SUARA HUJAN, AROMA ANGIN DAN GUNUNG    PANDERMAN Semua yang bertemakan pengalaman pertama pasti akan selalu berkesan dan menarik, a...


SUARA HUJAN, AROMA ANGIN DAN GUNUNG   PANDERMAN

Semua yang bertemakan pengalaman pertama pasti akan selalu berkesan dan menarik, apapun itu.  Ketika memulai atau akan melakukan sesuatu untuk pertama kalinya bisa dipastikan segala macam rasa bercampur aduk di dalam hati.  Yupss.., itupun yang saya rasakan kemarin. Untuk pertama kalinya memberanikan diri meninggalkan zona nyaman kediaman saya menuju ke daerah antah berantah di pegunungan Panderman sana.
This is the first time,  melakukan suatu perjalanan menantang yang istilah kerennya biasa disebut “mendaki” ke gunung, tepatnya di Gunung Panderman.  Panderman adalah merupakan salah satu gunung pavorit bagi para pendaki pemula (newbie). Dengan ketinggian 2000 mdpl dan medan yang tidak terlalu sulit panderman bisa ditempuh antara 3-4 jam perjalanan waktu normal menjadikan gunung ini hampir tidak pernah sepi terutama pada akhir pekan.
Kami (saya, Miswar, Salim, Ridho dan seorang teman dari Libia “Muhammad”) merencanakan perjalana kami beberapa hari sebelumnya.  Kami menyiapkan perlengkapan seadanya. Beruntunglah di Malang tidak sulit menemukan tempat persewaan alat-alat camping. Hanya dengan sekitar Rp. 100ribuan kita sudah bisa mendapatkan tenda, sleaping bad, Matras, dan beberapa perlengkapan kecil lainnya yang sangat membantu acara pendakian.
Titik awal pendakian di mulia di desa Purwosari.  Untuk sampai pada titik awal pendakian ini bisa ditempuh dengan sepeda motor, dari malang mungkin hanya sekitaran 45menit saja. Dari situ speda motor dititipkan di rumah warga yang memang menyediaka jasa penitipan sepeda bagi para pendaki. Pendakian kamipun bermula dari sini dengan hanya bermodal nekat dan tampa didampingi seorang guide kami dengan sangat-sangat semangatnya mencoba menapaki jengkal demi jengkal pegunungan tersebut.
30 menit pertama, perjalanan yang tadinya diiringi canda dan guyon perlahan-lahan mulai terganti dengan erangan dan keluhan. Satu persatu dari kami sudah mulai merasa lelah. Bebarapa dari kami termasuk saya sendiri sudah memikirkan untuk mengakhiri dan memilih pulang saja. maklumlah fisik yang tidak terbiasa bekerja sekeras ini tiba-tiba harus bekerja super ekstra mendaki jalanan terjal plus bawaan yang lumayan berat membuatnya cukup berteriak tobat. Kami memilih  Istirahat untuk memulihkan stamina dan kembali saling menguatkan semangat.
Perjalanan mencapai puncak Panderman (Pasundara) akan melewati beberapa tempat persinggahan dimana setiap tempatnya menawarkan panorama eksotis tersendiri.  Untuk sampai pada persinggahan pertama dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam perjalanan. Sayangnya kami tidak bisa menikmati pemandangan indah di tempat tesebut, cuaca saat itu mulai gelap dan langit mulai menampakkan wajah sedihnya. Persinggahan berikutnya yakni di Watu Gedhe suatu dataran datar diketinggian sekitar 1.200 dmpl yang dikeliling beberapa bongkahan batu raksasa memberikan cerita tersendiri. Tapi sayang keeksotisan batu-batu tesebut ternodahi oleh tulisan-tulisan tangan-tangan para manusia yang kurang peka terhadap kealamiahannya.     
Seiring perjalanan kami, bayang-bayang gelap pun mulai menyusupi setiap celah-celah hutan pinus. Beberapa pendaki mulai menyalakan penerangan-penerangan yang telah mereka siapkan sebelumnya. Nyanyian-nyanyian burung yang tadinya menemani perjalanan perlahan tergantikan dengan suara-suara satwa malam yang saling bersahutan. Gelap dan dibumbuhi aroma tanah basah menjadikan suasana sedikit mencekam. Bayang-bayang hutan pinus terlihat seperti monster-monster dalam cerita horor yang siap menerkam. Lampu-lampu senter para pendaki terlihat seperti kendaran dalam satu jalur berkelap kelip di sepanjang jalan setapak yang dilalui. Dari kejahuan sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib menandakan senja telah beranjak pergi dan malam akan segera menyelimuti setiap jengkal pengunungan Panderman ini.
Dua jam perjalanan. Langit semakin beringasnya menumpahkan kemarahannya mengguyur para pendaki. Hujan semakin menambah berat perjalanan ini, jalanan yang semaikin terjal, licin dan basah memperlambat perjalanan kami. Disepanjang perjalanan, kami bersua dengan beberapa kelompok pendaki yang singgah untuk berehat sejanak. Beberapa pendaki juga  terlihat mulai menyerah memilih mendirikan tenda-tenda sebelum sampai di tempat tujuan.
Malam beranjak, jangkrik dan serangga-serangga semakin santer bernyanyi. Alhamdulillah, sebelum pukul 20.00 WIB kami telah menapaki Pasundara puncak tertinggi Panderman. Langit yang tadinya menumpahkan air matanya tiba-tiba saja berhenti, tergantikan dengan hamparan kebun bintang yang begitu indahnya seakan-akan menyambut kedatangan kami. Tenda dan segala perlengkapannya segera dipersiapkan. Makan malam, api unggun, sholat dan beristirahat sambil terus mengagumi kebun bintang yang menjadi penghias langit malam ini.
"Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang."
(QS. 25/Al-Furqon: 61)
Dan sungguh Kami telah menciptakan gugusan bintang
di langit dan menjadikannya terasa indah bagi orang yang memandangnya.
" (QS. 15/Al-Hijr: 16)
Saya begitu terpana memandang bintang-bintang yang menembus kegelapan. Sangat-sangat terasa berebeda menyaksikan jutaan bintang di ketinggian Panderman ini. Diperkiran ada 400 miliar  bintang dilangit sana berada dalam satu  bagian tatanan alam semesta yang kita kenal dengan sebutan galaksi Bima Sakti. Bintang terbesar dalam galaksi ini adalah matahari. Dan bumi yang kita tempaki berpijak ini hanyalah sebongkahan kecil dari miliaran bintang di galaksi Bima Sakti terebut. Galaksi Bima Sakti diperkirakan berdiameter 100.000 tahun cahaya dan lebar 1000 tahun cahaya. Bisa dibayangkan luasnya alam semesta itu seperti apa, jika satu galaksi saja bisa berukuran seperti itu maka luasnya alam semesta yang menampung bermiliar-miliar galaksi ini memang sangat-sangat mustahil untuk bisa diprediksi
Saya dulu tidak pernah habis pikir, bagaimana orang-orang jaman bahula dulu bisa bepergian, menentukan perjalanan, dan bahkan menentukan musim tanam dan musim nikah hanya dengan membaca pola bintang-bintang. Juga ketika teringat pelajaran-pelajaran smp dulu. Tentang rasi-rasi bintang yang tampak saling berhubungan membentuk suatu konfigurasi khusus dan dengan pola-pola tersebut digunakan oleh kebanyakan para ahli nujum untuk meramal nasib yang tingkat keakuratannya sangat patut untuk diragukan.
Bintang-bintang itu juga menjadi petunjuk jalan bagi manusia. "Dan Dialah yang menciptakan bintang-bintang bagimu supaya kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut." (QS. 6/Al-Anam: 97)
"Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk (jalan)."
(QS. 16/An-Nahl: 16)
Manusia alam dan lingkungan merupakan suatu kesatuan yang memang tidak bisa dipisahkan, terikat dalam suatu keteraturan dan hukum-hukum alam yang salin tersinergi.  Setelah perjalanan melelahkan ini kamipun terlelap, berharap  kelehan dan kepenatan hari ini segera beranjak pergi.
Berdiri di atas awan, menyaksikan semurat jingga di awal pagi puncak Panderman. Warnah-warnah nan indah itu seakan memberikan kabar akan datang setelahnya sosok sang Mentari pagi yang di nanti. Penat dan lelah semalam terbayar sudah. Matahari pagi serasa begitu dekatnya. Pesona keindahanya memberikan kepuasan tersendiri bagi mata, hati dan rasa.
Perjalanan ini tentang apa, siapa dan mengapa, dan juga sebuah usaha anak manusia untuk  menemukan epistimologi kehidupannya. Inilah saya, kami, dan mereka yang telah terlalu lama terkungkung dalam suatu pusaran kehidupan yang sedih. Kami kesini untuk melepaskan belenggu-belenggu kehidupan tersebut. Kehidupan yang telah mempenetrasikan apologi akut dalam hati-hati ini dan membiakkan bibit-bibit patologi bersemai subur didalamanya. Akhirnya hati bisa sedikit merasa hidup setelah sekian lama kehilangan daya kohesif yang telah terkikis habis oleh bibit-bibit patologi tersebut. Mati sebelum mati.
Berdiri diatas puncak gunung memberikan sedikit  keyakinan bahwa sejatinya masih ada segenggam idealisme yang patut diperjuangkan. Masih ada realitas yang terbentang panjang sejauh mata memandang seperti gumpalan awan yang terhampar luas didepan kami ini. Dan juga masih ada sejuta rasa cinta, kekuatan, harapan, keajaiban, mimpi dan keyakinan  yang senantiasa menanti diujun perjalana ini. Dan terakhir kami pulang dengan penuh rasa syukur, bersyukur atas semua karunia dariNya yang telah menciptakan keindahan dan keteraturan ini.

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
(maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan)





In memorian
 Panderman 13-14 April 2013

Dedicated for
Akhunafillah  fil Mustawwa Awwal Ma’had Abd. Rahman Bin Auf.
Salam ukhuwa.



                                                                                   (menanti sunr...





  



                                                      

                        (menanti sunrise)

                                                                   
                                                                        
                                                                                                                 (di atas awan)
                             (suara-suara langit)                                                       (matahari, gunung dan awan)

Beberapa hari ini saya sering mendapat telpon dari sahabat-sahabat saya. Beberapa dari mereka hanya sekedar say hai dan melepas kang...



Beberapa hari ini saya sering mendapat telpon dari sahabat-sahabat saya. Beberapa dari mereka hanya sekedar say hai dan melepas kangen tapi beberapa diantaranya juga menjadikan kesempatan ini bercerita tentang masalah hidup yang penuh dengan onak dan duri (dramatisasi berlebihan khehehe). Mereka kebanyakan berkeluh kesah tentang masalah pekerjaanya. Rasa bosan dengan rutinitas yang semakin menyiksa, gaji yang nggak kunjung kebayar, karir jalan ditempat, pekerjaan yang tidak sesuai dengan disiplin ilmunya, waktu lembur yang keterlaluan, rekan kerja yang suka menjilat atasan, sampai masalah atasannya yang beristri dua sering mengajaknya makan malam. Biasanya curhat-curhat tersebut akan berakhir dengan pertanyaan dilematis seperti ini “apa yang harus saya lakukan ? Kalau saya keluar dari pekerjaan saya, itu hal yang mustahil mengingat betapa sulitnya mencari pekerjaan di zaman ini. Tetapi, kalau saya mempertahankan pekerjaan ini, saya tidak tahu berapa lama lagi saya akan bertahan”.
Merenungkan suka dan duka yang diceritakan sahabat-sahabat saya itu membuat saya kemudian berfikir untuk menemukan penyebab kenapa dan kenapanya. Tapi itu bukan hal yang mudah bagi saya, mengingat selama ini saya belum pernah menyandang status pekerja atau karyawan. Berangkat dari situ saya kemudia mencoba membongkar buku-buku saya barangkali saja ada yang mempu menjawab pertanyaan apa dan kenapanya, dan benar saja diantara setumpuk buku-buku tua saya ada sebuah buku mungil dengan judul Fulfilling Life. Buku karangan pak Marpaung tersebut sedikti menyitir tentang tipe pekerja. Beliau mengklasterkan beberapa tipe pekerja atau karyawan. Berikut hasi pemaparan beliau “Bekerja dibagi dalam tiga tingkatan besar yakni accupation, profession, dan vacattion.”
Nah kita bahas tipe bekerja yang pertama dulu accupation.
Accupation berarti seseorang bekerja hanya untuk menghabiskan waktu untuk memperoleh sejumlah uang. Baginya, tidak penting apakah akan naik jabatan, karier, maupun penghargaan lainnya. Tipe pekerja seperti ini yang penting gaji lancar, sudah cukup. Pekerja ini tidak memperhatikan bagaimana nasib perusahaan, bagaimana perusahaan kedepannya, apakah perusahaan bisa tetap going concert atau seberapa berarti perusahaan itu bagi dirinya dan orang lain yang bekerja diperusahaan tersebut.  Pendeknya tipe pekerja seperti ini sama sekali tidak pernah memikirkan perusahaan, yang ada diotaknya  hanyalah bagaimana nasibnya diperusahaan ini, apakah bulan depan masih menerima gaji. Misalnya tipe pekerja seperti ini ditanya tentang sudah berapa lama dia bekerja pada perusahaan atau institusi tempatnya bekerja ? mungkin jawabanya sudah 15 tahun. Padahal sesungguhnya dia bekerja baru satu tahun yang 14 tahun lagi dia hanya mengulangi yang satu tahun tersebut. Artinya setiap tahun selama masa pengabdiannya dia hanya mengulangi proses tersebut berulang-ulang tampa sedikitpun memberikan efek kepada perusahaan, istilah lainnya “karyawan KTP” (karyawan tampa prestasi atau karyawan tampa pengaruh atau karyawan tampa perbuatan).
Pekerja tipe kedua : profession/profesional
Karyawam dengan tipe seperti ini biasanya menjadi andalan dan bintan perusahaan dan banyak memberikan konstribusi bagi perkembangan perusahaan. mereka tidak hanya bekerja untuk menunaikan kewajiban dan rutinitas harian, melainkan juga berpikir bagaimana agar apa dilakukannya setiap hari meningkatkan kualitasnya dan menjadi semakin profesional. Mereka yang masuk tipe ini terus menerus menempa keahliannya dan terus berupaya agar hari ini lebih baik dari hari kemarin. Baginya tidak ada waktu kosong, bahkan ketika perkerjaan selesai dia bersedia memabtu orang lain yang pekerjaannya beloom selesai. Dalam kamus hidupnya tidak ada keluh kesah karena mengerjakan sesuatu yang bukan menjadi tanggung jawabnya, melaingkan mereka terus menerus berusaha untuk belajar banyak hal dari proses bekerja tersebut.  panggilan pekerjaan baginya bukan hanya sekedar mendapatkan gaji  dalam rangka memenuhi kewajibannya,  melainkan secara terus menerus  meningkatkan kompentensi diri bahkan diluar disiplin ilmunya.
Tingkatan yang terakhir adalah Vacation.
Tingkatan ini adalah tingkatan paling tinggi dari tipe-tipe pekerja tersebut. Mereka yang masuk dalam tingkatan ini sudah tidak lagi terlalu mementingkan apa yang akan mereka dapatkan, tetapi lebih pada apa yang mereka bisa berikan kepada perusahaan orang lain. Bahkan dia rela melepaskan jabatanya dan kariernya ketika hal itu bisa bermanfaat bagi perusahaan dan orang banyak. Bagi mereka, beraktivitas bukan lagi suatu pekerjaan (working), melainkan sudah merupakan panggilan (calling) hati.
Dari ulasan diatas kita kemudian bisa mengukur diri kita senidiri. Kalster-klaster tersebut dapat dijadikan acuan seberapa penting saya dan seberap penting perusahaan bagi saya. Hal ini mungkin belum bisa menjawab kenapa permasalahan-permasalahan klasik dalam dunia kerja sampai saat ini masih saja terjadi. Tapi paling tidak berangkat dari sana kita mungkin bisa semakin berbenah untuk terus berusaha menjadi pekerja yang lebih baik. Pekerja yang senantiasa memperbaiki kualitas diri apapun dan bagaimanapun pekerjaannya. Bagi saya bekerja bukan hanya sebuah kebutuhan, melainkan suatu wujud eksitensi dan aktualisasi diri.
“bekerja cerdas-bekerja ikhlas”


“ Segala puji bagi Allah - Tuhan semesta alam, tempat kita memuji dan meminta bantuan dan pengampunan. Kami berlindung kepada Allah dari ...

Segala puji bagi Allah - Tuhan semesta alam, tempat kita memuji dan meminta bantuan dan pengampunan. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa dan perbuatan kita. Sungguh, tak seorang pun bisa menyesatkan orang-orang yang telah Allah bimbing ke jalan yang lurus, dan tidak ada yang akan mampu membimbing ke jalan yang lurus orang-orang yang telah Allah sesatkan. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang tidak memiliki sekutu, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya! “

19-September-2011
Pertama kali menginjakaan kaki di Firdaus,
Suatu pengalaman baru yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, ketika saya memutuskan untuk hidup dalam suatu lingkungan yang kita sebut Pesantren Mahasiswa. Dimana individualisme harus ditekan sedemikian rupa demi kolektifitas. Sumpah bukan hal yang mudah bagi saya untuk beradaptasi dalam kondisi seperti ini. Siang itu saya datang ke firdaus disambut oleh keramahannya mas Roni yang saat itu mengenakan sarung dan baju koko coklatnya terlihat sangat santriawan (khahahahahhahaha maaf ron dulu aku kira kamu yg pengasuh santrinya).
Mengenal firdaus adalah suatu yang sangat luar biasa dalam perjalanan hidup saya (unforgetable memorable). Disini diperkenalakan dengan teman-teman yang cukup mumpuni dalam keilmuan agamanya. Ada Ridwan Ardani dari perguruan GONTOR yang terkenal di seantero dunia. Adib yabani dari JOMBANG, siapa yang tidak kenal Tebuireng. Iping dari Azzaitun dan Awal dari Assalam. Semuanya berlatarkan pendidikan agama yang sangat fantastis menurut saya (Mengenal kalian merupaka suatu kehormatan tersendiri bagi saya). Selain itu ada sosok kontropersial yang mungkin sampai nyawa saya hendak dicabut kelak bila tiba-tiba teringat mereka kudu disempati ngakak dulu (khahahhahahahaha). Jenjreng..jenreng...jenreng... siapa lagi kalu bukan Mas Johan sosok yang begitu dirindukan oleh setiap penghuni pondok sehari tampa dia pondok terasa sepi dan hambar khahahhaha (NB : beliau santri terlama dan santri ter loyal di pesam. Saking loyalnya sampai-sampai surat pengusiran dari pengasuh tidak pernah beliau gubris, tetep aja dipondok. Kahhahahahhahkhahhaha). Berikutnya ada mas Athobroni Rawavanse (ngakak dulu khahahahhha) menggambarkan sosok beliau menurut saya sesuatu yang abstrak, sangat susah terpentrasikan dalam untaian kata. Setiap orang yang melihatnya pasti akan lansung terpesona dengan pemikiran-pemikirannya yang kadang menurut saya out of track alias nyelenneh.. (khahhahahahaha maaf mas ron). Tapi disatu sisi kesuhudan, keistiqomahan, dan kesolehan sangat tergambar jelas dalam kesehariannya. Belaiu sangat rajin sholat malem, duha, dan puasa senen kemmis, pokoknya calon mantu ideal lah buat pak Fa*** (kahahhahaha amin ron). Oh iyya ada kisah unik dari mas Roni beliau pernah memutuskan untuk meninggalkan pesantren tapi sayang karena kebingungannya akhirnya hanya dalam waktu 12 hari saja sang pengembarapun pulang kandang alias balik kepesma (khiihhihihihihhihiih). Selanjutnya ada mas Dwi, Rohim dan beberapa santri yang kisah hidupnya tak banyak bisa diungkap karena kemisteriusannya (kwaahhahhahahahahahaha)
Pertama kali ngaji sama buk Nur.
Malam itu aku lupa malem apa, yg pastinya itu malam ngajinya tarjamah di asuh langsung oleh ustadsah kita Nur’ainy al-Mascaty. Semuanya disuruh nransletin bacaan qur’annya, dan sumpah aku sangat minder, kagum, iri ngeliat kehebat kalian-kalian ngaji dan mengartikan Al-qur,an “itu pas malam itu”. itu membuat saya semakin bersyukur bisa berada dalam lingkungan orang-orang soleh dan faqih terhadap agama. Nah pas giliran saya yang disuruh ngaji’ semuanya pada ketawa, lajjahnya ro’ aku baca ra’ (malu sendiri).
Sosok sang pengasuh
  1. Ustadzah Nuraini Al-Mascaty. Subehanallah manusia dengan tingkat kefaqihan terhadap diin ini yang sungguh luar biasa, dengan idealismnya yang sangat tinggi, wala' dan bara'nya dan dengan segudang kesibukannya untuk ummat masih dengan sangat ikhlas mengasuh para-para santri yang lebih sering bandel ketimbang nurutnya. Jazakallah bil jannag Bu'. Darimu kutemakan banyak hal yang layak untuk saya perjuangkan, darimu ketumukan islam darisudut pandang yang berbeda dan darimu pula kubelajar banyak hal yang saya tidak bisa dapatkan bahkan di bangku kuliah selevel master pun.
  2. Ustad Halim rafi'i. IQ diatas rata-rata, spesialisasi tafsir alqur'an, i'rob dan filsafah. Pemahamannya terhadap filsafah yang mungkin tidak ada duanya seantero malang ini menjadikan beliau sumber ilmu yang seakan-akan tidak ada habisnya untuk digali. Sangat disayangkan bagi para santri bila melewatkan hari-harinya selama dipondok tampa merengguh kedalaman ilmu beliau.
  3. Ustad Slamet Riyadi dan Ustadzah Hijriyatun.
    Belajar makna kesabaran dan keikhlasan, lihatlah dua sosok malaikat ini. Allah menciptakan hati mereka dari paket spesia khusus untuk mbak hijri dan mas Slamet (hehehehe) yang membuatnya berbeda dengan hati-hati yang kami miliki ini. Dengan keikhlasan dan kesabaran yang luar biasa seakan-akan tak ada lagi padanan kata yang tepat atau lebih tepatnya mampu untuk menggambarkan wujud kesabaran dan keikhlasannya beliau menghadapi santri-santri bandel dan hampir kualat ( Johan CS di pimpin lansung oleh ketua sekte mereka mas Drajat (khahhahahahahah “pissss”). Oh iyya hampir lupa, doa untuk beliau semoga segera dikarunai momongan.
  4. Ustd Syukur, Ustad Hervi, Ustd Fadlhan, Ustadsah Rukhmini, Ustdasah Yayuk, Mas Idhin, pak Ghufron dan masih banyak lagi sosok-sosok bersahaja yang semuanya begitu luar biasa. Aku hanya bisa berucap Jazakallah bil Jannah (,^_^,).
19 september 2012
Tak terasa sudah setahun disini dengan berbagai macam suka duka, badai dan gelombang telah dilalui bersama. Dan inilah saatnya untuk mengucapkan salam perpisahahan. Berat memang, tapi inilah hidup dan adalah waktu yang begitu cepat berlalu memisahkan kebersamaan dan meninggalkan kenangan nan manis tak terlupakan. Bagi saya hidup dipesanteren meski hanya setahun merupakan bagian terbaik selama hidup saya. Berpisah bukan berarti ukhuwa kita berakhir, aku harap semoga saja tidak. ukhuwa yang telah kta bangun semoga tetap bisa mengikat hati-hati kita sampai kelak dipertemukan dijannahnya (amin)..
Dan terakhir buat para pengasuh, Ustad dan Ustadzah serta santriawan dan satriwati mohon maaf sebesar-besarnya atas segala khilaf, laku dan kata yang mungkin meninggalkan goresan-goresan di dalam hati. Mohon keikhlasannya untuk memaafkan dan meridhoi.


Wassalam


Daun yg gugur

Pernahkan kalian mendengar suara hujan ?, suaranya seperti merindu, rindu yang teramat dalam. Seperti seorang musafir, semakin jauh meni...


Pernahkan kalian mendengar suara hujan ?, suaranya seperti merindu, rindu yang teramat dalam. Seperti seorang musafir, semakin jauh meninggalkan kampung halamannya semakin dalam aroma angin akan selalu membuatnya merindu. Banyak hal yang bisa dirindukan, kekasih, keluarga, sahabat, , tetangga, tukang bakso langganan dan bahkan saat-saat sedih dan paling pahit pun dalam hidup ini, ketika telah berlalu begitu jauh akhirnya menjadi suatu kenangan yang dirindukan.  Kadang begitu lelah, begitu keras melawan dunia, begitu gigih memperjuangkan rasionalitas  dan akhirnya mengabaikan cinta dan mimpi. 

Kesunyian adalah sahabat yang tidak pernah berdusta. Kesunyaian adalah tempat dimana hati bisa berbagi dengan tenang. Kesunyian adalah tet...

Kesunyian adalah sahabat yang tidak pernah berdusta. Kesunyaian adalah tempat dimana hati bisa berbagi dengan tenang. Kesunyian adalah tetesan-tetesan air mata yang tertumpahkan.
Kesunyian mengingatkanku lagi pada sebuh mushaf tua yang setia menemaniku dulu.
Dulu sekali, ketika setiap duka, luka dan sedih kuceritakan semua padanya.
membaca dan mendegar untaian-untaian indah nasehat dan wejangannya,
Dan setelahnya akan kudapati kesejukan dan ketentraman.
tapi itu dulu, dulu sekali.
Dan kini ingin rasanya kembali memeluk mushaf tuaku itu,
berbagi kesedihan dan kejamnya hidup yang kualami saat ini.
Hidup yang serba dilematis.

Tanggungjawab dan apilihan. Pilihan adalah wujud dari rasa tanggungjawab, dan tanggungjawab merupakan konsekuensi atas sebuah pilihan. setahun sebelumnya, aku memilih jalan itu sebagai jalan hidupku, tapi kini kembali dipertemukan dengan dua pilihan dan tanggungjawab yang berebeda. dan pada akhirnya ku akui akulah daun yang gugut itu, tertinggal oleh kereta-kereta perjuangan dan tergilas oleh zaman.


Aku mundur dan berputar arah 

TENTANG WAKTU YANG BERKOSOKBALI Hidup ibarat sederetan kata yang tersusun membentuk sebuah kalimat. Dalam setiap kalimat dibutuhkan begi...


TENTANG WAKTU YANG BERKOSOKBALI
Hidup ibarat sederetan kata yang tersusun membentuk sebuah kalimat. Dalam setiap kalimat dibutuhkan begitu banyak spasi, koma, tanda seru dan bahkan tanda tanya untuk menyusunnya menjadi sebuah kisah. Dan juga jangan heran, kadang kala bahkan sering kali kita membutuhkan sebuah titik untuk mengakhiri beberapa susunan kalimat tersebut yang menjadikannya satu bait kisah. Begitu banyak kisah-kisah dalam hidup ini yang pasti akan berakhir entah di titik mana, dan disetiap baitnya akan selalu menceritakan kisah-kisah yang berbeda.  Sedih, senang, gembira, rindu, tangis, terluka, tertawa, berpisah, bertemu, bersahabat ,hambar dan kesepian akan selalu mewarnai kisah-kisah tersebut.

Ada masanya dimana seakan kita ingin berhenti dan berada hanya pada titik tertentu dalam suatu wilayah waktu kadang kalapula ingin segera melewati atau bahkan menghapus suatu masa dalam paragraf kehidupan ini.  Ketika membaca rentetan-rentetan kisah yang menyedihkan atau tengah menuliskan kisah sedih dalam buku kehidupan kita jangan pernah larut kedalamnya, bukankah akan selalu ada titik yang akan mengakhiri kisah tersebut. Setelahnya juga akan ada paragraf-paragraf baru yang akan menceritakan kisah-kisah yang berbeda. Karena ini hanyalah tentang waktu yang berkosokbali dimana ada waktu untuk bersuka cita kadangkala juga harus berduka cita. Waktu hanyalah sebuah dimensi seperti siang dan malam, hidup dan mati, muda dan tua,  atau seperti dimensi-dimensi lainnya dan kita terjebak dalam dimensi itu.

Pun ketika seseorang pernah dan atau sedang menari-nari dalam kisah waktumu, mereka datang dengan sebuah alasan menawarkan kebahagian dan kekecewaan, ada yang sesaat dan ada yang datang setiap saat. Datang silih berganti meninggalkan sejuta kisah untuk kita tuliskan dalam kehidupan ini. Kita tidak pernah bisa menebak siapa yang akan hadir atau tersingkir dalam suatu wilayah waktu yang kita miliki, dan seberapa lama mereka terejebak dalam rentetan wilayah waktu itu juga kita tidak bisa pastikan.

Begitu banyak manusia-manusia yang berlalulalang dalam dimensi waktuku, ada yang sangat meninggalkan kesan dan kenangan tapi juga sebagian diantara mereka hanya berlalu begitu saja. Pernahkah kita berpikir mengapa mereka datang silih berganti ?, atau juga pernahkah kita mencoba mengerti, kitakah yang terjebak dalam wilayah waktu mereka atau mereka yang sedang berada dalam dimensi waktu kita ?

Ketika sebuah lembaran kertas kehidupan telah terpenuhi dengan sejuta kisah, maka dengan sendirinya kita akan membuka lembaran-lembaran kosong berikutnya untuk diisi dengan kisah yang berbeda, begitulah seterusnya sampai pada sampul akhir buku kehidupan kita, semuanya hanyalah sederet kata yang tersusun indah sambung menyambung dan saling menghubungkan rahasia-rahasia hidup yang selama ini masih terjebak dalam wilayah waktu.