Sekelumit catatan saya yang penting dan nggak penting, menarik dan nggak menarik semuanya terangkum disini. sekedar untuk mengenang tiap-tiap moment yang telah berlalu dalam jauhnya langkah, banyaknya kenangan, dan indahnya hidup ini
Harima-Harimau Karya Mochtar Lubis- Paperback, 214 pages Published 1999 by Yayasan Obor Indonesia (first published 1975) Original TitleHarimau! Harimau! ISBN9794611093 Characters: Buyung, Wak Katok, Pak Haji, Sanip, Sutan... moresetting: Indonesia Literary Awards; Penghargaan Yayasan Buku Utama for Fiksi (1975) Pertamakali membaca buku ini saat itu saya baru kelas 4 Sd. saya belum tahu, novel seperti apa yang saya baca ini, yang saya tahu, novel ini jadi novel yang paling menyeramkan yang saya baca di masa kanak-kanakku dulu. saya ingat persis novel ini kutemukan di perpustakaan sekolahku dan sukses membuat saya bermimpi buruk di malam-malam pertama saya membaca novel ini. Belakangan kuketahui, jauh setelahnya, novel ini memanglah sebuah maha karya, sebuah karya sastra agung dari penulis hebat yang pernah dimiliki Indonesia. Mochtar Lubis, peraih banyak penghargaan dibidang kesusatraan dan jurnalistik. Novelnya pun telah diterjemahkan ke banyak bahasa, di apresiasi bukan hanya di Indonesia tapi juga di banyak negara. Hampir 20 tahun kemudian, saya kembali tertarik untuk membaca ulang kisah Buyung dan teman-temannya pera pencari Damar. ketakjuban yang sama kembali kutemukan, sama seperti ketika saya membaca dimasa kecil dulu. bedanya, dahulu saya terlalu terfokus pada teror mencekam yang diciptakan oleh si "nenek" begitu penduduk desa tempat si Buyung menyebut "Harimau". Seekor Harimau tua yang kelaparan memburu sekawanan pencari damar. Satu persatu teman si Buyung akhirnya tewas diterkam Harimau. auuuuuuum., begitulah gambaranku mengenai novel ini di masa lalu. Namun kini saya melihat novel ini dari sisi yang berbeda. dari sisi dimana kita memang harus melihat dan menempatkan novel ini seperti itu. Novel ini sejatinya berisi banyak hal tentang sisi kehidupan manusia, tentang dosa-dosa, egoisme,ketidak adilan, kesombongan, hati nurani dan tentang bagaimana manusia seharusnya hanya bergantung pada Penguasa Semesta. Harimau buas dalam novel disini hanyalah penggambaran sifat 'binatang buas" yang ada pada diri setiap manusia. dan "untuk mengalahkan harimau diluar sana terlebih dahulu bunuhlah dulu harimau buas di hatimu" begitu salah satu pesan Pak Haji dalam novel ini. novel ini begitu berbobot dengan banyaknya kritik sosial dan nilai-nilai moral yang ditampilkan Mochtar Lubis dalam setiap penggambaran karakter tokohnya. 5 bintang untuk karya yang luar biasa ini. dan ucapan terimakasih untuk penulisnya yang telah menghadirkan buku yang begitu luar biasa ini
Duka Palu, Duka Masyarakat Indonesia November tahun 2018 kemarin. Negeri ini berduka. Sulawesi Tengah, dengan ibu kota provins...
November tahun 2018 kemarin. Negeri ini berduka. Sulawesi
Tengah, dengan ibu kota provinsinya Palu di hantam gempa dengan skala 7,1 sr. Sebuah
goncangan yang cukup kuat yang terasa sampai beratus-ratus kilometer dari pusat
gempa. Gempa yang datang menjelang mabrib ini bak mimpi buruk, menghancurkan banyak bangunan dan merenggut ribuan
nyawa. Bukan hanya itu, berselang
beberapa menit setelah gempa, tzunami setinggi 6 meter dengan kecepatan 800
km/jam menerjang Pantai Talise. Menelan korban lebih banyak lagi. Tidak sampai
disitu, beberapa saat setelah gempa, juga bencana yang tak kalah menyeramkannya
kembali menghantam Palu. Sebuah bencana yang belum pernah dterjadi di daerah
manapun di belahan bumi ini. Sebuah bencana yang membuat semua orang bergidik
ngeri. Shock.
Likuifaksi. Bencana yang belum pernah didengar dan
disaksikan bagaimana bentuknya sebelumnya. Saya tak bisa menggambarkan
bagaimana likuifaksi ini terjadi, sebuah tragedi yang menurutku dulu hanya kubaca di kitab-kitab suci, tentang
ummat-ummat yang dibinasakan. Likuifasi menjadi mimpi buruk bagi warga Palu,
terutama di Sigi, Petobo dan Balaroa. Bayangkan tiba-tiba tanah yang kau pijak
berputar, mencungkir balikkan danmenelan apapun yang ada di atasnya.
Balaroa, Sigi dan Petobo tadinya adalah daerah padat
penduduk. Namun kini tempat itu hilang, di telan tanah, habis tak tersisa. Ada
ratusan dan bahkan mungkin ribuan mayat yang juga ikut serta hilang bersama
timbunan-timbunan tanah itu. tak banyak yang selamat, menurut paman yang
kutemui ditempat ini hanya kurang lebih 400 warga Balaroa yang berhasil
selamat. Yang lain hilang ditelan tanah. Saya bergidik ngeri menyaksikan
sisa-sisa puin bangunan di atas gundukan tanah setinggi 5 meter ini.
Terlepas dari semua hal menyakitkan yang terjadi di Palu
ini, ternyata bencana itu masih menyisakan banyak hal untuk di syukuri. Salah
satunya adalah tempat indah yang akan kuceritakan disini. Pusat Laut di
Donggala
Pusat Laut Donggala
Setelah Gempa
Bocah-bocah kecil berjumplitan, menanti beberapa receh yang
dilempar dari mulut goa.
Lempar koin om, lempar koin om. Begitu teriaknya
Saya tak punya koin jawabku
“uang kertas juga dak papa Om”
Laah, nanti basah. jawabku
Mereka berseru uuuuuu, kecewa.
“Kau tak sekolah” tanyaku
Khusus hari sabtu ternyata mereka lebih sering membolos,
wisatawan lebih rame berkunjung hari sabtu dan minggu. Memperebutkan uang koin
di dasar goa jauh lebih menarik perhatian mereka di banding harus berusah-susah
mengerjakan soal-sao matematika yang rumit. toh masa depan di pesisir ini tak
memberi banyak pilihan, jika lelaki diberi pilihan menjadi nelayan atau buruh
kasar, maka wanita juga hanya memiliki dua pilhan, menjadi istri nelayan atau
menjadi istri buruh harian.
