Beberapa hari terakhir rasa-rasanya cuaca semakin dingin, konon posisi matahari dan bumi saat ini adalah jarak terjauh yang pernah ada. Feno...



Beberapa hari terakhir rasa-rasanya cuaca semakin dingin, konon posisi matahari dan bumi saat ini adalah jarak terjauh yang pernah ada. Fenomena ini para Ilmuan menyebutnya dengan istilah Aphelion. Benar atau tidaknya saya sendiri kurang faham.  


Jika berbicara tentang jarak yang terpikir di benakku justru jarak atara hidup dan mati. Saat ini jarak itu terasa begitu tipis, hanya seperti dipisahkan selaput tipis yang begitu gampang diseberangi. Dan tetiba kita berada diseberang dunia lain itu. Dunia kehampaan, dunia kematian.


Berita duka bertebaran di media sosial. Setiap hari kabar duka itu berdatangan tak henti-henti. Karib kerabat, sanak saudara, orang-orang yang kita kenal sepintas lalu maupun mereka yang begitu akrab, tetiba kabar dukanya datang menghenyakkan batin. Kita tertegung, merenungkan antrian kita pada nomor urut ke berapa. Bukankah sejatinya kita juga sedang menanti di ruang tunggu yang sama.


Dunia sedang sakit, sedang dilanda pandemi yang sepertinya tidak ada titik terangnya. Manusia terbelah, segolongan mempercayai pandemi ini nyata segolongan lagi menganggapnya hanya rekayasa demi kepentingan korporasi yang lebih besar. Masyarakat merasakan dampak yang luar biasa dari pandemi ini, sementara pemerintah mengeluarkan ke(tidak)bijakan yang ugal-ugalan. Sebentar-sebentar istilah baru dikeluarkan sebentar-sebentar larangan ini itu di terbitkan. Rasa-rasanya tidak ada solusi yang lebih praktis sementara waktu demi waktu korban berjatuhan semakin banyak. Masyarakat justru diminta goyang ubur-ubur atau menggunakan kalung penangkal anti corona itu.


Anehnya saya belum menemukan para pembuat kebijakan ugal-ugalan itu justru menjadi korban, saya belum mendengar kabar duka dari mereka, padahal saya sedang menanti-nanti kabar-kabar itu. Bukan karena apa, cuman barangkali kebijakan yang lebih baik, yang lebih bijaksana untuk rakyat bisa dikeluarkan setelah mereka sendiri mengalami nasib yang sama.  Jangan sampai air mata yang mereka tumpahkan hanya karena melihat rakyatnya menderita, bukan air mata keran mereka juga terdampak penderitaan yang sama.


Atau barangkali pandemi ini memang pintar menyasar golongan tertentu. Golongan yang tidak bisa memiliki akses untuk mendapat perawat terbaik di rumah sakit. Golongan yang tidak memiliki relasi yang bisa memberinya dukungan untuk mendapatkan penanganan terbaik.  Ah sudahlah percuma juga memikirkan para pejabat itu, lebih baik kembali rebahan. Menikmati segelas teh madu dan menyelesaikan novel tebalku ini.   


Makassar, 6 Juli 2021

  Sometimes, all you need just a little bit of a nostalgia Beberapa malam yang lalu saya bermimpi, berjalan di jalan setapak di antara hut...

 




Sometimes, all you need just a little bit of a nostalgia


Beberapa malam yang lalu saya bermimpi, berjalan di jalan setapak di antara hutan pepohonan pinus yang rindang. Saya berjalan perlahan, menapak diantara bebatuan yang berbukit-bukit. Suara angin menderu lembut, menggesek dahan dan dedaunan pinus, menghasilkan melodi yang menyedihkan. Dari kejauhan sayup-sayup kicau burung bernyanyi, nyanyiannya sama menyedihkannya. Iramanya seperti meratap, berkisah tentang mereka-mereka yang telah lama pergi.   


Siang yang sepi, tak ada sesiapa, benar-benar suatu kesendirian yang menyayat hati. Kesendirian yang mencekam. Kesendirian yang menyakitkan. Saya benci perasaan seperti ini. Perasaan ditinggalkan, Perasaan sepi yang menjadi-jadi. Perasaan hampa, rasanya kosong sekali. Saya terus berjalan, hutan pinus semakin rapat dan cahaya matahari semakin meredup. Saya terbangun di tengah malam buta. Merasa kesepian dan tak berdaya. Mimpi itu terasa begitu nyata. Perasaan hampanya pun sama nyatanya dan saya menangis sejadi-jadinya.


Konon mimpi seperti itu adalah perwujudan dari sesuatu yang kita pendam dalam hati. Sesuatu yang selalu kita coba untuk sangkal. Luka batin di masa lalu yang belum bisa pulih seutuhnya. Atau sesuatu yang entah apa yang selalu berusaha kita simpan di lobang hati terdalam kita, entahlah.


Setiap terbangun di tengah malam seperti itu, mata ku sudah tidak bisa terpejam. Fikiran ku mengembara kemana-mana. Seringkali terjebak di masa lalu yang pahit. Konon manusia tidak pernah bisa bersembunyi dari masa lalunya, seberapa kuat pun mereka mencoba. Masa lalu, seperti air yang keruh, mengalir di antara cela-cela bebatuan hitam. Selalu menemukan jalan untuk menorehkan luka lama.  Menampungnya percuma, membuangnya juga tak bisa.


Sudah satu minggu ini saya kembali ke Mamuju. Kota kecil yang kutinggalkan delapan bulan yang lalu karena hancur di hantam gempa. Meski sudah beberapa malam tidur disini saya masih belum terbiasa. Trauma gempa di malam kelam itu masih sering menghantuiku. Saya bisa tiba-tiba terbangun begitu saja.  Bahkan kadang hanya mendengar suara pintu yang berdecit membuat jantungku berdetak tak karu-karuan. Tak banyak yang berubah dari tempat ini. Mungkin tempat ini butuh waktu lama untuk pulih. Pembangunan berjalan merangkak, ditambah kondisi pandemi seperti ini. Tempat ini seperti ditarik mundur jauh kebelakang. Bagaimanapun juga, Mamuju punya banyak cerita manis dalam 5 tahun terakhir hidupku. 


Saya tak pernah menyangka, saya akan kembali ke tempat ini. Kembali berbaring di kamar sempitku. Dengan pemandangan laut yang menghampar dari balkon kamarku. Saya menyukai suasana pagi di sini. Semurat jingga dari seberang laut nan jauh terlihat cantik. Dahulu saya suka menatap laut, menatap sejauh mata memandang, menatap cakrawala di kolong langit sana. Penasaran seberapa jauh sih jauh itu. Waktu kecil dulu, saya selalu berharap bisa pergi jauh menyongsong cakrawala. Setelah dewasa akhirnya saya memahami, seberapa jauh pun kita melangkah nyatanya kita tidak pernah bisa benar-benar bisa menggapai cakrawala. Cakrwala tidak pernah sedekat yang kita bayangkan. Belakangan juga kuketahui jauh senyatanya bukan hanya tentang jarak, juga bukan tentang tujuan atau tempat. Jauh sejatinya hanyalah tentang sesuatu yang terus menerus kita inginkan tapi tidak bisa kita gapai. Manusia selalu dibatasi garis takdir. Ada batasan-batasan tak kasat mata yang memang tak bisa kita seberangi, seberapa kuat pun kita terus menerus mencoba. 


Seminggu disini hujan terus menerus mengguyur kota kecil ini di sore hari. Bukan hujan yang besar, tapi bukan juga rintik yang tidak membuatmu kuyup. Saya menyukai suasana hujan yang tenang seperti ini. Begitu tenang. Ketenangan yang menghanyutkan. Pintu balkon sengaja kubuka lebar, tempias air hujan seperti bertiup lembut ke kamarku. Hembusan dinginnya menyejukkan hatiku. Seseorang pernah berkata, jika hujan turun dan kau sedang bersedih, cukup pejamkan matamu dan rentangkan tanganmu di bawa hujan, biarkan rintiknya menyentuh hatimu. Maka pelan-pelan kau akan merasa lebih baik. Apa memang seperti itu ?


Mamuju, 15 Agustus 2021

  Pagi ini saat saya iseng buka facebook, tetiba pemberitahuan tentang kenangan beberapa tahun silam muncul diberandaku. Iseng kemudian saya...

 



Pagi ini saat saya iseng buka facebook, tetiba pemberitahuan tentang kenangan beberapa tahun silam muncul diberandaku. Iseng kemudian saya menscrol pemberitahun itu. Saya menemukan postingan fotoku kurang lebih 10 tahun silam, bersama kawan-kawan lama saya.


Saya memperhatikan gambar itu lamat-lamat, menelusuri wajah satu persatu kawanku yang dulu pernah sangat akrab. Sambil berusaha meresonasi ingatan masa lalu.  Mereka-meraka yang ada digambar itu adalah orang-orang yang pernah hadir dalam satu wilayah waktuku. Mejalani hidup bersama, bertualang, bermain, saling tertawa, saling terluka dan saling bahagia. Hingga kemudian waktu dan jarak akhirnya menjadi jurang pemisah.


Saya kembali menelusuri wajah mereka satu persatu, kini mereka bukan lagi teman yang dulu kukenal seperti itu. Bahkan satu persatu kira menjadi asing. Saling menjauh dan hampir tidak pernah bertegur sapa. Mereka dan aku kini menjadi orang yang berbeda, dengan wilayah waktu yang berbeda pula.


Saya kemudian menyimpulkan sesuatu, “semua masa ada heronya”.  Masa itu, mungkin mereka-mereka diutus untuk menjadi Hero dalam hidupku, tapi kini mereka harus menjadi hero untuk orang lain. Untuk keluarga kecil mereka, atau hero di lingkungan kantor kerja mereka dan aku pun demikian. Saat ini, di usia seperti ini fokus kita bukan lagi pada simpul yang biasa kita sebut “persahabatan’, fokus kita seharusnya bergeser pada arus yang lebih besar, pada ikatan kuat keluarga, pada visi, misi dan tujuan hidup yang sama, pada surga yang bahagianya abadi. Bukan lagi hanya sekedar bisa tertawa dan nongkrong bersama, atau bisa saling berbagi hobi yang sama. Bukan, bukan perkara nisbi seperti itu.


Saya berdoa dimanapun kalian dan apapun kehidupan yang kalian jalani saat ini, saya sungguh berharap kalian bisa menjalaninya dengan bahagia. J


Title: Selasa Bersama Morrie Author: Mitch Albom Genre: Memoar, Semi-biography, Philosophy Publisher: Gramedia Pustaka Utama Release Date: 1...


Title: Selasa Bersama Morrie
Author: Mitch Albom
Genre: Memoar, Semi-biography, Philosophy
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Release Date: 10 Oktober 2016 (terbit pertama tahun 1997)
Pages: 209
Harga: Rp. 45.000
Judul Asli: Tuesdays With Morrie
Penerjemah: Alex Tri Kantjono Widodo


Saya membaca buku Biografi yang sangat bagus. Buku Biografi Prof Morrie Schwarts yang ditulis oleh mantan mahasiswanya sendiri “Mitch Albom” Novelis terkenal berkebangsaan Yahudi, yang karya-karyanya sudah tidak diragukan lagi. Biografi ini sendiri bukan buku biografi seperti kebanyakan buku Biografi lainnya. Ditulis dari masa kanak-kanak hingga keberhasilan tokohnya. Buku Biografi ini justru ditulis untuk mengenang masa-masa akhir Prof Morrie. Bulan-bulan terkahir menjelan kematiannya karena penyakit yang aneh. Penyakit yang di sebut Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). Sebuah penyakit yang akan mempengaruhi saraf seseorang yang dapat memburuk seiring waktu, hingga menyebabkan kelumpuhan. Prof Morrie, di vonsi menderita penyakit ALS yang membuatnya harus kehilangan kemampuan motoriknya perlahan-lahan. Penyakit yang pada akhirnya membuatnya kehilangan seluruh kemampuan tubuhnya. Dia akan segera meninggal dalam bebera waktu yang tak begitu lama lagi.


Perkenalan pertamaku dengan Mitch ALbom  sekitar delapan atau sembilan tahun silam dan karya pertamanya yang kubaca adalah buku ini “Thuesday with Morrie”. Saya begitu jatuh cinta pada buku ini, bukan hanya itu saya jatuh cinta pada hampir semua karyanya Mitch Albom. Mitch ALbom selalu mampu menulis suatu kisah yang begitu hangat, membuat kita jatuh cinta pada setiap narasi yang dikisahkannya. Bahkan saya mengoleksi hampir semua karya-karyanya.


Beberapa hari yang lalu entah kenapa saya tiba-tiba kembali tertaik membaca ulang kisah Tusday with Morrie. Buku yang tidak gampang dilupakan, buku yang mampu membuatmu mengingat banyak detail ceritanya bahkan setelah sekian lama kau terakhir membacanya. Buku ini termasuk dari salah satu jenis buku itu.


Buku ini pada dasarnya berisi tentang jawaban dari pertanyaan Prof Morrie kepada Mahasiswa kesanyangannya. Mitch Albom, penulis buku ini.


"Bagaimana rasanya mau mati ?"


Morrie kembali mengajari Mitch dan jutaan orang yang terinspirasi oleh kisahnya “tentang hidup”. Katanya “Begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati, berarti kita sedang belajar tentang bagaimana kita harus hidup"


Mitch Albom, setelah enam belas tahun sejak pertemuan terakhirnya dengan Prof kesanyangannya akhirnya pada suatu hari  kembali mengikuti kelas terakhir dari Prof Morrie, kelas yang diadakan di rumahnya, dekat jendela ruang kerjanya, tempat Prof Morrie menikmata tanaman kembang sepatu dan bunga-bunganya yang merah Kelas yang dilaksanakan di hari selasa dan mahasiswanya hanya dirinya seorang. Tidak ada buku yang harus dibaca. Karena kelas ini hanya berisi tentang makna hidup yang diajarkan melalui pengalaman


saya suka pertanyaan  yang diajukan Prof Morrie pada Mitch di selasa pertama mereka


"apakah kau sudah menemukan orang tempat kau berbagai perasaan ?"

"apakah kau menyisihkan penghasilanmu untuk amal ?"

"apakah kau menerima dirimu apa adanya ?"

"apakah kau mencoba bersikap manusiawi sebisa-bisamu?"


Pertanyaan sederhana itu sepetinya tidak saja diajukan untuk Mitch. pertanyaan itu seakan-akan juga ditujukan untukku dan untuk semua pembaca buku ini. Saya bahkan terjeda beberapa saat, untuk memikirkan dalam-dalam pertayaan ini "sudahkah saya ?"


apa yang terjadi padaku ?


Tahun 90an telah berlalu, dan tahun 20an sebentar lagi berlalu. kematian, penyakit, kegemukan dan kebotakan semua terjadi begitu saja. aku hanyut dalam perahian begitu banyak mimpi, begitu banyak harapan, begitu banyak usaha untuk mendapatkan lebih banyak uang dan uang. Aku bahkan tak pernah sadar bahwa aku menjalani kehidupan semenyedihkan itu kehidupan yang dahulu selalu kuhindari, kehidupan monoton. kehidupan yang terjebak dalam pola yang sama


"lahir-sekolah-kuliah-cariduit-sampai mati'


"menanti datangnya ajal, hanya salah satu diantara yang patut kita sedihkan, tapi hidup tampa kebahagiaan jauh lebih menyedihkan" begitu Prof Morrie, membuka kuliah perdananya.


Sejak pertemuan itu, setiap selasa Mitch akhirnya memutuskan untuk terbang menemui Coachnya, begitu dia menyebut Prof Morrie. Mereka membicarakan satu tema yang menarik seperti misalnya: Selasa pertama, mereka berbincang tentang dunia. Selasa kedua mereka berbincang tentang mengasihi diri sendiri. Selasa ketiga mereka berbincang tentang penyesalan dan terakhir selasa keempatbelas mereka berbincang tentang perpisahan. Bagiku bagian terbaik dari buku ini adalah di Selasa keempat, saat mereka berbicara tentang kematian dan selasa kelima saat mereka berbicata tentang keluarga. Bagi Prof Morrie, kematian hanya sebuah peristiwa alamiah yang harus dialami semua manusia. Tidak ada sesuatu yang terlalu istimewa disitu.  


Apakah kalian pernah memiliki seseorang seperti Prof Morrie ? seorang yang nyaman untuk ditemani berbagi berbagai macam cerita. Seseorang yang membuatmu bisa menjadi dirimu sendiri saat berada disisinya.  Kalo belum saya berharap dimasa depan kita dipertemukan dengan orang seperti itu.


5 bintang untuk buku ini

 

 

 

 

 

 


  Kalian pikir karena apa manusia mati ? saat jantungnya tertembus peluru. ? bukan . S aat mereka terserang penyakit mematikan ? bukan , ...

 

Kalian pikir karena apa manusia mati ? saat jantungnya tertembus peluru. ? bukan. Saat mereka terserang penyakit mematikan ? bukan, atau saat mereka minum racun ? bukan. manusia mati saat dilupakan. 

(dr. Hiluluk-One Piece)


Kesepian membunuhmu perlahan-lahan.

Saya pernah membaca kalimat itu entah dimana. Mungkin disebuah buku yang tengah kubaca, atau dalam percakapan anime yang sering kutonton. Saya tidak ingat pasti dimana tepatnya. Entah kenapa kalimat itu begitu berksesan buat saya “apa mungkin rasa kesepian bisa membunuh seseorang ?” fikirku dalam hati.


Beberapa hari yang lalu saya akhirnya bisa menemukan jawabannya. Kesepian senyatanya memang bisa membunuh seseorang. Rupanya Kesepian ternyata lebih berbahaya dari penyakit ganas manapun. Kenapa ? jawabannya sederhana, begitu kau merasa dilupakan, begitu kau merasa tidak memiliki sesiapa, disitulah akhirnya tubuhmu dengan sendirinya mulai menyerah. Tubuhmu dengan sendirinya akan berhenti berjuang untuk terus menerus bertahan. Tubuhmu memilih mati, Kau sekarat secara perlahan-lahan tampa kau sadari.


Beberapa waktu yang lalu, saya divonis positif covid. Saya akhirnya diisolasi secara mandiri di tempat tinggal saya. Benar-benar sendiri. Diruangan kamar yang berukuran tak lebih dari 4*4. Awalnya saya merasa tidak ada perbedaan yang berarti antara sebelum di vonis covid dan setelahnya karena statusnya memang hanya OTG. Pada dasarnya saya memang cenderung merasa nyaman menyendiri, tidak terlalu suka berinteraksi dengan manusia, cenderung solitude jadi saya fikir ini tidak akan menjad masalah yang berarti. Tapi kalian tahu setelah berjalan dua  atau tuga minggu, rasa sepi itu akhirnya berwujud sesuatu. Sesuatu yang benar-benar mengerikan. Perasaan tersisih, perasaan dilupakan, perasaan tidak memiliki sesiapa perlahan-lahan datang merayap kedalam hati. Menyesap, menyebabkan goresan luka menganga.


Kesepian punya efek yang luar biasa terhadap hati. Hati menjadi lebih sensitif. Lebih gampang terpiling kenangan masa lalu dan saya benci perasaan ini. Entah kenapa banyak hal yang disesali di masa lalu. Orang-orang yang datang dan pergi. Orang-orang yang datang meski sekelebat. Kejadian-kejadian yang terlewatkan, tempat-tempat yang pernah dikunjungi. Pragmen kehidupan di masa lalu itu muncul satu persatu. Bersama semua rasa yang mengikutinya. Ternyata hal yang paling buruk dari merasa sepi adalah mengingat kenangan-kenangan itu. Saya mungkin bisa bertahan tampa harus berinteraksi dengan sesiapa, tapi saya tidak bisa bertahan dengan cerita dari masa lalu yang datang berkunjung. Terlalu menyedihkan.


Saya akhirnya memahami, mengapa rasa sepi itu bisa membunuh manusia.


November 2020

dalam masa isolasi mandiri

Semoga pandemi ini segera berakhir

 


  Kesedihan datang perlahan-lahan, menyerap semua sisa kebahagiaan yang tersisa. Kesedihan merontokkan semua harapan, mengubah langit biru c...


 

Kesedihan datang perlahan-lahan, menyerap semua sisa kebahagiaan yang tersisa. Kesedihan merontokkan semua harapan, mengubah langit biru cerah menjadi kelabu pudar. Kesedihan ibarat malam yang gelap, kelamnya datang berlapis-lapis. Gelap dan lebih gelap lagi. Kesedihan mengubah segala sesuatu yang tampak indah menjadi lebih sendu.


Kesedihan ibarat Hujan yang turun, angin yang bertiup dingin dan burung yang menangis didahan-dahan pohon. Ketenangan yang mencekam.  kesedihan seperti berjalan di labirin yang tak berujung. Seperti terjerembah kedalam lumpur hitam yang dalam atau terjebak dalam ruangan yang sempit lagi gelap. Kesedihan menyerap semua kebahagian, membiarkan hati mengering rapuh, membusuk dan berulat.


Bagaimana bisa, hati kecil ini mampu menampung kesedihan yang begitu besar ?

  Tiba-tiba saya sudah di titik ini, di umur kepala tiga. Dahulu dimasa saya masih berstatus mahasiswa, saya mengira umur dititik ini masih ...

 



Tiba-tiba saya sudah di titik ini, di umur kepala tiga. Dahulu dimasa saya masih berstatus mahasiswa, saya mengira umur dititik ini masih begitu jauh, tapi nyatanya saya seperti tertipu waktu. Hari ini saya terbangun dan sadar, saya sampai juga dititik mendewasa secara angka.


Pada titik ini saya tak lagi bersemangat merayakan bahkan mengingat hari lahirku. Saya menghela nafas panjang, umur memang bukan menjadi standar ukur apapun. Untuk mati misalnya tidak perlu umurmu harus berbilang tahun. Kau bisa tiba-tiba saja mati. Mati begitu saja. Pun perkara lainnya umur sungguh tak bisa jadi tolak ukur. Menikah, jadi kaya, sekolah, bahagia, bersedih, bekerja, pendek kata perkara apapun. Satu-satunya yang pasti terkait umur adalah  semakin waktu berlalu artinya waktu hidupmu semakin habis. Tidak ada cerita itu kau terbangun dipagi hari dan umurmu juga bertambah sehari, yang ada setiap kali kau terbangung dipagi hari itu berarti selangkah lagi kau menuju liang lahatmu. Manusia sungguh selalu tertipu oleh waktu


Dahulu saya berfikir, semakin kita dewasa semakin kita akan merasa bahagia, kenyatannya semakin kita mendewasa beban hidup kita justru semakin bertambah. Mimpi-mimpi masa muda yang dulu kita bangun seakan tergerus oleh realitas yang menyakitkan. Kau akan mendapati satu persatu mimpimu rontok terbentur realita yang menyakitkan.


Saya pernah bertanya kepada seorang kawan “Kenapa manusia bisa merasa sedih atau kenapa manusia masih sering merasa kecewa”. Kenapa Allah masih menyisahkan perasaan seperti itu bahkan saat kita berusaha meniti jalan-Nya. Sahabatku tersenyum dan berkata “Manusia itu penduduk langit, bukan penduduk bumi. Jadi Manusia di uji dengan perasaan seperti itu agar mereka tidak merasa terlalu betah untuk tinggal di bumi. Agar kita selalu merasa rindu untuk kembali ke rumah kita, kembali ke langit, kembali ke surga.


Barangkali memang kita tidak bisa merasakan bahagia seutuhnya, barangkali memang kita harus disuruh bersabar sampai nanti kita melangkah ke surga atau barangkali kita hanya kurang bersyukur untuk semua hal yang telah Allah titipkan. Bukannya rasa bahagia itu memang hanya datang sejenak, Kita disesapi bahagia  sesaat lalu ditimpakan rasa bermacam-macam setelahnya. Barangkali cara kerjanya memang seperti itu.


Beberapa hari yang lalu saya membuka catatan-catatan lamaku, saya menemukan seratus hal yang ingin kucapai dalam hidupku. Saya tersenyum melihat catatan itu. Beberapa memang tercapai, bahkan sebagian besar sudah tercapai tapi beberapa terlihat sangat tidak realistis untuk kondisiku sekarang ini. Kenyataannya ketika mendewasa idealisme menjadi hal yang tidak terlalu penting. Kita menjadi lebih rasional untuk melihat sesuatu.


Rasa-rasanya saya tiba-tiba ingin menyusun kembali agenda hidupku, ingin menata kembali banyak hal yang terlewatkan selama ini. Entah kenapa beberapa tahun belakangan ini  saya mengabaikan mapping life ku itu, terutama semenjak saya bekerja. Dunia saya seperti tersedot oleh dunia kerja, waktu berjalan terlalu cepat dan tiba-tiba saya disini. Diangka kepala tiga. Saya tertipu waktu.  


Berbicara mengenai mimpi, apakah diusia seperti ini saya masih punya kesempatan untuk bermimpi apakah saya masih layak menyusun mimpi-mimpi saya kembali ? saya sendiri tidak terlalu yakin, tapi bagaimanapun juga  saya tetap berusaha menyusunnya. Saya berusaha kembali menyusunnya dengan cara yang lebih realistis. Saya memetakan kembali apa yang harus kucapai setiap tahunnya sampai sepuluh tahun kedepan saya berharap dengan kembali membuat planning seperti ini saya punya pegangan untuk melangkah dan kemana akan saya bawah arah hidup ini.  




3 November 2020

  Perkenalan pertamaku dengan buku ini tahun 200x, saat itu saya mahasiswa baru kere yang tak punya cukup uang untuk mengoleksi buku seperti...

 



Perkenalan pertamaku dengan buku ini tahun 200x, saat itu saya mahasiswa baru kere yang tak punya cukup uang untuk mengoleksi buku seperti ini. Buku ini kutemukan di toko buku terkenal itu, dan begitu jatuh cinta setelah membaca beberapa bagiannya. Saya menahan hasratku untuk mengoleksinya sampai kemudian saya sempat terlupa dengan buku ini. Beberapa tahun kemudian, saat perkara uang bukan lagi menjadi masalah utamaku, saya kembali mencari buku ini, sayangnya buku ini sudah tidak tersedia dibuku manapun, tidak ada platform online yang juga menjual buku original dari Imperium III ini. saya bahkan sempat menghubungi penulisnya menanyakan sekiranya apakah buku ini akan kembali dicetak ulang. Hasilnya nihil.


Saya kemudian akhirnya benar-benar bisa memiliki buku ini di tahun 2020, seseorang menjual buku bekasnya diplatform online. Buku ini sungguh membuatku terkagum. Berisi rentetan peristiwa sejarah dari dark era sampai saat ini. sampai saat kita hanya duduk cantik didepan layar laptop kita atau di depan handpone kita dan kita bisa mendapatkan berbagai macam informasi dari seluruh dunia.


Bagiku buku ini seperti layaknya buku bidaya wan nihayah karya besar Ibnu Katsar yang membahas sejarah dunia dari zaman penciptaan adam sampai kiamat, namun buku ini berfokus pada pembahasan sejarah dunia secara umum. Buku ini sungguh menjawab penasaranku, bagaimana akhirnya dunia bisa berkembang sampai seperti sekarang ini. bagaimana manusia bisa menikmati alat komunikasi super canggih, alat transportasi yang super cepat dan berbagai macam kemegahan-kemegahan lainya. Saya melihat banyak optimisme yang dibangun Eko Laksono dalam bukunya ini, tak hanya seputar sejarah buku ini juha banyak mengutip quote motivasi dari pemikir-pemikir hebat di zamannya, juga cerita bangsa-bangsa yang sempat terpuruk kahirnya bisa sukses membangun imperiumnya seperti Jepang. Bagiku, buku ini sungguh luar biasa.