Detail Buku Judul: The Geography of Faith - Pencarian Tuhan di Tempat-Tempat Paling Religius di Dunia dari Tibet sampai Yerusalem Penu...

Resensi The Geography of Faith- Pencarian Tuhan di Tempat-Tempat Paling Religius di Dunia dari Tibet sampai Yerusalem


Detail Buku
Judul: The Geography of Faith - Pencarian Tuhan di Tempat-Tempat Paling Religius di Dunia dari Tibet sampai Yerusalem
Penulis: Eric Weiner
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Penyunting: Zahra Haifa
Penerbit: Penerbit Qanita
Cetakan: I, September 2016
Tebal: 500 halaman
ISBN: 978-602-402-040-8
Harga: Rp 85.000

Sudahkah kau menemukan Tuhanmu ?
Buku ini dimulai dengan pertanyaan itu. Sederhana tapi bermuatan teologis yang tinggi. Eric Weiner, di sebuah rumah sakit secara tak sengaja mendapat pertanyaan teologis seperti ini “Sudahkah kau menemukan Tuhanmu”. berhari-hari setelah pertemuannya dengan perawat rumah sakit itu, pertanyaan itu terus menerus terngiang-ngiang di otaknya. Hingga pada satu titik Eric memutuskan untuk kembali keluar dari zona nyamannya. Bertualang untuk menemukan Tuhannya.

Perkenalan pertamaku dengan Eric saat membaca bukunya The Geography of bliss. kisah seorang penggerutu yang berkeliling dunia untuk menemukan definisi kebahagiaan, saya terseok-seok membaca buku itu, butuh kurang lebih 6 bulan lamanya untuk menyelesaikan buku yang bernarasi panjang-panjang itu namun saya akui buku itu salah satu buku terbaik yang pernah saya baca selama ini, kocak namun syarat akan nilai-nilai filosofi.

Sementara buku keduanya ini tidak terlalu membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya. Tak lebih dari dua bulan lamanya saya sudah berada dilembaran terakhir buku ini. Saya membaca buku ini diantara kesibukan kerjaku yang seperti tak ada habisnya ini. mungkin karena saya sudah mulai akrab dengan gaya berutur si Eric, skeptismenya dan ketakutan-ketakutan yang tak beralasannya yang selalu dia selipkan dalam narasinya yang panjang-panjang.

Eric berkelana ke pelosok negeri dari Kathmandu (Nepal), China, Istanbul, sampai Yerussalem. Catatan dari perjalanan tersebut lantas ia kumpulkan menjadi buku setebal 500 halaman ini. Sebuah catatan perjalanan spiritualitas. Sebuah perjalanan untuk menemukan Tuhan.

Meski pada dasarnya Eric seorang Yahudi, namun menurut penuruturannya dia telah lama meninggalkan ke Yahudiaannya. Eric mengakui dirinya bukan orang yang religius namun juga dia tidak sampai menjadi ateis, dia percaya ada sesuatu yang maha besar dibalik semua apa yang terjadi di semesta ini, namun meski demikian dia menempatkan agama diurutan nomor sekian dalam prioritas hidupnya.

Sebagai orang yang liberal keterikatan kepada sesuatu yang bersifat dogmatis akan sangan mengungkung hidupnya. Eric bukan manusia seperti itu. Dia bebas, dia selalu menganalogikan dirinya hanya seperti seseorang yang terus menerus mengintip dibalik pintu, tanpa berniat ikut masuk kedalam, terikat. Jadi ketika dia tidak menyukai sesuatu dari apa yang dia intip itu dia bisa pergi dengan gampang tanpa ada rasa bersalah sama sekali. Seperti katanya “Aku sengaja tidak memilih agama secara utuh, tetapi sedikit irisannya. Irisan Tuhan”. (Halaman 33)

Buku ini berisi delapan bab. Bab pertama sendiri Eric menceritakan bagaimana perkenalan Eric dengan Sufisme di Istambul Turki. Tempat Rumi sang pujangga Islam menuliskan syairnya dan tempat asal para darwis yang berputar. Di kota ini penulis berusaha untuk berlatih sema, upacara berputar dalam suifiesme. Selanjutnya bab ke dua Eric mencertikan perjalanan spiritualnya ke Kathmandu di Nepal. Kota tersebut memiliki sejarah agama Buddha yang dalam. Di sini penulis belajar untuk bermeditasi.

Bab ke tiga buku ini mengambil setting di New York di Amerika Serikat. Pada sebuah penampungan tunawisma di Bronx Selatan, di sini Erick belajar untuk lebih mengenal Fransiskan, salah satu ordo Katolik yang berada di sudut koda New York dimana pelayanan adalah misi utama dari ordo ini. Perjalanan spiritual berikutnya mengantarnya ke Las Vegas. Eric kemudian menghadiri pertemuan Raelian yang mewah. Raelian adalah kepercayaan terbesar berbasis UFO. Mereka percaya bahwa semua makhluk hidup di bumi diciptakan oleh Elohim. Raelian juga sering disebut sekte UFO, para skeptisme kelompok ini menyebut agama ini sebagai sekte zaman akhir. Tetapi merujuk pada buku "Intelegent Design", Raelian adalah pencerah bagi agama-agama primitif yang mempercayai hal-hal gaib atau hal-hal supranatural secara buta tanpa proses scientifikasi. Realian mencoba menjembatani antara mistisme dan sains.

Perjalanan pencarian Tuhan kemudian dilanjutkan dengan mengikuti tur agama Tao di Wuhan, Cina. Penulis berharap di kota ini dia dapat memperbaiki chi-nya yang bermasalah. Taoisme juga sering disebut dengan Tao.Tao adalah kekuatan utama didalam alam semesta yang terdapat pada semua benda, terdapat didalam inti segala benda di surga dan di bumi, kekal abadi dan tidak dapat berubah.

Pada bab berikutnya Eric menceritakan bagaimana dia bertemu dengan seorang penyihir di Washington D.C. dari sini dia belajar mengenal wicca. Wicca tidak hanya menawarkan satu Tuhan, tetapi ratusan Tuhan. Dengan kata lain, Wicca adalah keyakinan yang sempurna bagi orang-orang yang kurang cocok berkomitmen. Jika gagal dengan satu tuhan, kita dapat mencari yang lain. (halaman 350)

Masih di kota yang sama, Washingtong D.C., penulis kemudian melanjutkan pencarian spiritualnya dengan mengikuti Lokakarya Syaman. Dia mencoba praktik spiritual Syamanisme. Paham Syamanisme. tradisional menempatkan alam sebagai titik sentral kehidupan dan kematian. Alam manusia dan alam roh saling terhubung dan kehidupan di dua alam tersebut saling terkait satu sama lain. Syaman percaya mereka bisa terhubung lagi dengan kekuatan yang dulu dimiliki manusia untuk berkomunikasi dengan ruh binatang. Binatang dianggap luar biasa kuat jika dapat mengambil bentuk rupa manusia atau jika dapat merangarahkan elemen yag tidak dimilikinya. (halaman 388)

Kemudian pada bab terakhir, Erick menutup pencariannya dengan mengunjungi Tzfat (juga dieja Safed), kota kecil di kawasan pinggiran Tel Aviv, Israel untuk memahami Kabbalah agama leluhurnya. Perkenalannya dengan Eyal, Moshe (penganut Katolik), Yedidah, David, dan membaca berbagai buku, membawanya berdikusi tentang Kabbalah. “Aku menyebutkan sesuatu yang kubaca tentang bagaimana Kabbalah mengajarkan bahwa bukan saja manusia membutuhkan Tuhan, tetapi Tuhan juga membutuhkan manusia.Bagiku ini sangat menarik. Tuhan membutuhkan kita? (halaman 415)

Buku ini memang tidak bertujuan untuk membandingkan mana agama terbaik diantara semua agama yang ada di muka bumi ini. Buku ini hanya tentang kisah seseorang yang ragu akan keimananya, lalu berjalan mencari sesuatu yang lain di luar apa yang dia yakini selama ini. Namun seperti kata Eric “Agama yang buruk merendahkan kita. Agama yang baik meninggikan kita, menjadikan kita orang yang lebih baik daripada yang kita sangka, atau daripada yang mungkin kita bayangkan” (halaman 478) . Begitulah Eric, kita tidak pernah menarik kesimpulan apapun dari buku-bukunya.

2 komentar:

Islam dan Diabolisme Intelektual autor; Syamsuddin Arif Hardcover , 253 pages Published August 2017 ...

Islam dan Diabolisme Intelektual

Islam dan Diabolisme Intelektual
autor; Syamsuddin Arif
Hardcover, 253 pages
Published August 2017 by INSISTS
ISBN139786021998571
Edition Language: Indonesian 
 
Tahun 2018 saya kembali mengikuti reading challengge di goodreads. tahun ini saya menurunkan targetku dari 30 buku ke hanya 20 Buku yang kemungkinan besar bisa ku selesaikan, akibat kegagalanku 2 tahun terakhir ini menyelesaikan challenggeku.
Selain itu saya masih terikat beberapa buku yang belum mampu kuselesaikan di tahun sebelumnya. saya masih terkatung-katung membaca The Fall of The Khilafah dan Api Sejarah 2 yang harus segera kuselesaikan secepatnya. Tahun ini saya menargetkan membaca buku ilmiah 75% lebih banyak dibanding buku non ilmiah. 

Buku pertama yang kubaca tahun ini adalah buku karya Syamsuddin Arief “Islam dan Diabolisme Intelektual”. Buku ini sangat menarik, buku ini kuberi bintang 5 di goodreads dan satu-satunya buku yang pernah kuberi nilai sempurna di goodreads selama ini.

Buku ini merupakan kumpulan artikel penulis yang pernah di terbitkan di berbagai media cetak dan online, dihimpun dan dicetak menjadi buku yang wajib menjadi salah satu referensi bagi kalian yang suka berkutat dengan ranah “worldview”  peran pemikiran, islamisasi sains atau apapun nama kerennya. Meski ditulis dengan bahasa sederhana buku ini dilengkapi dengan referensi-referensi ilmiah yang menjadikannya begitu berbobot.

Pertama kali melihat buku ini saya sangat tertarik dengan judulnya “ Islam dan Diabolisme intelektual” dua hal yang dibenturkan dalam satu kalimat “Islam dan Diabolisme”.  Diabolisme sendiri berarti pemikiran, watak dan perilaku ala Iblis ataupun pengabdian kepadanya.  Iblis kata penulis buku ini adalah prototype intelektual “keblinger’. Kesalahan Iblis bukan karena ia tak tahu atau tak berilmu. Kesalahannya justru karena ia membangkang, menganggap dirinya hebat, dan melawan perintah Tuhan. Dalam hal ini Iblis tidak sendirian, sudah banyak kader-kader yang berhasil direkrut sebagai staf dan kroninya termasuk di Indonesia.   

Buku ini banyak mengupas bagaimana logika-logika yang terkesan intelektual namun menyesatkan dan berbahaya disisipkan sedemikian rupa dalam tubuh umat Islam. Pembangkangan yang dibungkus dengan manis dalam wajah intelektualitas. Penyakit yang beberapa dekade terakhir juga mulai merusak generasi-generasi muda muslim di Indonesia.

0 komentar: