Pernahkan
kalian mendengar suara hujan ?, suaranya seperti merindu, rindu yang teramat
dalam. Seperti seorang musafir, semakin jauh meninggalkan kampung halamannya
semakin dalam aroma angin akan selalu membuatnya merindu. Banyak hal yang bisa
dirindukan, kekasih, keluarga, sahabat, , tetangga, tukang bakso langganan dan
bahkan saat-saat sedih dan paling pahit pun dalam hidup ini, ketika telah
berlalu begitu jauh akhirnya menjadi suatu kenangan yang dirindukan. Kadang begitu lelah, begitu keras melawan
dunia, begitu gigih memperjuangkan rasionalitas
dan akhirnya mengabaikan cinta dan mimpi.
Sekelumit catatan saya yang penting dan nggak penting, menarik dan nggak menarik semuanya terangkum disini. sekedar untuk mengenang tiap-tiap moment yang telah berlalu dalam jauhnya langkah, banyaknya kenangan, dan indahnya hidup ini
Tuesday, December 25, 2012
Saturday, November 17, 2012
Aku Mundur dan Berputar Arah
Kesunyian adalah sahabat yang tidak pernah berdusta. Kesunyaian adalah tempat dimana hati bisa berbagi dengan tenang. Kesunyian adalah tetesan-tetesan air mata yang tertumpahkan.
Kesunyian mengingatkanku lagi pada sebuh mushaf tua yang setia menemaniku dulu.
Dulu sekali, ketika setiap duka, luka dan sedih kuceritakan semua padanya.
membaca dan mendegar untaian-untaian indah nasehat dan wejangannya,
Dan setelahnya akan kudapati kesejukan dan ketentraman.
tapi itu dulu, dulu sekali.
Dan kini ingin rasanya kembali memeluk mushaf tuaku itu,
berbagi kesedihan dan kejamnya hidup yang kualami saat ini.
Hidup yang serba dilematis.
Tanggungjawab dan apilihan. Pilihan adalah wujud dari rasa tanggungjawab, dan tanggungjawab merupakan konsekuensi atas sebuah pilihan. setahun sebelumnya, aku memilih jalan itu sebagai jalan hidupku, tapi kini kembali dipertemukan dengan dua pilihan dan tanggungjawab yang berebeda. dan pada akhirnya ku akui akulah daun yang gugut itu, tertinggal oleh kereta-kereta perjuangan dan tergilas oleh zaman.
Aku mundur dan berputar arah
Kesunyian mengingatkanku lagi pada sebuh mushaf tua yang setia menemaniku dulu.
Dulu sekali, ketika setiap duka, luka dan sedih kuceritakan semua padanya.
membaca dan mendegar untaian-untaian indah nasehat dan wejangannya,
Dan setelahnya akan kudapati kesejukan dan ketentraman.
tapi itu dulu, dulu sekali.
Dan kini ingin rasanya kembali memeluk mushaf tuaku itu,
berbagi kesedihan dan kejamnya hidup yang kualami saat ini.
Hidup yang serba dilematis.
Tanggungjawab dan apilihan. Pilihan adalah wujud dari rasa tanggungjawab, dan tanggungjawab merupakan konsekuensi atas sebuah pilihan. setahun sebelumnya, aku memilih jalan itu sebagai jalan hidupku, tapi kini kembali dipertemukan dengan dua pilihan dan tanggungjawab yang berebeda. dan pada akhirnya ku akui akulah daun yang gugut itu, tertinggal oleh kereta-kereta perjuangan dan tergilas oleh zaman.
Aku mundur dan berputar arah
Thursday, July 5, 2012
TENTANG WAKTU YANG BERKOSOKBALI
Hidup ibarat sederetan kata yang tersusun
membentuk sebuah kalimat. Dalam setiap kalimat dibutuhkan begitu banyak spasi,
koma, tanda seru dan bahkan tanda tanya untuk menyusunnya menjadi sebuah kisah.
Dan juga jangan heran, kadang kala bahkan sering kali kita membutuhkan sebuah
titik untuk mengakhiri beberapa susunan kalimat tersebut yang menjadikannya
satu bait kisah. Begitu banyak kisah-kisah dalam hidup ini yang pasti akan
berakhir entah di titik mana, dan disetiap baitnya akan selalu menceritakan
kisah-kisah yang berbeda. Sedih, senang,
gembira, rindu, tangis, terluka, tertawa, berpisah, bertemu, bersahabat ,hambar
dan kesepian akan selalu mewarnai kisah-kisah tersebut.
Ada masanya dimana seakan kita ingin
berhenti dan berada hanya pada titik tertentu dalam suatu wilayah waktu kadang
kalapula ingin segera melewati atau bahkan menghapus suatu masa dalam paragraf kehidupan
ini. Ketika membaca rentetan-rentetan
kisah yang menyedihkan atau tengah menuliskan kisah sedih dalam buku kehidupan kita
jangan pernah larut kedalamnya, bukankah akan selalu ada titik yang akan
mengakhiri kisah tersebut. Setelahnya juga akan ada paragraf-paragraf baru yang
akan menceritakan kisah-kisah yang berbeda. Karena ini hanyalah tentang waktu
yang berkosokbali dimana ada waktu untuk bersuka cita kadangkala juga harus
berduka cita. Waktu hanyalah sebuah dimensi seperti siang dan malam, hidup dan
mati, muda dan tua, atau seperti
dimensi-dimensi lainnya dan kita terjebak dalam dimensi itu.
Pun ketika seseorang pernah dan atau
sedang menari-nari dalam kisah waktumu, mereka datang dengan sebuah alasan
menawarkan kebahagian dan kekecewaan, ada yang sesaat dan ada yang datang
setiap saat. Datang silih berganti meninggalkan sejuta kisah untuk kita
tuliskan dalam kehidupan ini. Kita tidak pernah bisa menebak siapa yang akan
hadir atau tersingkir dalam suatu wilayah waktu yang kita miliki, dan seberapa
lama mereka terejebak dalam rentetan wilayah waktu itu juga kita tidak bisa
pastikan.
Begitu banyak manusia-manusia yang
berlalulalang dalam dimensi waktuku, ada yang sangat meninggalkan kesan dan
kenangan tapi juga sebagian diantara mereka hanya berlalu begitu saja. Pernahkah
kita berpikir mengapa mereka datang silih berganti ?, atau juga pernahkah kita
mencoba mengerti, kitakah yang terjebak dalam wilayah waktu mereka atau mereka
yang sedang berada dalam dimensi waktu kita ?
Ketika sebuah lembaran kertas
kehidupan telah terpenuhi dengan sejuta kisah, maka dengan sendirinya kita akan
membuka lembaran-lembaran kosong berikutnya untuk diisi dengan kisah yang
berbeda, begitulah seterusnya sampai pada sampul akhir buku kehidupan kita,
semuanya hanyalah sederet kata yang tersusun indah sambung menyambung dan
saling menghubungkan rahasia-rahasia hidup yang selama ini masih terjebak dalam
wilayah waktu.
Friday, June 29, 2012
Dentingan-dentingan Receh
( gambar ini diambil di sebuah pasar traditional di
sekitaran Malang tgl 20-04-2012, mohon maaf sebesar-besarnya untuk pihak
yang merasa dirugikan atas dipublikasikannya gambar in. Mohon ke ikhlasannya )
Aku juga entertainer, seorang seniman penjajah suara, bahkan mungkin
suaraku jauh lebih bagus dari mereka yang sering tampil depan tivi dengan ful
baking vokal atau lipsing nggak jelas. Aku tidak ingin kalian samakan seperti
mereka yang hanya menengadahkan tangannya memohon belas kasih, meski tak bisa
dipungkiri strata sosial kami memang mungkin sepadan. Aku ingin kalian
menghargai usahaku dan suaraku, karena hanya itulah yang bisa kujual untuk saat
ini. Andai bisa memilih akupun tak ingin seperti ini, hidup dari satu tempat
ketempat lain dari satu pasar ke pasar lain dari bus kebus yang lain bahkan
dari lampu merah ke lampu merah yang lain. Dentingan-dentinga receh yang
mungkin tak berarti bagi kalian adalah segenggam asa dimata saya, dari sanalah
asap dapur saya yang lebih sering kering bisa mengepul lagi.
Dentingan-dentingan receh itu juga berarti memberikan sesaat lagi kesempataan
untuk anak-anak saya menikmati bangku sekolah.
Hidup sebagai pengamen jalanan adalah keharusan bagi saya bukan sebagai
pilihan. karena andai ini adalah suatu pilihan pasti saya lebih memilih
jalan-jalan yang lain, bukan sebagai pengamen jalanan. Susah, sedih, senang,
bahagia adalah suatu ukuran yang sangat relatif untuk digambarkan, karena
disini dalam kerasnya kehidupan jalanan kami juga merasakan hal-hal seperti itu.
Namun Kadang kala merasa sangat
beruntung dengan keadaan seperti ini, jauh lebih beruntung dari mereka yang
dipusingkan dengan dinamika dunia yang penuh dengan kamuflase dan berparaskan
hypocrate, dijalanan semuanya serba apa adanya tak dibuat-buat apalagi sekedar
akting atau spekulasi. disini semuanya
digambarkan secara nyata, fiur dan gamblang. yang benar adalah kebenaran dan
yang salah adalah kesalahan, tidak ada yang ditutup-tutupi, disini tidak ada
korupsi berjamaah atau konspirasi-konspirasi licik untuk menjatuhkan yang lain
seperti yang dilakukan wakil-wakil kita di parlemen sana. Dilain kesempatan
sempat pula kumerutuki nasib, ketika harus diberi pilihan yang sulit antara
biaya pendidikan anak-anak saya dan rasa lapar. Lagi-lagi sedih dan bahagia
hanyalah sebatas terminologi kata yang mewakili ekspresi menangis dan tertawa.
Entah apa yang terlintas dalam benak-benak kalian ketika melihat
pengamen-pengamen dipinggir-pinggir jalan, atau di bus-bus kota seperti saya
ini. Sedihkah, miriskah, bencikah, iba atau kasiankah ?, hal itu sudah tidak
kami hiruakan lagi yang terpenting adalah bagaiman kami masih bisa bernafas
lagi untuk beberapa saat.
Sunday, June 17, 2012
Ayah adalah KATA
Ayah satu kata
dengan sejuta makna
Ayah bisa berarti
lelaki yang luar biasa
Ayah bisa berarti
pemimpin
Ayah bisa berarti
cinta tiada akhir
Ayah bisa berarti
kesetiaan tak terukur
Ayah juga berarti
perjuangan
Ayah berarti
memberi tak kenal rugi
Ayah berarti
berbagi tak mengenal henti
Ayah berarti
bekerja tak kenal lelah
Ayah sama dengan
tanggung jawab
Ayah adalah rasa
khawatir
Ayah adalah keteduhan
Ayah adalah rasa aman
Ayah adalah sahabat
Ayah adalah kebijaksanaan
Ayah adalah tawa,
canda dan tangis
Ayah adalah benteng
yang kokoh
Ayah adalah pundak,
jantung, dan hati
Ayah adalah tangan
dan kaki
Ayah adalah mata
yang mawas
Ayah adalah
pendengar yang setia
Ayah adalah
insfirasi
Ayah adalah idola
Ayah adalah
kekaguman
Ayah juga kadang
berarti rindu
Ayah adalah bintang
Ayah adalah hadiah
Ayah adalah pengorbanan
Masih ada sejuta kata yang bisa menjelaskan kata “AYAH”,
mungkin andaikan aku bisa mengumpulkannya, akan dibutuhkan berlembar-lembar
halaman untuk menuliskan interpretasi dari kata AYAH di atas.
untuk setiap ayah di muka bumi ini'
"terimakasih untuk segalanya"
Tuesday, June 12, 2012
Mempertuhankan idealisme, mengabaikan Rasa
Ketika teriakan-teriakan cinta memanggilku kencang, kusumbat telinga dengan kedua tanganku, pun ketika bayangan-bayangan indah masa lalu menari-menari di pelupuk mata, segera kututup mataku dengan kedua telapak tangan, aku tak ingin dan aku tak butuh masa lalu. Sejatinya aku sangat merindukan.
Ada rindu dan cinta yang senantiasa membuka tangannya menantiku kembali, kutepis semuanya, bukankah ini juga untuk cinta jawabku...! terdiam kemudian mereka, dalam hembusan angin senja aku tahu ada rasa yang berkecamuk sedih setiap kali panggilan telpon kuakhiri, tapi sejatinya aku menangis.
Rasa semakin kuat, kulawan dengan kepadatan aktifitas, kulupakan dengan setumpuk buku, kuhiraukan dengan jurnal-jurnal ilmiah, dan kuyakinkan bahwa bukankah ini juga untuk cinta. Tapi sejatinya aku ingin berhenti.
Kadang kita begitu egois dengan hati, menggenggamnya semakin kuat dan mendapatinya terburai berantakan tak berbentuk, seberapa kuat dan kerasnya tangan ini mampu mengikatnya suatu saat simpul hatipun bisa terburai. Kenapa tidak memilih untuk berhenti sejenak sekedar menuruti hati yang begitu meridu, kenapa melupakan... sementara mereka yang dalam tidurnya pun selalu menanti kepulanganmu. Terdengar begitu dilematis, begit kokoh mengejar mimpi untuk cinta tapi sejatinya membiarkannya hampa terabaikan.
“ Pulanglah nak “ Tangisnya suatu senja.
Maafkan aku Bu’ anakmu telah tersesat, mempertuhankan idielisme mengabaikan rasa.
dan akhirnya untuk kesekian kalinya romadhan akan kulewati sendiri.
Monday, June 4, 2012
Hikma Tercecer dalam sebuah Tulisan
• Aku bukanlah seorang yang bediri sendiri. Aku memahami arti keakuan karena orang-orang lain menjadi kau-dia-mereka. Orang-orang diluar aku menjadi kita, ketika kau-dia-mereka mengetahui bahwa kita lahir di dunia dengan sejarah tidak bisanya kita memilih waktu, tempat dan orang tua.
• History dalam arti sejati, yaitu sebuah ladang pengungkapan musykil tentang manusia-manusia yang hadir ataupun tersingkir pada sebuah wilayah waktu.
• Berpenampilan kudus seperti nabi, tapi berkelakuan kudis seperti babi. Obsesinya menjadi Tuhan walaupun hasilnya hanya menjadi iblis.
• Kita ini kan semua punya kedudukan. Kedudukan harus dipandang sebagai piranti merebut anganan keuntungan. Kedudukan tanpa keuntungan itu nubazir. Dari dulu kita sudah belajar itu. Dengan kedudukan kita memberikan batas kabur antara kebenaran dan kesalahan serta kebatilan dan kebaikan.
• Bahwa dengan kedudukan itu kita punya tujuan yang satu. Yaitu keberadaan harkat sepenuhnya ditentukan oleh keberadaan harta. Jangan kita munafik , saya tidak mau mengundang penghinaan orang terhadap diri saya kalau kedudukan saya alpa dari perhitungan keuntungan.
• Itulah ciri kepandaian para pejabat. Dengan korupsi, pejabat tidak hanya memberlakukannya sebagai budaya, pejabat tidak hanya memberlakukannya sebagai budaya, tetapi sekaligus menjadikan dirinya sebagai budaya.
• Ini bukan masalah perhatian lagi. Kita sudah pada hakikat “tangungjawab”. Sebab ‘ perhatian’ Cuma mencakup persoalan hati, kita juga perlu menggunakan nalar, akal budi., dengan nalar dan akal budi itu kita dibawah ke pemahaman kita pada ‘tangggungjawab’.
• Betapa sering terjadi penyelewengan rohani karena godaan yang demikian setia dari kecendrungan-kecendrungan kekuasaan dalam perasaan-perasaan berkuasa.
• bahwa dalam kehidupan manusia ini selalun ada waktu yang berkosokbali : ada waktu beriang-riang ada waktu nertangis-tangis, ada waktu bersuka cita ada waktu berduka cita, ada waktu menyonsong kelahiran ada waktu menggiring kematian.
• Dia tidak percaya Tuhan lagi. Sebutan yang tepat, bukan ateis tapi antiteis. Maksudnya ateis berkonotasi alami, sedangkan antitesis berkonotasi asasi. Atau lebih deskriftif : ateis bersipat praktis dan antiteis bersipat teorotis. Artinya, orang ateis bisa saja tidak percaya Tuhan karena tidak tahu, sementara orang antiteis adalah orang-orang dari golongan yang pernah percaya pada Tuhan, tapi kemudian tidak lagi percaya lantas menganti rasa percayanya pada kemampuan otaknya sendiri, nalarnya sendiri, rasionya sendiri.
• Dosa ? repotnya dia tidak percaya tentang dosa. Dia lebih percaya pada kata hatinya sendiri. bahwa rasa takut akan dosa-dosa yang diceritakan oleh orang-orang tua di masa kanak-kanak hanyalah sebatas gangguan saraf yang mempengaruhi keadaan jiwa. Sudah lama dia tidak percaya pada cerita itu. Dia pun tidak percaya tentang adanya Tuhan dan setan. Ketika ia menganggap tidak ada lagi Tuhan ataupun tidak ada lagi setan, maka dengan begitu sadar dia telah mengambil inisiatif untuk menjadi Tuhan sekaligus menjadi setan. Namu satu hal yang harus kita sadari, dibalik kehidupan ada kematian yang begitu pasti membayang-bayangi kehidupan itu. Kematian itulah yang sekarang menjadi kenyataan yang tidak bisa dilawannya akan adanya Tuhan dan adanya setan.
disadur dari novel berjudul : Pangeran Diponegoro
karya Remy Sylado