Pusat Laut Donggala memang belum seterkenal tempat wisata
lainnya di negeri ini. Saya tak pernah menyangka ada tempat seperti ini di
pelosok Sulawesi Tengah. Pusat laut, pusentasi atau sumur laut begitu
orang-orang menyebutnya adalah sebuah sinkhole
selebar hingga 10 meter
dengan kedalaman mulut gua dan kedalaman air kurang lebih 5 atau 7 meter. Konon
kedalaman air bisa berubah-ubah. Jika kondisi laut pasang, permukaan air di
dalam sinkhole turun menjadi 5 meter. Namun, bila laut surut,
permukaan air di tempat ini justru malah naik ke angka 7 meter. Pusat laut
berada di pesisir pantai yang penduduk juga menamainya pantai pusat laut. Saya
merasa penamaan ini hanya asal-asalan saja, mengingat di sepanjang garis pantai
Sulawesi memang banyak pantai-pantai indah yang belum terjamah dan diberi nama.
Jadi begitu tempat ini mulai populer, masyarakat setempat kemudian menamai
pantai ini dengan nama pantai pusat laut.
Air di pusat laut ini konon berasal dari pantai
disebelahnya, laut Donggala. Diperkirakan terdapat goa yang meghubungkan antara
pusentasi ini dengan laut disebelahnya. Namun teori ini sampai sekarang belum
bisa dibuktikan kebenarannya. Belum ada penelitian ilmiah yang benar-benar
telah meneliti tempat ini.
Pertamakali menyaksikannya pusentasi ini saya dibuat
tercengang, sebuah sumur besar dengan
kejernihan airnya dan gradasi warna hijau dan biru serta riak-riak gelombang
dipermukaanya seakan memanggil-manggil untuk segera di lompati. Namun begitu
saya melongo kebawa, nyaliku menciut. Semangat yang tadi menggebu-gebu menguap
begitu saja. Pijakan untuk melompat terbilang lumayan tinggi. Saya bergidik
ngeri. Saya tersenyum kecut mendengan seruan anak-anak kecil yang dengan
entangnya melompat berkali-kali dari mulut sumur. Bocah-bocah itu melemparkan
diri ke udara. Berjumplitan dengan berbagai gaya, berselang tak lama kemudian,
suara dentuman dan percikan air laut mengudara.Byuuuuuur.
Akses ke tempat ini terbilang mudah, dari Pusat kota Palu,
kita harus berkendara ke selatan melewati jalan poros Provinsi Sulawesi Barat.
Kita juga akan melewati kabupaten terselatan Provinsi Sulawesi Tengah,
kabupaten Donggala. Kabupaten yang juga telah hancur dan luluh lantah karena
gempa dan tzunami. Sepanjang jalan, kami disuguhi sisa-sisa reruntuhan bangunan
yang masih berserakan di sembarang tempat, aroma tak sedap bahkan masih tercium
di pesisir pantai teluk palu, yang menjadi pusat tzunami kala itu.
Jalan-jalan sepanjang kota palu menuju perbatasan sulawesi
barat terbilang sudah sangat layak di lalui, mesiki dibeberapa titik masih
bolong dan rusak kanan kiri juga reruntuhan bangunan masih berserakan
dimana-mana tapi secara keseluruhan akses dari dan ke kota Palu sudah bisa di
tempuh dengan kendaraan roda dua dan empat.
Setelah berkendara kurang lebih 1,5 jam perjalanan,
sampailah kita ke pertigaan Pusat Laut. Ada plang kecil yang tidak terlalu
mencolok yang menunjukkan daerah wisata ini. Sebaiknya bertanyalah pada warga
lokal untuk memastikan posisinya. Mengandalkan aplikasi pintar seperti GPS di
sini tidak terlalu berarti. Jaringan internet sangat menyedihkan. Dari pertigaan pusat laut, kita akan melewati
jalan berkelok dan sedikit menanjak. Sekitar 2 atau 3 kilometer jauhnya dari
jalan utama tadi. Terdapat beberapa lokasi wisata yang juga di dilalui sebelum
sampai ke pusat laut. Beberapa pantai indah dengan pasri putihnya yang tak
kalah indahnya, yang pasti pantai-pantai itu masih sangat alami dan sepi.
Kita akan disambut pintu gerbang yang tidak terawat, saya
bahkan menyangka kami tersasar karena ilalang dan rerumputan yang meinggi di
pintu gerbangnya. Tempat ini sungguh tak terawat pikirku. Namun begitu kita
memasuki pintu gerbang, pemandangan menyejukkan mulai memanjakan mata. Tempat
ini cukup rindang, dengan pepohonan yang menjulang tinggi. Beberapa pondok-pondok
juga terlihat berjejer rapi, belakangan kuketahui pondok-pondok itu tadinya
penginapan, namun sudah tidak pernah digunakan lagi karena pemerintah daerah
tidak lagi menganggarkan biaya pemeliharaan untuk pondok yang telah berumur
sepuluh tahun ini.
Tarif sekali masuk disini masih terbilang murah hanya
Rp2.500 per orang dengan biaya perkir kendaraan roda empat sebesar Rp10.000,00.
Tempat ini telah di kelolah oleh Dinas Parawisata setempat. Sayangnya untuk
kebersihan, disini tidak tersedia air bersih yang cukup untuk bebilas. Kita
harus merogoh kocek pribadi untuk membeli sejerigen ari bersih yang dihargai
10.000,00. Pengeola pusat laut beralasan disini tak ada sumber air bersih jadi
untuk mendapatkan air bersih juga mereka harus beli dari mobil tangki yang
datangnya kadang tak tentu.
Puas memandangi pusat laut, kami berpindah ke pantai
berpesisir putih di sampingnya. Tempat ini masih sangat alami, bersih dan
jernih. Tak hanya menikmati pasir putihnya kami juga memutuskan untuk menyewa
“katinting” yang disewakan oleh masyarakat setempat. Mereka membawa kami ke
daerah dangkal berpasir putih tak jauh dari pesisir pantai. Tarif sewa
katinting ini sangat murah, hanya Rp10.000,00 per kepala. Katinting ini akan
membawa kita ke pasir putih ditengah laut yang berjarak kurang lebih 15 menit
perjalanan.
Sesampai di tempat yang dituju.Saya tak sabar untuk segera
menceburkan diri, melihat betapa jernihnya dasar laut didepanku. Kita bahkan
tak membutuhkan alat snorkle untuk menikmat dasar lautnya. Sayangnya kameraku
tidak didukung dengan fasilitas untuk memotret di bawa laut. Saya menceburkan
diri beberapa saat. Berhubung karena kami tak membawa perlengkapan apapun dan
tidak mepersiapkan cemilan bahkan air putih maka kami hanya bertahan sebentar
saja. Rasa penasaran untuk segera mengisi perut dengan Kaledo menjadi alasan
utama kami untuk segera buru-buru meninggalkan tempat ini.
Kaledo: Kaki Lembu
Donggala
Makanan khas Sulawesi Tengah ini memang cukup terkenal, Makanan
ini mirip dengan Kondro dari makassar bedanya bagian utama yang
disajikan adalah tulangnya yang dari kaki lembu dan disajikan bukan dengan nasi
melainkan dengan ubi. Tulangnya itu sendiri adalah ruas tulang lutut yang masih
penuh dengan sum-sum. Sebagian mengatakan, bahwa Kaledo berasal dari
Bahasa Kaili, bahasa penduduk Palu. Ka artinya Keras, dan Ledo artinya Tidak,
sehingga dapat diartikan "tidak keras"
Untuk menikmati makanan khas ini diperlukan peralatan
seperti Pisau, Sumpit dan Sedotan. Pisau digunakan untuk mengiris-iris daging
yang melekat di tulang kaki, sementara sumpit digunakan untuk menghancukan
sum-sum yang ada di dalam tulang kaki lembunya. Sedotan digunakan untuk
menyedot sum-sum yang sudah di hancurkan. Makanan ini di sajikan dengan kuah
segar bening dengan bawang goreng dan ulekan cabe yang endes. Satu porsi
dibandrol dengan harga yang cukup mahal, senilai RP75.000,00 tapi harga segitu
cukup sebanding dengan rasa Kaledo yang begitu nikmat.
Kalode Loli menjadi pilihan kami, tempatnya sekitar 20 km
dari pusat kota. Menemukan tempat ini agak repot, apalagi tempatnya yang
sedikit tersembunyi. Konon katanya Kaledo di sini adalah Kaledo terenak di
Sulawesi Tengah. Loli adalah salah satu nama desa di Donggala, dari sinilah
makanan Kaledo itu berasal. Kaledo Loli
cukup terkenal, bahkan untuk mempertahankan rasanya Kaledo Loli ini tidak buka
cabang
Triwulan kedua tahun ini sudah berlalu. Saya bahkan sama sekali belum menyusun resolusi tahun 2019 ku. Belakangan beberapa tahun terakh...
Triwulan kedua tahun ini sudah berlalu. Saya bahkan sama
sekali belum menyusun resolusi tahun 2019 ku. Belakangan beberapa tahun terakhir
hampir 75% resolusi yang kususun gagal. Rontok terbentur realita yang
menyakitkan. Resolusi tahunan ini tadinya
agenda rutin yang memang selalu kususun di awal tahun,ada banyak harapan yang tertulis dalam
catatan-catatan itu. Ada banyak janji masa depan yang kususun dengan baik
disana. Tapi kalian tahu, cerita kehidupan tidak semenyenangkan drama-drama
murahan ditivi yang sering kita tonton.
Tahun ini tak banyak yang ingin kugapai, aku hanya ingin
menjadi ikhlas menjalani semua ini. Menjadi lebih bersabar atas apa yang takdir
telah gariskan. Bukannya ke sabaran itu hanya sebentar, hanya sampai kita meninggal.
Dan jika sekiranya besok adalah saatnya, artinya kita hanya bersabar sampai
besok. Tidak terlalu lama bukan.
Untuk perjalananku, tahun ini aku memang berencana ingin
kembali ke jalan. menemukan diriku di masa lalu. Mungkin sebuah perjalanan
terakhir, the last solo backpacker. Saya ingin menyusuri jejak panjang
perjalanan lintas Sumatera. Saya ingin mengunjungi Medan, Padang, Bukit Tinggi,
Danau Toba, Aceh hingga Sabang. Titik terjauh Indonesia bagian barat. Terdengar
sedikit mengerikan bukan, tapi bagiku perjalanan perjalan seperti ini ibarat
perjalanan spiritual yang bisa mengantarkanmu bertemu Tuhan.
Orang-orang sering menemukan Tuhan di jalan, bukan di tempat
ibadah. begitu seorang sufi pernah mengajariku. Kau mungkin kesulitan menemukan
Tuhan ditempat ibadah, kebanyakan manusia disana berdiri menyembah Tuhan dengan
angkuh tapi di jalan kau bisa tiba-tiba menemukan Tuhanmu.
“kau pernah bepergian dengan pesawat” ? tanyanya padaku
“aku mengangguk”
Saat pesawat turbelensi akut, tiba-tiba orang-orang dengan
seketika menemuka Tuhan bukan.!
Aku kembali mengangguk.
Aku tiba-tiba teringat penerbanganku suatu hari dulu, di
sore yang hujan. Turbelensi akut 11 menit pertama penerbangan kami membuatku
begitu gugup. Saya merasa Tuhan begitu dekat saat itu.
Apakah seperti itu rasanya ?
Saya kembali membuka resoluis-resolusi tahun-tahun kemarin
yang belum sempat ku gapai. Sebuah catatan berhurup kafital membuatku begitu
tertarik. Aku tersenyum membaca catatan itu. rasa-rasanya waktu sudah berlalu
begitu lama. Aku semakin tua.
Aku pernah menulis mimpi seperti itu. Tidak ada salahnya
bermimpi, bukan ? saya terus menerus tersenyum membaca tulisan-tulisan usang
itu. dulu saat umurku belum lagi seperempat abad, saya merasa begitu ambisisu,
ingin ini ingin itu. mau ke sini mau kesana.
Mimpi manusia bisa berubah ternyata. Nyatanya semakin
bertambah umur kita, mimpi kita akhirnya semakin mengkerucut. Semakin
sederhana. Dahulu aku pernah menulis bisa berkeliling dunia, aku menulis
deretan nama-nama tempat indah yang wajib kukunjungi sebelum meninggal. kini
bahkan meninggalkan kampung halaman pun aku segan. Kenyataannya saat kita semakin dewasa, mimpi menjadi tidak
terlalu pentig. Realitas mengubah banyak persepsi kita tentang hidup dan
kehidupan.
Saya tetiba teringat suatu hari di pedalaman Topoyo,
kabupaten terbaru di Sulawesi Barat. Hari itu saya mengikuti Kelas Inspirasi,
saya ditugaskan untuk membawakan tema tentang mimpi didepan bocah-bocah sd yang
masih polos. Satu persatu mereka mengutarakan mimipinya. Seorang anak membuatku
tertarik. Diantara riuh-riuh teman kelasnya yang ingin menjadi polisi, pilot
atau guru dia justru ingin menjadi nelayan. Kenapa tanyaku kepadanya. Aku
tersenyum mendengar jawaban polosnya. Katanya biar bisa seperti bapaknya, bisa melaut
bareng bapak.Aku tersenyum memeluknya.
Tak ada satu manusia dimuka bumi ini pun yang boleh meremehkan mimpimu nak.
Autor: Andrea Hirata Paperback, 312 pages Published 2019 by Bentang Pustaka Original Title Orang-orang Biasa ISBN13978602291...
Jill Simmons, dalam sampul buku ini mengatakan, Orang-orang biasa akan menjadi buku kedua oleh Andrea Hirata yang akan menjadi best seller internasional setelah lascar pelangi. Saya setujuh dengan ungkapan ini. Saya rasa buku ini akan menjadi penantan kuat novel Laskar Pelangi.
Saya membaca hampir semua buku Andrea Hirata dan sekali lagi Andrea Hirata kembali membuatku jatuh suka. Buku ini berisi kisah 10 orang bodoh, yang gagal dalam menjalani kehidupan. Entah kenapa terkumpul secara alamiah bodoh, aneh dan gagal, 10 anak berderet-deret di bangku paling belakang di kelas: Handai, Tohirin, Honorun, Sobri, Rusip, Salud, Debut dan tiga anak perempuan Nihe, Dinah dan Junailah. Kisah kesepuluh orang ini berlanjut hingga mereka dewasa. Menjadi teman karib karena keadaan dengan nasib yang hampir sama mengenaskannya.
Novel ini awalnya kupikir novel satir yang akan menggambarkan betapa kejamnya kehidupan. Lingkaran setan kemiskinan, kebodohan, birokrasi dan berbagai macam tetek bengek kehidupan yang seakan tiada ujungnya. Saya justru tercengan dengan endingnya. Bahwa dibalik semua kebuntuan yang dihadapkan pada manusia selalu ada jalan keluar yang tak terpikirkan.
Buka ini mengambil setting di Belantik sebuah kota kabupaten kecil yang penduduknya lupa berbuat jahat. Adalah Inspektur Rojali yang mengidolakan Sahruk khan, yang sialnya ditugaskan di baerah Belantik yang tenang dan minim criminal. Inspektur Rojali sangat mendambakan suatu momen dimana dia bisa berteriak “angkat tangan’” sambil menodongkan senjata, seperti idolanya Sahrukhan dalam film-film laga india yang dia sering tonton. Sayangnya moment itu hampir tak pernah dia temukan. Belantik bisa dikatakan hampir minim dengan aksi kejahatan apapun.
Novel ini bercerita tentang komplotan orang bodoh, 10 orang yang kelihatannya gagal dalam kehidupan, mereka berencana merampok Bank karena alasan yang dianggap muliah, dan entah kenapa perpaduan antara kebodohan, ketidak becusan, amatiran dan idealisme menjadi sesuatu yang menarik dibaca. Saya terngakak ngakak sendiri di kamar, membaca betapa konyolnya kelakuan komplotan ini.
Ciri khas dari setiap novel Andre Hiarata yang kusukai adalah dia begitu cermat dan detail menggambarkan setiap tokoh, adegan dan lokasi kejadian. Bahkan tokoh yang kadang kita anggap hanya pemeran biasa selalu diberikan porsi yang cukup dan pas. Seperti bagiamana Andre Hirata menghidupkan tokoh Inspektur Rojali.
Saya jatuh suka pada tokoh polisi idealis seperti inspektur Rojali. Inspektur Rojali di gambarkan begitu idealis. Sosok Polisi yang jadi panutan masyarakat dan pahlawan bagi masyarakat dan idola anak-anak kampung. Polisi yang konon kehidupannya lebih lurus dibanding marka jalan. berkali-kali Inspektur Rojali harus menghadapi dilemma antara integritas dan kemelut hidup namun inspektur Rojali selalu mampu memenangkan pertarungan itu. tidak ada istilah abu-abu dalam hidupnya, yang ada hanya hitam atau putih. Sosok polisi yang memang hanya ada di dunia fiksi. Andre Hirata memunculkan tokoh ini mungkin mewakili harapan masyarakat Indonesia saat ini. Masyarakat Indonesia butuh sosok Polisi seperti itu, jujur, berintegiratas dan selalu bisa diandalakan oleh Masyarakat. Sayangnya di negeri kita ini, kita hampir tak lagi menemukan sosok seperti itu.
Saya sarangkan bacalah novel ini dalam keadaan betul-betul santai mengingat akan ada begitu banyak nama yang muncul di novel ini. Saya bahkan membaca buku ini dua kali secara beruntu karena begitu sukanya dengan buku ini. Terimakasih Bang Andre sudah menuliskan buku ini.
Leaves from the vine Falling so slow Like fragile tiny shells Drifting in the foam Little soldier boy Come marching home Br...
Lagu diatas dinyanyikan oleh seorang ayah untuk mengenang
anak lelakinya yang gugur dalam perang. Seorang ayah tampak begitu rapuh sedang
membakar dupa dibawa pohon yang rindang didepan foto seorang pemuda belia. Sebuah
cuilan adegan dalam film faporitku, Avatar Aang. Menurutku diantara semua part
dalam film ini, momen inilah yang paling sangat menyentuh. Saat seorang ayah
meneteskan air mata dan menyanyikan lagu sedih ini. Jendral Iroh digambarkan
sosok yang sangat kuat namun kocak, tapi pada sesi tertentu dia begitu
melangkolis. Nyatanya kematian tidak hanya memisahkan manusia, kematian juga melahap
banyak kebahagian orang-orang.
Beberapa minggu yang lalu, sahabat kecil saya meninggal.
Kalian tahu, kehilangan sahabat itu menyakitkan. Mungkin terlihat biasa tapi
begitu aku mengenang masa-masa kecilku, dadaku terasa begitu nyeri. Tuhan
memanggilnya telalu cepat. Seperti bapaknya dulu.
Aku ingat, waktu itu usianya masih 8 tahun. Kami baru duduk
di kelas dua SD. Ayahnya meninggal dalam sebuah kecelekanaan kendaraan dan
sahabatku itu menjadi yatim. Kini, tak berselang terlalu lama setelahnya dia
juga meninggal di usia yang masih sangat muda, meninggalkan seorang anak dan
calon bayi berusia 8 bulan yang masih berada di perut istrinya. Aku terpekur
menatap makamnya yang basah. menatap miris. Mesiki interaksi kami beberapa
tahun terakhir tidak seintens di masa lalu. Tapi aku tau, kami terikatsesuatu. Sesuatu itu aku sebut sebagai
“sahabat”
Beberapa malam yang lalu, aku bermimpi tentangnya. Aku bermimpi
kembali ke masa kecilku dulu. Aku bermain gundu dengan kawanku itu. entah apa
yang membuat kami tertawa begitu lepas. Aku ingat ketika dia tertawa matanya
yang sipit akan semakin hilang. Dulu waktu kecil kami sering memanggilnya
boboho, dia montok seperti boboho itu. film lucu paforit anak kecil jaman ku
dulu. Kami bermain di bawa pohon mangga berbuah lebat yang selalu kami panjat
jika musim mangga tiba, juga sebuah ayunan kecil yang suka kami perebutkan.
Saat sedang asik bermain itu, tiba-tiba bapaknya datang
menjemputnya dan membawanya pergi. Dia tidak sempat mengucapkan sepatah katapun.
Dia bahkan tidak berpaling menengokku kebelakang. Dia hanya pergi. Dan mimpiku
berakhir disitu. Aku terbangun dan kudapati diriku menangis. Kematian mungkin hanya seperti itu. hanya seperti selaput gagasan tipis yang begitu gampang diseberangi. Dan tiba-tiba kita disitu. Di dunia kehampaan, dunia keabadian. Dunia ketiadaan. Kita mati.
Lain malam, aku bermimpi bertemu tanteku, mimpi yang sama
beberapa kali. Tanteku baru saja meninggal sebulan yang lalu. Dia datang, hanya
tersenyum dengan baju dan kudung putihnya. Dia tak berucap kata, hanya
tersenyum. Datang dan tersenyum. Hanya seperti itu. Mungkin dia ingin menagih
janji-janjiku kepadanya. Aku memang banyak menjanjikannya sesuatu,
mengantarknya ke dokter, mengantarnya terapi atau macam-macam janji yang ku
iyaiyakan saja ketika dulu dia memintanya. Dan sampai akhirnya dia meninggal
janji itu tak kutepati. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Entah kenapa
akhir-akhir ini saya sering bermimpi yang aneh, dikunjungi orang-orang yang
telah meninggal. Mungkin Tuhan sedang ingin menyampaikan sesuatu.
Gejala awal hiportemia adalah tubuh akan berusaha menghasilkan panas dengan cara menggigil, jika tidak berhasil, sirkulasi darah akan m...
Gejala awal hiportemia adalah
tubuh akan berusaha menghasilkan panas dengan cara menggigil, jika tidak
berhasil, sirkulasi darah akan menurun secara ekstrem metabolisme tubuh akan
menjadi melambat. kau sekarat tanpa kau sadari, pada tahap akhir kamu hanya bisa
bernafas tiap dua kali semenit, kamu berada dalam keadaan mati suri. Saya
menggeliat kedinginan di puncak Gunung Ijen. Jaket tipisku tak mampu menghalau
udara dingin yang menusuk-nusuk. Kecerobohanku berbuah penyesalan. Jaket tebal
yang seharusnya kubawa serta, tertinggal di rumah hanya karena alasan
fleksibilitasi. Saya memang akan langsung menuju Mataram setelah dari sini.
Pertimbangan itulah membuatku harus mengemas barang seefisien dan seringkas
mungkin.
Suhu dingin pegunungan ini
membuatku hampir hipotermia, beruntung dipuncak saya bertemu dengan beberapa
pendaki lokal yang sedang membuat api unggung. Saya dipersilahkan bergabung
menghangatkan diri. Rasa-rasanya saya ingin membakar diri diatas perapian itu
saking dinginnya.
Kawah ijen merupakan destinasi
utama yang ingin kudatangi di Banyuwangi. Perkenalanku pertama kali dengan ijen
pada akhir 2013 lalu, dalam penyebrangan lintas pulau, Banyuwangi-Bali. Saya
melihat Gunung Ijen menjulang tinggi dari atas kapal penyebrangan yang menyebrangkan
kami ke pulau dewata. Seseorang di kapal
penyeberangan itu bercerita, konon di puncak ijen itu ada api yang berwarna
biru yang begitu indah, mitosnya api itu tidak bisa menapakkan dirinya pada
sembarang orang. Sejak hari itu saya
terus menerus bermimpi untuk bisa melihat dari dekat blue fire yang konon hanya
ada dua di dunia itu. Di kawah ijen dan di Islandia.
Pendakian di kawah ijen bermula
di pos Paltidung,. Pintu gerbang pendakian
baru dibuka pada pukul 01.00 dini hari, dan akan ditutup menjelang siang hari,
lewat dari jam itu, jangan harap pengelola kawasan wisata ini akan mengijinkan
kita untuk mendaki. Pendakian hari ini tidak terlalu ramai, mungkin karena
bukan musim liburan. Pendaki justru di dominasi oleh wisatwan asing. Sekolompok
turis dari Singapur tampak begitu bersemangat, juga sepasang manula dari
Spanyol yang datang hanya berdua tampa guide. Keluarga kecil dari Jerman dengan
anak lelakinya yang belum berumur lima tahun juga terlihat bersemangat. Selain
wisatawan asing tempat ini juga diramaikan dengan penambang belerang dan
penjajah jasa ojek troli. Kalian jangan bayangkan ojek ini sama seperti
ojek-ojek yang kalian kenal pada umumnya. Ojek ini seratus persen menggunakan
tenaga manusia bukan tenaga mesin. Jadi, troli yang seharusnya digunakan untuk
mengangkut belerang dari puncak gunung dimodifikasi sedemikian rupa agar bisa
mengangkut manusia. Satu atau dua manusia bisa diangkut sekali jalan. tarifnya
tergantung jarak. Dari pos satu titik awal pendakian, tarif ditawarkan sekitar Rp800.000
untuk bolak balik perjalanan. Tarif akan terus berkurang tergantung jauh dan
dekatnya puncak ijen.
Saya miris melihat adegan ini.
Ini bukan jasa ojek menurutku, ini jasa perbudakan. Perbudakan dengan cara yang
berbeda. Dikotomi memang, orang-orang
berduit mengeluarkan beberapa lembar rupiah untuk memudahkan menikmati tempat
ini, berfoto-foto, pamer di medsos hanya untuk beberapa like dan komen di
Instagram. Disisi sebaliknya, penjajah jasa ojek harus bejibaku, bermandikan
keringat mengendalikan troli di jalan-jalan pendakiang yang curam, untuk
beberapa lembar rupiah agar asap dapur tetap bisa mengepul, agar anak-anak
mereka masih bisa tetap menikmati bangku sekolah. kehidupan selalu punya dua
sisi
Untuk mencapai puncak kawah
setidaknya dibutuhkan waktu normal 2 sampai 4 jam perjalanan, dengan jalur
tracking menanjak tampa jeda. Jalur pendakian terbilang lebar dengan bebatuan,
jalan berdebu dan pepohonan rapat khas vegetasi hutan di sepanjang jalannya.
Tantangan pertama yang kuhadapi
adalah perjalanan dari tempat penginapan ke pintu gerbang Gunung Ijen, dari
stasiun Karangasem kita harus berangkat dini hari. Saya memacu kendaraanku
pukul 01 dini hari, menuju posko penjaga taman nasional gunung ijen. Peralanan
dari stasiun karang asem ke titik awal pendakian kurang lebih satu jam lamanya.
Perjalan ke pos platidung ini tidak bisa dibilang mudah. Motor matik yang
kugunakan berkali kali harus ku dorong, mengingat jalan yang dilewati mendaki
dan berkelok kelok.
Teman seperjalananku sudah jauh
meninggalkanku. Bayangkan kau mendorong motor di pendakian dini hari ditengah
hutan dan tak ada sesiapa. Bahkan sampai sekarang kalau aku mengigatnyapun
membuat bulu kudukku merinding. Saya mengumpat berkali-kali dalam hati. Teman
seperjalananku meninggalkanku begitu saja. Resiko backpacker sendiri kadang
memang setragis ini. Kau tak boleh berharap pada siapapun, termasuk teman
seperjalanan yang baru kau temui.
Satu-satunya yang bisa kau harapkan adalah dirimu sendiri. Beruntung tak
lama kemudian pos platidung tampak terlihat dari kejahuan. Orang-orang sudah sedari tadi memulai
pendakian, mengingat blue fire hanya bisa dilihat pada jam-jam tertentu.
Saya berkeliling mencari teman
perjalananku tadi, kutemukan dia menantiku di dekat pintu gerbang utama.
Sebelum mendaki kuputuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Di kawasan ini
tak susah untuk menemukan warung yang masih terbuka hingga dini hari. Saya
menikmati segelas pop mie di warung persis didepan pintu gerbang utama, juga
segelas kopi jahe hangat dan membeli sebotol besar air minum untuk kubawa serta
ke puncak.
Setelah merasa siap, kami mulai mendaki dari pos Platidung,
tak lupa membayar biaya registrasi terlebih dahulu. Sepanjang pengalaman saya,
30 menit pertama pendakian adalah waktu-waktu kritis, tubuh kita mengalami
perubahan metabolism secara drastis. Suhu dingin pegunungan turut mempengaruhi
ketahanan tubuh kita. Itulah mengapa pendakian ke gunung itu bukan perkara sederhana, bukan perkara kau bisa
memenuhi feed instagrammu dengan berbagai foto kece. Pendakian ke gunung itu
bisa kau bayar dengan nyawamu. Saya terbayang-bayang peristiwa dua tahun lalu,
sesorang pendaki asal Bali meninggal di Puncak Ijen. Di usianya yang masih
sangat belia.
Apalagi persiapanku mendaki tidak
cukup baik, mengingat perjalanan ini begitu tiba-tiba. Berkali-kali aku harus
berhenti menenangkan diri, membiarkan tubuhku bisa beradaptasi dengan baik.
Teman seperjalananku entah dimana. Nyatanya kami memang tidak cukup akrab
karena baru saja dipertemukan sore tadi. Mungkin saya meninggalkannya terlalu
jauh.
Pendakian menuju puncak kawah
ijen terus menerus menanjak, beruntung di pertangahan jalan kita bisa berehat
sejenak. Terdapat warung yang menyediakan anekan minuman hangat dan mie instan
yang bisa kembali menyuplai tenaga. Juga terdapat toilet dengan fasilitasnya
yang lumayan memadai. Saya memutuskan kembali berhenti sejenak, menikmati
segelas wedan jahe hangat. Kembali mengumpulkan tenaga dan semangat. Beberapa tahun yang lalu saya telah
memutuskan untuk tidak lagi melakukan pendakian-pendakian semacam ini namun
kerinduanku dan rasa penasarannya dengan blue fire itu membuatku melanggar
janjiku. Dengan kondisi yang serba terbatas ini, saya memaksakan diri menggapai
puncak ijen
Setiap orang punya alasan
masing-masing, kenapa harus mendaki gunung ? atau kenapa memilih bepergian
sendiri atau naik gunung sendiri. Aku juga menyimpan alasanku sendiri.
Perjalan-perjalanan sendiri seperti ini semacam endropin tambahan buat tubuhku.
Memberiku jeda sejenak dari rutinitas kerjaan atau beban masalah yang kadang
tak ada habisnya. Perjalanan sendiri memberimu banyak space untuk merenung.
Memaknai ulang apa-apa yang telah terjadi dengan hidupmu.
Saya tak ditakdirkan bertemu
dengan api abadi itu, si blue fire yang mengagumkan. Api Biru yang hanya ada
dua di dunia. Kecewa. Pendakian selalu mengajarkan banyak hal, termasuk
kegagalan. Nyatanya tidak semua hal yang kita inginkan bisa kita dapatkan,
seberapa kuat pun kita terus menerus mencoba. Manusia selalu dibatasi garis
batas. Orang-orang menyebutnya “takdir”. Mungkin memang banyak hal dalam hidup
ini harus berlalu begitu saja. Mungkin memang kita harus lebih banyak belajar
untuk kecewa agar kita bisa berdamai dengan banyak hal yang tidak sejalan
dengan hati kita.
Setelah pendakian ini, saya
merasa tak lagi memiliki minat untuk mendaki ke gunung manapun di Indonesia,
tidak Semeru yang puncaknya dulu menolakku untuk kegapai atau Rinjani yang telah menolakku dua kali, bahkan
ketika saya telah berdiri didepan pintu gerbangnya.
Perjalananku berikutnya mungkin
akan ku fokuskan pada tempat-tempat menarik di seluruh wilayah Indonesia, saya
hanya akan berkeliling dari provinsi ke provinsi, kota ke kota bahkan desa ke
desa, saya berjanji akan menginjakkan kaki di lebih banyak tempat di negeri
ini. Melihat berbagai macam hal yang sebelumnya belum pernah kulihat, tapi maaf
untuk mendaki gunung, sudah kuucapkan terimakasih dan Assalamualaikum.
Bersambung
Goodreads challenge Pada tahun 2018 kemarin untuk pertamakalinya selama beberapa tahun saya mengikut challenge di goodreads berhasil...
Pada tahun 2018 kemarin untuk pertamakalinya selama beberapa
tahun saya mengikut challenge di goodreads berhasil menyelesaikan semua
targetku. saya menargetkan membaca 25 buah buku dan Alhamdulillah berhasil menyelesaikan 26 buku. lebih banyak dari jumlah target yang kutetapkan di awal challenge. saya membaca beberapa buku yang sangat luar biasa di tahun kemarin dan sekarang saya kembali mengiktu goodreads challenge dengan
menargetkan lebih banyak buku dari tahun sebelumnya yakni sebanyak 30 buah buku. Semoga tahun ini target
saya kembali bisa tercapai
See Prayer
Buku pertama yang berhasil kuselesaikan di tahun 2019
adalah"Sea Prayer" karya
pengarang terkenal Khaled Hosseini penulis novel best seller “Kit Runner” dan
“a Thousand Splendid Suns”. Dua buku yang begitu berkesan buat saya.
Sea Prasyer sendiri hanya novel tipis tak lebih dari 50
lembar yang dibuat lengkapdengan
ilsutrasiya yang begitu dingin dan menyedihkannya. Menurutku buku ini begitu
emosional, sangat nyata dan begitu menyayat hati. Buku ini didedikasikan kepada ribuan pengunsi
yang raib di lautan demi menghindari perang dan penganiayaan. Khaled Hossein
menulis buku ini sebagai keprihatinan atas krisis pengungsi yang saat ini
terjadi di dunia. Dia tergugah oleh foto Alan Kurdi, bocah pengungsi Suriah
usia 3 tahun yang jenazahnya terdampar di sebuah pantai di Turki. Khaled ingin
memberi penghormatan pada jutaan keluarga yang tercerai-berai dan terusi dari
rumah mereka gara-gara perang. Royalti dan buku ini akan disumbangkan ke UNHCR
dan Yayasan Khaled Hosseini untuk membantu para pengungsi di seluruh dunia.
Membaca buku ini sungguh membuat hatikuhancur. Kehidupan di kota tua Homs yang
tadinya digambarkan begitu indah tiba-tiba berubah 180 drajat. Angin
sepoi-sepoi di musim panas yang menyejukkan berganti dengan deru mesiu yang
tiba-tiba memporakporandakan kehidupan yang tenang di Homs.Jutaan bom-bom dijatuhkan, membentuk kubangan
yang bisa dijadikan kolam renang. Darah menggenang.Anak-anak menjadi yatim, perempuan menjanda,
kelaparan. Dan ribuan lainnya harus meninggalkan tanah kelahiran mereka menuju
sesuatu yang sama tak pastinya. Apapun alasannya perang adalah kejahatan tak
termaafkan.
Perang telah menyakiti banyak orang. Tak terhitung berapa
juta orang yang meninggal karena perang, sebagian yang memilih mengunsi sama
menyedihkannya, ribuan orang raib ditengah lautan. Hilang ditelan ganansnya
ombak, Sebagian yang lebih beruntung menemukan daratan namun mereka tak
disambut, terusir lagi. Mengungsi lagi. Dan nasib mereka mungkin akan kembali
seperti Alan Kurdi.
Tentang Alan Kurdi.
2 September 2015. Rabu pagi. Hari itu dunia dikejutkan
dengan potret seorang bocah terdampar ditepi pantai di Turki. Dengan cepat
gambar itu viral di media social, dunia terguncang. Bocah itu pengungsi dari Suria
bernama Alan kurdi. Dia menjadi salah satu dari 12 warga Suriah yang ditemukan
tenggelam dalam pengungsiannya. Ia berjuang bersama saudara laki-lakinya dari
kota Kobani, Suriah Utara. Sayangnya saudara Alan Kurdi juga meninggal dalam
persitiwa itu. Alan Kurdi hari itu ditemukan tergeletak tak bernyawa di bibir
pantai di Turki, lengkap dengan sepatu kecil hitamnya celana pendek biru dan
kaos merah bergambar. Hari itu Alan Kurdi seakan ingin memberitahukan pada
dunia, inilah yang telah kalian lakukan padaku. Inilah akbiat dari
ketidakpedulian kalian padaku. Jutaan Alan Kurdi lainnya di Suriah, Palestin,
Afgahnistan, YordAnia dan negeri-negeri berkonflik lainya mungkin akan bernasib sama sepertiku atau
mungkin akan jauh lebih menyedihkan. Dan kelak kalian akan aku tuntut di
hadapan Tuhan atas ketidakpedulian kalian.
Note: Terimakasih dari komunitas tukar buku “KOTUBU” yang
mengirimiku buku ini. Buku ini sangat berarti buat saya.
Namanya Mamasa, negeri ini berselimut kabut. Di Subuh hari suhu udara bisa mencapai 7 drajat. Tempat ini dikelilingi gunung-gunung tingg...
Namanya Mamasa, negeri ini berselimut kabut. Di Subuh hari suhu udara bisa mencapai 7 drajat. Tempat ini dikelilingi gunung-gunung tinggi, jalanan berliku-liku dengan jurang yang menganga lebar di kiri kanannya. Tempat ini seakan berada di dimensi yang berbeda, menyendiri tersembunyi di lereng-lereng gunung Gandang Dewata. Mamasa seperti dimensi lain yang jauh, ada semacam tembok portabel tak kasat mata yang membatasi kehidupan di sana dan kehidupan dunia luar. Bahkan dulu hingga akhir tahun 80an perjalanan Mamasa-Polewali ditempuh tiga hingga empat hari lamanya. Barulah di tahun 1988 Perjalanan Mamasa-Polewali bisa ditempuh dengan Kendaraan roda dua. Perlahan tapi pasti saya rasa Mamasa mulai menemukan masa depannya.
Mamasa memerdekakan diri dari Induk Kabupatennya baru beberapa tahun yang lalu, 2 dasarwarsa belum berlalu. Pemekaran itu harus dibayar mahal. Konon puluhan nyawa harus melayang, diwarnai konflik berdarah yang tak begitu terendus media. Meski demikian Mamasa resmi memisahkan diri pada tahun 2002. Namun kini lihatlah, tempat ini seperti terkaget-kaget menyakiskan pertumbuhan daerahnya. Jalan beton dari pintu gerbang Kabupatennya sampai di kota, listrik, jaringan telfon dan internet yang dulu hanya mimpi belaka kini benar-benar bisa dinikmati. Mamasa akan menjadi ikon wisata Sulawesi Barat disuatu hari nanti.
Pertamakali saya ke Mamasa, akhir tahun 2015 lalu dan sejak saat itu entah sudah ke sekian kalinya saya mengunjungi negeri berselimut kabut ini. .Saya selalu dibuat kagum setiap datang berkunjung ke tempat ini. selalu ada hal baru dan misterius yang kutemukan. Mamasa memiliki semua kualifikasi sebagai tempat wisata, Berada di ketinggian 1600 mdpl menjadikan tempat ini beriklim sejuk. Pemandangan alam yang indah dan masih alami, adat dan tradisi yang unik, serta aneka kuliner dan juga kopi Mamasa-nya yang terkenal sanagan enak. Setidaknya ada beberapa tempat yang direkomendasikan yang harus kalian lihat atau kunjungi jika sedang berada di Mamasa, beriku 10 diantaranya:
1. Makam Tedong-Tedong Balla
Tedong-tedong minanga atau kuburan tedong-tedong yang terletak di Desa Buntu Balla, Mamasa. kuburan ini diperkirakan berusia sekitar 400 tahun lebih. Akses ke sini terbilang mudah. dari Ibu kota kabupaten Mamasa hanya dibutuhkan 10-15 Menit untuk sampai ditempat ini. Tedong (kerbau) di Mamasa begitu di sakralkan, selain karena untuk kepentingan ritual, hewan ini juga melambangkan strata sosial suatu keluarga. Karena saking berartinya, bahkan dulu bangsawan-bangsawan mamasa di semayamkan di dalam patung berbentuk Tedong, seperti yang ada di Binanga ini, orang di sini menyebutnya Liang Tedong. Liang Tedong, ialah kuburan yang terbuat dari kayu yang berbentuk kerbau, didalam perut kerbau inilah disimpan mayat mayat para bangsawan Mamasa. Masyarakat Mamasa meyakini bahwa Makam Tedong Tedong Minanga di Balla adalah pusat pemakaman nenek moyang mereka ratusan tahun yang lalu. Hingga kini tak banyak literatur yang bisa menjelaskan asal-usul dan filosofi keberadaan kuburan tedong-tedong ini termasuk Bapak yang menjaga Makam ini.
2. To’ Pinus Mamasa
Siapa sangka setelah berkunjung untuk ke sekian kalinya, saya baru menemukan tempat ini "hutan Pinus" yang jaraknya kurang lebih hanya 500 meter dari tempatku menginap. Tempat ini mengingatkanku aka hutan pinus di Malino tapi dalam skala yang lebih kecil. Berlokasi di pusat kota yakni persis dibelakan kantor Bupati Mamasa menjadikan akses kesini terbilang mudah, sayangnya tidak banyak yang tahu mengenai keberadaan to’ pinus ini. Mungkin karena masih di kelola secara pribadi dan kurangnya publikasi menjadikan tempat ini belum seterkenal tempat wisata lainnya di Mamasa. Tarif masuk terbilang sangat murah, hanya Rp2.000,00 per orang. Namun berhati-hatilah saat ingin berkunjung ketempat ini. Selain karena tangga menuju ke hutan pinus sangat licin dan curam, juga pemilik kawasan wisata ini memelihara beberapa ekor anjing yang sering menyalaki pengunjung.
3. Kolam Air Panas Mamasa
Dengan suhu udara yang begitu dingin, berendam di air panas yang masih begitu alami memang sangat menyenangkan. Di Mamasa setidaknya terdapat tiga titik kolam permandian air panas yang berada di sektiaran kota Mamasa. Tarif masuk permandian air panas ini berpariasi antara Rp5.000 sampai dengan Rp15.000 per orang. Kolam air panas terdekat berada di belakang Hotel Nusantara. Terdapat beberapa kolam dewasa dan anak-anak juga satu kolam privat yang bisa disewa secara probadi. Kola ini terbilang sangat bersih dan terawat di banding dua kolam lainnya. Berendam di kolam air panas di tengah hawa dingin Mamasa yang dingin memang sangat menyenangkan.
4. Buntu Liara
Kalau di Toraja terkenal akan negeri di atas awan “Lolai” di Mamasa juga terdapat tempat yang sama yakni “Buntu Liara”. Setidaknya ada beberapa jalur yang bisa diakses untuk menuju ke tempat ini. Namun akses terdekat dari pusat kota yakni melalu lajur Balla Peu. Kita harus berkendara kurang lebih 30 Menit kea rah Balla. Wisatawan biasanya memarkir kendataan di depan kantor desa. Lalu kemudian dilanjutkan dengan trekking menuju puncak gunung Liarra yang berada di Desa Talimbung. Trekking ke puncak membutuhkan waktu sekitar 30 menit hingga 1 jam. Tapi ingat awan-awan berarakan hanya muncul saat pagi (pukul 5 hingga 9) dan sore hari (pukul 3 hingga 4). Di luar waktu itu awan sudah menghilang. Waktu terbaik mengunjungi tempat ini setelah subuh atau sebelum matahari terbenam. Persiapkan bekal secukupnya jika akan berkunjung di tempat ini di kawasan ini belum ada sama sekali warung makanan yang bisa di jumpai.
5. Upacara Adat Rambu Solo
Secara sekilas tidak ada perbedaan yang mencolok antara Mamasa dan Toraja dari cara mereka memperlakukan mayat dalam ritual adat Ramu Solo. Seperti halnya di Toraja, di Mamasa Kematian tidak pernah diartikan sebagai Duka. Kematian adalah sesuatu yang seharusnya dirayakan. Orang yang meninggal itu hanya berpindah. Mereka berpindah ke alam yang lebih baik. Mereka naik kasta. Itulah mengapa kematian di sini dirayakan seperti merayakan kehidupan. Disini kematian justru mempersatukan kehidupan. Kematian salah satu anggota keluar akan mendatangkan ratusan sanak saudara dari seluruh penjuru. Sanak keluarga datang berbondong-bondong. Mereka datang membawa ayam, babi atau kerbau yang harganya bisa sampai puluhan bahkan ratusan juta untuk dipersembahkan ke keluarga yang meninggal. Beban biaya pemakaman yang mahal dalam upacara adat Rambu Solo akan ditanggung bersama semua anggota keluarga besar. Itulah mengapa ikatan kekeluargaan begitu kokoh di sini. Ikatan keluarga bahkan tidak terputus meski seseorang telah meninggal.
6. Upacara Adat Mangarong di Nosu
Salah satu upacara adat yang sangat kurekomendasikan untuk kalian saksikan di Mamasa adalah upacara adat Mangarong ini. Upacara adat ini hanya ada di Nosu jadi bila berkeinginan menyaksikan upacara adat yang masih sangat natural ini datanglah ke Nosu pada musim-musim panen tiba yakni tepatnya di bulan-bulan Agustus atau September setiap tahunnya. Sayangnya akses ke Nosu masih sangat minim. Dibutuhkan nyali yang super ekstra untuk menjangkau tempat ini. Jika berkeinan mengunjungi tempat ini sebaiknya gunakanlah kendaraan roda dua jenis trail dari kota Mamasa.
Di Nosu, mayat-mayat tidak dikuburkan di lubang-lubang batu sebagaimana saudara tua mereka di Toraja. Mayat-mayat justru disimpan dengan rapi di alang-alang (rumah makam). Mayat-mayat leluhur di tumpuk di sana. Disusun dengan rapi seperti guling. Setiap tahun tepatnya di bulan agustus setelah musim panen tiba akan diadakan ceremonial “mangaron”. Seluruh mayat yang ada se distrik ini dikeluarkan, dikumpulkan di tanah lapang. Babi dan kerbau-kerbau disembelih sebagai persembahan. Pakaian-pakaian mereka di ganti, dibungkus lagi dengan rapi, diupacarakan lagi, baru kemudian dikembalikan ke “alang-alang” , peristirahatan terakhir mereka.
7. Terasering di Pana
Distrik ini masih begitu terpencil. Berjam-jam perjalanan dari ibu kota kabupaten. Akses ke sana tidak bisa dibilang mudah. Bayangkan hanya sekitar 70km dari Ibu kota Kabupaten harus ditempuh 6-7 jam perjalanan. Tempat ini dikelilingi gunung-gunung menjulang tinggi, hutan-hutan tua, dan jurang-jurang yang menganga lebar. Aroma mistis bercampur aroma kopi menyeruak kuat di udara. Jangan harap kalian bisa dengan mudahnya mengakses internet di sini bahkan hanya untuk menelepon pun di sini hampir sama mustahilnya. Meski dibekap ketertinggalan seperti ini tempat ini punya sesuatu yang sangat istimewa. Panorama alam yang begitu indah. Hamparan pertanian bertingkat-tingkat membentuk lukisan alam yang sangat indah. Tempat ini mengingatkanku akan kawasan terasering di Ubud Bali. Selain kawasan pertanian tempat ini juga terkenal dengan ke aslian kopinya. Hampir serratus persen penduduk disini bertani kopi. Dari sinilah sumber pemasok utama kopi Mamasa yang terkenal beraroma nikmat itu.
8. Patung Tedong di Taman Kota
Masih tentang “Tedong”, persis di pusat kota Mamasa, tepatnya di taman kota ada sebuah patung Tedong Besar yang berwana belang atau Tedong Doti. Tedong Doti berharga mahal, hanya segelintir orang yang bisa memiliki dan mempersembahkan tedong doti pada ritual Rambu Solo. Satu tedong doti bisa seharga puluhan bahkan ratusan juta. Tedong doti memang suddah menjadi symbol di Mamasa, salah satu wujud kecintaan orang-orang Mamasa terhadap hewan sakral ini dengan dibangunnya patung Tedong sebagai ikon kota Mamasa.
9. Patung Bunda Maria
Saya terkagum-kagum melihat Patung Bunda Maria yang begitu tinggi ini. Belakangan kuketahui patun ini merupakan salah patung Bunda Maria tertinggi di Asia Tenggara. Patung ini berada di Pena tepatnya di Bukit Ziarah Bunda Maria Pena. Proses pembuatan patung dan kawasan religi ini memakan waktu yang cukup lama. Sementara patungnya sendiri didatangkan langsung dari Magelang, Jawa Tengah. Patung berwarna putih setinggi 12 m ini diresmikan sejak 2012. Selain patung Bunda Maria, juga terdapat bebera patung-patung lain menghiasi dari halaman bawah tempat yang dicanangkan menjadi situs ziarah umat Katolik ini.
10.Gereja Tua Mamasa
Bangunan ini merupakan sebuah gereja tua di kota Mamasa. Gereja ini berada di atas perbukitan menghadap ke jantung kota Mamasa yang dibangun pada zaman Belanda tahun 1938. Bangunan ini merupakan gereja tertua kedua yang ada di Mamasa. Meski akses ke tempat ini sangat mudah namun cagar budaya ini tak terurus, di sekelilingnya sekarang ditumbuhi rerumputan liar. Selain gereja tua ini terdapat beberapa gereja yang syarat dengan nilai sejar di Mamasa juga beberapa Gereja yang tampilannya sangat indah seperti Gereja Katolik St. Petrus yang baru selesai dibangun pada tahun 2017 lalu.
Dibutuhkan lebih dari sebulan untuk menyelesaikan buku setebal 800an halaman ini.
Bagus. seperti buku pertamanya kita selalu disuguhkan kisah-kisah manis kehidupan Nabi Muhammad di satu sisi kita dibuat penasaran dengan petualan Kashva ...
Parvana adalah gadis kecil biasa berumur 11 tahun bermasa depan gemilang. Ayahnya seorang terdidik lulusan Inggris dan ibunya seorang jurnalis kantor berita ternama. Namun hidup berkata lain. Perang memaksa ia menyamar menjadi anak laki-...
Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances