Day 9:   1 Januari 2017 Satu hal yang paling tidak kusukai sebelum perjalanan adalah berkemas. Entah mengapa saya sering berm...

Part X Epilog: Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan





Day 9:  1 Januari 2017
Satu hal yang paling tidak kusukai sebelum perjalanan adalah berkemas. Entah mengapa saya sering bermasalah dengan berkemas ini. seringkail saya melupakan barang-barang yang benar-benar penting untuk dibawa, atau sebaliknya saya malah membawa serta barang-barang yang sama sekali kurang bermanfaat. Mungkin karena perjalanan saya sering kali semuanya serba dadakan. Tiba-tiba ngajukan cuti, tiba-tiba booking tiket pesawat dan tiba-tiba saya sudah di dunia lain itu. Dunia kebebasan.

Hidup buat saya adalah sebuah kejutan, bahkan dibalik rutinatas kantor yang sangat monoton itu selalu ada kejutan kecil yang terjadi. Kejutan-kejutan kecil yang menyemarakkan hidup kita. Pagi itu minggu-minggu terakhir bulan desember, saya tiba-tiba sudah di Lombok, bersiap memulai petualangan panjang saya ke Flores.

Spontanitas memang selalu melahirkan hal-hal tak terduga. Saya masih merasa semua main-main sampai saya benar-benar berada di Flores beberapa hari sebelum tahun 2016 berganti. Karena spontanitas itu pula saya mengalami banyak hal tak terduga selama perjalanan. Saya terjebak di Bima karena air bah, tertinggal kapal penyeberangan ke Flores di Pelabuhan Sape’ termasuk bertemu dengan tiga orang traveler gokil dari Kalimantan yang kelak selama di Folres kami akhirnya jadi tim yang solid menjelajahi Labuanbajo hingga tersasar di pegunungan Tongkor Kina mencari Waerebo.  Sebuah pertemuan yang aneh. Namun kemudian saya menyadari keanehan selalu menjadi awal dari sesuatu yang tidak mudah kita lupakan.

0 komentar:

Juli Minggu ke 4                                                                                                              Ras...

Lelaki yang Tertawan Masa Lalu “Labuni Essoe”




Juli Minggu ke 4                                                                                                           
Rasa-rasanya akhir-akhir ini saya terlalu sering melamun. Waktuku tiba-tiba sering terpause dengan sendirinya, awalnya hanya sepersekian detik tapi lama kelamaan saya rasa saya semakin sering terjebak di dunia paralel itu.

Bus yang membawaku meninggalkan kota ini melaju kencang, namun lagi-lagi saya terjebak di dunia lain itu. Entah sudah berapa jauh Bus ini meninggalkan terminal tadi, waktuku tersekip cukup lama.  Saya bahkan tak sadar sejak kapan gerimis mulai menemani perjalanan kami. Malam perlahan-lahan semakin kelam, lampu-lampu di sudut-sudut jalan padam satu persatu. Rumah-rumah penduduk semakin jarang terlihat berganti pepohonan hutan yang mulai merapat.  

“Waktu-waktu terbaik mengenang masa lalu ada saat kita bersafar”  begitu kata orang-orang. Entah benar atau tidaknya saya rasa kalimat itu cukup mewakili diriku saat ini. Saya seperti dipermainkan masa lalu jutaan kenangan tiba-tiba berpiling di benakku melemparkanku kembali ke tempat dan masa-masa yang jauh, masa-masa yang telah lama orang lupakan. 

Saya kembali melihat rangkaian-rangkaian peristiwa itu begitu jelas. Diputar ulang lagi, dari awal sampai akhir tanpa ada sedikitpun bagian yang terlewatkan dan entah kenapa sesak yang sama bertahun-tahun yang lalu itu kembali memenuhi dadaku. menyedihkan. 

0 komentar: