Dosakah yang datang dari hati Ketika tiba-tiba saja dia terkenang dalam diam Apa lagi yang harus dilakukan Lakunya ha...



Dosakah yang datang dari hati
Ketika tiba-tiba saja dia terkenang dalam diam
Apa lagi yang harus dilakukan
Lakunya hati bertindak sendiri
Manapaki tilas masa lalu nan indah
Menggiring bayang-bayang dia kembali duduk disampingku

Lelah.......
Sungguh sangat terasa melelahkan
Hadir dalam dimensi waktu yang berbeda
Cinta menyembunyikan wajah dosa dibalik keindahannya
Energi terserap habis 

Lelah......
Pantaskah seorang lelaki menangis
Bukan dosa masa lalu yang disesali
Tapi menangisi hati yang pernah merindu.

Lelah........
Cukupkan hati ini dengan cintaMu ya Rabb...
Jauhkan dari cinta-cinta yang lain selain cintaMu
Ijinkan aku mencintai dengan cintaMu
 Dan Ijinkan aku melupakan dengan cintaMu

Hai kawan, Nggak kerasa yah, kita telah berpisah hampir tiga tahu ini. tak berjumpa dua tahunan, dan kalian bahkan hampir nggak pernah kir...

Hai kawan, Nggak kerasa yah, kita telah berpisah hampir tiga tahu ini.
tak berjumpa dua tahunan, dan kalian bahkan hampir nggak pernah kirim kabar/sms ke saya. but it's never mine, I belive you'r always remember me. I Think we always put some spaces in our heart, just for our' sweet memories.

Sumpah, gue kangen banget sama kalian semua..,
jadi inget masa dodol-dodol kita pas kuliah kemarin.
kangen banget pengena kumpul-kumpul bareng kalian lagi.
oh yah, nih ada lagu pas banget buat ngegambarin suasan hati saya,
nyanyi bareng-bareng yuk.. jangan pada nangis loh yah
saya itung mulai satu sampe tiga yah.. kita nyanyi bareng nyokkk..
tarik cang... hehehheheh

“Waktu terasa semakin berlalu

Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati

Ada cerita tentang aku dan dia

dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa

Teringat di saat kita tertawa bersama

Ceritakan semua tentang kita

Ada cerita tentang aku dan dia

dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa"


Gimana kawan, lagu lama Peterpan di atas sukses bikin kalian ambil tisu’...  khehehhehehe.
Nggak keras banget yah, perasaan baru kemarin kita nongkrong di bawa tangga masjid nunnguin pergantian kuliah.  Atau nyari makan di warungnya buk Fuji, belakang kampus atau nginep bareng di kos-kosan saya yang sempit dan sumpek. wahhh masa berlalu begitu cepat ternyata. Eh iya, buanyak banget kejadian lucu  pas kuliah kita masih tersimpan jelas di memoriku. Kapan-kapan saya akan tuliskan di Blog ini. Udah dulu yah kawan, saya juga sibuk seperti kalian yang juga sibuk merajut masa depan.  Saya yakin di tengah kesibukan yang seakan tiada habisnya ini, pasti sesekali kalian menyempatkan mengunjungi  kenangan-kenangan masa lalu. Semoga bisa membuat kita sedikit tersenyum. Eh sebagai penutup nih lirik lagu pas banget  nih menurut saya

Sahabat sejatiku, hilangkah dari ingatanmu
Di hari kita saling berbagi
Dengan kotak sejuta mimpi, aku datang menghampirimu
Kuperlihat semua hartaku
Kita s’lalu berpendapat, kita ini yang terhebat
Kesombongan di masa muda yang indah
Aku raja kaupun raja
Aku hitam kaupun hitam
Arti teman lebih dari sekedar materi

Pegang pundakku, jangan pernah lepaskan
Bila ku mulai lelah… lelah dan tak bersinar
Remas sayapku, jangan pernah lepaskan
Bila ku ingin terbang… terbang meninggalkanmu
Ku s’lalu membanggakanmu, kaupun s’lalu menyanjungku
Aku dan kamu darah abadi
Demi bermain bersama, kita duakan segalanya
 Merdeka kita, kita merdeka

Tak pernah kita pikirkan
                                                      Ujung perjalanan ini                                                          
Tak usah kita pikirkan
Akhir perjalanan in

Semoga Allah berkenang mempertemukan kita lagi di suatu hari yang lain, dengan kondisi yang lain, dengan keadaan yang lebih baik. Amin





“Dari Temanmu yang Baik”


Sudahlah cintamu bukan untukku Daun luruh, jatuh memagut sepi Rasaku terjebak dalam sentimental buta Berharap kepada yang t...





Sudahlah cintamu bukan untukku
Daun luruh, jatuh memagut sepi
Rasaku terjebak dalam sentimental buta
Berharap kepada yang tak pantas

Sudahlah cintamu bukan untukku
Biarkan kenangannya mengalir lembut
Meresap di dalam jiwa
Menyuguhkan usikan rindu

Sudahlah, cintamu bukan untukku
Matahari belum lagi tumbang
Janji di awal hari pupus sudah
Gugur sebelum senja

Sudahlah, cintamu bukan untukku
Sinarnya hanya berbinar sesaat
Bahkan purnama belum lagi temaram
Kini kenangan kita tak berjejak lagi

Sudahlah, cintamu bukan untukku
Aroma wangi sedap malam
Mencabik lerung-lerung hati
Sungguh cintamu haram palsu


Sembalun, Januari 2014
di kaki Gunung Rinjani
oleh
Asdar Munandar

Bismillah, wah, rasanya lama banget meninggalkan Blog kesayanganku ini. Waktu berlalu begitu cepat kawan, seingatku terakhir saya berkunj...


Bismillah,
wah, rasanya lama banget meninggalkan Blog kesayanganku ini. Waktu berlalu begitu cepat kawan, seingatku terakhir saya berkunjung ke sini, november tahun kemarin dan kini awal maret telah menyapa kita, itu berarti telah tiga bulan saya meninggalkan urusan tulis menulis catatan harian ini. Beberapa bulan ini begitu banyak hal yang terlewatkan, begitu banyak kesibukan yang menguras hari-hariku, dan mudah-mudahan aku masih bisa mengingat dengan baik potongan-potongan kisahnya.  Seingatku ada beberapa kisah yang wajib aku tuliskan, terutama perjalanan hati saya ke Bali dan Lombok yang syarat dengan hikmah awal tahun ini. Musibah Kelud pertengahan bulan kemarin yang memberikan kita banyak pemahaman baru dalam memaknai definisi hidup.

Menulis menjadi perkara penting bagiku, tidak hanya karena memang sekarang saya berkutat dengan tugas akhir yang menuntutku banyak menulis, tapi lebih karena menulis bagiku adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Dengan menulis saya bisa membaca bagian-bagian masa laluku, bisa mengingat kembali potongan-potongan kisah dalam hidupku, bahkan dengan menulis ini saya bisa lebih berdamai dengan hati. membiarkan beban-beban hati mengalir bersama tulisanku, melepaskannya dan mengungcinya dalam bait-bait kata. Hei kawan, tulisan justru kadang menjadi tempat berbagi yang menyenangkan. Oke, biar prolognya nggak terlalu panjan, saya mulai dengan ceritaku yg nggak jelas ini pada bulan november kemarin. 

November tahun lalu, Alhamdulillah saya diperkenangkan berkunjung ke rumah kawan saya di Jember. Perjalan panjang yang cukup melelahkan. Malang-Jember kira-kira berjarak 4 jam perjalanan dengan sepeda motor dan sepanjang perjalan itulah kembali banyak catatan-catatan kehidupan yang aku kumpulkan.


November Rainy 
"Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya." (Al-Mu'minuun : 62)
Mendalami makna ayat di atas sungguh memberikan suatu sugesti yang begitu besar pada jiwa-jiwa yang kering dilanda derita. dengan sejuta ujian yang mendera setiap harinya kadang kala hati begitu lelah untuk bangkit dari beratnya derita dunia.  Maka sesungguhnya Allah melalui ayat di atas telah memberikan jaminan kepada setiap jiwa, bahwa setiap kita hanya akan diuji sebatas kemampuan hamba itu sendiri.
Dalam realitas hidup kita sering  menyaksikan orang-orang yang menyerah dan memilih kalah dalam berjuang. Begitu banyak derita yang berakhir dengan bunuh diri atau tidak sedikit mereka yang tertekan akhirnya berakhir di rumah sakit jiwa. Manusia sungguh makhluk yang lemah dan berputus asa, lihatlah bagaimana Allah zat yang telah menentukan garis kehidupan kita telah begitu jelas menegaskan bahwasanya setiap kita pasti akan mampu melewati seberat apapun ujian, sesakit apapun derita, sesulit apapun garis takdir yang kini kita hadapi. Tapi sungguh ironis, banyak dari kita memilih mengalah dalam pergulatan takdir yang seharusnya dimenangkanya itu.
   
Perjalanan panjang Jember-Malang memberiku banyak catatan. Sepanjang perjalanan itu sedikitnya 15 orang kurang waras dari berbagai tingkatan usia kutemui di sepanjang jalang. Entah mengapa penyakit gila ini seakan menjadi suatu epidemic yang begitu cepatnya menyebar di Indonesia. Tanah yang katanya sepotong surga ini, tanah yang penduduknya sederhana dan penuh cinta. Karakter bangsa itu kini seakan hilang atau tepanya sirna tertelan jaman.
Hujan tak henti-hentinya menemani perjalanan kami. Intensitas hujan akhir November memang tinggi-tingginya. Sepeda kami melaju kencang, melewati bukit-bukit, sungai-sungai panjang, desa-desa, pasar-pasar tradisional dengan berbagai macam aktivitas di dalamnya. Kontainer-kontainer besar melaju kencang membawa berbagai macam barang ke daerah-daerah jauh di pelosok negeri, bus-bus antar kota saling sikut berebut penumpang, lupa di belakang mereka ternyata ada mata-mata maut yang selalu siap mengintai.

Beberapa kecelakaan parah juga menemani perjalanan kami. Seorang pengendara motor usia paruh baya entah apa pasal tergeletak di pinggir jalan dengan darah mengucur deras di kepalanya, napasnya saling memburu. Orang-orang mengerumuninya panik, ibu-ibu berseru-seru histeris, beberapa di antaranya mencoba menerka-nerka siapa si korban itu, barangkali sanak famili dari jauh mungkin. Beberapa kilo dari tempat itu, lagi-lagi kami menemukan kecelakaan, truk terguling di pinggir jalan, diindikasikan supirnya mengantuk setelah menempuh perjalanan-perjalanan panjang.

Perjalanan Malang-Jember ini membuatku lagi-lagi tercengang, entahlah hidup terlalu bermisteri. Kita hanya mampu memahaminya begitu sederhana. Mencoba menerka dan meraba ke mana jalan takdir akan membawa kita. 


note: Jazakallah untuk teman, saudara dan sahabat saya Ali Radinal Mukhtar. Semoga persaudaraan kita di dunia ini kelak menjadi wasilah yang dengannya kita bisa dikumpulkan Allah di surgaNya. amin

Ilustrasi.(net) Sebutlah namanya Fulan, mahasiswa tingkat 2 di salah satu universitas swasta di daerahnya. Beberapa bulan terakhir, Ful...

Ilustrasi.(net)
Sebutlah namanya Fulan, mahasiswa tingkat 2 di salah satu universitas swasta di daerahnya. Beberapa bulan terakhir, Fulan mulai berafiliasi dengan lembaga dakwah di kampusnya. Banyak yang berubah dari kesehariannya. Tidak hanya teman-teman, orangtua terutama Ibunya merasakan ada yang berbeda darinya. Fulan yang kini, bukan Fulan yang dulu lagi. Fulan sekarang lebih rajin ke masjid berjamaah, lebih senang memandangi Al-Qur’an berlama-lama, shalat malam dan puasa senin-kamis kini jadi kebiasaan rutinnya. Sekarang waktunya tersita habis mengejar kajian-kajian dan memperdalam wawasan keislaman. Tidak sampai di situ, Fulan kini sungguh berubah. Pergaulannya sangat di batasi. Kini Fulan hanya mau bergaul dengan mereka-mereka yang seharakah dengannya. Fulan telah berubah jadi manusia-manusia eksklusif yang cenderung menutup diri dari lingkungannya.  Cerita di atas hanyalah sebagian kecil dari cerminan realita yang terjadi dengan para aktivis dakwah kita. Di usia dakwah yang masih begitu hijau saja kesan eksklusivisme begitu kental terasa. Seakan-akan kita adalah golongan malaikat yang kebetulan sedang berehat sejenak di pelataran bumi. Fenomena eksklusif tersebut bukan lagi perkara aneh, tidak hanya di dunia kampus ketidakdewasaan itu berlanjut di masyarakat, dari harakah-harakah, golongan, jam’ah sampai organisasi-organisasi Islam hampir tidak bisa melepaskan diri dari penyakit ini.   Fenomena ini berakar dari persepsi-persepsi kita tentang masyarakat di luar kita yang selama ini kita anggap telah jauh tersesat dalam kejahiliyahan modern. Hal tersebut kemudian menyebabkan kita membangun tabir pemisah antara kita dan lingkungan. Menjadikan kita mendirikan komunitas suci kita sendiri, yang di huni oleh gerombolan manusia-manusia bak Malaikat.  Ketika seseorang telah bersinggungan dengan aktivis dakwah, entah kenapa kesan superioritas tiba-tiba melekat pada dirinya. Kita merasa seakan-akan adalah golongan manusia-manusia yang tidak pantas berbuat salah dan dosa, tak ingin terinfeksi virus-virus jahiliah modern yang melanda umat dewasa ini. Pertanyaan yang kemudian muncul, bagaimana jadinya dakwah ini, bagaimana kita sebagai aktivis dakwa bermasyarakat kelak? Ketika kita sendiri sebagai penggerak dakwah memberikan sekat yang membatasi kita dengan objek dakwah. Ketika aktivis dakwah terjebak dengan komunitas sucinya bagaimana kelak kita akan memperkenalkan dakwah kita kepada masyarakat. Bukankah sejatinya dakwah adalah bagaimana menyeru kepada Islam. Bukan Islam untuk golongan atau Islam untuk komunitas.  Akhi, di luar sana kenyataan akan jauh lebih kejam dari apa yang kita bisa bayangkan. Selalu ada pergulatan antara sisi manusia kita dengan idealisme yang selama ini kita bangun. Sebagai seorang aktivis dakwah hendaknya kita mampu menempa diri, mampu menempatkan diri dengan berbagai macam kondisi. Hari ini, kenyataannya kita masih sangat jauh dari realitas dakwah, kita masih dalam tataran meraba, melihat dari jauh, belum benar-benar merasa apalagi bersentuhan dengan realitas dakwah. Fese dakwah sesungguhnya bukan saat ini, di mana sisi-sisi manusiawi kita masih mampu ditekan oleh kondisi spiritual yang kita bangun, masih nyaman dalam balutan ukhuwah komunitas yang kental. Fase dakwah sesungguhnya adalah nanti, saat di mana kita telah bersentuhan langsung dengan realitas, bersinggungan dengan masyarakat yang majemuk. Dari persinggungan itu kemudian diharapkan dakwah bertumbuh menjadi matang, dan pada akhirnya dakwah mampu mengambil peran sosial dan peran spiritualnya sebagai rahmatalilalamin. Wallahu’alam.  “Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Tapi orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar” (Sayyid Quthub).  

Tulisan ini juga di muat di dakwatuna.com

Faktanya kita kalah. Itulah kenyataan yang kita tidak bisa abaikan. Islam agama dengan populasi pemeluk kurang lebih seperlima pengh...



Faktanya kita kalah. Itulah kenyataan yang kita tidak bisa abaikan. Islam agama dengan populasi pemeluk kurang lebih seperlima penghuni bumi ini kenyataannya dewasa ini kalah bertarung dari percaturan peradaban dunia. Islam sekarang ibarat penonton yang cemburu. Hanya mampu melihat dari luar tanpa bisa mengambil peran dan kontribusinya. Seperti sabda Nabi, suatu saat Islam akan seperti bui, mengikuti arus gelombang ke manapun kita dihempaskannya. Kita tertekan, terdzolimi, tertindas tanpa bisa berbuat banyak. Lihatlah betapa banyak saudara-saudara kita terusir dari tanahnya, hartanya dirampas, rumahnya dibakar, saudari-saudari kita di jarah kehormatannya, anak-anak di bunuh dan dimurtadkan. Apa yang kita lakukan ? paling berteriak-teriak marah, berdemonstrasi, mengecam, mengutuk, dan sedikit mengumpulkan dana. Selalu begitu tampilan kita. Rapuh dan antagonis, marah dan tidak berdaya, protes lalu lupa.

Kita tidak pernah menyalahkan Islam. Islam adalah sistem nilai yang mutlak kebenarannya.  Permasalahan utama dari umat ini bukan dari Islam itu sendiri, melainkan dari kualitas individunya. Dari pondasi akidah yang rapuh, dari lemahnya iman, dari pemahaman yang begitu parisial, dari ukhuwah Islamiah yang terabaikan, dari Al-Qur,an dan Assunah yang tidak lagi dijadikan way of live.

Menengok jauh ke belakang, sejatinya kita punya sejarah. Islam menyimpan sejarah kedigdayaan imperiumnya. Sejarah mencatat Islam pernah berjaya selama lebih dari tujuh abad sebelum terakhir runtuhnya kekhalifaan Turki Ustmani  1942 silam. Sedangkan peradaban Barat yang hari ini  baru berumur 450an tahunan sudah berada pada ambang batas masanya. Tinggal menunggu waktu dan kita akan lihat peradaban Barat ini akhirnya kolaps dan akan tinggal cerita seperti saudara-saudaranya, komunisme dan sosialisme.

Kita umat Islam sejatinya selalu punya kesempatan untuk bangkit. Jika pendahulu-pendahulu kita mampu membangun imperium sebesar itu, pastinya dengan ideologi yang sama, dengan sistem nilai yang sama, dengan Al-Qur’an yang sama tentu tidak menutup kemungkinan jalan yang sama itu terbuka lebar untuk kita lanjutkan tongkat estafetnya. Dan yang paling utama, kita jangan sampai melupakan janji Allah swt yang tidak pernah diingkariNya. Bahwa akan ada suatu masa Allah akan memberikan khilafah di muka bumi ini kepada orang-orang beriman (QS, 24:58). Dan juga nabi kita Muhammad saw dalam nubuwatnya telah memberikan isyarat tentang periodisasi perjalanan sejarah ummatnya. Tahapan tersebut meliputi periode Nubuwwah -> periode Khilafah -> Mulkan ‘Adhon -> Mulkan Jabbariyah dan terakhir -> Khilafah ‘ala Manhaj Nubuwah. Masa sekarang ini dikategorikan para ulama sebagai periode Mulkan Jabbariyah masa dimana pemimpin-pemimpin sekuler mendominasi dan menindas umat Islam.

Jika barat sedang bergulat dengan kehancurannya, kita seharusnya sebagai generasi pengganti dan pewaris peradaban hendaknya juga lebih aktif, lebih giat mempersiapkan diri. Membangun fondasi aqidah yang lurus, memperisapkan generasi-generasi Rabbani, memperisapkan pemimpin-pemimpin yang kompatibel syariat, mempersiapkan sistem ekonomi, sistem pendidikan, sistem politik, hukum dan  sistem-sistem hidup dan tata nilai lainnya yang tentunya berlandaskan AL-Qur,an dan Sunnah.

Hal inilah yang terlalu lama kita lalaikan. Kita disibukkan dengan perkara-perkara furu’iah, masalah ikhtilaf dan lalai memperhatikan masalah utama kita. Kita terlalu sibuk mengurusi  ocehan-ocehan kaum sekuler, membela diri dari tuduhan-tuduhan teroris yang dialamatkan kepada kita, menjawab  isu-isu gender, poligami dan semisalnya. Kita terlalu disibukkan dengan perkara-perkara yang kontra produktif seperti itu. Kita seharusnya bekerja, memikirkan agenda-agenda besar yang harus dikerjakan, kita harus berlatih mengabaikan perkara-perkara kecil. Bukankah nabi sang manusia agung juga mengalami perkara yang sama. Beliau di tuduh penyihir, keluarganya difitnah, di hina, di boikot, bahkan di anggap gila. Pondasi pokok itulah yang seharusnya dibenahi, dipermantap, direkonstruksi ulang menjadi suatu agenda masa depan yang jelas yang akan membawa kita kepada kemenangan Islam. wallahualam





tulisan ini juga pernah di muat di dakwatuna.com