Orang-Orang Baduy Dalam Aku hampir-hampir saja melupakan kesenangan corat-coret di walk blogku ini. Diklat berbulan-bulan ini sunggu...

Orang-Orang Baduy Dalam
Aku hampir-hampir saja melupakan kesenangan corat-coret di walk blogku ini. Diklat berbulan-bulan ini sungguh membuatku jenuh, rutinitas yang dulu sangat kutakutkan akhirnya harus kujalani, kutelan bulat-bulat. Aku akhirnya terjebak dalam rutinitas dunia kerja yang monoton itu. Sesuatu yang dulu sangat kuhindari. Pilihanku untuk terus menerus menjadi manusia bebas akhirnya terbentur dengan banyak realitas yang menyakitkan.  Hidup kenyataannya bukan untuk diri kita sendiri. ada banyak hak-hak orang lain yang ikut ambil bagian dan harus ditunaikan, yang patut kusadari sekarang adalah semoga di jalan ini orang tuaku ridho padaku dan akhirnya juga membuat Tuhanku ridho padaku.

**********

Rasanya sudah lama sekali saya tidak melakukan perjalanan-perjalanan panjang yang menyenangkan. Terakhir kemarin perjalanan yang menyenangkan beberapa bulan yang lalu ke Dieng Palteu, Negeri pada dewa. tempat yang sangat indah.  Hari ini aku akhirnya kembali menemukan  kebebasanku. terkungkung ditempat diklat berbulan-bulan membuatku seperti menjadi sampah tak berguna. 

Sabtu pagi di satisun tanah abang, saya berdiri cemas menunggu teman trip yang juga belum terlihat batang hidungnya. Dari 10 orang yang berjanji akan mengikuti trip ini, baru 4 orang yang terlihat batang hidungnya. Pada detik-detik terakhir sebelum kereta berangkat barulah kami semua akhirnya berkumpul, kebiasaan ngaret orang Indonesia. Hehhehe.

5 menit lagi kereta yang akan mengantarkan kami ke stasiun Rangkas Bitung akan berangkat, kami baru saja memasuki gerbong 6. Ada Kang Deden dan Teh Sapta yang akan menjadi tur leader kami. Ada Mbak laila, Nur, Bang Sugeng, Mbak Rini dan beberapa nama lain yang tidak semuanya sempat kuingat. Perjalanan menuju Baduy dalam bermula dari stasiun Rangkas Bitung. Dari sini kita akan menuju desa Baduy luar. Kira-kira 1,5 jam perjalanan dengan transfortasi umum. Dari desa Baduy Luar ini kita memulai perjalanan menuju Baduy dalam. mendaki gunung melewat lembah, sungai mengalir indah ke samudra (hey ninja hatori). ehhehehheheh

Kami melewati beberapa aliran sungai-sungai kecil berair jernih, juga ladang-ladang penduduk yang baru saja di bersihkan, bekas sisa lahan terbakar masih begitu jelas, asap tipis masih terlihat di mana-mana. Juga sebuah danau yang tenang dikelilingi pohon nipa. Kami juga melewati beberapa perkampungan penduduk Baduy luar. anak-anak kecil malu-malu mengintip dari balik pintu beberapa terlihat berlari-lari kecil bermain di halaman rumah yang tak begitu luas. Tempat ini begitu tenang, begitu damai.  Pohon-pohon tua menjulang tinggi, dahannya menggantung rapuh. Udara pegunungan yang bersih.

Kami berjalan hampir 4 jam lamanya,  awalnya kupikir perjalanan menembus Baduy dalam ini hanya seperti perjalanan menemukan Sempu Segaraanakan di tengah pula di sendang biru Malang itu. ternyata aku keliru, perjalanan menemukan desa Baduy dalam ini sama saja seperti perjalanan menuju puncak gunung dengan ketinggian lebih dari 1000 mdpl beberapa kali kami harus melewati tanjakan yang tidak bisa dibilang mudah. melelahkan.

Kami akirnya menginjakkan kaki di desa Baduy dalem tepatnya di desa Cibeo, salah satu
perkampung baduy dalam.  Demograpi desanya hampir mirip dengan desa-desa Baduy luar sebelumnya. Rumah-rumah dengan ukuran yang hampir sama,  berjejer rapi. rumah pu'un (sebutan untuk kepala suku) telihat lebih mencolok dipojokan sendiri. Penduduk desa menyambut kami begitu ramah. tersenyum sopan. kami menginap di rumah salah satu penduduk desa yang juga sebagai guide kami dari desa Baduy luar tadi. Aku suka tempat ini, rumah-rumah tua, perkampungan tua dikelilingi hutan-hutan yang tak kalah tuanya, dengan pohon-pohonnya yang menjulang tinggi yang sama tuanya, hutan tua lusuh ini tampak begitu berbeda di bawah sinar matahari senja.

Suku Baduy telah mendiami tempat ini dari beberapa dekade yang lalu denganberbagai macam riwayat dan kisahnya. Saya tidak tahu, apakah aku harus menyarankan kalian harus berkunjung ke sini atau tidak. Bagiku tempat ini begitu berbeda  mengamati desa ini seperti mengamati paradoks sosoial yang begitu nyata. Entahlah, sesuatu berkecamuk di dadaku, antara miris, senang, syukur dan bahagia semuanya bercampur. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan mengenai suku Baduy, seperti halnya tidak banyak gambar yang bisa diabadikan di tempat ini.  Sudah cukup banyak literatur mengenai Suku Baduy ini. Saya hanya akan melihat dampak lain ketika suku ini akhirnya terkontaminasi. apa yang akan terjadi dengan suku ini. Aku takut, akhirnya tradisi yang mereka pertahankan selama ini perlahan-lahan akan luntur, bukankah kita meninggalkan modernitas untuk kembali ke alam.

Aku takut suatu hari nanti, karena mereka terlalu sering bersinggungan dengan moderintas akhirnya mereka terkontaminasi seperit Baduy luar, dan pada akhirnya akan seperti kami.  Saya takut tradisi yang telah terjaga beratus-ratus tahan lamanya ini akhirnya akan punah, dengan semakin banyaknya pengunjung, apakah mereka mampu bertahan, apakah mereka masih bisa untuk terus menerus berada di ruang isolasi itu.  Masih bisa terus menerus bertahan untuk tidak mengenakan alas kaki dan transportasi. Masih bisa bertahan untuk tidak tertarik menggunakan pakaian selain hitam putih yang selama ini mereka kenakan. Saya rasa 30-50 tahun ke depan tradisi suku ini perlahan-lahan akan punah.  Di satu sisi mungkin baik bagi mereka, tapi di sisi lain kita akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga itu. ironi.

Aku selalu menyukai perjalanan-perjalanan seperti ini, perjalanan mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi, melihat berbagai hal yang belum kuketahui. Aku berharap perjalanan-perjalanan seperti ini akan membimbingku untuk menemukan kebijaksanaan hidup, kedamaian pikiran, serta kesadaran akan realitas yang kasatmata maupun yang tidak yang selama ini selalu kucari.


8-9 Agustus 2015
bersama teman-teman dari Postualang

Kampung Baduy Luar


Kampung Baduy Luar


Wefie dengan orang baduy Dalam



Aku rindu, tapi pada siapa ? ada masanya hati menjadi kosong, merapuh. tiba-tiba saja petal-petal kenangan masa lalu berlari-l...


Aku rindu, tapi pada siapa ?
ada masanya hati menjadi kosong, merapuh.
tiba-tiba saja petal-petal kenangan masa lalu berlari-lari di depan mata
seseorang yang pernah hadir sekelabat, malam ini  datang menyapa
dia bertanya "hei apa kabarmu"
aku tertunduk sepi "aku masih saja di sini" jawabku.
belum bisa melabuhkan hatiku di dermaga-dermaga baru
nyatanya ada banyak hal yang tidak bisa disembuhkan oleh waktu



Jakarta, 00.00, 1 agustus 2015.
by A_m

Klenteng Sam Po Kong kita selalu menjalani dua cerita kehidupan. kehidupan yang kita jalani dan kehidupan kita yang diceritakan orang...


Klenteng Sam Po Kong

kita selalu menjalani dua cerita kehidupan. kehidupan yang kita jalani dan kehidupan kita yang diceritakan orang lain  


9 Juli 2015, Hari ke 22 di bulan Ramdhan, Minggu ke sekian di tempat Diklat ini, "Pulang" satu-satunya hal yang bisa kupikirkan sekarang ini. tak lagi ada yang bisa kupikirkan selain kata pulang itu. Tidak nilai praktikum auditingku yang terancam her atau rapelan gajiku yang hingga kini tak juga kunjung menghiasi rekeningku.  Kenapa harus pulang ? karena saya tahu, di sana di rumahku, seseorang yang selalu kupanggil ibu juga sedang merindukanku.

Diklat yang melelahkan, berbulan-bulan ini membuatku lalai mengunjungi blog kesayanganku ini, ada berbagai hal yang terlewatkan yang tidak sempat kutuliskan di sini. Kita sungguh akan melalui banyak hal dalam kehidupan kita. berbagai hal yang bahkan mungkin tidak pernah terlintas dalam pikiran kita. oh iya, kalian tahu, Jakarta adalah salah satu tempat yang tidak pernah kutulis dalam jadwal tempat-tempat yang harus dan akan kukunjungi, tapi takdir selalu menulis kisahnya sendiri dan kita dipermainkannya. Saya kini harus berusaha menerima Jakarta, seperti aku menerima Makasar, Malang dan Jogjakarta. Semoga kita bisa berdamai

Oh iya, ini lanjutan catatan perjalananku ke Semarang yang baru sempat kulanjutkan.

*********************************************************************************

Semarang memang bukan kota wisata layaknya Jogja, tapi bukan berarti tidak ada hal-hal menarik yang bisa anda temui disana. Ada banyak tempat yang cukup menarik untuk anda kunjungi di Semarang ini, termasuk diantaranya Lawan Sewu, Klenteng, Masjid Agung dan Kota Lama.

Hari pertama di semarang saya hanya sempat mengunjungi Lawan Sewu dan Klenteng Sam Po Kong. Tentang Lawang sewu sudah kutuliskan pada tulisanku sebelumnya kan. Dari lawang Sewu saya menuju ke Klenteng dengan taksi tarif 15.000. Tidak banyak hal yang istimewa di Kelenteng ini, sebagaimana umumnya Klenteng selalu penuh dengan ornamen-ormnamen yang berwarna cerah. Klenteng ini berwaran merah cerah dengan banyak patung-patung naga yang menghiasi tempat ini. Juga sebuah patung berdiri dengan gagahnya, patung laksamana Chen Ho yang terkenal itu. kalian tahu siapa laksamana Ceng Ho itu kan ? tidak perlu kuulas di sini. Menjelang malam, saya memutuskan untuk pulang ke penginapan, beristirahat sejenak, mandi dan sholat.  

Malamnya saya menyusuri kota lama semarang, dari penginapanku hanya dibutuhkan kira-kira 15 menit jalan kaki untuk sampai ke tempat ini. Kota lama semarang merupakan kawasan yang cukup luas dengan berbagai keunikan-keunikannya. saya mengelilingi kota lama yang eksotis unu menumpang pesva modifikasi dengan penumpang duduk disampingnya. biar terkesan semakin jadul.

 Ada beberapa stand-stand penjual berbagai macam barang antik. berjejer rapi dengan tenda-tenda yang  terang temarang. berbagai macam hal di jual disana, koin-koin kuno, majalah-majalah dan buku-buku lama, mainan-mainan yang sempat tren di era 80 dan 90an. mengunjungi tempat ini seperti membawaku ke masa-masa kecilku.

Puas berkeliling saya menikmati hidangan
malam di Restocafe, letaknya dibelakang pameran barang-barang antik di samping gereja tua. suasananya kafe ini terbilang romantis, lilin-lilin di dalam gelas bening dengan airnnya yang berwarna biru mengeluarka aroma wijen yang hangat menenangkan. ornamen-ornamen yang terlihat begitu tua, musik klasik, kursi dan meja yang tak kalah tuanya, beberapa pajangan senjata yang hampir kalah dimakan usia. Sebuah rangka mobil berwarna coklat kusam berkarat dengan kaca jendalanya yang entah kemana dipajang rapuh dipojokan. Tembok-tembok dengan catnya yang terkelupas, memperlihatkan batu bata berwarna merah redup tua termakan usia. Lampu-lampu gantung tua dengan cahayanya yang redup berpendar. Helem-helem bekas penjajah Belanda berjejer rapi di sebelah kanan meja saya, lonceng-lonceng kecil berjejeran di sebelahnya ada foto Presiden Soekarno berdiri gagah dengan peci hitamnya juga foto seorang pesinden tersohor di negeri ini di masa mudanya di sampul sebuah majalah tua. Tempat ini istimewa, sayang saya tidak sempat mengabadikannya. hapeku lowbet. jam 9 malam, aku memutuskan pulang ke penginapanku

Di pagi hari, aku kembali menusuri setapak-demi setapak kota lama ini seperti berjalan ke dimensi yang berbeda. Bangunan-bangunan tak terawat  tua termakan usia. Bangunan-bangunan dulu yang begitu megah, dengan gaya khas kolonial Belanda. Bangunan itu kini ditinggalkan, merapuh menua termakan usia. pada abad 19-20 yang lalu tempat ini  menjadi pusat perdagangan  yang cukup tersohor dan berperang penting bagi perekonomian Belanda. Kawasan Kota Lama Semarang ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa kolonial Belanda lebih dari 2 abad lamanya, Di tempat ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan rapuh  dan mempunyai sejarah Kolonialisme di Semarang. Secara umum karakter bangunan di wilayah ini mengikuti bangunan-bangunan di benua Eropa  sekitar tahun 1700-an. Hal ini bisa dilihat dari detail bangunan yang khas dan ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa. Seperti ukuran pintu dan jendela yang luar biasa besar, penggunaan kaca-kaca berwarna, bentuk atap yang unik, sampai adanya ruang bawah tanah. Selain itu dibangun pula benteng sebagai pusat militer.  Benteng ini berbentuk segi lima dan pertama kali dibangun di sisi barat kota lama Semarang saat ini. Benteng ini hanya memiliki satu gerbang di sisi selatannya dan lima menara pengawas.  Masing-masing menara diberinama: Zeeland, Amsterdam, Utrecht, Raamsdonk dan Bunschoten*


Salah satu bangunan yang cukup menarik di kota lama ini adalah gereja Bleduk Gereja Blenduk yang merupakan bangunan tertua di kawasan itu dibangun pada tahun 1753 di zaman pendeta Johanennes Wihelmus Swemmelaar. Gereja dengan kubahnya yang unik ini konon pernah limbung. Pondasi bangunannya di bagian timur sempat ambles beberapa sentimeter sehingga dikhawatirkan akan menganggu konstruksi seluruh bangunan. Untung kemudian hal itu bisa diatasi dengan melakukan perbaikan, sehingga kekhawatiran kerusakan lebih parah bisa dihindarkan. Menurutku tempat ini tak kalah menariknya dibanding dengan Borobudur atau Prambanan, sayang tempat ini kurang dimaksimalkan oleh pemerintah, Tempat ini terlihat kumuh  berantakan tidak terawat, tempat ini sudah sangat memperihatinkan tinggal menunggu waktu dan tempat eksotis yang sarat dengan nilai-nilai sejrah ini akan segera hilang. seperti sejarah itu sendiri, terlupakan hilang termakan waktu.

Pasar Johat Semarang, setelah kebakaran
Puas mengelilingi kota lama, saya melangkahkan kakiku kembali ke penginapan. Hampir 4 jam lamanya saya berkeliling di kota lama ini seorang diri mengabadikan beberapa momen dengan kamera hapeku yang apa adanya ini. saya berjalan memutar, melewati reruntuhan pasar Johar yang baru terbakar pekan lalu saya menatap sayu di bangunan bekas pasar ini. hangus, dan berantakan. sisa-sisa kebakaran masih begitu jelas, bau gosong masih tercium menyengat. Tempat yang dulunya begitu ramai kini tiba-tiba melesu, hampir binasa. Kios-kios yang gosong, sisa-sisa barang jualan berhamburan kemana-mana, pemulung-pemulung tua mengais-ngais reseki di antara tumpukan arang-arang itu.  tapi bagaimanapun juga kehidupan akan tetap berlanjut denyut kehidupan perlahan bergejolak. satu dua pedagang kembali membuka lapaknya, di antara bekas-bekas reruntuhan pasar itu. kebakaran pasar ini akan segera terlupakan. juga modus dibalik kebakaran itu. akan menguap.

Aku melangkahkan kakiku dengan malas, begitu banyak hal tiba-tiba menyeruak di benakku tanpa bisa kucegah, entah dosa apa yang diperbuat penduduk negeri ini, diberikan musibah yang tidak henti-hentinya, diberikan pemimpin yang tidak benar-benar bisa mengurus dan memimpin rakyatnya
Menjelang senja aku kembali ke Jogja, setelah sebelumnya mampir di salah satu masjid yang terbilang mega di Jawa Tengah yakni Masjid Agung Jawa Tengah. Saya sangat menyarankan jika anda berkunjung ke Semarang untuk mampir sejenak di masjid ini.

Masjid Agung Jawa Tengah dengan Travelmateku si Vedhot




*Jangan lupa mampir di IGku @asdar_munandar


Sore ini, saya duduk di sebuah bangku tua di alun-alun kota Semarang. Ya Semarang, hari ini saya di Semarang, setelah menempuh 4 ja...




Sore ini, saya duduk di sebuah bangku tua di alun-alun kota Semarang. Ya Semarang, hari ini saya di Semarang, setelah menempuh 4 jam perjalanan dari Jogja, saya akhirnya bisa sampai di tempat ini, seorang diri. Seperti biasa saya selalu menikmat perjalananku sendiri.  Saya memutuskan bersitirahat sejenak di alun-alun ini, menanti senja yang sebentar lagi akan berlalu. duduk berdiam diri. menyendiri di antara keramaian  seperti membuat viral portabel di sekelilingku  tak ada seorang pun yang mengenaliku, saya bisa leluasa mengamati dan menyaksikan banyak hal. Saya selalu menyukai kondisi seperti ini, seperti  kembali menemukan diriku yang dulu. Seseorang yang begitu menyukai ketenangan.

Di depanku seorang anak kecil tertawa girang, bermain balon air. ratusan balon-balon air berwarna pelangi terbang terbawa angin, dia berteriak-teriak kegirangan, begitu puas, berlari ke sana kemari mengejar buih-buih sabun itu. Ayahnya dengan semangat  berusaha menghasilkan lebih banyak buih.. lagi dan lagi. Tiba-tiba aku begitu merindukan masa kecilku. Masa kecil yang tulus. Masa kecil rasanya berlalu begitu cepatnya, seperti anak panah yang terlepas dari busurnya, wusss.... . dan tiba-tiba saja kita tumbuh dewasa, berubah menjadi orang lain. Menjadi berbeda,  dan kita tidak lagi mengenali diri kita itu. Tapi aku percaya suatu hari nanti kita akan bisa kembali mengenali diri kita lagi, meskipun  mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama.

Bertahun-tahun ini saya berusaha kembali menemukan diriku, berusaha kembali menemukan jalan ke Hatiku. Setelah apa yang terjadi pada hidupku selama ini. Setelah kekacauan-kekacauan itu. setelah rasa sakit dan rasa putus asa itu. Aku sungguh merindukan untuk kembali menemukan diriku. Itulah mungkin hingga kini saya masih sangat menyukai berjalan-jalan sendiri, mengunjungi banyak tempat, melihat berbagai macam hal. karena aku percaya, perjalanan akan menuntun kita untuk kembali pulang, kembali ke kodrat kira sebagai seorang manusia.


Semarang memang bukan kota wisata layaknya Jogja, tapi bukan berarti tidak ada hal-hal menarik yang bisa kita temui di sana. ada banyak tempat yang cukup menarik untuk di kunjungi di Semarang ini, termasuk di antaranya Lawan Sewu, Klenteng Sam Poo Kong, Masjid Agung dan Kota Lama.


Jam 11 siang yang terik, travel yang membawaku dari Jogja menuju kota ini menurunkan di depan pintu masuk lawan Sewu, tempat pertama yang kutuju, salah satu ikon kota Semarang. Ranselku dan segala pernak perniknya masih menggandol di pundakku, waktu yang singkat membuatku harus menggunakannya semaksimal mungkin. Lawang Sewu atau juga dikenal dengan pintu seribu tadinya adalah kantor dari Nederlands-Indische Sporweg Maatschappij atau NIS, dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Artinya bangunan ini telah berdiri di sini hampir setengah abad sebelum Indonesia merdeka.  108 tahun bukan waktu yang singkat untuk menyaksikan banyak hal.  Bangunan ini telah menyimpan begitu banyak ceritanya termasuk berbagai cerita mistisnya.

Konon katanya dahulu kala pernah terjadi   pemerkosaan tentara Jepang terhadap sekitar 20 noni Belanda. Kabarnya semua noni ini terdiri dari 10 noni perawan dan 10 sudah nikah. Setelah puas menyalurkan hasratnya, para tentara Jepang memenggal kepala 20 noni tersebut. Dari situ  kisah mistis sering munculnya noni di sekitar Lawang Sewu berawal. Dan hingga kini hantu noni-noni cantik yang berlumuran darah masih sering menampakkan diri di bangunan ini. Ihhhh tidak serem


Bersambung

Moralitas Pengemis Berbicara tentang moralitas. Mungkin moralitas saya telah tereduksi sedemikian rupa. Hati saya tidak lagi berg...

Moralitas Pengemis



Berbicara tentang moralitas. Mungkin moralitas saya telah tereduksi sedemikian rupa. Hati saya tidak lagi bergeming melihat pengemis dan derivatifnya di pinggir jalan. Ibu-ibu dengan anak-anak balitanya atau perempuan tua di depan pintu-pintu mini market. Amplop-amplop permohonan bantuan biaya sekolah dan biaya hidup yang dibagikan kepada pengunjung ATM. Entahlah rasa percaya saya sama mereka telah terkikis habis. Saya menyebut mereka orang-orang yang mempermainkan rasa.

Bayangkan hanya dengan tampan melas, baju compang-camping, muka sedikit kusut mereka mempermainkan hati kita. Kita kemudian tersentuh, bergetar hatinya, menyodorkan lembar ribuan. Mereka tersenyum, mengucapkan terima kasih dan sedikit doa. Hahaa.. cerita lama kawan. Saya mengenali ibu-ibu dengan seorang anak gadisnya di depan kampus saya yang juga berprofesi seperti itu. Bayangkan hampir tiga tahun saya lalu lalang di kampus dan saya selalu melihat mereka di lampu merah yang sama, dengan keadaan dan kondisi yang sama, dengan selogan yang sama “Mohon Bantuan Biaya Sekolah”. Mereka bukan pengemis kawan, mereka penipu berkedok pengemis.

Ironi memang, kadang saya berpikir berapa rupiah duit yang mereka bisa kumpulkan tiap harinya. Sedikit ? anda salah, mereka bisa hidup makmur dengan profesinya itu.  Mereka kaya tanpa perlu bersusah payah. Kehidupan memang menampilkan berbagai macam lakon. Mengajarkan berbagai macam modus. Menuntut manusia untuk terus menerus kreatif dan inovatif termasuk dalam hal profesi ngemis-mengemis. Hei, kawan bahkan saya sering menemukan pengemis-pengemis dengan modus beraneka rupa.

Saya pernah didatangi seseorang yang mengaku satu daerah dengan saya. Mengalami nasib tragis, kabur dari tempat penampungan TKI, tak punya uang, tak punya kerabat dan terakhir minta ongkos pulang. Kenapa saya meyakini ini penipuan, ternyata di hari yang sama dia datang juga ke tempat teman saya dengan modus dan cara yang sama dan besok-besoknya saya sharing ke yang lain ternyata banyak yang juga mengalami penipu dengan modus seperti ini. Mengaku satu daerah asal, kehilangan dompet lah, nyasar lah, apa lah. Inti-intinya mereka-mereka ini sedang menipu rasa kasihan kita.


Dewasa ini kita sungguh dituntut untuk skeptis, tidak mudah percaya dan tidak mudah iba. 

Puncak Sikunir Kadang memang kita butuh sendiri seperti hari ini, saya berada di bilik sebuah warnet aku suka dunia sempit ini ...

Puncak Sikunir


Kadang memang kita butuh sendiri
seperti hari ini, saya berada di bilik sebuah warnet
aku suka dunia sempit ini
seperti melepaskanku dari sesutau
aku merasa aman, hanya aku dan diriku.
tidak melakukan apa-apa.
menikmati segelas kopi hitam Toraja yang beraroma pahit dan sedikit pekat

******


Kalian penah ke Dataran Tinggi Dieng ? Kalian tahu tempat itu ? Konon katanya golden sunrise terindah di Indonesia bisa dinikmati di tempat ini. negeri pada Dewa. Golden sunrise bisa di nikmati di ketinggian Gng. Prau 2 565 mdpl, atau kalau tidak ingin repot cukup ke puncak sekunir dengan ketingginya yang hanya 2.263 mdpl. Untuk menikmati golden sunrise di puncak sikunir anda harus berangkat dini hari. Dari penginapan kami berkendara ke arah desa tertinggi di pulau Jawa "sembungan". Desa ini berada di ketinggian kurang lebih 2.000 meter di atas permukaan laut, dengan suhu yang cukup dingin, sekitar 10 -18 derajat celcius  dan panorama yang luar biasa indahnya.

selain Tibet di Himalaya yang eksotis itu, (baca bukunya Agustinus Wibowo: Titik Nol, Selimut Debu, Garis Batas. Recomendet banget deh) Desa Sembungan ini adalah dataran tiggi  berpenghuni ke dua di dunia. Oh iya, di desa ini juga da sebuah telaga indah namanya telaga cebong, biasanya wisatawan lokal maupun mancanegara memilih mendirikan tenda di seputaran telaga ini. Telaga ini cukup cantik, dengan airnya yang kehjau-hijauan, meski tidak secantik telaga warna. Dari titik ini pulalah pendakian ke puncak sikunir bermula tidak butuh lama untuk sampai puncak sikunir, hanya kuran lebih 30 menit. hari itu kebetulan pengunjung lagi ramai-ramainya, kami berdesak-desakan mencari spot terbaik untuk menikmati golden Sunrise itu.

Golden Sunrise
Awalnya saya sedikit kecewa, matahari tampaknya terlambat bersinar. Saya takut setelah menempuh perjalanan berjam-jam dari Jogja, saya tidak menemukannya tapi beberapa menit kemudian akhirnya matahari malu-malu menampakkan sinarnya. perlahan-lahan tapi pasti. cahaya kemerahan berpendar, merah, jingga, orange dan kadang berwarna emas kekuning-kuningan. Dadaku tiba-tiba terasa hangat, begitu menenangkan. aku menemukannya, sesuatu yang membuat aku selalu merindukan berdiri di titik-titik tertinggi negeri ini.

Kemarin saya juga menantinya di ketinggian prau 2.565 mdpl. setelah berjalan kaki
mengejar sunrise
 berjam-jam dari Dieng Plateau. Indah memang, susatu yang membuat saya selalu ingin dan ingin lagi, berdiri di ketinggian gunung-gunung itu. Menyaksikan matahari terbit dari balik awan. Mungkin ini disebut mountsick. sejenis penyakit yang menjangkiti orang-orang yang pernah merasakan summing atack di pucak gunung. Gejalanya hampir serupa penyakit homesick.

Dari puncak sikunir ini kita juga bisa memandang tujuh puncak gunung. Yakni Sindoro, Merapi, Merbabu, Lawu, Telomoyo, Ungaran, dan Prau di kawasan Dieng. Dari puncak Sikunir ketika pandangan mengarah ke barat terlihat Telaga Cebong yang bersebelahan dengan perkampungan Sembungan. Di sekitar Bukit Sikunir selain Telaga Cebong juga ada empat telaga lain, yakni Asat atau Wurung, Gunung Kendil, dan dua Telaga Pakuwujo.

Dibalik semua tempat indah itu, ternyata ada sebuah kisah tragis yang kalian harus tahu. Sebuah kisah yang telah diceritakan turun temurun oleh penduduk negeri ini. sebuah tragedi. Sebuah bencana. Kata orang "alam selalu punya cara utuk membalas kelakuan manusia" dan hal itu pernah terjadi di negeri indah ini.

Tahun 1979 sebuah tragedi memilukan terjadi. Gas beracun dari Kawah Sinila merenggut ratusan korban  Tragedi Sinila adalah peristiwa mencekam yang terjadi pada malam hari menjelang subuh tepatnya pada tanggal 20 Februari 1979. Tragedi ini disebabkan karena sebuah fenomena alam, yaitu letusan salah satu kawah di dataran tinggi Dieng, yaitu kawah Sinila. 149 orang tewas dalam peristiwa ini. Kawah Sinila terletak di antara Desa Batur, Desa Sumberejo, dan Desa Pekasiran, Kecamatan Batur. Pada malam mengerikan tersebut, Kawah Sinila meletus dan mengeluarkan banyak gas karbondioksida dari dalam kawah tersebut ke udara. Banyaknya gas beracun yang keluar dari dalam kawah, menyebabkan udara di sekitar pemukiman penduduk ikut tercemar. Orang dewasa, orang tua, dan anak-anak ditemukan tewas bergelimpangan di jalan-jalan di sekitar pemukiman penduduk. Bahkan, tidak hanya manusia, sejumlah hewan ternak pun ikut menjadi korban dalam tragedi mengerikan ini. Kawah Sinila meletus setelah sebelumnya terjadi gempa bumi di sekitar kawasan Dieng. Pemerintah Indonesia menyatakan Tragedi Kawah Sinila Dieng sebagai bencana nasional. (*)

Gas beracun merupakan ancaman utama di kompleks gunung api Dieng yang padat penduduk dan ramai dikunjungi wisatawan. Gas beracun ini kerap menguar dari 11 kawah yang bertebaran di kaldera Dieng. Misalnya, tahun 2011, Kawah Timbang yang sebelumnya dianggap tidak aktif tiba-tiba melepaskan gas beracun dan memaksa warga di sekitarnya mengungsi.

Kejadian serupa pernah terjadi di danau kawah gunung api di Danau Nyos dan Monoun, keduanya di Kamerun. Danau Monoun melepaskan gas karbon dioksida tahun 1984 dan merenggut 37 jiwa. Sedangkan, Danau Nyos melepaskan 1,24 juta ton karbon dioksida hanya dalam beberapa jam tahun 1986. Gas itu menewaskan 1.700 orang.

Sunrise yang dirindukan
Lebih jauh ke belakang, tahun 1955. Alkisah pada suatu malam turun hujan yang lebat. Tengah malam hujan reda. Tiba-tiba terdengar suara "buum", seperti suara benda yang teramat berat berjatuhan. Pagi harinya masyarakat disekitar dukuh Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras itu menyaksikan bahwa Gunung Pengamun-amun sudah terbelah (bahasa jawanya: tompal), dan belahannya itu ditimbunkan ke dukuh Legetang.   Menurut cerita dan mitos dari penduduk di sekitar desa tersebut bahwa anugerah yang di berikan terhadap masyarakat di desa itu telah di salah gunakan untuk kegiatan yang menyimpang dari ajaran agama. Sebagai bentuk hukuman Tuhan.  Alam dibuatnya murka, puncak dari Gunung Pengamun-amun di sebelah barat dari desa itu terlempar serta menimbun pemukiman penduduk setempat. Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya mati. Kisah ini mirip dengan kisah kaum nabi Luth yang tenggelam dalam ke maksiatan. Tuhan mengadzab kaum itu dengan menimpakan gunung kepada penduduknya.

Selalu ada ibrah yang bisa diambil dibalik sebuah peristiwa.  Peringatan atas peristiwa bencana alam tanah longsor itu sekarang di bangun sebuah Monumen peringatan di atas desa tersebut yang di kenal sebagai Monumen Legetang Dieng. Di tugu tersebut tertulis:

"TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN PADA TG. 16/17-4-1955"

Kisah ini sudah lama, tetapi mungkin banyak dari pengunjung Dieng atau bahkan warga Dieng sendiri yang belum mengetahuinya. Semoga kisah-kisah pilu seperti itu tidak lagi terjadi di negeri yang indah itu. Hendaklah kita bisa mengambil banyak pelajaran dari situ, hendaklah kita untuk selalu berusaha menjaga alam kita yang indah ini dan yang lebih penting kejadian-kejadian seperti itu seharusnya menjadi pelajaran buat manusia agar senantiasa berusaha untuk lebih mencintai alamnya dan Pencipta Alam itu sendiri.

Puncak Prau 2.565 mdpl


















* Semua Fakta-fakta tentang Dieng di tulisan ini disadur dari berbagai sumber
* Silahkan baca Postingan saya tentang Gunung Prau dan Bagaimana ke Dieng di postingan saya sebelumnya.
* Semua foto-foto di atas merupakan koleksi pribadi saya. Harap tidak mengambil tanpa izin terlebih dahulu.

Tugu Dieng Aku selalu  yakin, doa-doa yang kita panjatkan akan selalu dikabulkan. entah hari ini, esok, lusa atau tahun depan. Itula...


Tugu Dieng

Aku selalu  yakin, doa-doa yang kita panjatkan akan selalu dikabulkan. entah hari ini, esok, lusa atau tahun depan. Itulah mengapa semua doa-doa saya tidak kubiarkan begitu saja terbang ke awan dan berharap segera sampai ke langitnya Tuhan. Doa-doa yang kupanjatkan selalu kuikat dalam sebuah daftar panjang, sebuah catatan yang kuberi judul keinginan-keinginan hidupku yang juga berarti sebuah catatan doa. Aku sengaja melakukannya, mengingat sifat manusia yang suka sekali lupa, mengingat hati yang selalu berbolak balik, mengingat manusia yang tidak gampang bersyukur. Maka setiap keinginan saya, setiap  pencapaian saya, setiap satu doa yang terkabul aku selalu berharap bisa mengingat dan mansyukurinya. Seperti hari ini saya berada di puncak tertinggi Gunung Prau 2.565 mdpl. Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, jawa Tengah.

Beberapa tahun yang lalu  seingatku, waktu itu saya masih berseragam abu-abu entah karena alasan
Dieng yang berkabut
apa, saya sangat ingin menginjakkan kakiku ke dataran tinggi Dieng. Itulah mengapa salah satu  lagu pavorit saya  "negeri di atas awannya" Katon Bagaskara apalagi setelah di arasement dan dinyanyikan ulang oleh Witrie.  Jadilah lagu ini selalu ada dalam daftar best list song yang wajib saya dengar.

Well, kali ini saya tidak ingin membahas lagu itu, saya ingin menceritakan negeri di atas awan itu. Negeri dimana lagu itu dibuat di Dataran Tinggi Dieng.  Wonosobo. Jumat 3 april 2015 kemarin akhirnya saya berhasil menginjakkan kakiku di sana di Dieng Plateau, begitulah orang sana menyebutnya.

Dieng adalah kawasan dataran tinggi di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Dieng adalah kawasan vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa dengan beberapa kepundan kawah. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000 m di atas permukaan laut. Suhu berkisar 12—20°C di siang hari dan 6-10°C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 0°C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.

Secara administrasi, Dieng merupakan wilayah Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng ("Dieng Wetan"), Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Wilayah ini merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah.

Saya memulai perjalananku  sendiri dari Jogja sepagi mungkin. mengingat hari ini Jumat dan sebagai seorang muslim yang wajib menghadiri solat jumat. Rute menuju Dieng bisa ditempuh dari terminal giwangan/jombor (lebih enak dari jombor) menuju Magelang. Dari Magelang nanti kita oper bus jurusan Wonosobo, turun di terminal Wonosobo dan ngangkot ke alun-alun kota wonosobo. Dari alun-alun nanti nyari bus yang jurusan Dieng. Dari terminal Wonosobo sebenarnya ada bus langsung ke Dieng tapi ngetimenya lama, jadi  saya sarangkan mending ke alun-alun dulu, selain bisa sholat di masjid rayanya wonosobo, juga bisa menikmati berbagai penganan enak di sekitaran alun-alun. Nggak usah buru-buru, nikmati aja perjalananya dulu. banyak bus yang ke arah Dieng kok.

Dari wonosobo ke Dieng nanti numpak Bus kecil tapi sesek. kita diungkel-ungkel kek pakaian kotor. Bus over capasituy, sumpah sesek, sumpek + plus bau ketek. heheh maklumin ajalah.
Tapi pemandangan menuju Dieng keren abis, jajaran pegunungan menjulang tinggi. Jurang-jurang menganga di sampingnya, sawah ladang menghijau plus dingin dan kabut tipis menambah eksotis perjalanan menuju negeri di atas awan ini.  Usahakan jangan sampai tertidur, jangan melewatkan sedikit momen pun di sini. Secara ringkas rute dan biaya ke Dieng bisa di gambarkan seperti ini:
Di Bus dari Jogja-Magelang
(sendiri yang menyenangkan)





Jogja – Magelang (12.000)
Magelang – Wonosobo (24.000)
Wonosobo – Alun2 (3.000)
Alun2 -  Dieng (20.000)






Setelah perjalanan berjam-jam  sampailah kita ke Dieng. Nanti kita di turunkan di pertigaan Dieng, bilang aja sama keneknya nanti turunkan di petrigaan Dieng mang, mamang-mamangnya udah pada tahu kok.  Sampai di sana, carilah warung/homestay Bu Jono. lokasinya sebelah kanan jalan pas depan Tugu welcome Dieng. Penting: temukan tempat ini (warung Bu Jono) dulu sebelum kemana-mana, homestay ini sudah sangat familiar sama para backpaker.  Jangan nanya sama calo-calo yang berkeliaran menawarkan apapun sama anda, jangan nanya sama tukang ojek atau siapapun yang dianggap tidak amanah, nanyalah sama pemilik-pemilik warung, atau orang-orang yang anda anggap jujur. warung Buk Jono gampang kok ditemuin, pas deket pertigaan anda diturunkan sebelah kanan jalan. Tinggal menyebrang aja. Saran, bila musim liburan tiba, sebaiknya pesenlah jauh-jauh hari sebelumnya soalnya akan banyak wisatawan yang akan berkunjung ke sini. takutnya anda tidak ke bagian kamar di Homestaynya bu Jono. well, kenapa saya merekomendasikan di sini, soalnya di sinilah satu-satunya homestay yang memberikan pelayanan maksimal  buat para pelancong, semua kebutuhan liburan anda akan di bantuh sama orang-orang di sini. Selain itu harga yang ditawarkan sangat murah dan anda tidak bakal di kadali tarif permalam hanya 75.000 itu udah plus air hagat. Kamar maksimal bisa di isi tiga, tapi kadang masih bisa lebih sih.

Home Stau Dieng Rp. 100.000/malam
Saya sampai Dieng sore jam setengah tigaan. Langsung menuju ke warung Bu Jono, setelah hampir di kadali sama calo. sialnya karena trip dadakan, saya tidak sempat pesen terlebih dahulu, kamarnya full, tapi karena kebaikan hati mas-mas di situ saya di tunjuin homestay
yang masih bisa menampung saya, lokasinya persis samping homestaynya bu Jono, meskipun rada sedikit mahal Rp. 100.000 tanpa air hangat dan kamar mandi luar. tapi lumayanlah dari pada ngemper. Selain itu saya juga dicariin sepeda motor sama mas-masnya yang di warungnya Bu Jono (baik kan, saya aja yang nggak nginep di sana masih di layanin kebutuhan-kebutuhannya).

Dari sinilah bermula pertualangan saya selama tiga hari di Dieng. Mengejar doubel summit attack golden Sunrise di Gunung Prau dan Puncak Sikunir, melihat telaga warna dari ketinggian bukit ratapan, dan banyak lagi destinisai wisata yang harus di kunjungi ketika di sini.

Dieng tampak dari ketinggian Gng Prau

Bersambung ke kisah selanjutnya: Destinasi wisata Dieng

Catatan:
Losmen dan Restoran Bu Jono
Jl. Raya Dieng Km. 27 Dieng Wetan Kejajar. Wonosobo
Telp. 0286-3320168
Fb. Losmen Budjono
atau bisa langsung hubungi:
1. Mas Aman Santoso: Hp 081 227 114 655
2. Mas Kelik Alamsyah: Hp 085 226 645 669




*All Picture taken by my Phone
* Baca kisah bunga Daisy di Prau disini

Hamparan bunga Daisy di Puncak Prau jangan datang ke sini pergilan dan lupakan seperti angin yang berhembus  tak pernah kembal...



Hamparan bunga Daisy di Puncak Prau


jangan datang ke sini
pergilan dan lupakan
seperti angin yang berhembus 
tak pernah kembali ke lembah
bersama aroma wangi bunga daisy


Bunga Daisy di Ketinggian Prau

Kalian tahu bunga daisy ?
Bunga daisy adalah bunga dari keluarga asteraceae sama halnya seperti bunga aster atau sunflower. Asteraceae adalah keluarga tumbuhan berbunga kedua terbesar dalam segi banyaknya species atau jenis. Bunga daisy ini diperkirakan mencapai 10 persen dari semua tumbuhan berbunga di bumi

Bunga Daisy  (asteraceae)
 Bunga daisy cukup sederhana bentuknya, memiliki bundaran yang lebar di tengah dan dikelilingi oleh petal-petal yang seperti sinar matahari, mungkin karena inilah bunga ini mulai disebut jenis bunga sunflower. Salah satu ciri bunga ini yaitu membuka petalnya pada pagi hari saat matahari terbit dan menutupnya kembali pada saat matahari terbenam, tetapi bunga daisy ini tidak cuman dikenal dalam hal itu, bunga ini juga terkenal akan kemampuannya menyembuhkan penyakit penyakit tertentu. Kebanyakan bunga ini ditemui berwarna putih, tapi ada juga yang berwarna merah, kuning, dan ungu. Bunga daisy yang paling disukai adalah gerbera daisy atau disebut juga African daisy, transvaal daisy ataupun Barberton daisy.
 
Selain itu menurut legenda, daisy berasal dari seorang peri yang berubah menjadi bunga liar yang anggung tapi tak menawan agar tak terusik.. Marquerite penemu nama bunga Daisy ini bilang, bahwa dalam bahasa yunani, Daisy adalah "pearl" (mutiara). orang inggris menjulukinya  "day's Eye" (matanya hari) karena kelompak bunganya akan terbuka ketika matahari terbit dan menutup ketika matahari kembali tenggelam


Dahulu katanya, para pemuda di Eropa menggunakan bunga ini untuk melamar gadis pujaan hatinya. setelah cincin tunangan dilingkarkan ke jari masing-masing maka sang gadis akan mengenakan bunga daisy sebagai lambang penerimaan.

Konon katanya bunga daisy memiliki makna kepolosan, kemurnian, kesucian, kesetiaan, kelembutan, kesederhanaan. Sebagian bilang bunga daisy melambangkan keceriaan anak-anak, kemurnian jiwa muda atau kekuatan cinta yang mampu mengalahkan segalanya. Bunga ini juga diartikan sebagai bunga kelahiran bulan April. Entah ini kebetulan atau tidak saya menemukan hamparan bunga daisy nan indah ini di ketinggian Prau (2.565 mdpl) pada 4 april kemarin.

bukit teletubbeis yang dipenuhi bunga Daisy


* Catatan tentang pendakian ke Prau akan segera di Upload
* All photo taken by my Phone. harap tidak mengambil tanpa seizin saya
* Rute dan Bagaimana ke Dieng bisa di lihat disini