The Midnight Library: Kekuatan Menerima Takdir"  Judul: The Midnight Library Penulis: Matt Haig Genre: Fiksi, Fantasi Penerbit...



The Midnight Library: Kekuatan Menerima Takdir" 


Judul: The Midnight Library

Penulis: Matt Haig

Genre: Fiksi, Fantasi

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun

Terbit: 2021

Tebal: 368 Halaman

 

Begitu selesai membaca buku ini, hal pertama yang terlintas dari pikiranku adalah kutipan ini "Hadiah terbaik adalah apa yang kau miliki, dan takdir terbaik adalah apa yang kau jalani."

 

The Midnight Library adalah novel fiksi fantasi karya Matt Haig yang diterbitkan pada tahun 2020. Novel ini menceritakan kisah Nora Seed, seorang wanita berusia 35 tahun yang merasa hidupnya hampa dan penuh penyesalan. Ia merasa tidak pernah mencapai apa pun yang ia inginkan, dan ia merasa hidupnya sia-sia. Pada suatu malam, Nora memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atap gedung.

  " TAHUKAH ANDA BAHWA BERBICARA ITU ADA SENINYA? Oh Su Hyan menulis sebuah buku luar biasa tentang bagaimana berbicara yang efektif....

 


"TAHUKAH ANDA BAHWA BERBICARA ITU ADA SENINYA?

Oh Su Hyan menulis sebuah buku luar biasa tentang bagaimana berbicara yang efektif. Buku ini diterbitkan pada tahun 2018. Buku ini membahas. tentang pentingnya komunikasi yang efektif. OH Su Hyang membagi buku ini menjadi lima bab utama yang terdiri dari: Bab 1: Apa itu Seni Berbicara?Bab 2: Kebiasaan Penting untuk Menjadi Pembicara yang Efektif, Bab 3: Teknik Komunikasi yang Efektif, Bab 4: Cara Menjadi Pembicara yang Persuasif dan Bab 5: Cara Menjadi Pembicara yang Negosiator yang Efektif

  Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sesuatu di blog ini, mungkin sudah setahun lebih. Terakhir saya menulis tentang makna potonga...

 



Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sesuatu di blog ini, mungkin sudah setahun lebih. Terakhir saya menulis tentang makna potongan lagu “waktu bukan kita yang punya”. Sebuah bait syair yang begitu berkesan menurutku. Tulisan itu rupanya menarik banyak perhatian, dalam waktu singkat view-nya sudah lebih dari ribuan orang. Namun belakangan tulisan itu saya takedown dari blog-ku. Sesuatu hal buruk menimpaku, saya fikir bisa jadi karena tulisan itu diaminkan oleh banyak orang dan pada akhirnya kesedihan-kesedihan yang kuceritakan itu benar-benar menghajarku tanpa ampun.

Desember tahun kemarin saya tiba-tiba terkena panic attack, sebuah peristiwa yang sangat menakutkan yang kualami seumur hidupku. Rasanya seperti waktu hidupmu sebentar lagi akan berakhir. Saya begitu ketakutan, membayangkannya saja membuatku bergidik. Kejadian itu sudah berlalu setahun yang lalu, namun rasa traumanya masih kurasakan sampai saat ini. Kali ini saya tidak ingin bercerita tentang bagaimana kengerian serangan panik itu, atau bagaimana akhirnya saya bisa bertahan sejauh ini. Lain kali saya akan tuliskan lebih detail di sini.

Kali ini saya hanya ingin bercerita tentang potongan film yang kebetulan lewat di beranda Facebookku. Tentang seorang anak yang terjebak di masa lalu. Seorang anak yang tiba-tiba tersesat di dimensi berbeda. Bertemu dengan ayahnya di usia sekolahnya dan menyaksikan bagaimana ayahnya bertumbuh di masa-masa itu, melewati berbagai macam kesedihan yang tak pernah diceritakan kepada anaknya.

Saya tidak tahu bagaimana keseluruhan kisah film ini, saya hanya melihat sedikit adegan itu. Bagian yang menarik saat anak itu berkata “ternyata selama ini saya tidak mengetahui terlalu banyak tentang orang tuaku”

Potongan kalimat itu benar-benar seperti menamparku, saya tiba-tiba merenungi diriku. Bagaimana dengan masa lalu Ayah-Ibuku. Apakah sebenarnya mereka juga melewati masa-masa sulit. Bagaimana mereka melalui masa-masa itu. Barangkali selama ini saya ternyata kurang peduli dengan apa yang telah mereka alami dan lalui. Barangkali yang saya lihat hari ini adalah tumpukan-tumpukan batu yang tersusun dari darah dan air mata mereka di masa lalu.



Saya kembali membayangkan percakapan-percakapan dengan ibuku. Rasa-rasanya Ibuku selama ini hampir tidak pernah menceritakan masa lalunya, yang saya tahu, ibu ditinggal pergi nenekku di usianya yang masih sangat kecil. Ibu tidak pernah bercerita bagaimana dia melewati masa-masa suram itu.

Yang saya tahu selama ini Ibuku wanita kuat, sangat jarang mengeluh. Saya selalu menganggapnya kuat dan selalu baik-baik saja, namun belakangan saya sadar. Ibu menyimpan lukanya sendiri. Ibu memendam semua hal yang dia lalui sendiri. Ibu tak pernah memiliki siapa pun untuk berbagi. Ibu hanya dituntut untuk selalu kuat, untuk selalu hadir di segala kondisi. Terakhir saya melihat ibu menangis saat saya jatuh sakit. Dia memelukku sambil terisak. Selebihnya hampir tak pernah melihat ibu menangis.

Tentang ayahku, saya pun tak banyak tahu bagaimana masa lalunya. Konon dia dibesarkan dengan cara yang sangat keras. Kakekku penjudi dengan temperamen yang buruk. Ayah sering  mendapat perlakuan kasarnya, ditambah lagi ayah harus menjadi tulang punggung keluarga. Harus bekerjakeras menghidupi ibu dan saudara-saudaranya yang lain.

Saya dulu sering membenci ayahku karena temperamennya yang sama buruk. Suaranya yang keras, dan bentakannya yang sering menyakitkan hati. Belakangan semakin tua ayahku mulai berubah. Mulai lebih hangat. Belakangan saya sadar, temperamen ayah terbentuk dari masa lalunya yang sama menyedihkannya. Sayangnya dulu saya tidak pernah menyadari itu semua.

Tiba-tiba saya begitu merindukan ibu bapaku.

Semoga Allah memanjangkan umurnya, memberinya kebahagian dan menyayanginya sebagaimana mereka menyayangiku dimasa kecilku.

                                               






Ilustrasi Desaku di masa lalu

  " Waktu Bukan Kita Yang Punya ..  Kita Hanya Berlari di dalamnya ..  Tak bisa kita genggam ..  Tak Bisa Kita Ulang ..  Semoga Banyak ...


 
" Waktu Bukan Kita Yang Punya .. 
Kita Hanya Berlari di dalamnya .. 
Tak bisa kita genggam .. 
Tak Bisa Kita Ulang .. 
Semoga Banyak Waktu Untuk Kita .. 
" - Pusakata . 2022”


Saya menemukan lirik lagu ini di instagram, sebuah potongan lagu yang dibuat oleh seseorang secara spontan dalam sebuan acara talkshow. Saya benar-benar nangis kejer saat mendengarnya. Saat itu saya benar-benar lagi merasa sendiri, jauh dari siapa-siapa jauh dari orang tua, istri dan anak. Konon lagu ini didedikasikan untuk para ayah yang sedang berjuang untuk keluarganya, untuk setiap momen dan waktu yang terlewatkan dengan anak-anaknya dan untuk setiap pengorbanan mereka yang kadang atau seringkalinya memang tak pernah dianggap berarti.


Beberapa hari ini  saya merasa begitu depresi, mungkin sedang jenuh atau muak dengan tuntutan kerjaan atau tuntutan kehidupan yang seakan tiada habisnya. Saya baru saja meliwati ulangtahunku yang ke sekian puluh tiga. Saya tak ingin menyebut angka pastinya, mengingatnya saja saya merasa begitu muak. Bukannya tak mensykuri melainkan saya hanya saja belum bisa menerima waktu saya yang berharga ternyata telah berlalu begitu cepat. Melesat seperti busur, menguap seperti embun. Saya tak sadar sudah jauh melangkah meninggalkan masa-masa belia saya. Saya berjalan menuju masa tua yang menyedihkan, berjalan menuju kematian.

Akhir-akhi ini saya benar-benar sering baper, terjebak romantika masa lalu. Saya lebih sering kembali membuka foto-foto lama, kembali membaca buku-buku pavorit saya di masa lalu, menonton film-film yang entah telah berapa kali kutamatkan. Saya tidak tahu, perasaan seperti ini entah kenapa sering sekali menyerang di hari hari menjelan ulang tahun saya. Entah karena ketakutan menghadapi masa depan atau belum siap meninggalkan masa lalu yang rumit atau saya hanya sedang mencoba mencari trauma masa lalu yang tak kunjung ketemu.


Saya sadar, saya memiliki luka batin di masa lalu yang sampai saat ini belum bisa kusembuhkan. Berkali-kali berusaha menyembuhkannya namun menemukan akar masalahnya pun sampai saat ini belum bisa kupecahkan. Luka batin yang tertoreh sejak dahulu itu entah apa, apakah perasaan ditinggalkan, perasaan tak diteriman, perasaan kesepiaan, penyesalan atau perasaan seperti apa yang saya sendiri tak tahu pasti. Yang saya tahu, saya hanya sering mendapati diriku terbangun dalam keadaan menangis sejadinya-jadinya, apalagi ketika saya sedang benar-benar sendiri seperit ini.  


Mamuju, 06 November 2022

 

 

  Cries in the Drizzle by Yu Hua     Paperback, 312 pages Published November 18th 2020 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1993) Orig...

 

Cries in the Drizzle by Yu Hua

 

 

Paperback, 312 pages

Published November 18th 2020 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1993)

Original Title: 细雨中呼

ISBN13: 9786020648262

Edition Language: Indonesian

Setting China

 

 

 Kemiskinan yang Turun Temurun


 Yu Hua selalu mampu menggambarkan ironi dengan baik. Spesialisasinya mungkin memang seperti itu.  Pada novel-novel sebelumnya juga seperti itu, To live atau Chronicle of a Blood Merchant misalnya. Sungguh menarik bagaimana dia menceritakan penderitaan, kesedihan, kemiskinan, kemalangan, kesialan, kematian bahkan kenangan dengan bahasa yang begitu sederhana namun sangat menyakitkan.


Perhatikan bagaimana dia menggambarkan tentang kenangan dalam bukunya kali ini:

“Gambaran Kabur muncul di hadapanku, dan aku seakan bisa melihat gerakan waktu. Dalam bayanganku waktu menyerupai desiran kelabu transfaran, dan segala kejadian mendapatkan tempat di dalam bentangan gelapnya. Kehidupan kita, bagaimanapun lebih mengakar ke waktu daripada tempat, Ladang, jalan sungai, rumah-semua teman kita, yang memiliki tempatnya masing-masing di ranah waktu. Waktu mendorong kita maju atau mundur, dan mengubah semua aspek kita’’


Saya benar-benar menyukai bagaimana Yu hua menyuguhkan konsep dan gagasan tentang kenangan begitu sederhana namun berkesan. Kenangan seperti memiliki dimensi sendiri dan beberapa potongan kehidupan kita tertinggal disana. Manusia tidak pernah bisa lari dari masa lalunya seberapa kuat pun mereka mencoba. Kenangan ibarat sebuah dunia multiverse dimana kehidupan kita yang lain hidup disana. Begitu kira-kira Yu Hua menggambarkan.


Gambarannya tentang kematian tak kalah menyedihkannya. Yu Hua menuliskan bagaimana Su Gualing memaknai kematian adiknya dengan bahasa sederhana namun menyakitkan’


“ketika aku menelusuri jalan panjang kenangan dan melihat Sun Guangming sekali lagi, yang ditinggalkan ketika itu bukan rumah: dia dengan semberono pergi meninggalkan waktu. Begitu dia kehilangan keterikatan dengan waktu, dia menjadi tetap, abadi, sementara kami terus terbawa maju oleh momentumnya. Yang dilihat Sung Guangming adalah waktu yang merenggut orang-orang dan pemandangan disekelilingnya, dan yang kulihat adalah kebenaran yang lain: setelah dikuburkan, jasad akan terbaring diam selamanya, sementara para penguburnya akan melanjutkan kesibukan mereka. Dalam kesunyian maut, kita yang masih berkeliaran bisa melihat pesan yang dikirimkan oleh waktu”


Saya membaca kalimat ini dengan perasaan hampa. Mungkin seperti Sun Gualing saat berjalan kembali ke gerbang selatan menelusuri jejak-jejak masa lalunya yang menyakitkan. Meski novel ini tidak seperti dua novel Yu Hua lainnya yang begitu booming, namun menurutku Novel ini tidak menghilangkan citra Yu Hua sang peramu ironi dan penderitaan. Novel-novelnya memang terkenal seperti itu. penuh duka lara dan nestapa. Bahkan di Criez in The Drizzle penderitaan digambarkan turun temurun dari generasi kakek buyutnya sampai pada si penutur dalam novel ini - Sun Gualing.


Satu-satunya yang tak kusukai dari novel ini adalah plotnya yang loncat ke mana-mana. Tidak ada urutan yang jelas antar setiap peristiwanya. Tiba-tiba kita di masa Sun Gualing dewasa dan lembar berikutnya kita bisa terlempar jauh kebelakang. Mungkin karena novel ini memang di gambarkan dari sudut pandang Sung Gualing dalam melihat dinamika sosial di masyarakat di masa itu. Dia kemudian menceritakan bagaimana kejadian-kejadian  yang bersinggungan dengan dirinya dan orang-orang disekitarnya. Tidak runut tapi benang merah peristiwa demi peristiwa tetap terhubung.


Selain itu saya kehilangan taste Agustinus Wibowo dalam novel ini, dua novelnya yang lain memang diterjemahkan dengan sangat baik oleh AW namun di novel ini penerjemahnya berbeda. Saya benar-benar kehilangan cara bertutur AW dalam menerjemahkan karya-karya Yu Hua. Mungkin karena AW memiliki kesamaan etnis dengan Yu Hua yang membuatnya begitu nyaman membahasakannya kembali dalam kata demi kata dalam bahasa Indonesia.


 Middle child syndrom; Ironi Tentang Anak Tengah


Hal menarik lain dari buku ini adalah karakter tokoh utamanya “Sun Gualing” sang anak tengah yang tak dianggap. Mitos yang berkembang di masyarakat sejauh ini mungkin memang seperti itu. Anak tengah selalu dianggap tak pernah ada. Diabaikan, tidak mendapatkan cukup porsi perhatian dan prioritas dalam keluarga.


Dalam kaca mata pribadi saya yang terlahir sebagai anak sulung, Sung Gualing ini hanya menderita middle child syndrome. Middle child syndrom atau sindrom anak tengah adalah keyakinan bahwa anak tengah dikucilkan atau bahkan diabaikan karena urutan kelahirannya. Menurut banyak orang, beberapa anak mungkin memiliki kepribadian dan karakteristik hubungan tertentu sebagai akibat menjadi anak tengah.


Middle Child Syndrome biasanya muncul karena anak tengah kerap kali tidak diprioritaskan seperti kakaknya atau dimanja seperti adiknya. Alhasil ini yang membuat mereka merasa dikucilkan atau diabaikan. Anak tengah mungkin merasa bahwa tidak ada yang mengerti atau mendengarkan apa yang mereka katakan. Ia juga kerap iri karena kakaknya bisa melakukan hal menyenangkan lebih dulu, sementara semua perhatian di rumah terfokus pada adiknya yang merupakan anak bungsu.


Middle child syndrom inilah yang kemudian membentuk karakter utama Sun Gualing. Pada dasarnya saya sendiri tidak melihat dari sudut mana Sung Gualing ini begitu merasa di abaikan oleh keluarganya. Satu-satunya alasan kuat yang menjadi awal semua pengabaian itu karena Sun Gualing sendiri pada umur enam tahun dia dititipkan kepada keluarga lain yang lebih mapan, dan baru pulang ke rumah orangtuanya enam tahun kemudian karena orang tua angkatnya meninggal. Saya rasa Sun Kuwangtsai ayah dari tokoh utama kita ini bukan tidak menyayangi putra keduanya, melainkan karena kondisi sosialnya saat itu yang dibekap kemiskinan dengan tiga putra yang lahir dengan jarak waktu yang tidak terlalu berjahuaan. Pilihan terbaik yang memang harus di ambil ayahnya adalah menyerahkan putranya ke keluarga yang dianggap bisa memberi masa depan yang lebih baik.


 Nah, kenapa harus anak kedua ?,secara logika tidak ada orang tua yang ingin dipisahkan dengan anak-anaknya, namun dalam kondisi tertentu beberapa pilihan berat memang harus diambil demi kebaikan bersama. Pilihan untuk menyerahkan putera keduanya mungkin dilatari karena anak pertamanya saat itu sudah sedikit lebih dewasa dan lebih bisa membantu permasalahan ekonomi keluarga sementara anak bungsunya masih menyusu jadi pilihan terbaik memang adalah putera keduanya Sung Gualing.


 Penggambaran karakter tokoh utama dalam novel ini sungguh menarik. Didekap derita kurangnya kasih sayangnya dari keluarga, Sun Guanling kemudian mencari perasaan diterima itu di luar sana.  Jalinan rumit persahabatannya dengan beberapa tokoh yang dibangun dalam karakter ini bukannya berakhir bahagia malah berujung nestapa tiada akhir. Benar-benar sungguh novel yang penuh dengan balutan derita.  


 

Tentang Penulis: Yu Hua


Yu Hua (Cina sederhana: 余华 ; Cina tradisional: 余華 ; pinyin: Yú Huá ) adalah seorang penulis Cina yang lahir 3 April 1960 di Hangzhou, provinsi Zhejian. Dia lulus SMA pada masa revolusi kebudayaan dan kemudian bekerja sebagai dokter gigi. Yu Hua telah menerbitkan empat novel, enam kumpulan cerita, dan tiga kumpulan esai. Meski buku pertamanya sempat dilarang terbit di Tiongkok karena terkesan begitu kritis dan satir pada pemerintahan komunis namun tak menyurutkannya untuk menelurkan karya sastra yangluar biasa lainnya. Karyanya telah diterjemahkan lebih 20 bahasa sepererti Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Spanyol, Jepang, Korea dan tentunya Indonesia. Pada tahun 2002 Yu Hua menjadi penulis Tiongkok pertama yang memenangkan Penghargaan Yayasan James Joyce yang bergengsi. Novelnya To Live dianugerahi oleh Premio Grinzane Cavour Italia pada tahun 1998. Selain itu To Live dan Chronicle of a Blood Merchant dinobatkan sebagai dua dari sepuluh buku paling berpengaruh dalam dekade terakhir di Tiongkok pada 1990-an oleh Wenhui Bao, surat kabar terbesar di Shanghai. Saat ini Yu Hua tinggal di Beijing. 


  Judul: The Song of Achilles Penulis: Madeline Miller Penerbit: Ecco Tahun cetakan: 2012 Jenis: ebook ISBN: 9780062060631  Hector membunuh ...

 


Judul: The Song of Achilles

Penulis: Madeline Miller

Penerbit: Ecco

Tahun cetakan: 2012

Jenis: ebook

ISBN: 9780062060631


 Hector membunuh Patroclus, sahabat Achilles. Orang yang paling dia sayangi. Sahabat terbaiknya. Ramalan itu akhirnya akan mewujud, bahwa Hector akan mati ditangan Achilles. Begitu pun Achiles, manusia setengah dewa itu juga akan berakhir di medan peran Troy, menjadi sebuah legenda yang dikenang manusia beratus-ratus tahun kemudian, Achilles sosok pahlawan besar Yunani, sang penakluk Troy.


Novel ini sangat menarik namun tragis. Endingnya sudah bisa ditebak di separuh halaman awal dari buku ini, meski demikian fragmen-fragmen yang begitu mengejutkan pun masih bisa kita jumpai di setiap lembarnya. Novel ini benar-benar mengingatkanku pada buku bergendre sama namun versi lokal “Raden Mandasia si Pencuri daging sapi” bedanya Sungu lembu pemeran kedua yang menarasikan novel tersebut, sahabat dekat Raden Mandasia tidak meninggal dengan tragis seperti Patroclus. Novel ini pun di narasikan oleh pemeran kedua Petroclus, bukan dari sudut padang Achilles sang legenda dan tokoh utama buku ini.


Ketertarikanku pada buku ini karena mengambil latar belakang kisah perang Troya yang begitu melegenda. Kisah perang Troya ini pernah di filmkan pada tahun 2004 silam  yang dipernakan oleh Brad Pitt dan menjadi salah satu film terlaris di masanya. Film ini pun menjadi salah satu nominasi untuk mendapatkan penghargaan piala Oscar. Bedanya pada film tersebut mengambil sudut pandang para kesatria Troy namun dalam novel ini justru sebaliknya, sudut pandang prajurit Yunani penyerang Troy yang akhirnya memenangkan perang besar tersebut yang diberi porsi lebih dalam.


Buku ini menurutku sangat bagus untuk kelas pengembangan novel klasik. Madeline Miller  novelis wanita asal Boston berhasil melihat cela lain yang unik yang kemudian dia kembangkan menjadi sebuah kisah yang begitu epic. Madeline Miller diketahui menghabiskan sepuluh tahun lamanya untuk menulis The Song of Achilles. Novel The Song of Achilles merupakan karya pertama, yang resmi dirilis pada 2012. Tidak heran jika dalam novel ini konon  bukan hanya membingkai cerita yang menakjubkan, tetapi juga menyelipkan potongan sejarah yang akurat.


“What is admired in one generation is abhorred in another. We cannot say who will survive the holocaust of memory… We are men only, a brief flare of the torch.”

“I could recognize him by touch alone, by smell; I would know him blind, by the way his breaths came and his feet struck the earth. I would know him in death, at the end of the world.” 

“And perhaps it is the greater grief, after all, to be left on earth when another is gone.”

– Madeline Miller, “The Song of Achilles”

  Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi  Penulis: Yusi Avianto Pareanom  Penerbit: Banana Publisher, 2016 ISBN: 9789791079525 “Tak ada senja...

 

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi 
Penulis: Yusi Avianto Pareanom 
Penerbit: Banana Publisher, 2016
ISBN: 9789791079525

“Tak ada senjata yang lebih tajam ketimbang akal, tak ada perisai lebih ampuh ketimbang nyali, dan tak ada siasat yang lebih unggul ketimbang hati.”

Yusi Avianto Pareanom, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi


Seseorang pernah bertanya, menurutmu mana yang kau sukai Novel Kura-kura berjanggut" atau Novel Raden Mandasia. saat itu aku belum bisa menjawabnya, karena Novel ini belum rampung kubaca. Menurut orang-orang, kalau kau menyukai Novel KKB kau juga pasti akan menyukai novel ini.


Bener saja, novel ini membuatku jatuh suka, petualangan Raden Mandasia yang dituturkan secara apik oleh teman seperjalannya Sungu Lembu sungguh memukau. saya terhipnitos kisah-kisah menakjubkan di dalamnya. Adalah Raden Mandasia pangeran kerajaan Gilingwessi yang berusaha menemukan cara agar peperangan antara dua kerajaan besar tidak terjadi. Dalam perjalanannya mencegah perang besar itu, dia bertemu Sungu Lembu yang justru memiliki niat yang berbeda. tapi entah karena garis takdirnya yang unik mereka akhirnya bahu membahu untuk menuntaskan misi pribadi yang masing-masing mereka embang.


Meski diberi judul Raden Mandasia, novel ini justru dituturkan oleh "Sungu Lembu" sebagai sudut pandang orang pertama. Raden Mandasia justru tidak terlalu mengambil banyak porsi, tapi memang semua kisah di sini seakan-akan terpaut oleh kisah kehidupan Raden Mandasia dan keluarga kerajaannya


Meski demikian, menurutku novel ini masih setingkat dibawa KKB, beberapa adegan di novel ini di sadur dari kisah dan dongen-dongen yang sudah cukup mashur di masyarakat kita. juga beberapa adegan yang dibuat terlalu fulgar membuatku melewatkan beberapa halaman yang tidak seharusnya dibaca anak seumuran saya :)


Ending novel ini sungguh tidak bisa ditebak. Siapa sangka, dibalik peristiwa besar yang dikisahkan dalam novel ini ternyata di latar belakangi oleh sesuatu hal yang sama sekali tak terpikirkan sebelumnya. Novel ini sungguh layak menjadi salah satu koleksi bacaan kalian yang menggemari gendre novel klosal. 4 bintang untuk buku ini


“Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekadar makan dan minum sebelum disembelih," kata Loki Tua waktu itu.” Yusi Avianto Pareanom, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi


Perjalanan Mustahil Samiam Dari Lisboa  Penulis: Zaky Yamani Editor: Karina Anjani ISBN: 9786020648613 Halaman:361 Cetakan: Pertama-2021 Pen...



Perjalanan Mustahil Samiam Dari Lisboa 

Penulis: Zaky Yamani
Editor: Karina Anjani
ISBN: 9786020648613
Halaman:361
Cetakan: Pertama-2021
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


Buku ini di buka dengan prolog berjudul menarik “tentang tiga buku antik” sebuah opening speech dari seorang kolektor buku kuno, Prof. Barend Hendrik Van Laar yang ditulisnya pada juni 1905. Dalam kalimat pembukaannya, di mengisahkan secara tak sengaja menemukan tiga buku antik yang saling terkait satu sama lain. Sebuah memoar perjalanan dari seorang yang bernama   Samiam Nogueira (dibaca Sang'iang) yang lahir di Lisboa, Portugal  sekitar tahun 1513


Saya membaca prolog buku ini sambil tercengang, sebuah prolog yang sangat bagus untuk sebuah buku fiksi. Saya sampai menelusuri siapa sebenarnya Prof. Barend yang menuliskan prolog buku ini, apakah juga hanya sebuah tokoh rekaan semata, apakah buku ini benar-benar sebuah memoar dari orang yang bernama Samiam itu.


Januari 1543. Samiam mulai membuat jurnal tentang perjalanan hidupnya. Sebuah kisah panjang yang begitu misterius dan tak tertebak. Sebuah memoar hidup tentang perjalanan panjang yang dia tempuh di paruh awal masa dewasa hidupnya dari Portugal dan mungkin sampai ke sebuah pulau di dekat Malaka yang orang-orang menyebutnya  pulau rempah atau Jawa. 


Kisah ini dituturkan dari sudut pandang orang pertama, Samiam sendiri. Paruh awal buku ini terkesan begitu lambat, dengan narasi yang panjang-panjang dan minim percakapan. Awalnya sedikit membosankan, kita disuguhi latar belakang peristiwa perjalanan dan silsilah keluarga Samiam  terlalu bertele-tele, namun belakangan kuketahui buku ini adalah buku yang dirancang akan diterbitkan dalam bentuk triologi, jadi saya rasa latar belakang ini merupakan pondasi yang cukup penting untuk pengembangan dari buku ke dua dan ke tiganya. Mari kita tunggu. 


Zaki Yamani, penulis buku ini sempat menjalani program resedensi penulis di Portugal atas dukungan Komite Buku Nasional, dari situ mungkin Zaki Yamani mempunyai gambaran yang cukup bagus tentang Portugal dan latar belakang yang terjadi di negara ini di abad ke 16. Kita disuguhkan dengan berbagai macam informasi yang menarik, bukan hanya tentang sejarah, kondisi geografis, kehidupan masyarakat Portugal yang diceritakan dalam buku ini, melainkan juga peristiwa –peristiwa politik yang mengubah tatanan dunia yang terjadi di tahun-tahun perjalanan Samiam itu. Banyak informasi yang cukup menarik yang bisa dipelajari dari informasi-informasi itu.


Zaky berhasil menggali referensi yang cukup memadai untuk bisa melukiskan suasana lima abad silam di sudut-sudut kota Lisboa, Valencia, Genoa, Ottoman dan Konstantinopel. Selain itu Zaky juga dengan apik menggunakan sejarah gerakan bawa tanah para pemberontak kemapanan di Eropa menjadi sebuah pondasi penting yang melatar belakangi seluruh kisah yang terjadi di sepanjang cerita buku ini.  Saya berharap Zaki Yamani tidak terlalu lama menggantung rasa penasaran kita untuk kembali bertualang bersama Samiam di buku ke dua dan ketiganya. 4 bintang untuk buku ini.