini, berfoto-foto, pamer di medsos hanya untuk beberapa like dan komen di Instagram. Disisi sebaliknya, penjajah jasa ojek harus bejibaku, bermandikan keringat mengendalikan troli di jalan-jalan pendakiang yang curam, untuk beberapa lembar rupiah agar asap dapur tetap bisa mengepul, agar anak-anak mereka masih bisa tetap menikmati bangku sekolah. kehidupan selalu punya dua sisi



Untuk mencapai puncak kawah setidaknya dibutuhkan waktu normal 2 sampai 4 jam perjalanan, dengan jalur tracking menanjak tampa jeda. Jalur pendakian terbilang lebar dengan bebatuan, jalan berdebu dan pepohonan rapat khas vegetasi hutan di sepanjang jalannya.

Tantangan pertama yang kuhadapi adalah perjalanan dari tempat penginapan ke pintu gerbang Gunung Ijen, dari stasiun Karangasem kita harus berangkat dini hari. Saya memacu kendaraanku pukul 01 dini hari, menuju posko penjaga taman nasional gunung ijen. Peralanan dari stasiun karang asem ke titik awal pendakian kurang lebih satu jam lamanya. Perjalan ke pos platidung ini tidak bisa dibilang mudah. Motor matik yang kugunakan berkali kali harus ku dorong, mengingat jalan yang dilewati mendaki dan berkelok kelok.

Teman seperjalananku sudah jauh meninggalkanku. Bayangkan kau mendorong motor di pendakian dini hari ditengah hutan dan tak ada sesiapa. Bahkan sampai sekarang kalau aku mengigatnyapun membuat bulu kudukku merinding. Saya mengumpat berkali-kali dalam hati. Teman seperjalananku meninggalkanku begitu saja. Resiko backpacker sendiri kadang memang setragis ini. Kau tak boleh berharap pada siapapun, termasuk teman seperjalanan yang baru kau temui.  Satu-satunya yang bisa kau harapkan adalah dirimu sendiri. Beruntung tak lama kemudian pos platidung tampak terlihat dari kejahuan.  Orang-orang sudah sedari tadi memulai pendakian, mengingat blue fire hanya bisa dilihat pada jam-jam tertentu.

Saya berkeliling mencari teman perjalananku tadi, kutemukan dia menantiku di dekat pintu gerbang utama. Sebelum mendaki kuputuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Di kawasan ini tak susah untuk menemukan warung yang masih terbuka hingga dini hari. Saya menikmati segelas pop mie di warung persis didepan pintu gerbang utama, juga segelas kopi jahe hangat dan membeli sebotol besar air minum untuk kubawa serta ke puncak.

Setelah merasa siap, kami mulai mendaki dari pos Platidung, tak lupa membayar biaya registrasi terlebih dahulu. Sepanjang pengalaman saya, 30 menit pertama pendakian adalah waktu-waktu kritis, tubuh kita mengalami perubahan metabolism secara drastis. Suhu dingin pegunungan turut mempengaruhi ketahanan tubuh kita. Itulah mengapa pendakian ke gunung itu bukan perkara sederhana, bukan perkara kau bisa memenuhi feed instagrammu dengan berbagai foto kece. Pendakian ke gunung itu bisa kau bayar dengan nyawamu. Saya terbayang-bayang peristiwa dua tahun lalu, sesorang pendaki asal Bali meninggal di Puncak Ijen. Di usianya yang masih sangat belia.
Apalagi persiapanku mendaki tidak cukup baik, mengingat perjalanan ini begitu tiba-tiba. Berkali-kali aku harus berhenti menenangkan diri, membiarkan tubuhku bisa beradaptasi dengan baik. Teman seperjalananku entah dimana. Nyatanya kami memang tidak cukup akrab karena baru saja dipertemukan sore tadi. Mungkin saya meninggalkannya terlalu jauh.

Pendakian menuju puncak kawah ijen terus menerus menanjak, beruntung di pertangahan jalan kita bisa berehat sejenak. Terdapat warung yang menyediakan anekan minuman hangat dan mie instan yang bisa kembali menyuplai tenaga. Juga terdapat toilet dengan fasilitasnya yang lumayan memadai. Saya memutuskan kembali berhenti sejenak, menikmati segelas wedan jahe hangat. Kembali mengumpulkan tenaga dan semangat.  Beberapa tahun yang lalu saya telah memutuskan untuk tidak lagi melakukan pendakian-pendakian semacam ini namun kerinduanku dan rasa penasarannya dengan blue fire itu membuatku melanggar janjiku. Dengan kondisi yang serba terbatas ini, saya memaksakan diri menggapai puncak ijen

Setiap orang punya alasan masing-masing, kenapa harus mendaki gunung ? atau kenapa memilih bepergian sendiri atau naik gunung sendiri. Aku juga menyimpan alasanku sendiri. Perjalan-perjalanan sendiri seperti ini semacam endropin tambahan buat tubuhku. Memberiku jeda sejenak dari rutinitas kerjaan atau beban masalah yang kadang tak ada habisnya. Perjalanan sendiri memberimu banyak space untuk merenung. Memaknai ulang apa-apa yang telah terjadi dengan hidupmu.

Saya tak ditakdirkan bertemu dengan api abadi itu, si blue fire yang mengagumkan. Api Biru yang hanya ada dua di dunia. Kecewa. Pendakian selalu mengajarkan banyak hal, termasuk kegagalan. Nyatanya tidak semua hal yang kita inginkan bisa kita dapatkan, seberapa kuat pun kita terus menerus mencoba. Manusia selalu dibatasi garis batas. Orang-orang menyebutnya “takdir”. Mungkin memang banyak hal dalam hidup ini harus berlalu begitu saja. Mungkin memang kita harus lebih banyak belajar untuk kecewa agar kita bisa berdamai dengan banyak hal yang tidak sejalan dengan hati kita.
Setelah pendakian ini, saya merasa tak lagi memiliki minat untuk mendaki ke gunung manapun di Indonesia, tidak Semeru yang puncaknya dulu menolakku untuk kegapai atau  Rinjani yang telah menolakku dua kali, bahkan ketika saya telah berdiri didepan pintu gerbangnya.

Perjalananku berikutnya mungkin akan ku fokuskan pada tempat-tempat menarik di seluruh wilayah Indonesia, saya hanya akan berkeliling dari provinsi ke provinsi, kota ke kota bahkan desa ke desa, saya berjanji akan menginjakkan kaki di lebih banyak tempat di negeri ini. Melihat berbagai macam hal yang sebelumnya belum pernah kulihat, tapi maaf untuk mendaki gunung, sudah kuucapkan terimakasih dan Assalamualaikum.   





Bersambung

Goodreads challenge Pada tahun 2018 kemarin untuk pertamakalinya selama beberapa tahun saya mengikut challenge di goodreads berhasil...



Goodreads challenge
Pada tahun 2018 kemarin untuk pertamakalinya selama beberapa tahun saya mengikut challenge di goodreads berhasil menyelesaikan semua targetku. saya menargetkan membaca 25 buah buku dan Alhamdulillah berhasil menyelesaikan 26 buku. lebih banyak dari jumlah target yang kutetapkan di awal challenge. saya membaca beberapa buku yang sangat luar biasa di tahun kemarin  dan sekarang saya kembali mengiktu goodreads challenge dengan menargetkan lebih banyak buku dari tahun sebelumnya yakni sebanyak 30 buah buku. Semoga tahun ini target saya kembali bisa tercapai

See Prayer
Buku pertama yang berhasil kuselesaikan di tahun 2019 adalah  "Sea Prayer" karya pengarang terkenal Khaled Hosseini penulis novel best seller “Kit Runner” dan “a Thousand Splendid Suns”. Dua buku yang begitu berkesan buat saya.

Sea Prasyer sendiri hanya novel tipis tak lebih dari 50 lembar yang dibuat lengkap  dengan ilsutrasiya yang begitu dingin dan menyedihkannya. Menurutku buku ini begitu emosional, sangat nyata dan begitu menyayat hati.  Buku ini didedikasikan kepada ribuan pengunsi yang raib di lautan demi menghindari perang dan penganiayaan. Khaled Hossein menulis buku ini sebagai keprihatinan atas krisis pengungsi yang saat ini terjadi di dunia. Dia tergugah oleh foto Alan Kurdi, bocah pengungsi Suriah usia 3 tahun yang jenazahnya terdampar di sebuah pantai di Turki. Khaled ingin memberi penghormatan pada jutaan keluarga yang tercerai-berai dan terusi dari rumah mereka gara-gara perang. Royalti dan buku ini akan disumbangkan ke UNHCR dan Yayasan Khaled Hosseini untuk membantu para pengungsi di seluruh dunia.

Membaca buku ini sungguh membuat hatiku  hancur. Kehidupan di kota tua Homs yang tadinya digambarkan begitu indah tiba-tiba berubah 180 drajat. Angin sepoi-sepoi di musim panas yang menyejukkan berganti dengan deru mesiu yang tiba-tiba memporakporandakan kehidupan yang tenang di Homs.  Jutaan bom-bom dijatuhkan, membentuk kubangan yang bisa dijadikan kolam renang. Darah menggenang.   Anak-anak menjadi yatim, perempuan menjanda, kelaparan. Dan ribuan lainnya harus meninggalkan tanah kelahiran mereka menuju sesuatu yang sama tak pastinya. Apapun alasannya perang adalah kejahatan tak termaafkan.

Perang telah menyakiti banyak orang. Tak terhitung berapa juta orang yang meninggal karena perang, sebagian yang memilih mengunsi sama menyedihkannya, ribuan orang raib ditengah lautan. Hilang ditelan ganansnya ombak, Sebagian yang lebih beruntung menemukan daratan namun mereka tak disambut, terusir lagi. Mengungsi lagi. Dan nasib mereka mungkin akan kembali seperti Alan Kurdi.

Tentang Alan Kurdi.

2 September 2015. Rabu pagi. Hari itu dunia dikejutkan dengan potret seorang bocah terdampar ditepi pantai di Turki. Dengan cepat gambar itu viral di media social, dunia terguncang. Bocah itu pengungsi dari Suria bernama Alan kurdi. Dia menjadi salah satu dari 12 warga Suriah yang ditemukan tenggelam dalam pengungsiannya. Ia berjuang bersama saudara laki-lakinya dari kota Kobani, Suriah Utara. Sayangnya saudara Alan Kurdi juga meninggal dalam persitiwa itu. Alan Kurdi hari itu ditemukan tergeletak tak bernyawa di bibir pantai di Turki, lengkap dengan sepatu kecil hitamnya celana pendek biru dan kaos merah bergambar. Hari itu Alan Kurdi seakan ingin memberitahukan pada dunia, inilah yang telah kalian lakukan padaku. Inilah akbiat dari ketidakpedulian kalian padaku. Jutaan Alan Kurdi lainnya di Suriah, Palestin, Afgahnistan, YordAnia dan negeri-negeri berkonflik lainya  mungkin akan bernasib sama sepertiku atau mungkin akan jauh lebih menyedihkan. Dan kelak kalian akan aku tuntut di hadapan Tuhan atas ketidakpedulian kalian.



Note: Terimakasih dari komunitas tukar buku “KOTUBU” yang mengirimiku buku ini. Buku ini sangat berarti buat saya.

Namanya Mamasa, negeri ini berselimut kabut. Di Subuh hari suhu udara bisa mencapai 7 drajat. Tempat ini dikelilingi gunung-gunung tingg...

Namanya Mamasa, negeri ini berselimut kabut. Di Subuh hari suhu udara bisa mencapai 7 drajat. Tempat ini dikelilingi gunung-gunung tinggi, jalanan berliku-liku dengan jurang yang menganga lebar di kiri kanannya. Tempat ini seakan berada di dimensi yang berbeda, menyendiri tersembunyi di lereng-lereng gunung Gandang Dewata. Mamasa seperti dimensi lain yang jauh, ada semacam tembok portabel tak kasat mata yang membatasi kehidupan di sana dan kehidupan dunia luar. Bahkan dulu  hingga akhir tahun 80an perjalanan Mamasa-Polewali ditempuh tiga hingga empat hari lamanya. Barulah di tahun 1988 Perjalanan Mamasa-Polewali bisa ditempuh dengan Kendaraan roda dua. Perlahan tapi pasti saya rasa Mamasa mulai menemukan masa depannya.

Mamasa memerdekakan diri dari Induk Kabupatennya baru beberapa tahun yang lalu, 2 dasarwarsa belum berlalu. Pemekaran itu harus dibayar mahal. Konon puluhan nyawa harus melayang, diwarnai konflik berdarah yang tak begitu terendus media. Meski demikian Mamasa resmi memisahkan diri pada tahun 2002.  Namun kini lihatlah, tempat ini seperti terkaget-kaget menyakiskan pertumbuhan daerahnya. Jalan beton dari pintu gerbang Kabupatennya sampai di kota, listrik, jaringan telfon dan internet yang dulu hanya mimpi belaka kini benar-benar bisa dinikmati. Mamasa akan menjadi ikon wisata Sulawesi Barat disuatu hari nanti.

Pertamakali saya ke Mamasa, akhir tahun 2015 lalu dan sejak saat itu entah sudah ke sekian kalinya saya mengunjungi negeri berselimut kabut ini. .Saya selalu dibuat kagum setiap datang berkunjung ke tempat ini. selalu ada hal baru dan misterius yang kutemukan. Mamasa memiliki semua kualifikasi sebagai tempat wisata, Berada di ketinggian 1600 mdpl menjadikan tempat ini beriklim sejuk.  Pemandangan alam yang indah dan masih alami, adat dan tradisi yang unik, serta aneka kuliner dan juga kopi Mamasa-nya yang terkenal sanagan enak. Setidaknya ada beberapa tempat yang direkomendasikan yang harus kalian lihat atau kunjungi jika sedang berada di Mamasa, beriku 10 diantaranya:

1. Makam Tedong-Tedong Balla
Tedong-tedong minanga atau kuburan tedong-tedong yang terletak di Desa Buntu Balla, Mamasa. kuburan ini diperkirakan berusia sekitar 400 tahun lebih. Akses ke sini terbilang mudah. dari Ibu kota kabupaten Mamasa hanya dibutuhkan 10-15 Menit untuk sampai ditempat ini. Tedong (kerbau) di Mamasa begitu di sakralkan, selain karena untuk kepentingan ritual, hewan ini juga melambangkan strata sosial suatu keluarga. Karena saking berartinya, bahkan dulu bangsawan-bangsawan mamasa di semayamkan di dalam patung berbentuk Tedong, seperti yang ada di Binanga ini, orang di sini menyebutnya Liang Tedong. Liang Tedong, ialah kuburan yang terbuat dari kayu yang berbentuk kerbau, didalam perut kerbau inilah disimpan mayat mayat para bangsawan Mamasa. Masyarakat Mamasa meyakini bahwa Makam Tedong Tedong Minanga di Balla adalah pusat pemakaman nenek moyang mereka ratusan tahun yang lalu. Hingga kini tak banyak literatur yang bisa menjelaskan asal-usul dan filosofi keberadaan kuburan tedong-tedong ini termasuk Bapak yang menjaga Makam ini.

2. To’ Pinus Mamasa
Siapa sangka setelah berkunjung untuk ke sekian kalinya, saya baru menemukan tempat ini "hutan Pinus" yang jaraknya kurang lebih hanya 500 meter dari tempatku menginap. Tempat ini mengingatkanku aka hutan pinus di Malino tapi dalam skala yang lebih kecil. Berlokasi di pusat kota yakni persis dibelakan kantor Bupati Mamasa menjadikan akses kesini terbilang mudah, sayangnya tidak banyak yang tahu mengenai keberadaan to’ pinus ini. Mungkin karena masih di kelola secara pribadi dan kurangnya publikasi menjadikan tempat ini belum seterkenal tempat wisata lainnya di Mamasa. Tarif masuk terbilang sangat murah, hanya Rp2.000,00 per orang.  Namun berhati-hatilah saat ingin berkunjung ketempat ini. Selain karena tangga menuju ke hutan pinus sangat licin dan curam, juga pemilik kawasan wisata ini memelihara beberapa ekor anjing yang sering menyalaki pengunjung.

3. Kolam Air Panas Mamasa

Dengan suhu udara yang begitu dingin, berendam di air panas yang masih begitu alami memang sangat menyenangkan. Di Mamasa setidaknya terdapat tiga titik kolam permandian air panas yang berada di sektiaran kota Mamasa. Tarif masuk permandian air panas ini berpariasi antara Rp5.000 sampai dengan Rp15.000 per orang. Kolam air panas terdekat berada di belakang Hotel Nusantara. Terdapat beberapa kolam dewasa dan anak-anak juga satu kolam privat yang bisa disewa secara probadi. Kola ini terbilang sangat bersih dan terawat di banding dua kolam lainnya. Berendam di kolam air panas di tengah hawa dingin Mamasa yang dingin memang sangat menyenangkan.

4. Buntu Liara
Kalau di Toraja terkenal akan negeri di atas awan “Lolai” di Mamasa juga terdapat tempat yang sama yakni “Buntu Liara”.  Setidaknya ada beberapa jalur yang bisa diakses untuk menuju ke tempat ini. Namun akses terdekat dari pusat kota yakni melalu lajur Balla Peu. Kita harus berkendara kurang lebih 30 Menit kea rah Balla. Wisatawan biasanya memarkir kendataan di depan kantor desa. Lalu kemudian dilanjutkan dengan trekking menuju puncak gunung Liarra yang berada di Desa Talimbung. Trekking ke puncak membutuhkan waktu sekitar 30 menit hingga 1 jam. Tapi ingat awan-awan berarakan hanya muncul saat pagi (pukul 5 hingga 9) dan sore hari (pukul 3 hingga 4). Di luar waktu itu awan sudah menghilang. Waktu terbaik mengunjungi tempat ini setelah subuh atau sebelum matahari terbenam. Persiapkan bekal secukupnya jika akan berkunjung di tempat ini di kawasan ini belum ada sama sekali warung makanan yang bisa di jumpai.

5. Upacara Adat Rambu Solo
Secara sekilas tidak ada perbedaan yang mencolok antara Mamasa dan Toraja dari cara mereka memperlakukan mayat dalam ritual adat Ramu Solo. Seperti halnya di Toraja, di Mamasa Kematian tidak pernah diartikan sebagai Duka. Kematian adalah sesuatu yang seharusnya dirayakan. Orang yang meninggal itu hanya berpindah. Mereka berpindah ke alam yang lebih baik. Mereka naik kasta. Itulah mengapa kematian di sini dirayakan seperti merayakan kehidupan. Disini kematian justru mempersatukan kehidupan. Kematian salah satu anggota keluar akan mendatangkan ratusan sanak saudara dari seluruh penjuru. Sanak keluarga datang berbondong-bondong. Mereka datang membawa ayam, babi atau kerbau yang harganya bisa sampai puluhan bahkan ratusan juta untuk dipersembahkan ke keluarga yang meninggal. Beban biaya pemakaman yang mahal dalam upacara adat Rambu Solo akan ditanggung bersama semua anggota keluarga besar. Itulah mengapa ikatan kekeluargaan begitu kokoh di sini. Ikatan keluarga bahkan tidak terputus meski seseorang telah meninggal.

6. Upacara Adat Mangarong di Nosu
Salah satu upacara adat yang sangat kurekomendasikan untuk kalian saksikan di Mamasa adalah upacara adat Mangarong ini. Upacara adat ini hanya ada di Nosu jadi bila berkeinginan menyaksikan upacara adat yang masih sangat natural ini datanglah ke Nosu pada musim-musim panen tiba yakni tepatnya di bulan-bulan Agustus atau September setiap tahunnya. Sayangnya akses ke Nosu masih sangat minim. Dibutuhkan nyali yang super ekstra untuk menjangkau tempat ini. Jika berkeinan mengunjungi tempat ini sebaiknya gunakanlah kendaraan roda dua jenis trail dari kota Mamasa.
Di Nosu, mayat-mayat tidak dikuburkan di lubang-lubang batu sebagaimana saudara tua mereka di Toraja. Mayat-mayat justru disimpan dengan rapi di alang-alang (rumah makam). Mayat-mayat leluhur di tumpuk di sana. Disusun dengan rapi seperti guling. Setiap tahun tepatnya di bulan agustus setelah musim panen tiba akan diadakan ceremonial “mangaron”. Seluruh mayat yang ada se distrik ini dikeluarkan, dikumpulkan di tanah lapang. Babi dan kerbau-kerbau disembelih sebagai persembahan. Pakaian-pakaian mereka di ganti, dibungkus lagi dengan rapi, diupacarakan lagi, baru kemudian dikembalikan ke “alang-alang” , peristirahatan terakhir mereka.

7. Terasering di Pana 
Distrik ini masih begitu terpencil. Berjam-jam perjalanan dari ibu kota kabupaten. Akses ke sana tidak bisa dibilang mudah. Bayangkan hanya sekitar 70km dari Ibu kota Kabupaten harus ditempuh 6-7 jam perjalanan.  Tempat ini dikelilingi gunung-gunung menjulang tinggi, hutan-hutan tua, dan jurang-jurang yang menganga lebar. Aroma mistis bercampur aroma kopi menyeruak kuat di udara. Jangan harap kalian bisa dengan mudahnya mengakses internet di sini bahkan hanya untuk menelepon pun di sini hampir sama mustahilnya.  Meski dibekap ketertinggalan seperti ini tempat ini punya sesuatu yang sangat istimewa. Panorama alam yang begitu indah. Hamparan pertanian bertingkat-tingkat membentuk lukisan alam yang sangat indah. Tempat ini mengingatkanku akan kawasan terasering di Ubud Bali. Selain kawasan pertanian tempat ini juga terkenal dengan ke aslian kopinya. Hampir serratus persen penduduk disini bertani kopi. Dari sinilah sumber pemasok utama kopi Mamasa yang terkenal beraroma nikmat itu.

8. Patung Tedong di Taman Kota

Masih tentang “Tedong”, persis di pusat kota Mamasa, tepatnya di taman kota ada sebuah patung Tedong Besar yang berwana belang atau Tedong Doti. Tedong Doti berharga mahal, hanya segelintir orang yang bisa memiliki dan mempersembahkan tedong doti pada ritual Rambu Solo. Satu tedong doti bisa seharga puluhan bahkan ratusan juta. Tedong doti memang suddah menjadi symbol di Mamasa, salah satu wujud kecintaan orang-orang Mamasa terhadap hewan sakral ini dengan dibangunnya patung Tedong sebagai ikon kota Mamasa.

9. Patung Bunda Maria

Saya terkagum-kagum melihat Patung Bunda Maria  yang begitu tinggi ini. Belakangan kuketahui patun ini merupakan salah patung Bunda Maria tertinggi di Asia Tenggara. Patung ini berada di Pena tepatnya di Bukit Ziarah Bunda Maria Pena. Proses pembuatan patung dan kawasan religi ini memakan waktu yang cukup lama. Sementara patungnya sendiri didatangkan langsung dari Magelang, Jawa Tengah. Patung berwarna putih setinggi 12 m ini diresmikan sejak 2012. Selain patung Bunda Maria, juga terdapat bebera patung-patung lain menghiasi dari halaman bawah tempat yang dicanangkan menjadi situs ziarah umat Katolik ini.

10. Gereja Tua Mamasa
Bangunan ini merupakan sebuah gereja tua di kota Mamasa. Gereja ini berada di atas perbukitan menghadap ke jantung kota Mamasa yang dibangun pada zaman Belanda tahun 1938. Bangunan ini merupakan gereja tertua kedua yang ada di Mamasa. Meski akses ke tempat ini sangat mudah namun cagar budaya ini tak terurus, di sekelilingnya sekarang ditumbuhi rerumputan liar. Selain gereja tua ini terdapat beberapa gereja yang syarat dengan nilai sejar di Mamasa juga beberapa Gereja yang tampilannya sangat indah seperti Gereja Katolik St. Petrus  yang baru selesai dibangun pada tahun 2017 lalu.


Jalan-jalan tidak perlu harus spektakuler. cukup pergi ke tempat-tempat yang asing atau melakukan sesuatu yang baru Karena pendakia...


Jalan-jalan tidak perlu harus spektakuler. cukup pergi ke tempat-tempat yang asing atau melakukan sesuatu yang baru

Karena pendakian ke Gunung Ijen baru bisa dimulai pada tengah malam buta maka praktis pagi ini saya belum bisa menuju kawasan taman nasional gunung ijen. Saya memutuskan mengunjjungi Taman Nasional Baluran dulu. Setelah bersih-bersih, sarapan dan istirahat sebentar saya memutuskan untuk mengunjungi Baluran seorang diri. Berbekal google maps pada aplikasi smarphoneku dan motor rentalan yang juga disediakan di penginapan tempatku menginap, saya menyusuri jalan-jalan sepi di Banyuwangi.


Taman Nasional Baluran sendiri merupakan sebuah kawasan konservasi hutan lindung terbesar ke sekian yang dimiliki Indoneisia. Taman Nasional ini  terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo dan Wongsorejo, Banyuwangi (sebelah utara), Jawa TimurIndonesia. Nama dari Taman Nasional ini diambil dari nama gunung yang berada di daerah ini, yaitu Gunung Baluran. Gerbang untuk masuk ke Taman Nasional Baluran berada di 7°55'17.76"S dan 114°23'15.27"E. Taman nasional ini terdiri dari tipe vegetasi sabana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun. Tipe vegetasi sabana mendominasi kawasan Taman Nasional Baluran yakni sekitar 40 persen dari total luas lahan. (Sumber: Wikipedia)

Sebelum sampai ke Taman Nasiunal Baluran, saya sempat tersesat sejauh 15 kilometer. Saya terhipnotis hutan-hutan jati yang berjejer rapi di sepanjan jalan menuju Situbondo. Keindahan hutan-hutan jati yang mengering ini membuatku tak sadar. Tampa kusadari saya sudah berkendara terlalu jauh meninggalkan pintu gerbang masuk ke Baluran. Beruntung saat itu mata saya ngantuk sekali, saya memutuskan menepi di warung kopi pinggir jalan, menikmati segelas kopi hitam beraroma nikmat. Ibu pemilik warung kopi menertawakanku. Saya terlalu jauh tersesatnya katatanya. Tersesat seperti ini justru kadang patut disyukuri. Saya tidak mungkin menemukan pemandangan sebegini indahnya andai kata tidak tersesat tadi. Disepanjang jalan berjejer pohon-pohon jati yang hampir mengering tak berdaun. Rumput dan ilalang berwarna coklat keemasan, juga sisa bekas hutan terbakar menyisakan pepohonan yang hangus dan rerumputan yang kini berwarna arang. Tempat ini terlihat aneh namun eksotis, sedikit kelam namun mempesona. Saya berkali-kali harus berhenti hanya untuk mengangumi keindahan lukisan alam didepanku itu. Sayangnya tak ada seseorang yang bisa kumintai tolong untuk mendokumentasikanku di tempat ini. Tempat ini begitu sepi, kendaraan yang melintas pun hanya satu dua. Resiko solo backpacker seperti saya ini pasti akan sangat minim dokumentasi pribadi.

Setelah memutar haluan, saya akhirnya menemukan pintu masuk taman nasional Baluran. Tak banyak yang berkunjung hari ini, mungkin karena memang bukan akhir peken dan cuaca juga sedang panas-panasnya. Tiket masuk Baluran terbilang murah hanya beberapa puluh ribu rupiah saja, dan kita bisa menikmati banyak hal di dalam taman nasional itu.


Jalan menuju posko induk berbatu dan berdebu. Disepanjang jalan pohon-pohon mengering disana sini. Daun-daunnya berguguran rontok tertelan hawa panas yang menjadi-jadi. Tempat ini terlihat begitu rapuh. Kering dan rawan terbakar. Ayam-ayam hutan berlarian di sepanjang areal savanna. Membuatku harus berhenti berkali-kali mengambil gambar sebisanya.  Setelah jalan berdebu dengan pepohonan mengeringnya kita juga akan melewati kawasan hutan musiman “Evergreen”. Berbanding terbalik dengan kondisi hutan sebelmunya, tempat ini justru berwarnah hijau cerah. Dengan dedaunan dan pepohonan yang rapat disepanjang jalan. kupu-kupu beraneka warna beterbangan juga beberapa berkelompok di beberapa titik genangan air disepanjang jalan. Konon hutan ini berada diwilayah cekungan dimana terdapat sungai bawah tanan yang sellau menyupai air di pepohonan sehingga tempat ini akan selalu hijau sepanjang tahun.


Ada beberapa Julmah titik wisata yang bisa dinikmati di taman nasional ini, namun diantara bagian itu, savanna bekol adalah bagian yang paling indah dan memukau. Saya betul-betul minikmati pesona padang savana bekol  ini. Sejauh mata memandang, padang savana membentang luas. Saya seperti menyaksikan Serengeti secara langsung. tempat yang selama ini hanya bisa kusaksikan dilayar kaca dalam program Natgeo kini betul-betul tampak nyata di depanku. Ayam-ayam hutan berlariang kesana sini. Rusa-rusa berkelompok maupun sendirian juga sesekali memotong jalan. Segerombolan monyet-monyet kecil menguasai oase ditengah padang rumput itu. Juga seekor kerbau liar seukuran gajah tampak begitu perkasa berkubang dibawa genangan air yang tak jauh dari jalan utama. Membuatku harus memperlambat laju motorku dan mengabadikannya satu dua gambar melalu kamera kecil yang kubawa serta ini.  Sayangnya saya tak berhasil menemukan “Macan Tutul Jawa” hewan buas yang jadi pemangsa utama selain manusia di Taman Nasional ini.


Tempat ini mengingatkanku pada filem lawas "The Gods Must Be Crazy" filem lucu yang mengambil setting di padang Savana Bushmen di pedalaman Gurun Kalahari Afrika Selatan. Film ini bercerita tentang Xixo seseorang dari suku tradisional di Afrika menemukan benda modern berupa botol Coca-cola yang terjatuh dari sebuah pesawat

Alkisah, botol cocacola yaang dianggap kiriman dari langit tadinya  menjadi sebuah berkah, awalnya, suku Bushmen berpikir bahwa botol kaca tersebut merupakan pemberian para dewa dan menggunakannya untuk berbagai keperluan. Sayangnya, hanya karena satu botol kaca yang diberikan, suku Bushmen sering bertengkar dan bahkan melakukan kekerasan demi mendapatkan botol itu.

Xi yang menyadari bahwa benda tersebut lebih banyak membawa dampak negatif memutuskan untuk segera membawa botol tersebut ke “ujung Bumi”. Petualangan Xi demi membebaskan kaumnya dari “kutukan” botol pun dimulai. Bayangkan jika hanya satu buah botol bisa merusak tatanan dan keharmonisan sebuah suku dan alam , bagaimana jika berton-ton sampah yang secara sadar maupun tidak sadar kita buang ke alam. Berapa besar dampak kerusakan ekosistem yang dihasilkan dari ketololan kita.

Setelah padang savanna, juga ada posko induk atau gardu pandang. Namun sayangnya tempat ini sedang dalam masa renovasi, wisatawan tidak diperkenangkan untuk memanjat gardu pandang ini. Masih dilokasi yang sama juga terdapat mushollah dan  warung sederhana yang menyajikan es kelapa yang terasa begitu segar setelah terbakar hawa panas. Selain itu masih di kawasan yang sama juga terdapat beberapa vila yang dikelola oleh taman nasional baluran yang biasa disewakan kepada wisatawan bagi yang ingin merasakan sensasi bermalam di alam liar Baluran.


Tak jauh dari padang savanna bekol juga terdapat kawasan wisata pantai Bama dengan pasir putihnya yang indah jaraknya kurang lebih 3 km lagi. Selain itu masih dikawasan yang sama juga tedapat hutan Magrove dan dermaga mangrove yang tenang dan romantis. Tempat ini juga merupakan habitat asli monyet berekor panjang. Monyet disini terkenal usil dan jahil suka mencuri dan merampas makanan para pengunjung. Bebeapa kali tas saya hampir dijarahnya, beruntung mas mas penjaga pantai sigap mengamankan barang-barang saya.  Pantai Bama juga di lengkapi berbagai macam fasilitas yang membuat nyaman pengunjung, terdapat toilet bersih dan musolah juga beberapa tempat peristirahatan dan kantin yang juga sama bersihnya. Selain itu wisata bawah air di pantai ini juga terkenal bagus. Waktu terbaik untuk snorkeling disini


*Bersambung: Banyuwangi Part III

Bertualang lagi pergi ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjung melihat sesuatu yang belum pernah ditemui aku tak sabar bertual...


Bertualang lagi
pergi ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjung
melihat sesuatu yang belum pernah ditemui
aku tak sabar bertualang lagi

bertualang lagi
seperti kaum hippie yang hidup dijalanan
bersama teman-teman terbaikmu
dunia selalu membuka jalannya untuk kami
aku tak sabar bertualang lagi

Dua Hari di Banyuwangi
16 September 2018. Dini hari pukul 00.30. Stasiun Surabaya Gubeng ke Karangasem Banyuwangi.  Waktu tempuh diperkirakan 6 jam.  Kereta ini akan tiba di satisun tujuan pada pukul 6.30 pagi.  Satu-satunya yang menemaniku hanya novel setebal bantal.  Yang jika bosan membolak baliknya memang kujadikan bantal penjanggal leher. Saya dalam perjalanan menuju Banyuwangi, sendirian.


Sorang kawan lama pernah bertanya, “Bagaimana rasanya bepergian sendiri”. Saya tersenyum, menjawabnya. Sejatinya kita tidak pernah benar-benar sendiri. Berkali-kali saya melalukakan solo backpacker berkali-kali pula saya dipungut oleh backpacker lain. Kita akhirnya tidak pernah benar-benar sendiri. Akhir tahun 2016 yang lalu saya solo backpacker ke Labuan bajo selama Sembilan hari lamanya. Diperjalanan saya justru dipungut oleh 3 orang backpacker dari Kalimantan dan membuat peralanan saya jauh lebih menyenangkan. Saya pernah dipungut oleh backpacker asal Gorontalo, pernah dipungut oleh backpaker asal Medan atau entah dipungut oleh orang  yang entah dari mana datangnya. Mungkin didahi saya orang-orang melihat tulisan tolong selamatkan saya, tolong bantu saya, tolong saya tidak tahu jalan. Maka dari itu orang-orang berkenang menolong saya. Intinya perjalan sendiri tidak berarti kau harus melakukan segalanya sendirian. Perjalanan kali ini pun saya tidak benar-benar sendiri. Saya dipungut oleh backpacker dari Sumatera. Secara tak sengaja kami dipertemukan di Taman Nasional Balurang kami akhirnya bersepakat untuk bersama-sama menuju kawah ijen di malam harinya.

Kenapa harus bertualang sendiri ?. Bagiku dalam sebuah perjalanan dimana tak ada seorang pun yang mengenaliku secara personal, saya justru merasa lebih bebas. Bebas mengekspresikan diri, lebih leluasa menjadi diriku sendiri. saya pikir, perjalanan seperti itu memang sangat perlu dilakukan. bayangkan hampir setiap hari kita terbatasi oleh batas-batas portabel yang dibuat manusia. Batasan-batasan sosial yang memaksa kita untuk harus menghormatinya. tanpa protes. Perjalanan “sendiri” membuka semua selubung itu.  Kita tak harus banyak bertoleransi dengan berbagai macam batasa-batasan yang dibuat orang lain atau lingkungan kita.

Saya sangat jarang bepergian dengan rombongan yang banyak, batas toleransi saya hanya empat orang. batas ideal hanya dua orang, dan sangat menyenangkan bila bisa bertualang sendiri. Bepergian rombongan terlalu menguras tenaga, kita akan merasa capek harus banyak bertoleransi, harus menyamakan persepsi dan itenary, harus memaklumi macam-macam hal yang bisa jadi justru merugikan saya sendiri. Kalau masalah teman, saya yakin kita bisa bertemu banyak manusia-manusia luar biasa di jalan. Merencanakan hal-hal bego bareng, memulai hubungan baru atau siapa tahu bagi yang jomblo kronis bisa ketemu jodoh di jalan :-). Perjalanan sendiri memang menyenangkan.  Adrenalinku seperti terpacu lebih cepat.  Hormon endorpin pemicu rasa bahagia seperti membuncah.   Perasaan bebas sekaligus penasaran bercampur baur jadi satu.  Aku menuju tempat yang asing.

Saya tiba di Banyuwangi  lebih lambat satu jam dari waktu perkiraan tiba. Keluar dari stasiun karang asem saya kebingungan tak tahu harus kemana. Beruntung kemudahan akses internet sekarang sangat membantu pelancong dadakan minim persiapan seperti saya ini. Dari penelusuran singkat mbah google, saya akhirnya memutuskan untuk memilih basecamp di staisun karang asem ini. Mengingat posisi staisun yang sangat strategis untuk menjangkau semua dsetinasi wisata yang menarik di Banyuwangi ini. Saya memilih penginapan persis didepan pintu keluar stasiun karang asem “Rumah Singgah Banyuwangi”. Tariff permalam berkisar 50 ribu sampai 100 ribu rupiah. Dengan tipe kamar dormitory dengan beberapa orang dalam satu kamarnya, atau privasi. Saya sendiri memilih kamar privasi dengan tariff 100 ribu permalamnya, kamar sendiri yang dilengkapi dengan kipas angin dan kamar mandi dalam. Dengan pertimbangan barang-barangku akan lebih aman jika kutinggal berpergian disbanding jika harus berbagi kamar dengan orang asin. Tidak banyak pengunjung yang menginap di penginapan ini, hanya dua orang yang berasal dari Belgia, transit untuk sementara waktu menunggu kereta menuju Bromo. Jauh-jauh mereka datang dari Belgia hanya untuk mengunjungi Bali dan Bromo katanya. Mereka sudah meghabiskan dua Bulan di Bali dan berencana masih akan tinggal di Indonesia untuk dua atau tiga bulan kedepan.

Saya sempat merasa berbangga dan sekaligus miris, mereka datang dari negeri yang jauh untuk menikmati negeri kita ini sementara orang-orang Indoneisa sendiri berlomba-lomba memposting foto jalan-jalannya ke luar negeri. Bukannya iri tapi saya merasa negara kita memiliki banyak hal yang lebih layak dan lebih cantik untuk dikunjungi, memiliki banyak tempat-tempat yang tak akan habis untuk di jelajahi. Itulah mengapa saya putuskan untuk menikmati Indonesiaku, memuaskan diri untuk berkeliling sebelum melirik-lirik negeri tetangga. Sayangnya beberapa objek wisata di Indonesia justru terlalu mahal untuk dijangkau dibanding ke luar negeri sendiri. Raja Ampat misalnya, sekali ke Raja Ampat bisa sebanding perjalanan dua kali bolak balik ke Malaysia atau Thailand.

*bersambung

D'Djawatan Banyuwangi Hal utama yang kau harus lakukan di saat umurmu sudah berada di angka tiga adalah “ Memafkan dirimu ”. Di usi...

D'Djawatan Banyuwangi

Hal utama yang kau harus lakukan di saat umurmu sudah berada di angka tiga adalah “Memafkan dirimu”. Di usiamu yang sekarang ini artinya kau sudah melewati setengah dari jatah hidup “kaummu”. Bukannya Ummat Nabimu hanya diberi jatah 60 tahun atau lebih sedikit.

Aku tahu, kau telah mengalami banyak hal dalam hidupmu. Beberapa memang mungkin sebuah prestasi yang membanggakan. Kau mungkin sudah melewati jenjang kuliah SI atau bahkan S2, sudah berpenghasilan mapan, punya rumah atau mobil, punya istri, sudah traveling ke banyak tempat. Tapi bukan tak mungkin kau telah mengalami banyak hal-hal buruk yang disebabkan oleh ulahmu sendiri, yang kadangkala kegagalan dan kekecawaan itu membuatmu tak bisa berdamai degan dirimu.

Maafkanlah dirimu, banyak hal yang memang tak bisa digapai. Banyak kesalahan yang justru menguatkan. Banyak cerita menyakitkan kelak akan menjdi penguat. Kehidupanmu memang tak selalu baik-baik saja tapi dengan usia yang telah berada pada titik itu,aku yakin kau  telah siap menghadapi goresan takdir seperti apa yang masih menunggumu di depan sana.

Maafkanlah dirimu, dengannya kau bisa menerima dirimu dengan ikhlas, bisa kembali menjalani hidup apa adanya. Sisa umurmu mungkin tak sebanyak dari umur yang telah kau habiskan. Bisa jadi ternyata umurmu tak sepanjang anganmu. Bisa jadi hari ini atau besok tiba-tiba Tuhan berkata “it’s your time”, maka kau bisa apa.  Ajal tak pernah menunda.

Kau pasti tahu tragedi pesawat itu. Kecelakan tragis JT 610  itu beberapa hari yang lalu. 189 orang dinyatakan hilang. Jasadnya belum ditemukan. 10 orang diantaranya bukannya dari teman seinstansimu?. Jasad dari para korban sampai sekarang bahkan belum ditemukan bukan.

Hari ini mereka yang ada di daftar itu, bisa jadi besok, lusa, tahun depan atau entah penugasan yang ke berapa nasibmu sama tragisnya dengan mereka. Kau tahu, kematian hanya seperti itu. hanya seperti selaput gagasan tipis yang begitu gampang diseberangi. Dan tiba-tiba saja kita disitu. Di dunia kehampaan, dunia keabadian. Dunia ketiadaan. Kita mati. Begitu kita mati, berarti bagian yang dimainkan di dunia ini telah berakhir, dan sekarang saatnya kita harus melanjutkan arus yang lebih besar lagi. Maka dari itu, kematian hendaknya mengajarkan kita betapa pendek dan tidak berharganya kehidupan di dunia ini. Kehidupan manusia nyatanya hanya sesingkat itu, namun pertanggungjawabannya abadi. Kau sudah siap ?

“….Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan”
 ( Al Munafiqun 10-11)

Katakanlah (wahai Muhammad): "Sebenarnya maut yang kamu melarikan diri daripadanya itu, tetaplah ia akan menemui kamu; kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui segala yang ghaib dan yang nyata, lalu Ia memberitahu kepada kamu apa yang kamu telah lakukan (serta membalasnya)".
(Al-Jumu'ah 62:8)



Welcome thirty 
Mamasa, 3 November 2018

Kau pernah merasa bosan pada suatu keadaan ? "Agustus Minggu Pertama" Berada diatas ketinggian berpuluh-puluh ribu mill...

@asdar_munandar

Kau pernah merasa bosan pada suatu keadaan ?

"Agustus Minggu Pertama"
Berada diatas ketinggian berpuluh-puluh ribu mill diatas laut berjam-jam lamanya pasti akan sangat membosankan. Kau hanya bisa menggerutui detik demi detik waktu yang terlewat. Tak ada yang bisa kau lakukan selain menyerahkan nasibmu pada pilot yang tidak kau kenali itu. Aku sangat benci ketergantungan seperti ini, ketidakberdayaan atas takdir yang aku tak punya daya mengupayakan apapun selain berpasrah. Aku benci berpasrah, menyerah pada ketidak berdayaanku. Menjadi lemah.  Namun pada kenyataannya ada banyak hal yang memang tidak bisa kita paksakan. Manusia selalu dibatasi garis takdir, ada batasan-batasan tak kasat mata yang memang tak bisa kita seberangi seberapa kuat pun kita terus menerus mencoba.



Hiruk pikuk bandara seperti tak pernah berakhir, tak ada jeda. Dari pagi sampai pagi lagi. Orang-orang berlalu lalang entah kemana, mereka bepergian dengan berbagai alasan. Cinta, keluarga, masa depan, rasa sakit, rindu, atau bahkan ada banyak yang bepergian tampa alasan. Mereka hanya ingin pergi, menjeda sejenak dari rutinitas dunianya yang mungkin semakin menjenuhkan. Menggendong ransel berkilo-kilo, menuju suatu tempat yang belum pernah mereka lihat. Traveler begitu orang-orang menyebutnya. Dulu saya pernah menjadi bagian dari orang-orang itu, bepergian tampa alasan, pergi hanya karena ingin pergi.  Tiba-tiba saja berada di spektrum lain dunia ini, berada di suatu tempat antah berantah, hilang di suatu tempat yang asing dan itu menyenangkan.

Bagian terbaik dari suatu perjalanan bagiku adalah menunggu di bandara. Menunggu pesawat yang akan membawamu pergi. Saya betah berlama-lama di bandara, menyaksikan jutaan manusia berlalu lalang itu, kau bisa membedakan tujuan bepergian mereka dari cara berpakaian atau tentengan yang mereka bawa. Bandara memang menceritakan banyak spektrum kehidupan, ada banyak hal yang terjadi di bandara. Ada banyak cerita yang bisa dikisahkan.

Pramugari-pramugari berdandan rapi, perempuan-perempuan muda bergaya glamor, celana setengah jengkal atau dengan rok panjang dengan sobekan yang tak kalah panjangnya, Makeup-makeup menor dengan koper-koper yang terlihat mewah. Orang-orang di bandaran selalu ingin terlihat lebih kaya bahkan paramu saji restoran atau toko oleh-oleh di ruang tunggu juga terlihat lebih berkelas, satu-satunya yang selalu tampak sederhana dan bersahaja hanyalah tukang bersih-bersih toilet.

Aku pernah bertemu seseorang di bandara, kami sama-sama menanti perjalanan selanjutnya, sama-sama harus menunggu berjam-jam lamanya. Bedanya dia akan ke barat dan saya akan ke timur. Secara tak sengaja kami duduk di meja yang sama di sebuah kafe pojok di terminal keberangkatan internasional. Kami bertukar cerita, tempat-tempat menarik yang masing-masing akan kami kunjungi. Uniknya dia pernah mengunjungi tempat yang akan kukunjungi dan aku pernah mengunjungi tempat yang dia kunjungi. Lucunya, selama berjam-jam itu kita tidak saling memperkenalkan diri, tidak bertukar nomor hape bahkan tidak saling follow di Instagram.  Aku rasa pertemuan-pertemuan sepintas seperti itu hanya suatu yang kontemplatif, suatu keadaan yang membiarkan kita hadir dan tersingkir dalam satu wilayah waktu seseorang. Tak lagi ada pertemuan-pertemuan berikutnya. namun pertemuan singkat itu meninggalkan sedikit kenangan manis, yang entah kenapa kadang saya berharap momen itu bisa terulang atau saya berharap dalam satu penerbangan tiba-tiba kita kembali dipertemukan. Lucu, memang garis takdir mempertemukan manusia lalu mempermainkannya.  


gambar milik sendiri Judul: To Live ‘Hidup’ Penulis: Yu Hua Penerjemah: Agustinus Wibowo Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Terb...

gambar milik sendiri

Judul: To Live ‘Hidup’
Penulis: Yu Hua
Penerjemah: Agustinus Wibowo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan pertama, 2015
Tebal : 224 halaman
Rate: 5/5

Satu-satunya yang membuatku tertarik membaca buku ini awalnya hanya  karena nama besar penerjemahnya “Agustinus Wibowo” traveler writer yang menuliskan teriologi Titik Nol, Selimut Debu dan Garis Batas itu, buku yang banyak mengubah pandanganku tentang bagaimana kita melihat suatu perjalanan.

Agustinus Wibowo menerjemahkan buku “To Live” karaya  Yu Hua ini begitu sempurna, mungkin karena kesamaan etnis yang membuatnya begitu nyaman membahasakannya kembali dalam dalam bahasa Indonesia. To Live terlalu tragis menurutku, saya belum pernah membaca novel setragis ini sebelumnya. Menyedihkan dan begitu tidak adil bagi pemeran utamanya. Fugui sang tokoh utama harus mengalami kesedihan demi kesedihan dalam hidupnya, kebangkrutan yang tragis dan kematian demi kematian anggota keluarganya satu persatu. Kematian yang begitu absurd dan menyakitkan. Buku ini begitu sempurna menggambarkan penderitaan seseorang. Namun uniknya Yu Hua menggambarkan peristiwa itu begitu sederhana, begitu natural, bahwa hidup dan mati sepertinya memang hanya sesederhana itu, sesederhana penulis novel menentukan kapan satu tokoh dalam cerita harus berakhir. Begitu manusia hidup maka suatu saat pasti akan mati, kehidupan dan kematian hanya peristiwa alam biasa yang memang akan dihadapi semua manusia. Sebuah narasi kematian yang begitu polos. 

Yu Hua begitu luar biasa menarasikan buku ini. Karakter setiap tokoh digambarkan begitu kuat. Bukan hanya kisah si pemeran utama Fugui yang membuatku jatuh cinta pada buku ini, ada tokoh-tokoh pendukung lain yang digambarkan begitu baik. Ada Youqing, Fengxia dan Jiazhen juga ada menantu Fugui yang berkepala miring itu serta cucunya yang meski hanya mengambil sedikit bagian dalam buku ini juga memberikan warna yang unik dalam kisahnya.   

To Live adalah buku tentang Cina, mengambil setting pada masa revolusi kebudayaan dimana kegagalan demi kegagalan pemerintahan Cina masa itu menyebabkan penderitaan dan bencana kelaparan yang luar biasa pada rakyatnya. Karya ini merupakan karya kontroversial yang fenomenal, topik revolusi kebudayaan dan kritikan terhadap kebijakan rezim pada saat itu masih menjadi isu sensitif di China. Meski sempat dilarang beredar di Cina, buku ini telah meraih berbagai penghargaan Internasional, telah difilmkan dan telah diterjemahkan ke lebih dari 20 Bahasa. 

Berikut beberapa petikan yang kusukai dari buku ini:
 “Your life is given to you by your parents. If you don't want to live, you have to ask them first.”― Yu Hua, To Live
“No matter how lucky a person is, the moment he decides he wants to die, there's nothing that will keep him alive.” ― Yu Hua, To Live
“Orang hidup itu yang penting senang, jadi miskin pun tak ada yang perlu ditakuti.”—To Live ‘Hidup’, hlm. 39
“Manusia hidup itu lebih baik biasa-biasa saja. Berjuang demi ini, berjuang demi itu, berjuang ke sana-sini, akhirnya juga hilang nyawanya sendiri.”—To Live ‘Hidup’, hlm. 208